Sunday, November 30, 2014

Changes

Malam ini teman-teman kampus mengadakan acara bakar-bakar.

Tujuannya asik banget,
Perpisahan.

Kita ngerasa udah bakal mencar-mencar. Ada yang ingin melanjutkan ke S2, ada yang getol nyari kerja, ada juga yang berencana pulang ke kampung halaman. Sambil menunggu temen ngipasin bara api, gue naik ke atas. Masuk ke kamar Yuda, iseng ngebaca ulang ebook keriba-keribo.

Sampai gue menyadari sesuatu.

Bahwa banyak hal di ebook itu yang sudah tidak sama lagi.

Seiring dengan berjalannya waktu, gue sudah tidak pernah bertemu dengan Agung dan Nurul lagi. Kita udah jarang banget komunikasi. Kesibukan masing-masing menyita semuanya. Gue sudah tidak segoblok itu lagi ketika main ke mal. Tiap ke parkiran, sekarang gue megang-megang kepala dulu, memastikan apakah helm sudah gue lepas atau belum. Radit juga sekarang udah nggak di Bandung lagi. Dua bulan belakangan dia tinggal bersama gue di Bogor. Omanya pun sudah meninggal dunia. Gue juga belum pernah naik gunung lagi. Lebih jauh lagi, gue sekarang sudah tidak bersama dia. Sekarang udah ada Deva. And I’m so in fish love right now. Satu-satunya yang tidak (mungkin) berubah, adalah Mbah gue, yang masih tenang di alam sana.

Selesai membaca, gue berkaca ke diri gue yang sekarang. Mungkin banyak yang berubah, banyak yang berbeda, but the soul of that book, literally, still going out with my life here.

Seperti yang tertulis di sana, bahwa kita akan melangkah dari satu titik, ke titik di depannya. Dan gue, bersama teman-teman di bawah, akan merayakan pergantian sebuah titik. Di depan kita sudah banyak pilihan titik lain untuk dituju. Ada yang memilih ke titik yang sama, tetapi tidak sedikit juga yang berbeda.

Seperti yang dinyanyikan Keane,

Everybody’s changing
and I don’t feel the same. 
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, November 26, 2014

Kalimat Antimainstream Yang Dikatakan Ketika Putus

Kamu mungkin sudah terlalu sering membaca kalimat mainstream  yang diutarakan ketika putus. Dan gue tahu apa respon kalian. Yak, basi. Kalian akan menganggap kalimat-kalimat tersebut sudah terlalu basi untuk dikatakan sewaktu hubungan kalian renggang dan ingin mengalami sesi putus. Lalu, seiring dengan berjalannya waktu, kalimat-kalimat tadi seakan tidak lagi pantas untuk diucapkan. Lalu, ketika hubungan kalian semakin renggang dan sulit untuk dipertahankan, kamu jadi bingung untuk mengakhiri hubunganmu dengan si calon mantan. Pengin bilang putus, rasanya kok ya basi banget kalimatnya? Yang ada kalian dicap buruk oleh si calon mantan. Maka, artikel ini ditujukkan oleh kalian yang pengin putus tetapi sulit untuk mengutarakannya. Ini adalah kalimat antimainstream  yang dikatakan ketika putus:

1. “Aku adalah pahlawan super”

Kalian bingung? Jangan khawatir. Kalimat tersebut memang diciptakan untuk kaum-kaum berpacar yang ingin putus. Hal pertama yang harus kalian siapkan adalah sarung. Betul sekali, sarung. Lilitkanlah sarung tersebut di leher kamu, usahakan jangan sampai sesak napas apalagi malah dibuat ninja-ninjaan. Gunakanlah sarung tersebut selayaknya sayap atau jubah yang dikenakan superhero idolamu. Kalau sudah, kamu tinggal datangi rumah pacar kamu, ketuk pintu rumahnya, lalu, ketika pacar kamu keluar, katakanlah, ‘Maaf sayang, sesungguhnya aku punya rahasia.’

Dia pasti akan terkejut dengan tingkah kamu. Tidak apa-apa. Itu hal biasa. Untuk meyakinkannya, tatap matanya, bilang, ‘Bukan. Ini bukan acara ngerjain di tipi-tipi itu.’ Lalu pacar kamu pasti akan heran dan bertanya, ‘Terus apa rahasia kamu?’

Nah, ini adalah momen krusial. Kamu pegang kedua tangannya (tangan si pacar, bukan Bapaknya). Embuskan napas seolah ini adalah persoalan yang amat pelik. Lalu, di tengah keheningan antara kamu dan pacar kamu, katakanlah, ‘Sebenarnya aku ini Supermen. Aku mau kita putus.’ Kibaskan sarung tersebut di hadapannya, lalu kabur secepat mungkin.

