Wednesday, October 14, 2015

Kakek

Gue punya kakek yang menyebalkan.
Ralat.
Dulu, gue punya kakek yang menyebalkan.

Sewaktu kuliah dan tinggal sendirian di Bogor, gue seringkali merasa amat kesepian. Terlempar ke jurusan yang bukan pilihan memang salah satu bencana paling menyakitkan. Tidak jarang, di masa itu, sepulang dari kampus, gue langsung ngelempar pakaian ke ember, mandi, lalu tiduran di kasur. Ngelihatin langit-langit, dan, merenung sampai mabuk.

Gue pengin banget bercerita.
Tapi gue gak punya siapa-siapa.

Karena gak punya temen, gue jadi memendam semuanya sendiri. Masalah. Kebahagiaan. Berita. Bahkan, setiap kali menonton acara lucu di televisi, gue menarik napas berat. Menengok seisi kamar, yang, tetap saja kosong.

Lalu kakek gue datang.

Nyokap meminta kakek buat ikut tinggal di rumah di Jakarta. Sama seperti gue, sejak kematian nenek, hidupnya dipenuhi kesendirian. Kegiatannya setiap hari hanya lari keliling kampung, menjaga supaya badannya tetap sehat.

Di masa ini, Nyokap memaksa gue untuk pulang ke rumah di Jakarta setiap akhir pekan. Tujuannya jelas: ngejagain kakek.

Pertemuan pertama ini ngebuat gue merasa canggung. Dia jarang banget ngomong Bahasa Indonesia, dan gue idiot soal Bahasa jawa. Hidup sejak zaman Belanda ngebuat dia menggunakan ‘You’ sebagai kata sapaan. Ini jelas berbeda dengan gue yang kalo nyapa bilang, ‘Gimana? Tongkrongan aman, Coy?’

Awalnya, tugas ngejagain kakek ini berjalan mulus-mulus saja. Sampai, sewaktu gue mulai libur kuliah, tugas ini menjadi intens dan mulai datang berbagai hal menyebalkan. Pertama: dia gak betah tinggal di Jakarta. Gue masih ingat betul kejadian waktu itu: selepas gue mandi, tiba-tiba di ruang tamu kakek udah berdiri dengan dandanan rapi. Celana bahan panjang, kemeja, lengkap dengan topi fedora. Bingung, gue bertanya, ‘Mau ke mana, Mbah?’

‘Mau pulang aja.’
‘Hah? Pulang?’ Gue mulai panik, tapi sok cool. Karena dia agak pikun, gue ngetes, ‘Mau pulang ke mana?’
‘Ya ke Magelang, tho.’
‘Naik apa?’
‘Ya jalan kaki wae! Wong deket ini.’

Jakarta ke Magelang? JALAN KAKI?
Magelang kan deket Jogja? Naik mobil aja butuh sekitar 15 jam. Lha, dia mau jalan kaki.

Gue diem.

Di dalam hati gue ngomong: Deket Mbahmu!

Mungkin di dalam hati kakek gue ngomong: Emang aku Mbahmu!

Setelah gue selidiki, ketidakbetahan kakek terhadap Jakarta disebabkan karena udaranya yang panas. Berbeda dengan Magelang, Jakarta emang kayak neraka. Hal ini ngebuat kami sekeluarga memutuskan buat beli AC untuk kamar dia. Masalahnya, dia gak tahu apa itu AC dan gimana ngegunainnya. Masalahnya lagi, sifat kakek yang gak mau ngerepotin ngebuat dia ingin melakukan semuanya seorang diri. Saking mandirinya, dia pernah menyalakan AC dengan cara NGEGETOK AC-NYA PAKE SAPU IJUK. Hebat. Kakek memang hidup di zaman di mana tv kabel belum ada.

Seiring berjalannya waktu, penyakit pikun yang dimiliki kakek semakin parah. Hal ini ngebuat dia merasa bahwa rumah di Jakarta adalah rumah dia. Lebih horor lagi, dia merasa sedang di Magelang.

Pikirannya jadi kacau. Dia tidak bisa mengingat dengan baik. Seperti dalam film Inside Out, di dalam kepala tiap manusia, terdapat sebuah memori paling berkesan selama seseorang itu hidup. Dan mungkin, sekarang, hanya itu yang kakek ingat. Dia tidak ingat gue. Dia tidak kenal Nyokap, anak kandungnya sendiri. Gue pernah sekali waktu mengintip lewat celah lubang pintu kamarnya. Dia sedang berdiri mematung, memandang sebuah foto di depan ranjang.

