Saturday, March 28, 2015

Tentang Jarak Dalam Sebuah Hubungan

Ada yang tahu soal teori relativitas waktu? Itu lho, teori yang diciptakan Einsten, yang bilang bahwa sesungguhnya waktu itu  bersifat relatif. Tidak sama. Terkadang kita bisa merasa waktu berjalan cepat. Di kesempatan yang lain, kita bisa merasa kayaknya waktu lambaaaat banget. Atau, kata Einstein dalam relativitas khususnya, “Jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam dan bergerak dengan kecepatan yang sama, mereka tidak dapat dipastikan sedang bergerak atau diam.”

Buat gue, teori ini bener banget. Di suatu waktu, ketika banyak melakukan pekerjaan, misalnya, waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Namun, ketika tidak melakukan apa-apa. Atau, sewaktu gue sedang menunggu sesuatu, waktu seakan berjalan lebih lama.

Namun, sepertinya teori itu tidak lengkap.
Einsten lupa bahwa selain waktu, jarak juga relatif.

Pernah gak sih kalian pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi, lalu ketika pulang terasa, “Kok kayaknya lebih deket, ya?” Atau karena macet, jarak yang sebetulnya dekat bisa saja terasa jauh.

Itulah yang gue sebut sebagai relativitas jarak.

Bahwa jarak sesungguhnya bisa terasa jauh atau dekat, karena dipengaruhi hal-hal lain. Jadi buat gue, tidak ada yang perlu ditakuti dengan jarak. Jarak seringkali disalahkan atas kandasnya sebuah hubungan. Padahal, buat gue, jarak tidak mungkin salah. Orang-orang kebanyakan salah karena menganggap jarak sebagai penghalang hubungan mereka. Karena sebenarnya, jaraknya tidak pernah berubah. Sejak si dua orang ini jadian, sampai dia putus, jaraknya tetap sama.

Komunikasinya yang berubah.

Komunikasi itu yang membuat “rasa” di dalam hubungan tidak sama lagi.

Lalu sebuah pertanyaan muncul: bagaimana dengan orang-orang dekat yang saling sibuk? Si suami dan si istri sama-sama artis. Mereka tinggal satu rumah, tidur satu ranjang, tetapi setiap si suami berangkat kerja, si istri belum pulang. Giliran si suami pulang, si istri baru berangkat kerja. Bagaimana dengan nasib mereka? Siapa yang harus disalahkan ketika hubungan mereka berakhir?

Lalu, kenapa masih harus takut dengan jarak kalau cerita kawin-cerai lebih banyak didengar dari orang-orang seperti ini, ketimbang pilot yang biasa pulang setahun sekali.

Lalu, kenapa harus takut kalau nelayan, atau nahkoda, yang berlayar jauh menyeberang dari pulau ke pulau, sekarat menahan mabuk laut hanya agar ia bisa pulang. Supaya dia dapat bertemu kembali dengan orang yang dia tunggu—dan seseorang yang menunggunya, yang jelas-jelas jaraknya lebih jauh dari orang-orang lain yang ia temui sepanjang perjalanan?

Lalu, kenapa harus takut kalau masih ada doa yang dikirmkan. Masih ada surat-surat yang dititipkan. Masih ada kepercayaan yang diserahkan. Masih ada ilmuwan yang terus bekerja siang dan malam, yang berusaha mendekatkan orang-orang dengan teknologi.

Lalu, kenapa harus takut kalau di dunia ini masih ada astronot. Masih ada para petualang. Masih ada para perantau. Masih ada orang-orang lain yang memutuskan sekadar “pergi untuk kembali”.

Kenapa?
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, March 25, 2015

Dicari: Penyelamat Dunia Pemusnah Goyang Dribble

Peristiwa ini terjadi di suatu malam ketika gue lagi buka-buka Youtube. Si Nurul, temen gue yang botak itu lagi duduk main hape di kasur belakang. Di tengah keheningan malam, dia membuka percakapan.

“Di, lo tahu Duo Serigala nggak?”

“HAH?!” pekik gue, tidak percaya dengan apa yang barusan gue dengar. “Sejak kapan Ricky Harun bikin Boy Band?”

“Bukan, Di, bukan. Ini bukan seluruh kru film Ganteng-Ganteng Serigala bergabung dan bikin boy band. Tapi grup dangdut gitu. Lo coba cari di Youtube, deh.”

“Oh gitu. Oke deh.”

Lima menit kemudian…

Sepuluh menit kemudian…

Nurul gue usir dari kamar. Gue buka celana. Gue boker di tempat.


Buat yang belum tahu, Duo Serigala terdiri dari dua mbak-mbak yang bernama Pamela Safitri (gue gak tahu yang kanan ato kiri), dan Ovi Sovianti (sisanya dari yang tadi). Di tengah keramaian dan kehebohan pedangdut lain, Duo Serigala menggebrak dengan sebuah goyangan yang sangat sporti: goyang dribel.

