Sunday, March 22, 2015

Bandara

Sepanjang hidup gue, gue baru dua kali pergi ke bandara: minggu lalu dan hari ini. Buat gue, bandara adalah contoh nyata dari dua sisi kehidupan. Minggu kemarin gue berdiri di depan pintu “kedatangan”. Dengan jaket cokelat yang digantungkan di bahu, gue senyum-senyum sendiri menunggu dia muncul dari pintu sana.

Rasanya lucu.

Gue seperti ingin meminta waktu untuk lebih cepat berputar. Namun sesungguhnya takut kalau hal itu benar-benar terjadi. Gue, ingin ‘merasakan’ waktu dengan lebih tenang. Menunggu setiap detiknya, dari satu sampai enam puluh, lalu jam digital merah di dinding berkelap-kelip, berubah menjadi menit.

Lalu dia datang. Dengan tas jinjing biru yang diisi berlebihan. Dengan langkah pelan-pelan karena beban yang dia bawa terlalu berat. Gue menghampirinya, berteriak kecil, lalu kami berpelukan.

Tidak hanya gue,
bandara juga mempertemukan orang-orang lain.

Ada decit trolley yang diisi koper dan didorong terburu-buru. Ada tangan yang terbuka, meminta untuk dipeluk. Ada orang-orang lain yang duduk menunggu. Ada yang sesekali melihat jam dengan cemas. Ada kado di balik punggung. Ada rindu yang berserakan.

Namun, hari ini semuanya berbeda.

Gue duduk di sebelah dia dengan perasaan aneh. Kali ini rasanya benar-benar ingin meminta waktu untuk lebih cepat pergi. Di samping dia, gue menghirup napas dalam-dalam. Rasanya seperti seseorang yang lupa caranya mengembuskan napas kembali. Sesak. Semakin lama duduk juga membuat kepala terasa semakin panas. Mata gue menuju ke pilar cokelat di depan.

Di saat seperti ini, indera gue menjadi lebih peka.

Gue menjadi sadar bahwa bandara bukan hanya tempat bertemu.

Di balik tawa lebar para penjemput, ada juga senyum getir para pengantar. Di belakang keramaian pertemuan, ada genggaman tangan yang dilepas. Ada pelukan yang dibuka paksa. Ada air mata yang terurai.

Ada gue dan dia yang juga akan berpisah.

Dengan headset yang menyolok di telinga kami, handphone gue mengalunkan lagu demi lagu. Waktu terasa sangat lambat dan gue membenci itu.

Gue mengambil hape dia. Membuka galeri, lalu melihat isinya satu per satu.

Dan kilatan-kilatan memori itu muncul. Jatuh dari layar menuju lantai putih bandara. Kumpulan foto dengan tampang kita yang sangat abstrak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Video-video berantakan yang bagi sebagian orang sangat tidak penting dan aneh, yang, entah kenapa, selalu bisa kita tertawakan. Dia menyenderkan kepalanya, memasang wajah cemberut. Gue, tidak bisa berkata-kata, hanya sesekali mengusap rambutnya. Tidak enak melihat dia yang terus menerus menunduk, gue mencari akal. Sampai, pada akhirnya, gue meminta kita untuk bermain sebuah permainan yang bernama Menahan-Tangis-Sampai-Di Rumah.

Dan sepuluh menit kemudian,
kami kalah bersamaan.
Share:

43 comments:

  1. Cieeee.. Yang pelukan.. Aku sama Febri cemen, cumak pegangan tangan. Apaan cobak. ._.

    Kadang memang harus terpisahkan oleh jarak, agar rasa tak berubah abstrak.. :3

    ReplyDelete
  2. Wih yang punya pacar, kalo gue udah punya pacar tulisan di blog bakal mirip mirip gini nih

    ReplyDelete
  3. Widih keren.... Njirrr mainan tahan nangis sampe dirumah hahahah.... :v

    ReplyDelete
  4. Aakkk so sweet yah kalian. Langgeng terus ya meskipun terhalang jarak. Masih sama-sama di Indonesia mah bisalah~~ belom rooming kalo nelpon. Hehehe~~

    ReplyDelete
  5. YOIIIIIII BANGET 'kami kalah bersamaan' :')

    ReplyDelete
  6. So sweet, banget.

    Gue selalu percaya, ketika seseorang sedang diterpa oleh sebuah kegalauan. Kemudian ditumpahkan perasaannya ke tulisan. Maka.... berakhir kalimat demi kalimat yang secantik ini. :)

    ReplyDelete
  7. cie bang adi so sweet banget. uhuk uhuk

    ReplyDelete
  8. Ya Alloh yang punya pacar :'

    Gue kapan bisa nulis ttg kaya beginian di blog yak :((

    ReplyDelete
  9. Parah.

    Lo bener-bener parah Bang :'

    Gue pernah merasakan hal yang sama bang. kita seperjuangan :')

    ReplyDelete
  10. Subhanallah banget, Kak. Nggak bisa diungkapkan dengan kata, aku terharu. Kalian keren banget. Semoga langgeng hingga maut memisahkan. :')

    ReplyDelete
  11. Habis baca langsung bungkam. :))
    Bingung gue mau komen apaan.
    Kalian berdua pokoknya keren. :D

    ReplyDelete
  12. keren banget,semoga langgeng ya,menahan tangis sampai rumahnya udahan kan? :D

    ReplyDelete
  13. Endingnya pyaaaarrr banget, "sepuluh menit kemudian, kita kalah bersamaan" :')

    ReplyDelete
  14. Kembali LDR, semoga langgeng ya bang hubungan kalian sama deva :)

    ReplyDelete
  15. semangat LDR lagi di, kita para pejuang iniiii, semangat

    ReplyDelete
  16. *telat baca banget
    keren sekali abang!
    Bandara. tempat untuk berganti tempat. tempat memulai dan memisah. keep inspiring ye;)

    ReplyDelete
  17. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  18. Semoga cepet nikah ya kalian berdua. :D

    ReplyDelete
  19. Ini pasti based on true story yaaaa? *emang nyata bego -_-*

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/