Foto dia dan istrinya.

Mimik wajahnya mengerut, seperti orang kebingungan. Tetapi, pancaran matanya menyiratkan kepedihan. Mungkin, di dalam kepalanya, pikirannya sedang berduel dengan kenangan.

Dia mengelus wajah istrinya,
lalu berjalan ke luar kamar.

--
Hari demi hari terus berlalu dan saat gue udah mulai deket sama kakek, gue harus masuk kuliah lagi.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini gue tidak terlalu merasa kesepian. Gue mungkin terlempar ke jurusan yang bukan pilihan sendiri. Mungkin, gue tidak sama dengan orang lain yang semangat kuliah dari dalam hati. Gue, belajar dari kakek, kalau kita, sebisa mungkin tidak nyusahin orang lain. Sekarang, gue cukup lulus kuliah. Setelah itu, semua pilihan gue yang tentuin.

Sampai, beberapa minggu kemudian, di sela-sela kuliah, Bokap mengirimkan sebuah SMS.

SMS yang meninju tepat di kepala gue.

Bokap mengatakan kalau kakek masuk rumah sakit. Tetapi, entah kenapa, gue merasa ada yang aneh dengan SMS itu. Semakin dibaca, rasanya semakin ganjil.

Selesai kuliah, gue langsung pergi ke rumah sakit tempat kakek dirawat.

Sesampainya di rumah sakit, gue naik ke lantai tiga. Di koridor sudah ada beberapa sodara yang berkumpul, membicarakan sesuatu. Gue terus, terus, dan terus berjalan. Melewati mereka satu per satu. Perasaan gue gugup.

Dan firasat gue benar.
Kakek meninggal.

Malam itu, kami akan langsung mengantar jasadnya ke Magelang. Gue menemani persis di sampingnya. Duduk di kursi belakang ambulans, di tengah sirine mobil yang memecah keheningan malam.

Di mobil putih yang baunya menyengat itu, kenangan gue tumpah.

Gue ingat langkah kakinya yang dipaksa kokoh lari pagi. Gue ingat keriputnya yang tertarik sewaktu tersenyum saat bercerita tentang masa mudanya. Gue ingat logat jawanya. Gue ingat pancaran matanya ketika menatap sosok perempuan yang dicintainya.

Gue belajar kemandirian.
Gue belajar kesederhanaan.
Gue belajar bahwa kesendirian bisa dilawan.

Seiring dengan deru sirine yang melemah, cahaya masuk dengan takut-takut beriringan dengan pintu ambulans yang terbuka.

Gue pun menyadari, bahwa pahlawan, bukan dilihat dari besarnya badan,
melainkan dari seseorang, yang, memiliki perasaan.




--
ps: Mungkin, kakek kalah jauh dengan orang-orang penting atau para pemikir hebat yang melakukan suatu hal besar. Seperti program Made For Minds yang dicanangkan oleh DW, broadcaster di Jerman. Kakek tidak memiliki jiwa sosial setinggi mereka yang rela mengajar anak-anak kecil di kolong jembatan. Atau para aktivis yang berani menentang pemerintahan yang salah. Tetapi, lebih dalam dari itu, kakek mengajarkan orang-orang di sekitarnya untuk tulus dalam menjalani hidup.
Share:

68 comments:

  1. First comment!! Akhirnya bisa komen paling pertama di blog ini. Huaaaa...

    Sepertinya kakek bisa jadi orang paling istimewa. Ibaratnya, ketangguhannya lebih tinggi di atas bapak.

    Gue jadi takut masalah firasat

    ReplyDelete
  2. Nyess banget pas bagian alm.kakek lo memandangi foto nenek, gw jadi teringat film Up malahan di...

    Kurang lebih guratan wajahnya dah mengaliri diri lo yam agak sama kurus dn tingginya heheeh

    ReplyDelete
  3. Gue jadi ingat duku saat masih kecil ketika mbah gue meninggal, sekeluarga bilang ke gue: mbah lagi jalan-jalan ke surga. dan gue percaya itu sampai akhirnya dia ga kembali dan sampai gue ngerti dia kemana. Saat kecil gue juga ikut dirawat sama mbah gue, jadi yaa emang gue tau pasti sangat berasa banget kehilangannya. Sosok alm. kakek lo emang luar biasa (:

    ReplyDelete
  4. Rasanya pernah baca cerita ttg mbah lo juga deh. Tp versi yang lucunya. Kali ini baca yang bikin merinding.

    Jadi kepikiran ntar gue tua akan kaya gitu gak ya?? Hmmm...

    Jd ingat, waktu di kokas itu lo tanya pas liat orang tua, kira2 ntar kita kaya gitu gak?? Seketika gue jawab engaaaaa. Muahaha tp skrg kepikiran loh gue. Ampunnnn~~

    Kakek lo hebat, Di. Gue gapunya kakek sejak sih :((

    ReplyDelete
  5. hiks... jdi keinget almarhum kakek gue :(.

    btw meninggalnya kapan di ? udah lama atau ?
    yg jelas gue turut berduka atas kepergian kakek lu semoga beliau mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Aminn... :)

    ReplyDelete
  6. asli, ngena banget tulisannya.
    mungkin saat ini, gue sedang berada di posisi elu pas kuliah, di. mungkin. sendiri, mau berbagi cerita tpi bngung utk cerita ke siapa.

    sama juga. mbah gue, tinggal d Temanggung, deket sma magelang juga sih. dari beliau gue belajar juga sih. sbnernya belom. tapi pas bca tulisan elu ini dan lgsg flashback smua kenangan saat sma mbah gue, jdi berasa sih. kurang lebih, belajar tentang arti kehidupan. sabar dan berlapang dada sih, klo yg paling bisa gue tangkep dari mbah gue dulu. keren nih, di. jdi pgen nulis tntang mbah gue juga jdinya. haha

    ReplyDelete
  7. jadi inget almarhum kakek setelah baca post nya mas :-(

    ReplyDelete
  8. Kayaknya gue pernah baca tulisan ini, yang di ebook lu bukan di?

    Gue juga gak bisa bayangin gimana hidup sendirian saat tua, walaupun gue biasa hidup sendiri tapi saat tua nanti gue gak pengen sendirian. Makanya gue suka kasihan sama kakek atau nenek gue yang sekarang hidup sendirian, kadang gue luangin waktu untuk dengerin mereka cerita, apa aja. Karena gue juga pengen ada teman bercerita saat tua nanti. :')

    ReplyDelete
  9. Speechless. :')
    Lebih detailnya bisa baca Hilang Bukan Berarti Kosong di ebook Keriba-keribo. #BantuPromosi

    Yeah. Kesendirian bisa dilawan!

    ReplyDelete
  10. Kenapa aku berpikiran kalo aku sekarang sedang di tahap kesendirian itu. Mungkin sebentar lagi benar2 dalam kesendirian.

    ReplyDelete
  11. Habis baca ini gue jadi pengin pulang kampung. Kangen kakek. :')

    ReplyDelete
  12. Bergidik gue bacanya. Ngena banget, apalagi teman sebelah gue muter instrumen sedih.
    Hampir saja mata gue gerah.

    ReplyDelete
  13. tapi sekarang kalau curhat udah bisa di blog yah mas :)

    ReplyDelete
  14. Kadang, orang2 terdekat kita (keluarga) juga memiliki banyak perjuangan yang tidak kalah hebat dibandingkan pahlawan yang kita kenal selama ini, tapi bentuk perjuangan nya tersebut mungkin hanya diketahui oleh sedikit orang. Banyak anggota keluarga yang bisa kita jadikan panutan, terlebih lagi sosok kedua orang tua kita, yang telah bersusah payah membesarkan anak2 nya.

    Dipostingan terbaru, saya juga sempat membuat tulisan tantang sosok pahlawan seperti kakek mu ini sob, kalau ada waktu silahkan dibaca.

    Oya, semoga arwah kakekmu ditenangkan di alam sana, dan semoga amal ibadahnya selama didunia ini dibalas oleh Allah swt, dengan balasan yang setimpal. Amiin...

    ReplyDelete
  15. Wah :' jadi kangen alm. kakek euy walaupun gue ama kakek gue nggak terlalu akrab sama kaya lo juga, di.

    ReplyDelete
  16. terharu :'

    sampe nggak kuat jadi silent reader lagi,

    ReplyDelete
  17. terharu :".
    Gua jadi inget eyang gua juga bang, meninggal sekitar satu taun yang lalu, eyang yang baik, rela relanya bikinin gua teh waktu gua liburan ke rumah dia, meskipun teh nya nyampe ruang tamu tinggal separo gelas karna dia bawanya sambil gemeteran saking sudah tuanya. :" turut berduka cita bang. :"

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. turut berduka cita, ceritanya sedih, cuma agak bingung, dimana menyebalkannya ya

    ReplyDelete
  20. Ngena banget tulisannya mas

    setuju deh sama Quetos ini "pahlawan, bukan dilihat dari besarnya badan, melainkan dari seseorang, yang, memiliki perasaan." :)

    ReplyDelete
  21. Sedih :'( Berasa baca novel gitu ngefeel banget :'(

    Sering banget denger cerita orang tua yang sudah mulai pikun entah itu dari keluarga sendiri atau orang lain. Dan itu sedih banget :'( pasti rasanya terpukul ya liat mereka jadi ga ingat sama orang-orang terdekatnya :'(

    Aku ga sempat ketemu kakek sih, gatau rasanya gimana:')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak kita mau ngomong sesuatu tapi lupa mau ngomong apa ya. :)

      Delete
  22. Endingnya ngena banget. Penyampaian ceritanya cukup apik.

    ReplyDelete
  23. Sejak lahir sampai sekarang, saya belum pernah bertemu dengan kakek saya. Jadi ketika membaca ini saya jadi sedih.

    Meskipun ini review, tetapi ada beberapa hal yang menarik:

    1. Openingnya GOOD JOB. To the point dan langsung pengen baca.
    2. Bahasanya keren, meskipun lugas tetapi karakter tulisannya dapat.
    3. Saya sempat menebak sih di awal, kalo endingnya bakal seperti itu, tetapi cara membawanya cukup oke.

    ReplyDelete
  24. Terharu bacanya..
    Sampaikan salam saya di setiap doamu.

    ReplyDelete
  25. terharu baca ini, semoga kakeknya sampean tenang di alam sana ya ... jadi ingat nenek yang baru meninggal beberapa bulan lalu

    ReplyDelete
  26. Ku sedih :( inget alm kakek juga :( tissu mana tissu? bahu mana bahu? #eh

    ReplyDelete
  27. Ini full sedih. Cukup beda di ebook Keriba-Keribo yg dibawa ketawa dulu baru ending-nya nusuk.

    Tega lo sama pembaca, dibikin mewek gini :'

    ReplyDelete
  28. aku malah nggak pernah dekat sama kakek aku karena waktu aku kecil udah pergi duluan, meski sebenarnya aku pengen banget bisa deket sama kakek aku.

    ReplyDelete
  29. Anjing keren banget nih tulisan lo Di, dari awal gue kira mau jadi anak durhaka eh pas endingnya.. Good Job lah pokoke.

    Suwun sama Mbah..

    ReplyDelete
  30. di awal awal gue ketawa, eh makin kebawah malah makin serius aja, gue malah lupa momen momen gue sama kakek gue, karna kakek udah menginggal waktu gue masih kecil.

    ReplyDelete
  31. Nyesek bacanya. Jadi inget nenek gue yang meninggal tepat di hari ulang tahun gue setelah gue kunjungi, jadi inget kakek gue yang sekarang tinggal sendiri di kampung. Nyes..... :')

    ReplyDelete
  32. Di, lo bikin gue kangen kakek gue. Alhamdulillah beliau masih ada, walaupun tinggalnya jauh banget dan jarang banget gue nelpon Kakek. Hmm, iya, selalu ada banyak pelajaran hidup yang berharga dari orang orang terdekat kita.

    ReplyDelete
  33. anjirr, kok bagus di, kampret lo. gue jadi inget kakek gue. sama nyebelinnya. bedanya kake gue dari sulawesi, dan anti bahasa indo. kakek2 yang udah di tinggal istrinya meninggal memang suka rentan galau, gue merasakan apa yg lo derita kok di :)

    ReplyDelete
  34. Jadi ketika kita merasa sendiri, rasa itu bisa dilawan ya...

    ReplyDelete
  35. Minggu siang galau gara-gara Kresnoadi. Hmm hmm hmm.

    ReplyDelete
  36. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  37. abis baca berulang-ulang, Kok malah jadi sedih gini :')

    ReplyDelete
  38. di awal ku ketawa2 ngebacanya "lucu nih kakeknya" gitu
    Di akhir malah sedih :(

    ReplyDelete
  39. Aku bacanya baper banget yaarabb… :’)
    Itu bener nyalain AC-nya NGEGETOK AC-NYA PAKE SAPU IJUK. Hebat. Pengen ketawa. Huft. Sedih juga, pas kakeknya kakak liat foto istrinya di foto sambil sedih. Aku nggak tau da nenek aku gitu juga atau nggak. Ihiiiiiihh….. :’)
    Ah udah ah, baper jadinya.

    ReplyDelete
  40. Turut berduka mas, moga kakeknya tenang di sana.
    Pelajaran berharga dari kakek akan selalu dikenang.

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/