Untuk lebih mendramatisir, cara ini dapat pula kamu terapkan di depan publik. Selain putus dari pacar, ada kemungkinan kamu bakal digelandang ke panti sosial terdekat.

2. “Santetmu sudah kuketahui”

Kalimat kedua ini juga dapat kalian katakan, khususnya untuk kamu-kamu yang memiliki tingkat percaya diri tinggi.

Ajaklah pacar kamu dinner di sebuah rumah makan (usahakan rumah makan yang cozy, jangan di pecel lele pinggir jalan. Apalagi kalau itu dagangan pacar kamu). Pesanlah minuman favoritnya, karena mungkin malam ini adalah malam terakhir untuknya minum minuman kesukaannya berdua bersama kamu. Di depan dia, buatlah gerakan sehalus mungkin. Usahakan dia membuat pertanyaan terlebih dahulu. Kalau perlu, komat-kamit di depan dia. Gerakkan bibir kamu sesantun mungkin. Selanjutnya, menurut pengamatan gue selama ini, dia akan melontarkan salah satu dari tiga pertanyaan di bawah ini:

1)    ‘Kamu kenapa, Yang?’
Dia akan bertanya seperti itu kalau kepala kamu peyang.

2)    ‘Kamu kenapa, Ay?’
Dia akan bertanya seperti itu kalau kamu Ayahnya.

3)    ‘Kamu kenapa, Bu?’
Dia menganggap kamu babunya.

Pokoknya, pertanyaan seperti itu akan terlontar dari mulutnya. Maka jangan jawab pertanyaan dari calon mantan kam itu. Teruslah berkomat-kamit bak ikan mujaer di air payau. Gaya kamu yang komat-kamit akan membuat dia semakin kebingungan. Kuatkan diri kamu sebelum mengakhiri hubunganmu dengannya. Sampai, di satu titik, ketika kamu sudah sanggup dan memiliki tekad yang kuat, berdirilah dengan tiba-tiba. Gebrak meja sambil bilang, ‘DEMI TUHAAAAANN!! DEMI TUHAAAN SANTETMU SUDAH KU KETAHUI!’

Gebrak terus meja makan kamu sambil tereak-tereak, ‘LIHAT DI LUAR SANA! TEMAN-TEMAN AKU UDAH BIKIN PAGAR GAIB UNTUK KAMU!! KITA TIDAK MUNGKIN BERSAMA LAGI! AKU MAU PUTUS!’ lalu kamu tunjuk jendela cafe yang di luarnya telah ada teman kamu mengenakan setelan putih-putih (atau biar lebih oke, sekalian sewa Pemburu Hantu) salto-salto sambil masukin setan ke dalam botol.

Ketika pacar kamu menganga karena tidak tidak dapat berkata apa-apa lagi, tinggalkanlah dia dengan gaya cool.

Prosesi pemutusan kamu berjalan dengan lancar dan ajib.

Nb: kamu tidak bisa menerapkan ini apabila pacar kamu secantik Pevita Pearce sementara kamu giginya taring semua. Bukannya putus, yang ada kamu bakal digampar.

3. “Jadi gimana? Maksudnya?”

Siapa yang tidak mengenal sosok Anang Hermansyah? Anang merupakan bukti nyata kalau laki-laki adalah makhluk yang tidak peka. Nah, kalimat pamungkas a la Anang ini dapat digunakan untuk kamu memutuskan hubungan kamu dengan pacarmu.

Kamu tinggal menelpon pacarmu mengatakan bahwa kamu ingin mengakhiri hubungan kalian. Apabila si calon mantan kamu memiliki banyak pertanyaan, ngeleslah dengan jurus sakti yang Anang miliki.

“Sayang kita putus!”
“Kamu kenapa mutusin sepihak gitu! Emangnya apa salah aku?”
“Jadi gimana?
“Coba jelasin apa salah aku!”
“Gimana gimana?”
“Emang salah aku di mana sampe kamu minta putus kayak gitu!”
“Maksudnya?”

Mengeleslah terus sampai si calon mantan kamu bosan. Kalau pacarmu emosian, paling dia ngegebok kamu pake high heels-nya.


Itulah tadi tiga kalimat sakti (sebetulnya masih ada banyak, tapi gue nggak boleh sombong) yang antimainstream dikatakan seseorang ketika dia ingin putus. Gue berharap hubungan kalian tetap awet dan adem ayem. Namun bila kalian sudah resah dan gerah, ingatlah satu pesan dari gue: Putuslah dengan elegan!

Selamat mencoba! Semoga keadaan Anda sehat wal afiat setelah Anda putus dengan dia!
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, November 24, 2014

Tolong Aku Pak Ahok

Setelah kemarin sempet merusuh di Java Jazz, kini gue kembali datang menggerayangi event baru yang oke punya: Hellofest. Gue memang udah menunggu-nunggu banget acara ini. Udah dari lama gue pengin dateng ke acara seperti ini. Kira-kira 2 menit yang lalu lah.

Untuk yang belum tahu apa itu Hellofest, silakan klik link ini.

Niatan gue untuk datang ke acara ini adalah mendapatkan pencerahan. Gue, beberapa hari belakangan, sedang bingung pengin ngelakuin apa. Kerjanya paling nonton, tidur, kadang-kadang ngobrol nggak jelas. Seperti membahas dampak fluktuasi harga BBM terhadap perubahan status adek-kakakan menjadi paman-ponakan.

‘Nanti di dalem mau beli apa, Di?’ tanya si Alam di depan antrian tiket. ‘Gue belom pegang duit nih.’

Karena memang cuman berniat main-main, gue jadi bingung sendiri dengan pertanyaan Alam.

‘Bebas deh. Cari ATM aja dulu.’

Kita pun mendatangi ATM mobil yang parkir di samping antrian tiket. Dan ternyata offline saudara-saudara! Bagus sekali. Jadi apa gunanya tuh mobil nangkring di situ?

Alam membuka dompet. ‘Duit gue di dompet cuman gocap lagi. Kalo di ATM mah ada lumayan.’ Alam menggumam lirih, ‘Ceban.’

Gue hampir membuka gesper lalu menyelepet kepala Alam, tapi gue nggak tega.

‘Ya udah masuk aja. Di dalem ada kali.’

Eeeh begitu di dalem kita tanya ke information desk-nya, ternyata nggak ada. Kutu! Kita malah disuruh keluar jauh ke sekitar Gelora. Dan katanya, kalo udah keluar, mau masuk laginya harus bayar tiket lagi. Setelah berdiskusi alot dengan Alam, kita memutuskan, tetap di dalam. Bermodal uang gocap.

‘Kita harus survive Di!’ Alam berseru lantang.
‘GROAAARRRR!!’ Gue buka baju lalu mengibas-ngibasin di udara.

Hehehe. Kagak lah.

Maka dengan ini, petualangan Alam dan Kresnoadi, si bocah berambut tidak keribo, dimulai.

Kita langsung muterin seluruh area bagian luar. Disebutnya pasar. Di sini banyak banget orang cosplay jalan-jalan. Keren banget. Gue langsung heboh tiap ngeliat ada yang cosplay. Bawaannya pengin samperin terus colak-colek. Ada gundam. Orang-orang dengan kostum power ranger. Sampai mbak-mbak dengan pakaian seksi berbaju ijo-ijo.

Gue menunjuk ke sekumpulan cewek dengan rok pendek dengan setelan ijo-ijo tersebut. ‘Lam kita foto sama mereka yuk!’

‘Itu SPG, bego.’

Gue ketawa canggung.

Gue paling tidak mengerti masalah cosplay-cosplayan (gue sendiri hanya cosplay menjadi rakyat jelata). Tapi setelah menelisik lebih dalam, gue menyadari suatu hal: cewek-cewek di sana banyak yang pake bando kuping kucing.

Dan percayalah teman-teman,
tingkat kecantikan perempuan akan meningkat 68% ketika memakai bando kuping kucing.

Di mana-mana banyak berseliweran siluman kucing. Namun, karena sebelum berangkat gue sempat menonton Deliver Us From Devil, otak gue malah terdistraksi. Di dalam film diceritakan bahwa orang-orang yang menyembah setan akan bertingkah layaknya kucing: mengeong, jalan dengan empat kaki, suka jilat pantat sendiri.

Betul sekali teman-teman. Karena masih terbawa efek film tersebut, pikiran gue malah jadi rusak. Siluman kucing yang cantik-cantik ini menjadi menyeramkan. Gue takut aja, imut-imut gitu pake bando kucing, tau-tau pergi ke pojokan… nyembah setan.

Astaghfirullah.

Karena nggak tahu mau ke mana lagi (duit kita cuman gocap bok! Beli makan sekali juga abis), maka gue dan Alam memutuskan untuk masuk ke Teater Area. Di sana ternyata lagi ada parade cosplay di panggung. Salah dua yang gue ingat dari peserta cosplay adalah, robot gundam yang terlalu besar. Sumpah, itu saking gedenya nggak bakal muat masuk pintu rumah gue. Sayang aja, dengan kostum yang mahabesar itu, tangan si peserta jadi keliatan kecil. Dia terlihat seperti Gundam versi boneka unyil. Si Gundam ini jadi kesusahan ngangkat pedang. Setiap berusaha mengangkat pedang (yang hanya tertarik 1 inci dari tanah), seluruh penonton bersorak, ‘Eaaaaa! Eaaaaa!’ Sementara yang gaul-gaul berseru, ‘Angkat keleeeeuus!’