Tidak seperti grup dangdut lain yang muncul dengan pakaian seksi dan goyang seronoh, Duo Serigala muncul dengan pakaian tertutup dan biasa saja. Goyangannya pun dibuat senatural mungkin. Layaknya pemain basket handal, mereka berdangdut ria sambil melakukan aksi dribble tanpa bola. Sebagai mantan anak basket sejati, gue langsung takjub. Mereka menggabungkan olahraga yang notabene banyak mengeluarkan keringat dan dangdut yang juga banyak mengucurkan keringat (bagi yang menontonnya).

Sampai di satu titik gue sadar.
Ini pas mereka dribble, kok bolanya ada banyak?

“JADI INI RUL YANG LO MAKSUD?!!” jerit gue ke Nurul, protes.
“Yoi, Di. Sadis ya.”
“INI KENAPA YANG DIA DRIBBLE BOLA VOLI GINI YA??”

Yah, meskipun mereka salah men-dribble bola, tetapi berdasarkan ramalan Kresnoadi sang pakar dangdut multi guna, grup dangdut bikinan Andhika Kangen Band ini (yak, kalian gak salah baca) kemungkinan besar bakal mencuat namanya. Prediksi gue, di tahun depan mereka akan menjajaki peringkat teratas grup dangdut Indonesia. Terlebih jika mereka dapat berkolaborasi dengan pedangdut lain. Contohnya, jika mereka berduet dengan grup dangdut Duo Racun, pasti nama mereka akan jauh lebih keren: Duo Serigala Beracun.

Selain joget dangdut mereka bakal nyembur-nyemburin racun kobra dari mulutnya. 

"ABANG KU SAYAANG.. GAK PULANG-PULAAANG... SKHOOOKH!!"

Benar-benar kombinasi grup dangdut yang tidak terkalahkan. Dan setahu gue, serigala hanya bisa dilawan dengan serigala. Jadi, satu-satunya kesempatan untuk menurunkan pamor mereka adalah apabila Ricky Harun and the gang membuat grup dangdut serigala tandingan.

Masalahnya adalah, beberapa hari belakangan gue baru mendapat broadcast message berisi lowongan artis Ganteng-Ganteng Serigala. Ini berarti personel Ganteng-Ganteng Serigala belum komplit sepenuhnya. Lebih parahnya lagi, ini merupakan pertanda bahwa grup dangdut Duo Serigala akan terus merambah layar kaca kita… dan membuat kita haus setiap kali nonton.


Ini adalah dilema yang besar, kawan-kawan!

Gue gak mau nonton Duo Serigala terus-terusan tapi rival mereka, kru Ganteng-Ganteng Serigala, tidak lengkap. Apa yang harus gue perbuat? Apa gue harus melamar untuk mengisi posisi yang kosong tersebut? Ah, tapi gue sama sekali tidak bisa berakting. Yang ada ketika casting nanti, pas sutradara bilang, “3… 2… 1…, action!” Gue bakal lari ke pojokan, jongkok sambil merem… akting jadi kotoran serigala.

Oh God.
Siapakah yang mampu menghentikan ini semua?
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 23, 2015

TINGGAL DIELUS AJA EBUSET

Bakat gaptek yang gue miliki tampaknya menurun dari kedua orangtua. Nyokap, adalah orang yang belakangan lagi “kebelet gaul”. Beberapa bulan lalu, dia mendadak kepengin ganti hape. ‘Ganti yang bisa dielus-elus gitu dong. Biar kayak punya Adek gitu lho.’ (I know it’s sounds really wrong).

Selama ini Nyokap betah-betah saja menggunakan hape Nokia jadul yang legendaris itu. Dia bahkan sering memuji hapenya karena tahan dipakai dalam medan apapun. Namun, entah kenapa tiba-tiba saja Nyokap merengek minta ganti hape. ‘Pokoknya kamu cariin. Apa aja deh, asal yang bisa dielus-elus itu!’ Mendengar Nyokap beberapa kali ngomong gitu, gue sempat berpikir, ‘Ini sebenernya mau ganti hape apa ganti kucing ya?’

Dan ini dia masalahnya: Nyokap tidak mengerti teknologi.

Seperti yang kita ketahui bersama, mengajarkan teknologi kepada orangtua sama dengan SELEPET SAJA AKU DENGAN GESPERMU. Nyokap pun sudah sampai pada level di mana apabila dia minta dikimin lagu dan gue menyuruh nyalain Bluetooth, dia malah nanya, ‘Hah? Gigi siapa yang biru, Nak?’

Untuk mengatasi kegaptekan ini, gue pun berinisiatif meminjamkan hape. Menurut gue, dari pada terlanjur beli dan gak bisa makenya, ada baiknya Nyokap menjalankan “masa percobaan” terlebih dahulu.

‘Nih, pake hape Aku aja dulu,’ kata gue, memberikan hape. ‘Buat latihan.’

Nyokap pun dengan senyum lebar mengambil hape tersebut dan memelototinya. Seolah dapat menggerakkan hape dengan pikirannya, Nyokap hanya menatap hape gue dengan seksama.

‘Kok diliatin doang?’ tanya gue. ‘Katanya mau nyoba.’
‘Ini… ngelusnya gimana ya?’
‘TINGGAL DIELUS AJAAA EBUSEETTTT!!’

Gue hampir murka jadi Malin Kundang.

Gue kemudian meninggalkan Nyokap ke kamar. Setengah jam kemudian, Nyokap masuk ke kamar gue dan meminta hapenya kembali. Pas gue tanya, Nyokap menjawab kalau dia merasa ‘tidak sesuai’ dengan hape gue.

‘Abis dari tadi Ibu elus tapi eror melulu!’ serunya, kesal.

Eror? Gimana bisa eror? Perasaan dari kemaren gue pake biasa aja deh? Gue heran sendiri. Pas gue suruh Nyokap mempraktekkan cara dia mengelus, gue melongo sendiri (Yes, this one sounds really wrong too). Ternyata Nyokap memperlakukan hape gue dengan sangat… amazing. Begini, dia meletakkan hape gue di tangan kirinya yang dia buka lebar-lebar. Lalu, setelah mengacungkan jari telunjuk kanannya, dia mengelus hape gue dari ujung bawah sampai tangannya merentang lebar kayak patung pancoran. Bener-bener kayak nunjuk orang di depannya gitu. Hebat. Gue sungguh tidak mengerti pola pikir Nyokap.. Untungnya, selama melakukan gerakan tersebut nyokap tidak sambil teriak, ‘Terosh terosh… kanan dikit.. yaaaak oooph!!’ 

Nah, baru-baru ini malah gue yang ngerasa gaptek abis.

Gue baru sadar kalau ternyata media sosial udah banyak banget ya. Temen-temen udah pada rame main Path. Gue sendiri masih belum tertarik. Setiap ada temen gue pengen update Path, gue selalu menawarkan diri, ‘Lo mau nge-Path? Sini biar gue yang jagain lilin.’

Sama halnya dengan Instagram, gue masih tidak mengerti apa serunya. Cuman bisa dimainin di hape, dan fungsinya mengupload gambar-gambar doang. Kalau gue pake buat diisi foto-foto sendiri, gue yakin dalam dua hari seluruh penjuru dunia bakal demo di depan Kedutaan Indonesia (oke, ini lebay). Berhubung udah terlanjur bikin (dulu kepikiran untuk upload video flourish, tapi kayaknya keribetan kalo harus pindahin data dari laptop-hape), jadi mulai sekarang gue kayaknya bakal pake buat… promosi blog! Muahaha!

Setiap update blog, gue akan melukiskan postingan tersebut dengan sebuah gambar dan menaruhnya di Instagram gue di sini. Jadi, yang mau follow, monggo. :D

Di samping itu, gue juga baru tahu kalo ada mainan baru dari si pacar: Ask.fm. Jadi, di sana kita bisa jawab-jawabin pertanyaan dari orang-orang gitu. Semacam formspring gitu kali ya? Gue juga belum punya sih, tapi untuk yang satu ini kayaknya tertarik nih. Hehehe. Telat banget ya. Bisa dimainin via pc gak sih?

--
Gue sama Deva lagi iseng pengin bikin web blog sendiri untuk cerita ngawur kita. Rencananya, kita mau ngisi blog tersebut buat mainan aja. Bisa diisi cerita harian. Saling bikin pertanyaan, atau apapun yang bisa dimainin berdua. Kayaknya lucu. Siapa tahu bisa jadi inspirasi buat temen-temen yang juga LDR.

Sejauh ini kita memutuskan untuk menggunakan platform tumblr. Supaya kalau ada gambar-gambar keren bisa langsung direpost dan gak ribet. Namanya juga masih belum nemu. Udah ngelist beberapa nama kayak rememberthis.tumblr.com, heythere.tumblr.com, untukberdua.tumblr.com, adalahkita.tumblr.com, tapi kok kayaknya masih belum cocok. Ada yang punya ide? Silakan tulis di kotak komentar juga ya.\:D/

Udah nggak sabar nih mau ngeledekin dia di web blog ini. Hehehe pikiran-pikiran jahat seketika berkumandang.

Oke deh.
Have a great day folks!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, March 22, 2015

Bandara

Sepanjang hidup gue, gue baru dua kali pergi ke bandara: minggu lalu dan hari ini. Buat gue, bandara adalah contoh nyata dari dua sisi kehidupan. Minggu kemarin gue berdiri di depan pintu “kedatangan”. Dengan jaket cokelat yang digantungkan di bahu, gue senyum-senyum sendiri menunggu dia muncul dari pintu sana.

Rasanya lucu.

Gue seperti ingin meminta waktu untuk lebih cepat berputar. Namun sesungguhnya takut kalau hal itu benar-benar terjadi. Gue, ingin ‘merasakan’ waktu dengan lebih tenang. Menunggu setiap detiknya, dari satu sampai enam puluh, lalu jam digital merah di dinding berkelap-kelip, berubah menjadi menit.

Lalu dia datang. Dengan tas jinjing biru yang diisi berlebihan. Dengan langkah pelan-pelan karena beban yang dia bawa terlalu berat. Gue menghampirinya, berteriak kecil, lalu kami berpelukan.

Tidak hanya gue,
bandara juga mempertemukan orang-orang lain.

Ada decit trolley yang diisi koper dan didorong terburu-buru. Ada tangan yang terbuka, meminta untuk dipeluk. Ada orang-orang lain yang duduk menunggu. Ada yang sesekali melihat jam dengan cemas. Ada kado di balik punggung. Ada rindu yang berserakan.

Namun, hari ini semuanya berbeda.

Gue duduk di sebelah dia dengan perasaan aneh. Kali ini rasanya benar-benar ingin meminta waktu untuk lebih cepat pergi. Di samping dia, gue menghirup napas dalam-dalam. Rasanya seperti seseorang yang lupa caranya mengembuskan napas kembali. Sesak. Semakin lama duduk juga membuat kepala terasa semakin panas. Mata gue menuju ke pilar cokelat di depan.

Di saat seperti ini, indera gue menjadi lebih peka.

Gue menjadi sadar bahwa bandara bukan hanya tempat bertemu.

Di balik tawa lebar para penjemput, ada juga senyum getir para pengantar. Di belakang keramaian pertemuan, ada genggaman tangan yang dilepas. Ada pelukan yang dibuka paksa. Ada air mata yang terurai.

Ada gue dan dia yang juga akan berpisah.

Dengan headset yang menyolok di telinga kami, handphone gue mengalunkan lagu demi lagu. Waktu terasa sangat lambat dan gue membenci itu.

Gue mengambil hape dia. Membuka galeri, lalu melihat isinya satu per satu.

Dan kilatan-kilatan memori itu muncul. Jatuh dari layar menuju lantai putih bandara. Kumpulan foto dengan tampang kita yang sangat abstrak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Video-video berantakan yang bagi sebagian orang sangat tidak penting dan aneh, yang, entah kenapa, selalu bisa kita tertawakan. Dia menyenderkan kepalanya, memasang wajah cemberut. Gue, tidak bisa berkata-kata, hanya sesekali mengusap rambutnya. Tidak enak melihat dia yang terus menerus menunduk, gue mencari akal. Sampai, pada akhirnya, gue meminta kita untuk bermain sebuah permainan yang bernama Menahan-Tangis-Sampai-Di Rumah.

Dan sepuluh menit kemudian,
kami kalah bersamaan.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, March 20, 2015

Tentang Konsistensi Menulis

Tidak sedikit yang heran tentang “Kenapa gue sering banget update blog”. Setiap kumpul bersama temen-temen blogger, pasti ada aja yang nanya, ‘Kok lo rajin banget bikin postingan? Gak ada kerjaan apa?’

Nah, untuk menjawab pertanyaan itu gue punya dua jawaban.

Satu:

Secara personal, gue suka memproduksi sesuatu. Boleh dibilang, gue banci tampil. Gue, ketika melihat seseorang berpidato di depan orang banyak, selalu berpikir, “Gimana caranya gue bisa berdiri di panggung itu ya?” Atau, ketika menonton konser band, di saat orang-orang terpukau melihat kekerenan sang gitaris, gue bergumam, “Gue ingin berlatih gitar agar bisa tampil seperti itu.”

Masalahnya, gue tidak percaya diri.

Gue minder untuk berdiri di atas panggung dan ditonton ribuan orang. Jadi, solusinya adalah membuat sesuatu yang bisa dilihat orang, tetapi tidak harus menampilkan gue sebagai “hidangan utamanya”. Menulislah jawabannya. Meskipun bukan seorang penulis, tetapi dengan menulis, pendapat gue akan dibaca. Suara gue pun tetap bisa didengar. Bahkan, hubungan kita menjadi dekat karena hanya dibatasi kata-kata.

Dua:

Gue menggunakan trik “rantai produktivitas” dari Jerry Seinfeld, seorang Stand Up Comedian. Bagaimana kita menjaga konsistensi untuk terus menulis setiap hari. Ini adalah cara yang dia pakai untuk menulis materi-materi stand up-nya.

Caranya sangat gampang, kita tinggal membeli sebuah schedule/papan kalender. Lalu mulailah menulis. Menulislah dengan bebas, tidak harus untuk postingan blog, atau sepanjang mungkin. Menulis saja sesuka hati. Setiap selesai menulis, coretlah (atau buat gambar rantai) hari di kalender tersebut. Lakukan ini terus-menerus dan tanamkan di dalam pikiran untuk menjaga “rantai” yang telah digambar di kalender supaya tidak putus. Dengan begini kita akan merasa aneh ketika satu hari tidak menulis. Atau, mengutip kata-kata Mas A.S Laksana, “Tidak menulis sehari akan membuatmu sakit, tidak menulis seminggu akan membuatmu gila.”


Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, March 17, 2015

Begitukah?

Beberapa orang selalu menyalahkan kecemanan gue terhadap kecoak. Sejujurnya, gue sendiri gak tahu kenapa gue bisa segeli ini terhadap mahluk cokelat bajingan itu. Sejak kecil, gue memiliki trauma terhadap hal-hal aneh. Salah satu hal aneh yang menakutkan bagi gue adalah ondel-ondel. Sewaktu masih kecil, mendengar suara gendang dan musik ondel-ondel membuat gue langsung lari dan loncat ke kasur, memasukkan kepala ke balik bantal.

Tidak hanya gue, beberapa temen juga banyak mengidap trauma yang aneh.

Salah seorang teman mengaku trauma dengan senja. Sampai sekarang, setiap sedang di luar melihat senja, dia terbawa sedih. Ia teringat dengan masa kecilnya, di mana senja adalah waktu Ayahnya pulang bekerja. Senja adalah hal yang paling ia tunggu sekaligus menakutkan: menunggu.

Lain lagi dengan temen kampus gue. Dia sangat jijik dengan bencong. Dia menjadi takut karena pas kecil pernah dipeluk bencong.

Untuk menghadapi ketakutan ini,
kami memiliki cara sendiri-sendiri.

Untuk mengatasi rasa takut, Bokap sempat menyuruh gue memberikan uang kepada ondel-ondel yang lewat. Tetapi gue selalu kabur dan mengurung diri di kamar. Gue tidak mau melihat ondel-ondel. Sampai, di suatu waktu, gue sedang bersepeda melewati rumah kosong. Di rumah tersebut duduk dua orang kakek… dan kostum ondel-ondel.

Dari sana gue sadar bahwa ondel-ondel sebetulnya adalah manusia. Kenyataan itu membuat rasa takut gue sedikit demi sedikit berkurang. Gue kini tidak lagi takut dengan ondel-ondel. Buat gue, sekarang ondel-ondel hanyalah mahluk gigantisme dengan rambut spike yang aneh.

Berbeda dengan gue, teman gue selalu menghindari senja. Sampai sekarang, ia berusaha untuk berada di dalam ruangan ketika menjelang senja. Tujuannya satu: pretend to forget the pain.

Temen gue selalu berpura-pura “melupakan” rasa pedih yang dia bawa semasa kecil. Lain dia, lain lagi dengan temen gue yang takut bencong. Dia, yang biasanya mendengar kecrekan langsung kabur, kini udah biasa aja. Di suatu perempatan, dia sempat dicolek bencong. “Gue udah pengin ngegas motor terus kabur, tapi lampu merah, Di. Gue kejebak! Mati aja gue!”

Sebuah kecelakaan yang justru membuat dia berpikir… bahwa tangan bencong kasar kayak kuli bangunan. Dia pun menjadi illfeel dan gak takut lagi.

Pada dasarnya, ketakutan yang kita alami timbul karena pikiran kita sendiri. Melihat pengalaman di atas, gue jadi tahu satu hal: ketakukan bisa dilawan dengan kepercayaan. Gue takut ondel-ondel karena dia besar dan aneh, tidak tahu bahwa sesungguhnya itu adalah kostum belaka. Setelah gue percaya kalau di dalamnya ada orang, gue menjadi berani terhadap ondel-ondel. Begitu pula dengan temen-temen gue. Kepercayaan bahwa kita bisa mengalahkan ketakutan adalah jawabannya.

Begitukah? 
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, March 11, 2015

Saya Mau Beli Dong

Setelah kemarin nyari-nyari template, akhirnya nemu yang mirip dari yang gue pengin. Sebetulnya nggak mirip-mirip banget sih, tapi mau gimana. Namanya juga gratisan. Agak gak suka sama menu barnya soalnya terlalu kaku. Tadinya malah mau balik ke template yang dulu banget bawaan blogger. Sejauh ini template itu yang paling gue suka, tapi nggak responsive. Huhuhu. Nanti gak asik kalo baca dari hape.

Anyhoo, karena sekarang jadi tiga kolom, gue balikin widget follow yang selama ini ngilang! Hore!

Jadi untuk yang sering main ke sini, silakan difollow. Gue gak maksa sih. Tapi FOLLOW GAK LO?! ITU GAK LIAT BARU 50-AN HAH!!

Gue sengaja memilih desain dengan body post kecil, supaya lebih enak. Dibanding bingung menulis apa karena harus panjang, gue memilih lebih sering update dengan tulisan-tulisan pendek. Dan kayaknya, gue bakal lebih sering ngomel-ngomel di blog ini.  

UPDATE: Berhubung pada protes dan gue takut dihakimi massa, maka gue ganti lagi. Yak, gue memang labil. ps: Ada yang tahu gak kenapa pages gue jadi ke-copas gitu?

--
Gue paling benci sama orang yang tidak nyambung ketika diajak ngobrol. Gue, selalu kesal tiap kali iklan 86 muncul di televisi. Di dalam iklan tersebut si polisi lagi teleponan sama anaknya. Si anak bertanya, ‘Papa nanti pulang jam berapa?’ Lalu dijawab, ‘Nanti Papa pulangnya malem, ya.’

Di depan tv, gue jerit sendiri.
’PULANGNYA JAM BERAPAAAAA?!’

Sejak kapan “malam” berubah menjadi angka. Ditanyanya spesifik, jawabnya umum. Sungguh tidak terbayang apabila si polisi ini menjadi instruktur senam.

‘Ya ibu-ibu, ayo dimiringkan kepalanya. Satu… dua… tiga… malam…’

Ibu-ibu pun tereak, ‘ASTAGHFIRULLAH WAKTU BERJALAN SANGAT CEPAT?! INI PERTANDA KIAMAT!!'’

Hal ini benar-benar menyebalkan buat gue. Ini sama seperti ketika datang ke kfc, lalu ketika ditanya ‘Boleh dibantu pesanannya?’ kita menjawab ‘Boleh. Saya mau pesen ayam, Mas.’

Hey, it’s a KFC. Kentucky Fried CHICKEN. Bukan Kentucky Fried Curut.

Lagian, mana ada orang yang ke kfc ngomong, ‘Mas, ini kfc kan? Saya mo beli dong.. telor asin dua biji.’
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 9, 2015

Sumpah, Sampe Kok!

Belakangan mood gue lagi nggak enak banget.

Rasanya selalu sama. Kayak ada yang minta dikeluarin dari kepala, tetapi nyatanya tidak ada yang bisa keluar. Mampet. Ini yang belakangan gue lakukan: ngebuka Microsoft word, lalu memandangi halamannya sampe bego.

Biasanya, kalau udah begini, gue bakal buka-buka postingan lama untuk mengembalikan mood mengikuti tulisan sebelumnya. Tapi kok kemaren rasanya hambar. Sampai, di satu titik, gue menyadari sesuatu: gue butuh refreshing!

Gue kepikiran buat pergi ke tempat yang dekat, murah, dan memacu adrenalin. Berhubung lagi di Bogor, gue pun langsung browsing lokasi yang cukup asoy untuk dikunjungi. Awalnya gue pengin ke tempat keren kayak museum, tapi takut ketemu sodara. Akhirnya, setelah melompat dari satu situs ke situs lain, gue menemukan tempat yang cocok: Bukit Munara. Yosh.

Membaca di blognya Acen, Bukit Munara adalah kebon-yang-bertambah-tinggi di daerah Bogor. Sip. Ini gue banget. Sepertinya cukup cemen untuk gue jamah. Ngeliat foto-foto di blognya Acen, gue langsung ngebayangin momen ngeliat sunset dari atas batu-batu.

Sampai gue sadar, ngeliat sunset ngebuat kita harus balik malem.
Gue belom mau kena begal.

Alhasil, gue sama Arif berangkat jam 1 siang. Tadinya, biar keliatan kayak anak gunung sejati, kita pengen memakai perlengkapan lapang. Lalu gue sadar, satu-satunya yang gue miliki hanyalah kelapangan dada. Tsah.

Bermodal google maps, kita pun berangkat.

Sesampainya di sana, seperti yang gue baca di blognya Acen, kita tinggal membayar biaya registrasi dan parkir motor, lalu langsung cus mendaki. Di sekeliling banyak orang dengan pakaian keren-keren. Kebanyakan dari mereka mengenakan sepatu lapang dan saputangan yang diikat di leher. Gue sendiri sampai sekarang masih bingung dengan fungsi saputangan itu. Perasaan di pintu masuk gak ada plang bertuliskan, ‘Awas banyak vampir, tutupi leher Anda!’ Emangnya ada apa sih dengan leher mereka? Apa mereka sakit sampai malu dan nutupin leher mereka? Ngeliat orang make saputangan diikat di leher, bawaannya pengen nyamperin dan bilang, ‘Ciyee gondongan nih yee.’

Begitu mulai pendakian, gua terngiang kata-kata Acen “kebon-yang-bertambah-tinggi” itu. Sebuah kalimat yang memotivasi gue untuk sampai ke puncak. Ini cuman kebon, gue pasti bisa. Lima menit kemudian, Arif udah mulai ninggalin. Gue mencoba santai. Kata orang, mendaki adalah soal konsistensi, bukan kebut-kebutan. Sebuah quote yang sedap abis. Terutama kalo kamu lambat dan kehabisan alasan.

Adi si anak kamuflase

Semakin lama, Arif semakin jauh. Gue mulai berniat mengganti status “kebon-yang-bertambah-tinggi” menjadi “kebon-yang-SETAN-CURAM-AMAT-NANJAKNYA”. Baru jalan bentar dengkul gue udah mau mampus.

Hampir sakrotul maut, kami terus melewati pos demi pos. Kita sudah setengah jam lebih dan Arif masih santai di depan. Gue sendiri di belakang udah pengen mokat. Sampai, pas gue mendongak, di depan gue ada beberapa tebing batu gede dan sekumpulan manusia yang foto-foto di atasnya.

‘Yes, itu pasti puncaknya!’ seru gue, udah pengin nyiapin kembang api untuk bikin pesta perayaan.

Supaya bisa naik ke tebing, kita harus jadi spiderman. Sumpah, tebingnya beneran terjal dan cara naiknya pun harus ngerayap ala cicak. Di puncak udah banyak orang duduk ngeliatin pemandangan. Gue langsung iri sama mereka. Mereka semua keren. Meskipun pada gondongan semua.

Gue kemudian menyuruh Arif maju duluan. Dan lagi-lagi, seolah tanpa beban, Arif bisa naik dengan mudah. Gue hanya bisa melongo. Tidak ingin terlihat cemen, dengan susah payah gue berusaha memanjat tebing. Sesekali gue memanjat dengan berpegangan pada tali yang sudah ditancapkan ke ujung tebing.

Di puncak,
rasanya macho abis.

Kita bener-bener berada di pinggir tebing. Angin kencang. Dengan hamparan sawah dan pepohonan lebat di bawah. Supaya tambah keren, momen ini bisa dipakai untuk teriak ‘I AM THE KING OF THE WOOORLD!!’ atau, kalau kamu pencinta sinetron, teriaklah ‘TIDAAAAAAAAAAAKK!!’ meskipun tidak nyambung, paling tidak kamu udah nyoba jadi keren.

"Yah layangan gue telap..."


Begitu turun, kita istirahat sebentar di pos sambil beli minum. Begitu mau balik, mas-mas penjualnya bilang, ‘Bos, kalo mau ke puncak masih ada tuh lewat sana.’ Dia menunjuk jalan setapak di sebelah kiri kami. Mas-mas melanjutkan, ‘Ini mah baru setengahnya.’

Jadi, ini bukan puncak?

‘Terima kasih anak buah, kau membuat kebahagiaanku hancur begitu saja.’

15 menit kemudian, kita sampe puncak. Gue sengaja gak bisa kasih cerita detail dan foto di puncaknya. Takut dikira sombong. Tapi yang jelas kita sampe puncak.

Sumpah, kita sampe puncak kok.

Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, March 6, 2015

Pelajaran Dari Cina Benteng

Beberapa minggu kemarin, gue lagi ada kerjaan untuk meliput kegiatan imlek di Cina Benteng, sebuah kawasan di Tangerang yang terkenal karena orang Cina di sana tidak seperti Cina pada umumnya. Orang Cina di sana, tidak seperti Cina kebanyakan yang putih, trendi, dan identik dengan pedagang sukses.

Di sana daerahnya kumuh.
Namun tidak dengan orang-orangnya.

Ketika si bos nyuruh, ‘Liput Cina benteng!’ gue hanya ngangguk-ngangguk sotoy. Padahal, gue sama sekali belum pernah mendengar Cina Benteng. Di pikiran gue hanya terbayang sebuah tempat mirip Benteng Takeshi.

Begitu keluar ruangan kantor, gue memanggil Restu, temen yang juga akan ikut meliput di sana.

‘Tu,’ panggil gue. ‘Lo ada pistol aer gak?’
‘Hah? Buat apa?’
‘Ya kan kita disuruh persiapin,’ jawab gue. ‘Siapa tahu kita disuruh tempur kayak di Benteng Takeshi.’

Restu diem. Dia ngeliatin gue dengan tatapan jijik.

‘Tu,’ kata gue, memecah keheningan. ‘Ayo manis… ayo… kamu pasti bisa manis…’

--
ENTAH kenapa yang ada di pikiran gue selama perjalanan hanya ‘Ayo manis… ayoo… kamu pasti bisa manis..’ seperti ucapan Paduka dalam acara Benteng Takeshi itu.

Namun, kenyataannya berbeda jauh.

Di sana tidak ada benteng. Apalagi cewek-cewek manis. Lokasinya bahkan dekat dengan sebuah Tempat Pembuangan Akhir. Mobil sampah membuat kita sesekali harus menahan napas. Debunya juga banyak abis. Baru berapa menit, muka gue langsung ketutup debu tebel. Rasanya tempat ini adalah lokasi yang pas apabila kamu ingin bedakan dan gak punya duit.

Karena takut nyasar, gue meminggirkan motor. Restu, layaknya kopilot, ngebuka hape dan mengecek google maps.

‘Bener kok, Di. Emang di sini deh tempatnya.’
‘Serius?’
‘He-eh.’

Gue nengok kanan: pintu masuk TPA Rawakucing.
Gue nengok kiri: Rawa-rawa dengan sebuah sandal jepit yang mengapung.

Kita sama sekali tidak menemukan pernak-pernik imlek. Padahal, gue udah ngebayangin bakal banyak dekorasi khas imlek yang digantung di mana-mana kayak lampion, lilin, Delon. Tapi semuanya tampak sepi-sepi aja. Kayak gak bakal ada perayaan apapun.

Setelah tanya ke sana ke mari membawa alamat namun yang kutemui bukan dirinya. (Ini kenapa gue malah dangdutan yah?!) Pokoknya skip skip skip sampai kita masuk ke klenteng.

Sesampainya di dalam klenteng, gue langsung norak. Klentengnya mantap. Di depan patung Kera Sakti, gue langsung bergaya pengin niruin pose si monyet. Tapi kenorakan gue langsung dimusnahkan oleh kata-kata Restu, ‘Di, ini tempat ibadah.’

‘Astaghfirullah,’ jawab gue, langsung nyari air wudhu.

‘Di, ini tempat ibadah umat Konghucu.’

‘Astaghfirullah,’ jawab gue lagi dan teringat sesuatu. ‘Ayo maniss ayo… kamu pasti bisa manis..’

Kita pun langsung masuk dan mencari ketua penjaga klenteng. Kita mewawancarai dia seputar kegiatan imlek di sini. Dan akhirnya keheranan gue terungkap. Kata A Hong, orang-orang di daerah sini selalu merayakan imlek dengan sederhana. Itulah kenapa sejak tadi tidak terlalu kelihatan pernak-pernik khas imlek. Bahkan gak ada barongsai jalan-jalan sambil makan gorengan (ya iyalah). Buat dia sendiri, imlek harus lebih dirasakan dengan hati. Imlek harus diingat sebagai ajang introspkesi dan cara kita bersyukur. Sedap!

Selama ngewawancara, gue jadi tahu satu trik wawancara terkeren yang ada di dunia. Ketika wawancara dan stuck gak tahu mau nanya apaan lagi, biasanya gue bakal sok-sok nunduk sambil menggumam sendiri sampai Restu yang nanya.

Restu: Pak, jadi gimana imlek menurut Bapak?
Pak A Hong: Ya seharusnya imlek lebih dirayakan dengan hati dan dirasakan dengan lebih mendalam.

Restu nengok ke gue, memberikan kode supaya gue memberikan pertanyaan berikutnya.
Gue nengok ke Restu, lalu melihat Bapaknya.

Gue: Oooo gitu ya, Pak.
Pak A Hong: Iya gitu.

Gue nengok ke Restu.

Gue: Ooo gitu ya.
Restu: Kira-kira di sini rame mulai jam berapa pak?
Pak A Hong: Yah paling malem jam 8 sampai tengah malem nanti.
Restu: Oo… gitu ya, Pak.

Restu nengok ke gue, memberikan kode kembali. Gue ngeliat Bapaknya. Dengan tatapan yakin, gue bilang, ‘Oooo gitu ya, Pak.’

Restu pun nanya lagi.

Gue memang hebat.


Pokoknya imlek di sana sangat keren. Gue salut sama orang-orangnya yang sederhana dan bersyukur atas kesederhanaan yang mereka punya. Gue jadi pengin punya satu kemampuan macho lagi: berteman dengan kekurangan.


Makasih Cina Benteng! 
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 2, 2015

Pake Web Developer

Uhuk. Srot.

Bangke cuaca lagi gak seru abis. Tengah hari bisa puanaas banget lalu tiba-tiba bisa hujan deres. Alhasil, udah beberapa hari belakangan gue flu. Kepala rasanya berat. Bawaannya jadi nggak enak dipake ngapa-ngapain. Ini yang cuacanya sadis begini di tempat gue doang bukan sih?

Well, sebetulnya akhir-akhir ini gue lagi bingung sama tampilan si keriba-keribo ini. Jujur, gue nyaman memakai tampilan yang sekarang, dengan sidebar di kiri dan tulisan di tengah yang tidak terlalu lebar dan besar. Karena responsive, tema ini juga jadi keren pas dibuka di hape.

Tapiiiii…

Pas gue coba buka dari laptop temen, sidebar-nya selalu pindah ke atas menjadi header. Gakpapa, karena emang itu akibat responsive-nya. Masalahnya adalah, hal itu sering banget gue temuin. Udah gue coba dari komputer di rumah kayak gitu, gue buka di laptop bokap juga sama. Kolom bodinya jadi lebar banget. Ukuran hurufnya juga jadi gede dan kurang nyaman untuk dibaca. Setan setan setan. Jadi selama ini yang enak ngebaca tampilan blog gue cuman gue sendiri? Kenapa gak pada bilang?!!

*Timpuk kalian satu-satu pake duit receh*

harusnya gini


Makanya, supaya semua enak, gue lagi ngubek-ngubek tampilan responsive yang lain. Udah beberapa kali nyoba ganti tapi sampe sekarang belum nemu yang pas. Ujung-ujungnya balik lagi ke yang ini. Hehehe. Ada yang punya usul?

Gue sih pengin tetep make template yang gak harus masang banyak gambar. Selain ribet, guenya juga males. Sampai saat ini, cara paling gampang supaya kalian bisa enak ngeliat keriba-keribo ya cuman dengan nge-zoom out (pencet ctrl & -) sampai headernya menjadi sidebar di kiri.

Hmm apa pake web developer aja ya?
Suka post ini? Bagikan ke: