Wednesday, September 9, 2015

Regret


Jadi begini. Semua ini dimulai sewaktu perjalanan pulang kantor kemarin. Setiap kali pulang, gue biasanya selalu memasang earphone untuk mendengarkan radio. Jam pulang kantor adalah waktunya penyiar favorit. Di salah satu sesi acara radio malam itu, penyiar membuat tema tentang penyesalan dan kebodohan. Tepatnya, hal-hal bodoh yang pernah kita lakukan kepada orang yang kita sayang. Hal bodoh, yang, membuat kita menyesal sampai sekarang.

Pikiran gue mendadak tersambar petir.

Jalanan di depan sedang macet. Barisan mobil antri dengan rapi, sementara motor-motor menumpuk di sela-selanya.

Terus terang, gue suka dengan kemacetan. Terlepas dari bikin kepala kita migren mendadak, kemacetan, sama halnya dengan gunung, selalu menampilkan sifat asli manusia. Di zaman sekarang, kita tidak perlu lagi ke gunung untuk mengetahui kepribadian asli seseorang. Cukup bawa saja si gebetan ke Sudirman di jam pulang kantor. Macet-macetan sampai gila. Di tengah kemacetan, kita bisa melihat, siapa yang tertib, dan siapa yang menghalalkan apa saja untuk sampai duluan. Lebih jauh lagi, kemacetan, membuat kita jadi lebih sering ngobrol dengan gebetan.

Salah seorang penyiar mengutarakan tentang penyesalannya. Ia mengaku pernah dekat dengan seorang perempuan dari SD, SMP, SMA. Lalu, karena terlalu sering jadian dengan si cewek ini, ia meminta supaya si cewek jadian dengan cowok lain. Sampai, pada akhirnya, ketika si cowok merasa kehilangan, si cewek ini mengabarkan kalau dia mau nikah dengan cowok lain.

Penyesalan seringkali datang dari hal-hal sepele.

Dari banyak penyesalan yang diceritakan oleh penyiar, kebanyakan dari mereka, menyesal hanya karena satu hal kecil. Gara-gara tidak membantu gebetan sewaktu ban mobilnya bocor. Bercandaan yang terlalu kasar. Atau, di dalam kasus gue, penyesalan terjadi karena kecemenan yang gue lakukan sendiri.

Penyesalan paling dalam gue terjadi sewaktu SMA.

Gue, terus terang, mengetahui si cewek ini dari teman-teman yang lain. Si cewek basket yang terlalu sporti, yang sering membawa handuk kecil di pundaknya. Dengan kacamata tebal, dan menyukai lagu-lagu yang gue sama sekali gak ngerti. Tipikal cewek populer di sekolah gue.

Sejak kelas satu, gue tidak terlalu memperhatikan si cewek ini. Sampai, di kelas tiga, kami masuk di kelas yang sama. Gue mulai penasaran sama si cewek ini.

Lalu kami PDKT dan jadian.

Anehnya, di masa itu, gue sama sekali tidak berani memperlihatkan perasaan gue di depan dia. Rasanya seperti seorang fans yang mati beku di depan idolanya. Di sekolah, kami seperti tidak saling kenal. Di chat, kami seperti dua orang sinting yang bisa membahas apa saja tanpa berhenti.

Lalu ini dia masalahnya: dia tidak mau terus-terusan begini. Gue, sejujurnya, paham dengan kemauan dia waktu itu. Namun, kecemenan gue yang membuat kami begitu jauh. Lucu rasanya kalau dipikir-pikir lagi. Bagaimana sepasang kekasih malah jauh-jauhan padahal kami satu kelas. Ketidakberanian gue untuk pacaran membuat gue hanya memperhatikannya dari jauh. Mengintip dia dari bangku belakang. Melihatnya membeli fanta susu di kantin paling ujung. Mengamatinya setiap kali dia bertanding basket.

Gue masih ingat pertama kali dia memaksa gue untuk berkenalan dengan nyokapnya. Kalau boleh memilih, gue lebih memilih untuk nyekek diri pake dasi SMA dibanding kenalan saking takutnya. Gue masih ingat tentang dia yang bilang ‘Aku males pulang deh’ tiap kali pengin ngajak main. Gue masih ingat pegangan tangan pertama kami.

Terus terang, kalau dipikir-pikir lagi, gue emang bego banget. Pacar pertama gue, orang yang gue sayang waktu itu, malah gue sia-siakan begitu saja.

Penyesalan gue adalah ketidakberanian gue.

Sekarang, gue udah sama Deva. Seseorang yang sekarang lagi benar-benar mengisi hati gue. Mungkin, dia berbeda dengan si cewek basket itu. Dia bukan pemain basket. Minuman favoritnya bukan fanta susu. Sekarang, jarak kami benar-benar jauh. Tetapi, gue beruntung bisa mendapatkan orang seperti dia. Dan untuk kali ini, bersama dia,
gue tidak pernah mau menyesal.

--
Ternyata masih ada lho yang ikutan main tantangan tiga rasa. Tulisan dari Fauzi nih. Untuk yang mau ikutan bisa lihat postingan ini. Nanti kalau udah bikin, tinggal kabarin gue dan postingan kalian akan gue pajang di blog ini.

Kalau ada yang mau cerita soal penyesalannya, silakan komen di bawah ya. :)
Share:

28 comments:

  1. Replies
    1. Apakah anda menyesal menjadi admin di akun Pengobatan Kanker Ovarium?

      Delete
  2. Penyesalan pasti ada kalo kita sudah berbuat salah, selanjutnya harus ada introspeksi diri agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi :)

    ReplyDelete
  3. cieee ciee adi... kata2 terakihr lo so sweet bener dah bikin envy. tenang di, walaupun lu berdua jauhan gue siap mematamatai si deva *kemudian dicolok deva dimata

    ReplyDelete
  4. Saya juga nyesel saat.... Ah, sudahlah.

    ReplyDelete
  5. Yeaaa, gaya pacarannya kayak gue lu bang. Di dunia nyata jarang negur, di chat malah gila banget.

    ReplyDelete
  6. Menyesal karena keseringan menunda-nuda sesuatu, dan waktu yang diulur-ulur itu malah untuk hal tak berguna. Halah.

    ReplyDelete
  7. Gue nggak percaya lu secemen itu.
    Seorang senpai Adi yang katanya macho, ternyata. Ah, sudahlah.

    Btw, sekarang apa kabar mantan abas (anak basket) lu itu?

    Penyesalan gue, gue kenal sama blog ini.
    Menyita waktu gue dengan membaca tulisan di sini.

    ReplyDelete
  8. Kalo gua, deket banget sama seorang cewek yang gua rasa dia juga suka sama gua... tapi saking cemennya, gua gak berani nembak dia dengan alasan kalo sampe ditolak kita bakal jadi canggung satu sama lain. Well, sekarang dia punya pacar baru dan gua nyesel kenapa dulu gak coba aja nembak dia.. -__-

    ReplyDelete
  9. Penyesalan karena nggak belajar lebih dulu, dan lebih serius lagi untuk sebuah Universitas dan jurusan yang diimpikan saat itu. HUAHA.

    ReplyDelete
  10. gue juga menyesal karena dulu ... *lupakan

    ReplyDelete
  11. bahahaha... klasik. sama percis kayak gue waktu kelas 2 smp. percis.... percis... cis...
    di chat panjang lebar cerita... di depan, gak berani ngomong. mati kutu. gak berani. ending2 ny putus

    ReplyDelete
  12. Penyesalan?? SMA? Duhh kalo diingat jadi sedih sendiri. Lebih kepada bersyukur aja sekarang. Mau nulis tentang penyesalan juga ah di blog. Boleh ya, Di?? :D

    ReplyDelete
  13. hahaaa
    Ternyata bang Adi dulu lemaaaah.
    Kenalan dengan nyokap pacar aja gak berani.
    Lemaaaahhhh..

    ReplyDelete
  14. mau pacaran tapi gak mau kenalan sama nyokapnya

    ReplyDelete
  15. Keknya elunya lebih nyaman via chat ketimbang ngobrol langsung... "Ada temen akhirnya..." hahahaha

    Ya gue pernah nyesel kalo dia gak jadi jodohku suatu saat nanti... Iya, nanti...

    ReplyDelete
  16. penyesalanku adalah kenapa sampai sekarang aku gak bisa move on dari mantanku

    ReplyDelete
  17. kalau bahas soal penyesalan suka inget*****

    ReplyDelete
  18. Pernah nyesel pas lagi mau mandi, nyalain air keran buat ngisi bak mandi. Trus gue tinggal main game eh pas balik keduluan adek gue :" Nyesel mah kaga ada enak enaknya

    ReplyDelete
  19. Cerita lu pas sma knapa bisa sama kayak gue ya? Di chat nyambung abis, giliran ketemu kacau abis..

    ReplyDelete
  20. Aih, ini post mendadak bikin galau. Hhhhh ....

    ReplyDelete
  21. Aku menyesal.... kenapa pas suami ke kantor aku gak segera makan indomie kaldu 2 bungkus!!! (balada bumil ngidam indomie tapi gak dibolehin suami u.u)

    ReplyDelete
  22. Terimakasih banyak gan, sangat bermanfaat sekali tutorialnya...salam sukses buat admin.

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/