Satu lagi cosplay yang paling menggemparkan seisi teater adalah cewek dengan kostum perempuan di film Inuyasha (gue lupa namanya). Dia berjalan ke tengah panggung, mengambil panah di punggungnya, lalu bergaya menarik busur dan memanah penonton. Ia lalu melompat dari satu sisi panggung ke sisi yang lain. Salto. Dan sesekali tiger sprong. Yang bikin heboh adalah, setiap kali si cewek ini mengangkat tangan, baju si cewek juga terangkat dan terlihatlah dengan manis udel si cewek. Tiap udelnya nongol, para penonton bergemuruh. Belakangan diketahui ada tiga penonton yang dilarikan ke rumah sakit karena kehabisan darah kebanyakan mimisan.

Setelah sesi cosplay, ada dari teman-teman H2O. Atau lebih kerennya disebut Hanoman 2.0. Lalu skip skip skip sampai ke acara nyanyi bareng Eka Gustiwana dan vokalisnya yang mengenakan kostum Sailor Moon. Gue baru tahu ternyata dia udah terkenal di Youtube dengan Mash Up anime-nya. Berikut videonya:






Selanjutnya adalah acara inti, yakni pemutaran film-film pendek dan animasi buatan karya bangsa. Yosh! Keren-keren banet filmnya. Nggak kalah sama film luar negeri. Pokoknya hidup perfilman Indonesia! Matikan perfilman Oman! (lho?). 

Yah, intinya hari itu gue bersenang-senang dengan uang gocap… sampai pas kita pulang sekitar pukul 10 malam, kita dicegat sama tukang parkir. Dan biaya parkirnya? Ceban! Kutu! Gue bayar ceban and it’s illegal! Padahal pas masuk udah bayar uang parkir tiga ribu. Huhuhu. Habislah uangku pada sisa malam itu. Tolong aku Pak Ahok. 

*UPDATED* 
Karena banyak yang tidak tahu kalau di sana inti acaranya adalah menonton film pendek dan animasi buatan anak bangsa, ini gue kasih salah satu film animasi 2D favorit gue:


link: https://www.youtube.com/watch?v=FrFoDlr-M5g
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, November 18, 2014

Mode Demo

Sejauh ini sudah ada dua orang yang beneran komen dan ikutan main #CeritaCinta100Kata yang ada di postingan sebelumnya. Ini dia dua orang keren itu:


--
Sekarang masuk topik.

Mode adalah salah satu hal yang paling tidak gue mengerti. Entah kenapa, buat gue tren berpakaian adalah salah satu hal paling aneh di dunia. Di suatu waktu kita bangga dengan celana cutbray, di waktu yang lain kita mengejek orang yang memakai cutbray. Dulu kita ngeledekin orang culun, yang bergaya rambut klimis, memakai behel, dengan kaus yang dimasukin ke celana. Tapi sekarang semua orang bergaya seperti itu. Yang gak kayak gitu malah dikatain aneh.

Baju-baju yang dipakai untuk model juga menurut gue sangatlah aneh. Kebanyakan dari mereka menggunakan pakaian yang terlalu bagus untuk dikenakan. Saking bagusnya, kok ya kayaknya malah sayang untuk dipakai sehari-hari. Salah satu orang yang selalu menggunakan gaya berpakaian aneh-aneh (literally!) adalah Lady Gaga. Gue pernah ngeliat Lady Gaga menggunakan pakaian dari daging mentah. Hoek. Gue rasa, di antara kita semua, satu-satunya orang yang suka dengan konsep menempelkan daging di tubuh seseorang cuman Sumanto.

"Sikat mananya dulu ya?" tukas Sumanto


Gue sendiri adalah orang yang jarang mengikuti tren (karena emang ketinggalan jaman). Teori gue tentang cara berpakaian cuma satu: pakailah apa yang kamu anggap nyaman, kecuali spanduk XL yang dililitin ke badan.

Ketidaktahuan gue terhadap tren berpakaian ini membuat orang-orang di sekitar banyak yang berkomentar. Temen sekelas pada bilang, ‘Lo cuek banget sih Di!’ atau ‘Baju lo itu-itu mulu deh!’ atau yang paling terakhir, ‘Balikin keperawanan gue?!’ (Lho ini gue abis ngapain?)

Tapi bener aja. Cara berpakaian gue yang terlalu suka-suka terkadang ngebikin orang bingung sendiri.

Jadi ceritanya waktu itu gue lagi ikut Nyokap kondangan. Tempatnya kayak pesta kebun gitu. Karena dari rumah gue gak tau apa-apa, jadi gue cuma make celana jeans dan kaus oblong plus jaket  vintage cokelat (ini jaket emang paling sering gue pake ke mana-mana).

Nah, begitu sampai di tempat kondangan, gue langsung misah sama Nyokap. Dia salaman ke mempelai, which is  anak dari temen kantornya. Sementara gue, seperti layaknya di tiap kondangan, langsung melahap apa-apa yang ada di depan mata: es krim, siomay, anak gadis.

Pas lagi di antrian kambing guling, gue ngeluarin hape dari tas selempang. Tidak berapa lama, tau-tau ada ibu-ibu nyolek pundak gue. Dia menatap gue lamat-lamat. Ekspresinya menandakan kebingungan dan keraguan. Selang berapa detik, dia membuka mulutnya dan bertanya, ‘Kamu dajal ya?’

Bukan deng. Maksudnya dia nanya, ‘Eh, kamu bisa tolong fotoin kita nggak?’

‘Fotoin?’
‘Iya.’ Dia ngejawab sambil langsung manggil ibu-ibu yang lain. Gaya sambil bawa piring berisi kambing guling.

Gue sendiri makin bingung. Karena tidak tahu mau ngerespon apa, akhirnya gue iya-iya-in aja si ibu tadi.

‘Oke, Bu,’ jawab gue. ‘Hmmm kameranya mana ya?’
Si ibu malah balik bingung. ‘Lho, kamu emang gak punya kamera?’
‘Enggak.’
‘Itu di tas kamu ngga ada? Kamu bukannya… tukang foto sini ya?’

Gue diem.

Gue pengin jawab, ‘Nggak ada, Bu. Ini di tas saya adanya tang. Biar saya tarik mulut ibu ampe sobek.’ Tapi gue lagi nggak bawa tang.

Selidik punya selidik, ternyata pakaian gue waktu itu mirip sama tukang foto di situ: pake jaket kulit jadul, bawa-bawa tas selempang. Hadeuh.

Kesalahan fesyen juga mengakibatkan petaka baru-baru ini.

Ketika itu gue baru pulang dari kampus. Udah lulus juga boleh dong main ke kampus. Bukannya sombong, tapi waktu itu gue ke kampus kerjanya muter-muter doang. Setiap ngeliat orang lewat, langsung gue buntutin dari belakang. Gue mengendap-endap, lalu setelah mendapat momen yang pas, gue tepuk pundak si mahasiswa pelan, menunggu sampai dia nengok, kemudian berkata lantang, ‘MINGGIR, SARJANA MO LEWAT!’

Abis itu gue diarak satu IPB.

Hehehe. Gue lupa waktu itu abis ngapain, pokoknya abis dari kampus. Nah, pas di jalan mau ke rumah, gue ngeliat ada sekumpulan ormas rame-rame pake baju loreng-loreng kayak harimau. Kemudian tanpa disadari, timbul sebuah pikiran biadab. Adi sang manusia berambut lurus ini berbicara di dalam hati.

Kayaknya kalo gue berenti terus ngajak berantem mereka semua keren juga nih. Dasar ormas pembuat onar!

Gue masih jalan ngeliatin mereka semua. Muka gue nengok ke kiri. Sampai tiba-tiba,

‘STOP! STOP! WOI! BERENTI LO!’

Gue masih nggak sadar kalo dipanggil, sampai anggota ormas yang di depan pada nyegat.

Mampus gue! Kenapa nih? Gue gak mao mati digebukin ormas!

Di situasi ini gue langsung melancarkan jurus sakti: memasang wajah bengong sambil ngegas terus.

‘WOI BERENTI LO! NGGAK DENGER APA?!’

Gue pengin sok-sok niruin si Bolot di tv dengan pura-pura budeg dan bilang, ‘BELLLIIIIII?!’ tapi kayaknya situasi ini tidak nyambung, jadi gue memutuskan tetap mengegas motor. Berharap mereka berhenti memanggil gue.

Namun,
Tuhan berkata lain.

Para ormas tersebut langsung pada naik ke motor masing-masing, lalu ngejar gue. Gue ngeliat spion, ngegas sekuat tenaga. Mengecek perbedaan jarak antara gue dan si ormas. Sampai di dalam kompleks, gue sudah merasa aman. Gue lantas melambatkan motor. Sampai tiba-tiba…

‘BISA DIBILANGIN NGGAK SIH LO?!’ satu motor langsung nyalip tiba-tiba dan menghadang gue.

Gue pun berhenti. Dan panik. Dan pengin nangis di tempat.

‘TURUN LO! LO KALO KITA SURUH BERENTI, YA BERENTI DONG?!’ Mereka berdua turun dari motornya, menyuruh gue untuk membuka helm.

Gue meremas dada. ‘AAAAKKKHH!! TIDAAAAAKKK JANTUNGAN GUE KAMBUUH!! TOLOOONNGGG!!’

Tapi mereka tidak menghiraukan jurus pamungkas gue. Mereka malah memperkenalkan diri, lalu bertanya dengan nada tinggi, ‘LO SEKARANG JAWAB PERTANYAAN KITA!’
‘Ba-baik, Bang.’
‘Kamu anggota koperasi keliling ya?’

Hah? Hah? HAAAAH? KENAPA JADI KOPERASI?

‘Ma-maksudnya, Bang?’
‘Ya kamu anggota koperasi keliling bukan? Baju kamu cokelat gitu, kayak anggota koperasi.’
‘Bukan, Bang,’ jawab gue.
‘Wah ternyata bukan ya. Kalo gitu makasih ya. Kita pergi dulu ya.’
‘Baik, Bang.’ 

Pas dia udah pergi gue teriak, ‘KOPERASI.. KOPERASI.. BAPAK LO SINI GUE OPERASI PAKE TUSUK GIGI!’

Gara-gara baju sama celana cokelat gue dikira tukang koperasi.

Hmmm..
Tampaknya gue harus demo sama mode.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, November 14, 2014

#CeritaCinta100Kata - Jarak

‘Jadi bener bakal jauh?’
‘Iya.’
‘Kok nggak bilang aku dulu?’
‘Ma-maaf.’
Cahaya lampu lalu lintas memantul di mata Dea.
‘Biarkan aku berpikir.’
‘Hmm..’
‘Aku kan paling gak sanggup sama jarak!’
‘Tapi kita sudah sejauh ini.’
‘TAPI DI DEPAN MACET, PAK! AKU NGGAK SANGGUP BAYAR KALO GINI CARANYA!’
Dea membanting pintu taksi setelah menyerahkan seratus ribuan.

--
Cerita di atas adalah FF iseng-iseng yang gue bikin untuk main #CeritaCinta100Kata yang dibuat oleh Tata di sini.

Kalian juga boleh ikutan kok. Tinggal buat aja flash fiction maksimal 100 kata dengan tema cinta. Kalau udah, silakan taruh link postingan kalian di kotak komen, nanti bakalan gue pajang di postingan selanjutnya.


See ya!
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, November 12, 2014

Pengangguran? Nelor Aja

Banyak yang mengatakan bahwa kelulusan adalah hal yang paling dicari oleh setiap mahasiswa. Kelulusan adalah surga dunia di mana tiap mahasiswa melepas beban berupa tugas-tugas kuliah dan laporan yang begitu nista banyaknya.

Mereka tidak tahu,
bahwa di depan mereka sudah menunggu rintangan paling besar.

Betul sekali, pengangguran.

Ibarat sebuah game, perkuliahan adalah Mario Bros. Di mana kita harus menyundul batu bata yang keras untuk mencari apa yang kita inginkan, harus lompat menghindari jamur, serta lubang yang siap membunuh kita kapan saja. Sampai pada akhirnya, kita lompat dengan kekuatan terbaik, menghempas langit untuk mendapat bendera terakhir. Setelahnya, si Mario akan masuk ke dalam istana.

Sama seperti permainan Mario Bros, di dalam perkuliahan, musuh kita adalah orang-orang lain.

Hal ini berbeda ketika kita lulus. Sesudah lulus, musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Kita yang menentukan, apakah akan bekerja keras untuk mengurus istana kita, atau santai-santai di dalamnya, sampai istana kita berantakan.

Wait, wait. Ini kenapa serius banget ya?
Hehehehe.

Buat gue jadi pengangguran itu seru. Gue tiap hari bangun siang, lanjut tidur siang, bangun sampe malem, terus lanjut lagi tidur malem (ini mah tidur sepanjang hari ya?). Berhubung di rumah gue sekarang ada Radit (cerita tentang Radit ada di dalam ebook keriba-keribo), kita sekarang sampai di tahap ‘nyoba-nyoba warung makan’. Setiap hari kerjaan kita cuma saling nanya, ‘makan apa kita, cuy?’

Dan serius, pertanyaan itu makin lama makin sulit kita jawab. Kayaknya kok semua makanan udah kita coba. Biasanya, kalo udah mentok paling ujung-ujungnya makan nasi goreng. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Beberapa bulan yang lalu, tukang nasi goreng satu-satunya di deket komplek kita ngilang. Diganti tempat ngopi gitu. Terus gue harus ngopi tiap hari gitu? Oh no, gue tidak mau menderita mencret musiman.

Di sisi lain, sekarang gue lagi nyoba belajar tentang dunia perkaosan gitu. Yang mana sekarang udah beda banget sama dulu. Sekarang lagi rame kaos gildan sama fruit of the loom. Harganya cing, makin naik aja. Sekarang juga lagi heboh sablon DTG. Ituloh, jadi semacam langsung ngeprint desain ke kaosnya, nggak pake sablon kayak dulu lagi. Terlebih lagi, kaos cottom combed yang dulunya berasa paling keren, sekarang udah dikalahin sama cotton bamboo.

Si Radit sendiri sih masih nyari-nyari lowongan buat jadi chef. Susah juga  ternyata nyari lowongan untuk profesi yang khas gitu ya? Terakhir sih dia masih mikir-mikir, katanya ditawarin temennya untuk kerja di Oman, tapi di sana ada mantannya. Dia kayak yang udah males gitu untuk ketemu sama mantannya.

--
Baru-baru aja gue baca berita, katanya lahiran Asyanti mau diliput secara live gitu ya? Oh, fuck. Kenapa lagi sih ini. Setelah acara nikahan Raffi Ahmad live, sekarang kenapa semua acara tv ikut-ikutan menyiarkan kegiatan artis nggak penting secara langsung gini sih.

Lagian, kira-kira apa ya yang bakal diliput selama Asyanti melahirkan nanti? Setau gue aja orang yang lahiran, keluarganya disuruh nunggu di tempat terpisah. Apa ini berarti nanti si reporter bakal masuk-masuk ke ruang lahiran, menyorot (maaf) lubang tempat keluarnya si bayi, sambil berkomentar, ‘Yak pemirsa. Ini adalah saat-saat yang paling kita nantikan! Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa anak dari Anang-Asyanti adalah laki-laki. Tetapi, kita akan melihatnya sebentar lagi. Apakah tititnya akan sebesar kacang polong? Kita tunggu saja pemirsa.’

Masih nyambung berita-beritaan. Beberapa hari yang lalu gue nemu berita supersinting. Yaitu tentang seorang kakek yang bisa bertelur. Sumpah, ini gak logis abis. Beritanya bisa kalian lihat di sini. Katanya si kakek ini udah lama nelor (sejak 1998). Dan semakin ke sini intensitas nelornya semakin gede. Dari yang tadinya tiga bulan sekali, sekarang sebulan bisa beberapa kali. Gue sih menduga karena otot-otot anusnya sudah tidak berfungsi maksimal, sehingga sekarang begitu berasa ada aneh dikit di perut langsung PLUNG! Keluar deh tuh telor dari pantat.

Kalau kebiasaan buruk televisi nasional--menyiarkan segala sesuatu yang tidak penting secara live—terus dilakukan, gue gak kebayang bakal ada stasiun tv yang ngeliput si kakek ini. Nanti di iklan-iklan akan banyak tulisan, ‘KITA AKAN MENYAKSIKAN SECARA LANGSUNG SEORANG KAKEK BERTELUR! EXCLUSIVE LIVE DARI LUBANG PANTAT SI KAKEK.’

Nanti di rumah si kakek bakalan banyak kru tv. Si kakek memakai sarung, lalu mengejan di pojokan jamban sambil disorot dengan lampu tembak. ‘Satu… Duaa.. Ti… Engghh… BROT!’ Bukannya nelor, si kakek malah berak beneran.

On a lighter note, kalo gue jadi si kakek ini (dan kalo emang beneran bisa nelor), gue bakal mendalami dan melatih bakat ‘menelor’ yang gue miliki. Kalau sudah ahli, tentu gue gak perlu repot keluar rumah cari makan. Gue tinggal jongkok di atas panci di kompor lalu nelor… dan jadilah telor rebus. Hasil dari pantat sendiri.

Dan kalau sudah expert di bidang ‘menelor’ ini, gue bakal buka usaha peternakan manusia. Begitu lahir, langsung deh gue jual-jualin keluar negeri.


Pengangguran hilang, dompet pun mengembang.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, November 9, 2014

Fenomena Lagu Cita Citata - Sakitnya Tuh Di Sini

Yosh.

Siapa yang tidak tahu lagu Cita Citata?

Begitu fenomenalnya lagu itu membuat gue geregetan untuk mencari tahu, sebenarnya siapa dalang dibalik kesuksesan (dan kelaknatan) lagu tersebut? Saking penasarannya, gue sempat mendatangi orang pintar dan bertanya tentang kehebohan lagu ini. Tapi apa daya, jawaban tidak dtemukan, si orang pintar hanya mendesah kengerian, ‘Tidak. Semuanya gelap. Aku tidak mampu melihat apa-apa.’

Setelah gue cek, ternyata dia emang buta.

Karena lagu ini tidak mampu merasuk nalar orang pintar, maka kali ini, gue, Kresnoadi, sang (uhuk) sarjana, akan menalarkan lagu tersebut dengan logika seorang maanusia tampan.

Gue akan membedah dan mencari tahu sebenarnya ada pesan apa di balik lagu ini. Siapa sebenarnya Cita Citata? Mengapa dia mengerang kesakitan setiap kali manggung? Ada apa ini pemirsah?!!

Ini dia lirik lagu Cita Citata – Sakitnya Tuh Di sini:

Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku

Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku
Di depan mataku
Kau sedang bercumbu

Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku

Sakit sakit sakitnya tuh di sini
Sakit sakit sakitnya tuh di sini

Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku
Di depan mataku
Kau sedang bercumbu

Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku

Sakit sakit sakitnya tuh di sini
Sakit sakit sakitnya tuh di sini


Supaya gampang, gue akan memotong syair tersebut menjadi beberapa bagian, lalu membedahnya satu per satu.

Sakitnya tuh di sini di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini melihat kau selingkuh

Hmm… dilihat dari syair pertama, Cindut (panggilan akrab gue untuk Cita), entah kenapa dia baru nyanyi langsung mengerang kesakitan. Gue gak tahu apa yang terjadi. Mungkin sudah menjadi kebiasaan setiap kali bernyanyi, Cita Citata kambuh asam lambungnya. Namun, dilihat dari kalimat selanjutnya, Cindut diketahui kesakitan karena melihat dia selingkuh. Gue belum tahu dia itu siapa, tetapi di titik ini gue mulai tahu kenapa Cindut sering melenguh.

Dia sakit karena melihat seseorang selingkuh.

Secara nalar, kita akan sakit hati karena melihat orang yang kita cintai selingkuh. Sebaliknya, kita tidak mungkin sakit karena ngeliat abang bakso depan rumah selingkuh sama pembantu sebelah. Kecuali… Cita Citata naksir sama abang tukang bakso.

Oh, my god.

Inilah dia. Gue mulai menemukan pencerahan. Cita pasti naksir berat sama tukang bakso yang tiap sore keliling rumahnya. Dia pengin banget memakan bakso sore itu, namun melihat kondisi perutnya yang semakin gendut, dia mengurungkan niatnya. Alih-alih tidak ingin bertambah gendut, dia malah menyaksikan pembantu sebelah lagi mesra-mesraan sama si tukang bakso idamannya.

Jelas sekali saudara-saudara. Misteri ini mulai terungkap perlahan-lahan.

Sakitnya tuh di sini pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini kau menduakan aku

Dari syair kedua Cita Citata merasakan sakit di bagian hatinya.

Hmm… kenapa ya dia?

Kalau kita sambungkan dengan hipotesa sebelumnya, ada kemungkinan Cita depresi melihat tukang bakso (yang kini kita sebut Sapto) menduakannya dengan tetangga sebelah. Saking kesalnya, Cita langsung pergi ke dapur. Ia mengacak-acak seisi dapur dan mulai menjerit-jerit.

‘AKOH MAO BAKSOOOO!!’

Ia kemudian membuka satu persatu rak-rak yang ada di dapur… sampai ia menemukan sebungkus royco. Ya, betul sekali. Cita sangat hafal bahwa bakso yang dijual lelaki impiannya terbuat dari daging sapi, persis seperti rasa royco yang kini ada di tangan kanannya.

‘Awas kau Sapto!’ jerit Cita sambil menyobek bungkus micin tersebut.

Cita sudah tidak mampu mengontrol badannya. Tubuhnya bergerak sendiri. Ia dengan rakus nyemilin seluruh micin yang ada di dapurnya.

Sampai kemudian Cita terkena liver.

Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku
Di depan mataku
Kau sedang bercumbu

Bait-bait di atas hanya berisi umpatan seorang Cita Citata karena dibohongi tukang bakso. Cita paling benci diduain (ini gue tahu dari nonton gosip). Selain itu, hal ini diketahui karena tidak lama setelah Cita masuk rumah sakit, Sapto datang menjenguk. Sapto memandang mata Cita dalam-dalam. Dada Cita sudah naik turun. Air infus di lengan kiri Cita menetes pelan, seperti napasnya yang tidak mau terburu-buru keluar dari hidung.

Sapto kemudian berkata, ‘Cita aku ingin menjelaskan sesuatu.’
‘Apa, To?’
‘Sebetulnya…,’ Sapto mengambil baskom di bawah ranjang Cita. ‘Bakso yang kujual bukan dari sapi, tetapi dari daging celeng.’

Cita pun tercengang. Ia terhenyak untuk beberapa saat. Hidungnya seperti tersumbat sesuatu dan di dadanya seperti ada seorang raksasa yang mengimpitnya. Matanya langsung merah. Dia kesal karena selama ini telah dibohongi Sapto. Dia pun menjerit,

‘DASAR SAPTO SIALAN! TAU GITU AKU BELI DULU ROYCO RASA CELENG!!’

Begitulah kira-kira investigasi gue mengenai lagu fenomenal ini. Konon, setiap kali manggung, Cita masih teringat bayang-bayang wajah Sapto, sang tukang bakso keliling idolanya. Hal inilah yang menyebabkan Cita mengerang tiap kali manggung.


Sebagai penutup, biarkan gue mengakhiri postingan ini dengan menampilkan foto mbak Cita untuk kalian semua:
Iya mbak santai dong

Suka post ini? Bagikan ke: