Wednesday, October 28, 2015

Taman

Hari sabtu kemarin, gue sama temen-temen kantor bikin acara perpisahan ke Taman Bunga Nusantara di puncak.

Terus terang, gue belum pernah ke sana dan udah lama juga nggak main ke alam terbuka kayak gitu. Seperti halnya cewek-cewek kebanyakan, temen yang lain langsung sigap mencari lokasi foto yang cihuy. Berjalan dari satu bunga ke bunga yang lain. Bergaya dari satu pose, ke pose lain.

Gue sendiri cuman ngelihatin dari belakang.

Entah kenapa selalu ada perubahan raut wajah tiap kali cewek-cewek ini berfoto. Dari yang biasa aja, lalu, ketika kamera datang menyorot, mata mereka seketika berubah berbinar-binar. Kamera adalah sihir terhebat yang memaksa cewek-cewek supaya senyum.

Setelah beberapa kali melewati lokasi bagus untuk foto, gue melewati deretan pohon jamuju (Dacrycarpus imbricatus), pohon yang memiliki daun seperti sisik ikan. Lucunya adalah, di antara deretan pohon jamuju ini, terdapat kawat-kawat yang tersambung dari satu ranting, ke ranting pohon di sebelahnya. Gue lalu sadar bahwa kawat tersebut berfungsi sebagai ‘jalan’ bagi daun-daun yang baru tumbuh. Mereka akan menjalar mengikuti arah kawat tersebut. Nantinya, deretan jamuju ini akan berubah menjadi tembok tipis berwarna hijau.

Melihat fenomena ini, gue nyeletuk asal ke Ratsa, salah seorang temen kantor, ‘Sa, keren, ya. Tanaman aja bisa diatur gitu. Gak kayak manusia.’

Ratsa kemudian menoleh sambil memberikan tatapan temen-gue-sarapan-apaan-tadi-pagi. Dia membalas, ‘Iya juga ya. Tapi bakal ancur sih kalo gak rapih.’

Gue lalu melihat kumpulan bunga berwarrna ungu di depan. Tanamannya dipangkas sehingga berbentuk kotak sempurna dengan bunga-bunga yang bermekaran di atasnya. Sangat cantik dan bikin orang pengin senyum-senyum sendiri.

Lalu gue sadar sesuatu.

Semua keindahan ini, warna-warni ini, timbul karena si tanaman selalu dipotong dengan bentuk yang menarik. Karena rajin dipangkas, daun yang berada di paling atas menjadi daun termuda, daun paling segar dan fresh. Hal ini amat berbeda dengan hubungan gue dan Deva dua bulan belakangan.

Gue dan Deva,
sudah memilih untuk berpisah.

Mungkin, sama seperti tanaman-tanaman di taman bunga itu, keindahan hubungan kami terbentuk pada saat awal hubungan kami terjalin. Pada masa itu, apapun yang kami lakukan, semuanya terasa begitu manis. Dan, sama seperti tanaman-tanaman di sana, perasaan kami bertumbuh dengan begitu lebat. Bodohnya, kami hanya membiarkannya begitu saja. Dari munculnya ribut-ribut kecil. Lalu, masalah demi masalah mulai datang satu per satu, menumpuk tanpa ada yang memangkas. Hasilnya, hubungan kami menjadi berantakan dan tidak cantik lagi.

Seandainya memperbaiki hubungan semudah memotong ranting yang kepanjangan.

Gue akan melakukannya setiap minggu.

Masalahnya, hubungan yang kusut tidak semudah itu dibetulkan. Memperbaiki hubungan tidak sesederhana mengambil gunting, mencari daun-daun yang busuk, lalu memangkasnya begitu saja. Masalah yang kami pikir akan selesai dengan didiamkan, justru tidak pernah selesai. Sebaliknya, masalah itu akan bertambah kusut dan kompleks.

Satu hal yang menyedihkan adalah, satu minggu semenjak perpisahan dengan teman-teman kantor baru, adalah hari anniversary pertama kami. Hari yang kami tunggu-tunggu sejak lama.

Sekarang, Deva sudah mulai menemukan pengganti gue. Seseorang, yang, bersama dengannya, akan membuat taman baru di hidupnya. Semoga dia bahagia, bisa membuat taman yang indah. Entah dengan siapapun itu.
Share: