Tuesday, July 21, 2015

Menulis dan Berpiikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis

Setelah seharian kemarin jalan ke PIM buat nyari hodie, gak tahunya malah pulang bawa buku panduan menulis kreatifnya Ayu Utami. Judulnya Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis. Emang dasar kutu buku kali ya? Begitu ngeliat buku ini, gue kayak langsung ngedenger bisikan gaib, ‘Bawa aku ke kasir… bawa sekarang juga…’ Jadi deh, beneran langsung gue bawa ke kasir. Selepas beli, udah deh, gue mendadak lupa tujuan awal. Ujung-ujungnya malah melipir ke Starbucks. Buka bukunya. Tarik napaaas. Embuus. Hmm. I really love the smell of new books.



Dan setelah berkutat hampir dua jam, gue dapat tambahan ilmu yang menarik banget. Seperti judulnya, buku itu tidak hanya membahas tentang menulis kreatif, tapi juga berpikir kreatif. Ayu Utami membagi buku tersebut ke dalam tiga bagian besar: Kerangka, Daging, dan Kulit. Nah, gue kasih tahu sedikit tentang bagian kerangkanya aja kali ya? Berikut ulasan singkatnya:

Ide & Dorongan:
Sebelum mulai menulis, seseorang tentunya membutuhkan ide. Ide bisa berupa pemikiran konkret maupun abstrak. Dalam menulis kreatif, kita tidak boleh membatasi diri dengan berpikir, ‘Apa aja sih yang boleh kita tulis? Apa yang gak boleh?’ Pembatasan seperti itu justru akan menimbulkan pemikiran yang tidak kreatif. Jadi, pikirkan ide sebebas mungkin. Apa yang mau kita tulis? Tentang sebuah lukisan kuno yang dicuri pemiliknya sendiri? Atau bisa seabstrak Ingin membuat tulisan yang tidak ada tanda titiknya.

Tapi, ada kalanya kita benar-benar tidak punya ide menulis. Kalau itu yang terjadi, carilah DORONGAN dari dalam diri. Pikirkan hal-hal yang mengganggu. Seperti misalnya, tentang mengapa teman kita tega merebut pacar kita? Kenapa bencong mangkalnya di lampu merah? Kenapa gak di pinggir jurang aja biar bisa kita jorokin? Hal-hal seperti itu jelas bisa menjadi awal mula bahan tulisan yang menarik.

Struktur Tiga Bagian: Ci-Luk-Ba!
Seperti yang kita ketahui, struktur paling sederhana dari sebuah cerita terdiri dari tiga bagian: Pengenalan, Konflik, Konklusi. Atau, dalam contoh sehari-hari, Ayu Utami memberikan contoh nyata paling sederhana ini dengan Ci-Luk-Ba!

Ci: Tahap sebelum orangtua menutup wajah dengan tangannya. (Pengenalan wajah orangtua)
Luk: Tahap si anak kehilangan wajah orangtua (Konflik).
Ba!: Tahap mendapatkan wajah orangtua kembali (Konklusi).

Sama halnya dengan Ci-Luk-Ba! Cerita yang baik biasanya memiliki ketiga unsur ini. Contoh: Jika kita ingin menuliskan cerita tentang Bencong yang mangkal di lampu merah, kita bisa membuatnya menjadi tiga babak dengan seperti ini: Perjalanan Bencong ke lampu merah – Bencong ketabrak metro mini yang dikenekin sahabatnya sewaktu SD  – Bencong insyaf & menikah dengan sahabatnya.

Sinopsis & Outline:
Setelah mengenal adanya struktur tiga bagian (Ci-Luk-Ba!) Buatlah sinopsis dan outline dari ide yang telah kita miliki. Contoh sinopsis yang dihasilkan dari cerita Bencong Mangkal:

Cerita ini berkisah tentang Bencong insyaf yang menikah dengan sahabatnya sewaktu SD. Ia tidak menyangka, di siang yang menyebalkan itu, ia harus mengeluarkan jurus karate yang telah ia pelajari hampir 6 tahun karena diserempet metro mini. Ia pun berpura-pura tidak ada masalah setelah mengetahui bahwa si kenek Metro Mini ternyata sahabatnya pas SD. Ia lalu memilih untuk mengaku meski beresiko sahabatnya jadi benci karena ia sudah menjadi Bencong. Meskipun mendapat penolakan keras, pada akhirnya sahabatnya bisa menerima dan malah membuat si bencong jadi insyaf. Mereka berdua menikah.

Perbedaan Karya Kreatif dan Bukan
Apa sih yang membedakan novel dengan skripsi? Atau puisi dengan tulisan di koran? Jelas sekali bahwa jawabannya adalah kenikmatan. Membaca karya kreatif akan menimbulkan ‘efek gemes’ sendiri bagi kita. Kalau kata Ayu Utami dalam buku ini, “Membuat cerita adalah menyusun informasi sedemikan rupa sehingga ada kenikmatan bagi pembaca.” Nah, sekarang bagaimana cara memunculkan kenikmatan dalam sebuah tulisan? Ada tiga unsur yang berkaitan dengan kenikmatan: 1) Keindahan (bisa didapatkan dari gaya bahasa), 2) Ketegangan (didapat dari konflik dalam cerita), 3) Keseimbangan/Proporsi yang pas.

Fokus:
Setelah memiliki bahan untuk membuat tulisan dan mengetahui perbedaan karya kreatif dan bukan, sekarang masuk ke poin yang cukup penting: fokus. Seorang penulis seringkali terlalu bersemangat sehingga berniat menceritakan kehidupan tokoh dalam rentang waktu yang panjang. Contoh dalam tulisan Bencong Insyaf: menulis diawali dari Bencong berangkat dari rumah – mangkal sampai malam – ketabrak bus – PDKT sama sahabat selama tiga bulan – mencari restu orangtua sahabat – menikah. Hal ini bukan tidak mungkin, tetapi tulisan akan rentan untuk tidak selesai.

Jadi, fokuslah pada satu peristiwa, satu waktu, dan satu lokasi utama terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk memudahkan penulis dalam mengembangkan potensi yang tersimpan pada peristiwa, waktu, dan lokasi itu secara lebih maksimal.

--
Mungkin segitu aja kali ya. Lumayan lah. Selanjutnya tinggal bagian penulisan dan pasca-penulisan. Sekali lagi, yang menarik dari buku ini adalah, di situ gak cuman menjelaskan tentang bagaimana menulis kreatif, tapi berpikir kreatif. Meskipun bahasanya rada bikin bingung kalo otaknya gak nyampe kayak gue. Huehehe.

Eh, udah lebaran ya?
Minal aidin dulu dong! \(w)/
Share:

44 comments:

  1. Minal Aidin Walfaizin blog keriba-keribo.

    Eh bagus yah bukunya, postingannya bermanfaat banget nih, yah meskipun otak gue gak nyampe banget juga buat mahamin nya. Kitamah apalah-apalah kaka~~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, Kak! Yuk, ikutan ekspedisi jelajah Kalimantan GRATIS dengan ikutan lomba blog "Terios7Wonders, Borneo Wild Adventure" di http://bit.ly/terios7wonders2015

      Jangan sampai ketinggalan, ya!

      Delete
    2. Minal aidin juga cuup! Gue juga gak sampe itu! Makanya share dikit doang. \:p/

      Delete
    3. Halo First! Nama lo keren juga ya. Makasih udah nyebarin lomba blog! Sekarang enyahlah kau..

      Delete
  2. Aaaaackk. Kayaknya bukunya baguuuss.

    Mohon maaf lahir batiiin~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya rim, tapi agak bikin mabok. Hahaha. Mohon maaf lahir batin juga!

      Delete
  3. Gue akan menerapkan konsep cilukba. Setiap orang yg lewat bakal gue cilukbain biar ga lupa~

    Mohon maaf lahir dan batin juga bang.

    ReplyDelete
  4. Gua kepikiran kalau cerita 'Bencong insyaf'nya dijadiin film. Kan bagus bgt tuh hehe :D

    Maaf lahir batin juga, boo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmmm. Kenapa gue gak kepiikiran ya?

      Delete
  5. Hmm, orang yang suka baca emang gitu, ke mal nyari baju lebaran, eh pulangnya malah beli buku. Baju kagak dapet. -__-

    Gue udah agak(sedikit) paham yang cilukba, pernah baca di mana lupa, intinya sama kayak pembuatan film juga, yang bagian awal 25%, isi(konflik) 50%, dan ending 25%. Hehehe.

    Gue cuma baru baca buku A.S Laksana yang Creative Writing. Itu boleh juga, Di. Atau malah lu udah baca, ya? Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu soal proporsi ya? Ini mah kan dasarnya doang. \:p/

      Delete
  6. Aduh. Jadi penasaran mau baca lebih lanjut. Terutama bagian kenikmatan dalam sebuah tulisan. Kapan-kapan pinjam, ya! heheheh.

    Btw. Selamat lebaran juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kagak boleh pinjeeeem! *Kresnoadi seketika menjadi pelit* Hahahaha.

      Delete
  7. tulisan yang tidak ada tanda titiknya? walah
    minal aidzin

    ReplyDelete
  8. dapet ilmu baru nih.
    sekrang baru nyadar kalo tulisan bagus itu terstuktur gitu yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya. Terstruktur. Seperti rambut saya.

      Delete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. Saya pernah baca model begini yang ditulis Raditya Dika. Keseluruhan tekniknya sama, struktur 3 babak itu. Tapi Ayu Utami menyebutnya Ci-Luk-Ba. Hahaha. Thanks buat bagi ilmunya, Di.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hooh, kalo si Ayu ini diubah ke konkret biar orang bisa ngebayangin kali ya? Gue gak ngerti juga deh. \:p/

      Delete
  11. dapet ilmu baru nih.
    sekrang baru nyadar kalo tulisan bagus itu terstuktur gitu yak

    ReplyDelete
  12. minal aidin wal faidin ya

    bukunya menarik kayaknya, ,,, hmmm kenapa bikin contongnya bencong ya, itu geli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmmm itu karena saya penggiat bencong sejati.

      Delete
  13. Minal aidin bang :)
    Makasih udah bikin pengetahuan nambah lewat tulisan ini bang walaupun lebih banyak yang aku ga ngerti hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali-kali menyebar kebaikan nih. Lagi khilaf. \:D/

      Delete
  14. Wuaaah. Kayanya bagus bgt nih buku.
    Makasih reviewnya, kak!

    ReplyDelete
  15. Waktu itu mau beli tapi duit di dompet kurang, gak jadi deh wkwk :( covernya lucuk ya Di kaya bukan buku hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa agak mahal sih ya sya. Gue kemaren gak mikir-mikir... tahu-tahu miskin. :(

      Delete
  16. kalo Gue pribadi sih bro
    entah kenapa dan memang itunya ga beraturan kalo nulis
    dan idenya emang apa yang gue liat tiap hari

    ReplyDelete
  17. Boleh juga ini diterapkan pas nulis artikel. Intinya harus ada konflik dan bisa bikin "gemes" yang baca, hehehe.

    ReplyDelete
  18. Hehehe thanks kresnoadi yang kagak pelit ilmu. Btw minal aidin juga yah :)

    Dianexploredaily.blogspot.com

    ReplyDelete
  19. nah kemarin liat buku ini di gramed. pengen beli juga. tapi entah kenapa malah beli novel ayah. nabung lagi deh

    ReplyDelete
  20. ntra sore coba cari buku nya di gramed ah :-)

    ReplyDelete
  21. Bukunya bagus banget nih pasti. Apalagi udah dikasih sedikit ulasan isi dari bukunya, jadi semangat mau beli.

    ReplyDelete
  22. Waaaak, kemarin gue ke gramed juga liat buku itu bang, tapi belum aku bawa pulang ._. besok deh ah :3

    ReplyDelete
  23. Minal Aidzin mas kribro. Maaf, ya. Gue baru bisa mampir. Lu taukan, kejadiannya...

    Gue jadi ngikut dapey ilmu baruu ni. Ada beberapa yg sering gue pake, ada juga yag masih baru. Mungkin inilah kelebihan bagi yg suka membaca.

    Sekali lagi, makasih buat ilmunya. Jadi pengen beli bukunya deh...

    ReplyDelete
  24. Ngiriin aja kamu, Di. Jadi tambah tertarik sama buku ini. Beli gak, ya... Hehe.

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/