Thursday, October 30, 2014

India Indiaan Ini

Kita sedang dijajah.

Sekali lagi gue tegaskan, kita sedang dijajah! Pertelevisian kita telah dikuasai oleh Shahrukh Khan dan cecunguk-cecunguknya!

Ini tidak bisa dibiarkan teman-teman.

Sungguh, aku tidak terima. Oh, air mata gue sampai menetes turun. Bentar. Ini sambel Belibis emang nikmat banget rasanya.

Dulu gue udah pernah bahas dikit tentang ginian. Bentar gue cari dulu. Nah, ini dia postingannya.

Di postingan itu gue berharap kalo acara-acara beginian bakal segera berakhir. Tapi ternyata tidak. Gue salah besar! Kini ia semakin menjamur!

Mahabarata telah menelurkan film-film baru. Buset. Gak cukup satu film india kolosal, kalo gak salah itung ada tiga film sejenis. Ato lebih ya? Bodo lah. Pokoknya gitu. Gue bingung aja kenapa orang-orang sangat menggemari acara ini? Ceritanya bagus? Oke. Kalau begitu, silakan kalian buat buku dan jual ke gramedia. Buat gue, film ini sama aja kayak film kung fu indosiar. Sama-sama kolosal. Istana sentris. Efek filmnya juga bikin mata bernanah. Kalau di indosiar ada naga jadi-jadian, di Mahabarata ada orang (yang katanya dewa) berkepala tiga, yang karena faktor editing, jadi kayak orang kembar siam yang gagal operasi.

‘Rul sini deh Rul!’ Gue memanggil Sahrul. ‘Ada film keren nih!’
Sahrul lari ke kamar dengan antusias, meninggalkan sarapannya. ‘Film apaan, Di?’
‘Tuh!’ Gue nunjuk layar ANTV.
Sahrul muntah di kasur gue.

Sumpah gue bingung banget. Apa bagusnya sih film itu? Gue bahkan pernah ngeliat seorang dewa (gue gak tau namanya siapa) di film itu jalan pelan masuk ke kerajaan sambil menaikkan jari telunjuknya. Di atasnya jari telunjuknya ada sejenis piring muter-muter kenceng. Wow, gue tercengang. Itu dewa ato pemaen sirkus dari Cina? Biar lebih keren (atau najis), harusnya jangan cuma piring. Coba sekali-kali sang dewa jalan-jalan dengan menaikkan telunjuk sambil muterin mangkuk ayam jago, lengkap dengan mie ayam dan bawang goreng di atasnya.

Dari dulu gue emang gak begitu suka dengan film india. Pas kecil, gue sering banget dipaksa pembantu gue untuk nemenin dia nonton film india. Setiap pulang sekolah, gue selalu disuguhkan film-film india. Yang gue sebalkan dari film india jaman dulu adalah, ketika adegan sedang mendekati titik klimaks, tahu-tahu semua pemeran langsung pada joget.

Film india terakhir yang gue tonton secara tidak sengaja adalah waktu ke rumah Agung. Waktu itu gue lagi makan siomay, Agung dengan laknat memainkan remote di tangannya… sampai ctik! Tau-tau dia menyetel MNC TV di mana ada Shahrukh Khan lagi naik mobil dikejar-kejar polisi. Gue melahap sepotong siomay. Shahrukh Khan masih berusaha melarikan diri dari polisi. Dia membanting setir mobilnya ke kanan. Sampai di suatu perempatan, di depannya sudah berderet mobil polisi mencegat. Karena tidak bisa kabur, maka baku tembak tak terelakkan. Shahrukh Khan turun dari mobil, lalu menunduk dan menembak sambil membuat pintu mobilnya sebagai perisai. Tidak berapa lama, dia kehabisan amunisi.

Shahrukh Khan memanggil temannya, ‘Apa kau masih punya amunisi?’

‘Tidak! Punyaku juga mau habis,’ kata temannya yang berkumis tebal itu. Shahrukh Khan lalu menatap mata temannya, ia mengangguk, dan dengan tatapan dalam berkata, ‘Aku punya rencana.’

Shahrukh Khan berdiri. Dia lalu berkata dengan lantang, ‘Hei polisi!’

Polisi menghentikan tembakan. Sang komandan berdiri, lalu memberi kode agar semua polisi berhenti menembak. Lalu tiba-tiba Shahrukh Khan lompat ke tengah jalan. Dia bilang, ‘Kuch tum bolo kuch hum bolein o dholna..’

Dia lalu joget.
Semua polisi joget.
Presiden India di kantornya (seriously!) angkat telepon. Lalu joget.

Yah, andai semua permasalahan di dunia ini bisa kita hadapi dengan berjoget. Kemarin gue gak perlu pusing mikirin revisian skripsi. Pas dosen nanya di koridor, ‘Adi, mana revisi kamu?’ Gue tinggal jawab, ‘Belum, Pak. Gumpase hayee..’


Duh kok jadi ngelebar ke mana-mana ya. Pokoknya, kita sedang dijajah!
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, October 27, 2014

Selamat Hari Blogger Nasional!

Hari sabtu yang lalu ada ajang kumpul blogger yang dibuat oleh para sesepuh blogger. Karena penasaran, gue ngikutin dari twitter. Pas lagi ngeliat-liat hashtag #kumpulblogger, ternyata oh ternyata acaranya manteb abis. Banyak sharing ilmu dan bagi-bagi cerita. Blogger yang dateng juga rame dan kebanyakan gue nggak kenal (mereka sesepuh blogger semua! keren!) kebanyakan udah mulai ngeblog dari 2004 atau 2005an. Jadi jangan kaget kalo kebanyakan udah pada tuwir. Piss kakak-kakak semua. \:3/

Nah. Jadi, berdasarkan pandangan sotoy gue di twitter, di kumpul blogger kemarin membahas tren perkembangan blogger. Katanya, blogger jaman dulu sampai tahun 2001-2007an itu hanya mikir buat seneng-seneng. Pokoknya just for fun, deh. Sementara blogger 2010-2014 berorientasi nyari duit, seo contest, pengin terkenal, review product, dan lain lain. Padahal, kata Bang Enda (disebut-sebut sebagai Bapak Blogger Indonesia) ngeblog itu intinya berbagi, urusan bermanfaat bagi orang lain itu bonus. Katanya juga, meme di Indonesia bermula dari blogger jaman dulu dengan gambar skandal pejabat itu. Selain itu, banyak juga yang dibahas kayak penipuan, plagiarisme, undang-undang ITE. Bahkan kasus-kasus yang ada di dunia perbloggeran. Yang paling hangat sih pergumulan antara dua selebtweet itu.

Berikut adalah para blogger sesepuh yang tidak diragukan lagi kemachoannya:

Goenrock - http://goenrock.com/ 
Mbilung - http://ndobos.com 
Ndorokakung - http://ndorokakung.com 

Kita samperin blog mereka dan suruh aktif lagi yuk. 
Selamat Hari Blogger Nasional, guys!



...

Kalo ada yang mau tahu sejarah Hari Blogger Nasional, klik tulisan ini.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 26, 2014

Gabung-gabungin Video!

Cewek itu curang. 

Perempuan enak banget, bisa muji perempuan lain sebagai permakluman. Gue udah beberapa kali menangkap kelicikan mahluk fatamorgana ini. Pertama, waktu itu temen gue pengin nelpon ibu-ibu tempat dia magang dulu. Karena udah lama nggak komunikasi, temen gue ini bingung harus basa-basi apa. Akhirnya, karena dia cewek, dia cuman bilang, ‘Halo Ibu cantik. Apa kabar?’ kemudian mereka ngobrol dengan asoy.

Kedua, waktu minggu lalu. Ketika itu gue lagi ngantri beli tiket ke taman wisata matahari di puncak. Di loket sebelah antriannya panjang. Eh, tau-tau ada satu ibu-ibu (kita sebut saja Nia) langsung maju ke depan loket. Di loket lagi ada ibu-ibu lain yang pengen beli tiket (kita sebut saja Anggun). Pas si Anggun ini lagi ngobrol-ngobrol lucu sama tukang tiket, mbak Nia langsung ngasih duit ke tukang kasir. Dia bilang, ‘Mbak, aku beli dua, ya. Buru-buru nih!’ dia lalu nengok dan menepuk bahu Anggun terus bilang, ‘Maaf ya Mbak cantik.’ Dari yang tadinya mbak Anggun pengin marah, malah senyum-senyum sambil bilang, ‘Iya, nggak papa kok cantik.’

Kunyuk. Enak banget. Ngeliat ibu-ibu itu, gue pengin juga langsung maju ke depan loket, ngasih duit, terus bilang ke mas-mas botak di depan barisan gue, ‘Maaf ya ganteng, aku lagi buru-buru.’ Tapi gue cuma diem. Gue takut aja, bukannya dimaafin, si mas botak malah ngehantamin batu gede ke pala gue.

Kenapa sih cewek bisa seenak itu bilang cantik ke cewek lain, sementara cowok nggak bisa bilang ganteng ke cowok lain? Persepsinya langsung jelek gitu?

Bahkan bilang ganteng juga nggak bisa untuk mesen ayam di mcd.

MMM (mas-mas mekdi): Halo, ada yang bisa dibantu, dengan mcd delivery?
Gue: Iya, Mas. Saya mau pesen paket ayam satu.
MMM: Paket ayam satu ya. Baik ya, Mas.
Gue: Iya mas ganteng.
MMM: Mas, ini ada CD Smash gratis untuk Mas. Mas homo ya mas?
Gue: …

Njut. Seperti yang gue bilang di atas, minggu lalu gue pergi ke taman wisata matahari. Gue pikir tempatnya cuma buat anak-anak gitu, tapi ternyata gue salah. Tempatnya gak cuma buat anak-anak. Ada juga untuk orang dewasa… yang lagi jaga anaknya. Hehehe nggak deng. Serius. Ternyata tempatnya was so cool! Gue muter-muter sampe mabok. Ada rumah hantu, tempat main air, taman burung, goa, dll. Paling sip sih ke sini sambil bawa bekal dan piknik ramean gitu.

Burung Adi ada dua pemirsah?!!

Berhubung sebelumnya gue nonton film Chef, jadi pas lagi di sana gue iseng-iseng ngebuat video pendek yang digabungin jadi satu. Selain didasarkan sama film Chef, ini juga karena emang gue yang mahatolol dalam hal mengedit video. Jadi, daripada hasil dokumentasinya nggak kepake, gue potong-potong aja terus gue gabungin deh. Ini dia hasil jalan-jalan gue di sana:



Okay, then berhubung lagi pengangguran kayaknya hari-hari gue bakal banyak di isi sama jalan-jalan kayak gini deh.

Aaaaannd, selamat tahun baru 1436 Hijirah! 
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, October 20, 2014

Perihal Stand Up Comedy, dan Akhlak Berkomedi

Karena gue pikir blog ini ‘terlalu main-main’ untuk menuliskan hal yang ‘rada berat’, jadi jumat lalu gue mencari forum baru untuk bisa menuliskan opini gue. Setelah googling, gue nemu forum yang pas, yakni kompasiana. Hari itu gue langsung iseng bikin akun dan mempostingkan sebuah tulisan berjudul 'Stand Up Comedy, dan Akhlak Berkomedi'. Tulisan tersebut adalah pendapat gue tentang stand up comedy akhir-akhir ini dan perbandingannya terhadap format komedi lain. Tidak disangka, tulisan tersebut sangat ramai dikunjungi dan langsung menjadi headline dalam dua jam setelah tulisan itu di publish sampai hari minggu kemarin.

Karena merasa mendapat respons yang bagus, ada baiknya tulisan itu coba gue share ke kalian juga. Berikut adalah tulisan gue yang ada di kompasiana:

Humor, komedi, melawak, atau apapun kamu menyebutnya, seperti seni lain, adalah sesuatu yang bisa dipelajari. Hanya sedikit orang yang terlahir sebagai manusia 'yang benar-benar lucu'. Seorang penyanyi yang terlahir tanpa memiliki 'suara penyanyi', tetap bisa menjadi penyanyi dengan memelajari teknik bernyanyi; belajar nada, ketukan, cara pengambilan napas. Teknik-teknik terseebut adalah teknik dasar yang sepatutnya dipelajari oleh seseorang yang ingin menjadi penyanyi. Namun apabila kamu ingin dikenal sebagai seorang penyanyi dengan genre tertentu, tentu saja harus mendalami teknik yang berkaitan langsung dengan genre yang kamu pilih. Kalau kamu ingin menjadi seorang penyanyi dangdut, kamu harus berlatih cengkok dangdut. Kalau kamu ingin menjadi seorang penyanyi metal, kamu harus memelajari teknik berteriak yang keren. Layaknya penyanyi tersebut, seseorang bisa menjadi komedian dengan memelajari teknik-teknik dasar berkomedi. Apabila si komedian ingin dianggap lebih spesifik, seorang pelenong misalnya, ia harus jago berinteraksi dengan penonton. Apabila si komedian ingin dikenal sebagai komedian yang bisa bermusik, ia harus belajar main gitar.

Semua seni itu sama, setidaknya itu menurut saya. Mungkin ada orang yang sewaktu lahir ditiupkan roh seorang penari ke ubun-ubunnya, tetapi dia tidak akan ujug-ujug menjadi seorang penari kalau tidak berlatih menari. Sama seperti komedian.

Every art has a sexy part in itself.

Lebih jauh, akhir-akhir ini sedang ada satu seni yang menurut saya lagi happening: stand up comedy. Sebetulnya seni ini sudah sangat tua di Amerika, bahkan sempat masuk ke dalam serial Spongebob Squarepants. Di mana si Spongebob membicarakan tupai yang tidak bisa mencopot bohlam lampu. Sampai tahun 2011 stand up comedy mulai booming di Indonesia. Raditya Dika dkk membawa stand up comedy dengan misi 'menambah tipe' komedi baru di Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, seperti ada pergeseran paham dari orang-orang yang baru mengikuti stand up comedy. Mereka beranggapan bahwa stand up comedy adalah lawakan cerdas. Banyak yang mengatakan bahwa stand up comedy 'harus' mempunyai pesan moral di dalamnya. Lebih jauh lagi, orang-orang ini kerap merendahkan tipe komedi lain.

Buat saya, ini adalah pemahaman yang salah.

Sama seperti lenong, slapstick, dan komedi lain, stand up comedy adalah sebuah konsep komedi. Tujuan dari sebuah komedi tentu saja satu: membuat tawa. D. H Monro, dalam karyanya Argument of Laughter, bahkan menyebutkan tiga teori mengenai bagaimana orang tertawa. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak teknik yang dapat digunakan untuk membuat orang tertawa. Tujuannya sama, hanya tekniknya yang berbeda. Kalau di sepakbola kita menggunakan kaki, di bola basket kita melatih otot tangan, hal ini sama dengan komedi. Lenong menekankan kepada 'kedekatan kepada penonton', slapstick melatih kita untuk membuat tawa dari superioritas semu yang diberikan kepada penonton, sementara stand up comedy menekankan kepada teknik dasar membuat joke: setup-punchline.

Lalu bagaimana dengan pemahaman yang menyebutkan bahwa 'stand up comedy adalah komedi yang harus punya pesan moral'?'

Menurut saya, ini juga pandangan yang keliru.

Seperti yang saya katakan, tujuan dari penampilan setiap komedian, apapun genre-nya, adalah memancing tawa. Kalau stand up comedy dikatakan komedi yang wajib memberikan pesan moral, lalu disebut apakah Mitch Hedberg, Steven Wright (sebelum mengubah personanya), Panca Atis yang kebanyakan materi jokes-nya berupa oneliner? Bagaimana dengan komik lokal Bintang Bete? Tentu kita semua tahu bahwa komedi yang bergizi adalah yang memiliki pesan moral, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa pesan moral wajib dimasukkan ke dalam setiap penampilan komik.

Lalu bagaimana dengan lawakan cerdas?

Saya sendiri tidak tahu dari mana kalimat ini berasal. Kalau yang dimaksud cerdas karena harus membuat materi, menurut saya semua komedian (di luar genre stand up comedy) juga cerdas. Mereka semua harus berpikir dalam membuat joke/gimmick-nya untuk melawak.

Sule dan Andre pasti sudah mempersiapkan secara matang, membuat gimmick-gimmick baru di belakang panggung. Berpikir bersama. Begitu pula Dimas Danang dan Imam Darto. Siapa yang tahu bahwa Sasongko Widjanarko menulis dan menggonta-ganti lirik untuk membuat lagu setiap dia meminum kopi di acara Ini Talkshow?

Kalau itu yang dimaksud, setiap komedian, lebih jauh setiap seniman,  adalah orang cerdas. Mungkin yang lebih tepat adalah, menonton stand up comedy membutuhkan pikiran yang terbuka, yang tidak menutup diri pada opini orang lain. Karena kalau tidak membuka diri, komik akan kesulitan dalam menggiring opini ke kepala audiens. Hasilnya, lawakan yang dilontarkan menjadi tidak lucu. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Schopenhauer. Bahwa stand up comedy adalah perihal mengubah sebuah realitas. Bagaimana realitas penonton terhadap satu hal dibelokkan dengan realitas baru. Kalau si penonton tidak mau menerima realitas awal yang diberikan komika, maka akan terjadi ketidaksinkronan. Oleh sebab itu, menonton stand up comedy membutuhkan kewolesan tingkat tinggi.

Jadi, sebetulnya, stand up comedy sama saja seperti genre melawak lain. Buat saya, tidak ada genre komedi yang satu lebih cerdas dibanding yang lain. Karena menjatuhkan diri ke gabus, tidak berarti slapstick lebih bodoh dibanding stand up comedy. Karena konsepnya memang berbeda. Seorang musisi blues juga tidak mungkin menyebut pemusik grunge lebih bodoh/ tidak cerdas darinya hanya karena perbedaan genre.

Jawa, Bassist Maliq and d'essentials, mengatakan, 'Ketika di panggung, kamu harus berkata dalam hati bahwa IM SUPERSTAR! Gue lebih oke dari lo semua! tapi ketika tidak di panggung, kamu harus easy going, rendah hati, dan tetap mau belajar sama siapapun.'

Sekali lagi, tulisan tersebut adalah murni pendapat gue pribadi. Jadi, gue tidak mempermasalahkan apakah kalian harus setuju atau tidak. Kalau ada yang mau main ke akun kompasiana gue, silakan klik link ini. Kalau kalian pengin beli book keriba-keribo dengan rupiah, klik tulisan ini. Kalau mau membeli ebook dengan cara ngetwit, kliklink ini.


Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, October 16, 2014

Pertanyaan Tersulit Sepanjang Sejarah

Sewaktu lagi duduk-duduk di kantin beberapa hari yang lalu, Nindya, temen kampus gue, nanya,

‘Di, gue gendut ya?’

Buat gue, pertanyaan tersebut tidak masalah. Selama memiliki beberapa ketentuan sebagai berikut:

Satu. Nindya biasa saja,

Dua. Nindya tidak memiliki kolesterol cukup tinggi di badannya,

Tiga. Dan kalo Nindya loncat, orang-orang nggak pada terbang seperti inai-inai dan menjerit panik, ‘Astaghfirullah!! Inilah akhir kehidupan umat manusia!’

Kalau Nindya orang yang memiliki ukuran tubuh biasa aja, pertanyaan tersebut tentu menjadi pertanyaan yang mudah dan normal. Gue tinggal jawab,

‘Gak kok. Biasa aja.’

Bagi beberapa perempuan kurus, dijawab seperti itu akan membuat mereka langsung mesem-mesem najong sambil menggeliat layaknya cacing yang dikasih rinso. Bagi perempuan kurus lain, yang selalu mengeluhkan berat badannya (padahal kurus!), bakal tetep sebel. Biasanya dia bakal ngebales lagi, ‘Masa sih? Enggak kok. Aku gendut gini!’

Kalau perempuan tersebut adalah pacar kamu, jawablah, ‘Oya?’ lalu lanjutkan kata yang terpotong dengan memeluk pacar kamu sambil berbisik, ‘Ini masih muat kok aku peluk. Berarti kurus.’ Akhiri kalimatmu dengan kecupan mesra di pipi si pacar. Dijamin pacar kamu bakal diem, dan klepek-klepek. Kecuali kamu adalah Ricky Harun yang bawaannya pengen ngisep leher orang, jangan lakukan hal itu.

Kalau dia bukan pacar kamu?

Beri dia kaca lalu gampar ke mukanya.

Kalau dia bukan pacar kamu dan kamu jomblo?

Beri dia senyuman termanis, lalu jawab, ‘Nggak kok. Kamu kurus. Beneran deh.' (tambahkan adegan ‘cubit-cubit kecil ke perutnya’, dengan begitu kesempatan kamu ngedeketin dia akan meningkat).

Kalau dia bukan pacar kamu dan kamu kere?

Beri dia senyuman termanis, lalu jawab, ‘Nggak kok. Kamu kurus… seperti dompet aku.’

Tadi adalah beberapa trik yang sudah gue pelajari untuk menjawab pertanyaan ‘aku gendut ya?’ Tentunya, seperti yang gue katakan di awal, hal itu hanya berlaku apabila orang yang nanya gitu punya badan yang biasa aja.

Berbeda dengan Nindya.
Dia gendut.

Gue paling bingung ditanya ‘aku gendut ya?’ sama orang gendut beneran. Oh, ini jelas pertanyaan tersulit sepanjang sejarah. Ditanya seperti itu menimbulkan efek dilematis yang luar biasa di kepala gue. Gue harus memilih antara jujur (dengan resiko meninggal ketimpa beban berat beberapa detik setelahnya) atau bohong dan berdosa. Buat gue yang menanamkan kejujuran di lubuk hati yang terdalam, kebohongan itu pahit. Sakit. Pedih. Gue pengin jawab, ‘Gak kok. Lo kurus.’ Tapi di kepala gue terputar adegan lidah orang yang dipotong-potong di neraka karena ngeboong. Gue gak mau pas di neraka nanti (amit-amit) akan terjadi seperti ini,

Malaikat: Kamu baris di sana! Lidah kamu akan dipotong!
Gue: Ke… kenapa?
Malaikat: Kamu bilang kurus ke cewek gendut.

Kata temen-temen gue, kita harus ngasih permakluman supaya cewek itu nggak tersinggung. Mereka, ketika dihadapkan oleh pertanyaan ‘aku gendut ya?’ oleh cewek gendut, rata-rata menjawab, ‘Iya. Lo gendut… tapi gakpapa, yang penting sehat.’

Buat gue, jawaban itu justru aneh sekali. Kita sama-sama tahu bahwa orang gendut rentan kena penyakit. Jawaban itu seperti bilang ‘Iya. Lo pedangdut… tapi gakpapa, yang penting gak joget.’ Kalo mau jujur, paling enggak orang harus mengubah kalimatnya menjadi, ‘Iya. Lo gendut… tapi gakpapa, yang penting sehat. Paling asam urat dikit, lah..’

‘Di, gimana? Gue gendut ya?’ Nindya membuyarkan pikiran gue.

Pada akhirnya,

gue ngejawab,

‘Iya. Lo gendut. Gue traktir makan yuk.’

Sekali lagi, gue mau ngasih tahu tentang keberadaan ebook keriba-keribo. Kalau kalian tertarik pengin membeli atau download gratisan, silakan klik link berikut ini.

Kalau pengin tahu perjalanan gue ngebuat ebook keriba-keribo, klik link ini.

Beberapa waktu lalu gue juga ngebuat laman facebook khusus untuk tulisan-tulisan gue, kamu bisa like dengan klik link ini.


Kresnoadi, signing out yow!
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 12, 2014

Hanya Butuh Subtitle!

Back to the root!

Muaahahaha! Setelah sebulan nyobain make template keren, entah kenapa ada dorongan buat balik ke template jadul kayak gini. Rasanya lebih enak. Lepas. Kalo kemaren lebih keren karena orang-orang bisa ngeliatin tampilan yang bagus, sekarang fungsi blog ini akan dikembalikan seperti semula: membaca tulisan.

Tinggal benerin header aja nih. Ada yang tahu desainer header yang bagus?

Sekarang gue lagi di Solo. Mata udah berat, kantung mata udah gede dan item banget. Ini adalah perjalanan mudik yang paling mencret sepanjang sejarah. Baru aja jumat pagi sampai Magelang, gue udah disuruh berangkat ke Jogja dan balik ke Magelang lagi di hari yang sama. Malem ini baru sampe Solo, eh besok udah harus ke Bogor. Nyokap juga orangnya buru-buru banget, jauh beda sama gue.

Tadi pagi nih, gara-gara insiden buru-buru, I have something freaking story to tell you.

Jadi, sebelum berangkat ke Solo, gue masih ngetik-ngetik ngurusin ebook. Nyokap udah tereak dari ruang tv.

‘Woi, mandi lo cing! Aye bacok nih ye!’ (ini kenapa nyokap jadi betawi gini ya?).

Pokoknya dia udah tiap lima detik manggil nyuruh-nyuruh buat mandi. Akhirnya mo gak mao jalanlah gue ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi gue merenung dan tau-tau timbul hasrat buat keramas. Gue lalu mengecek gelas tempat peralatan mandi. Ternyata gak ada sampo. Gue pun galau dan menenggelamkan diri ke bak mandi.

Hehehe. Gak deng. Karena hasrat sudah menggebu-gebu (rambut gue udah pada demo minta dikeramasin), gue tereak ke nyokap minta diambilin sampo. Lalu apa jawaban nyokap?

‘GAK ADA! SAMPOAN AJA PAKE SABUN!’

Sadis. Gue disuruh sampoan pake sabun. Apa-apaan tuh. Hih.

Berhubung udah gatel, akhirnya gue sabunin juga pala ini. 

Hahahaha! Ajib! Baru seumur-umur gue sampoan pake sabun lifebuoy. Rasanya… rasanya… rasanya… kayak sampoan pake sabun lifebuoy.

Mungkin nyokap memang sudah memegang teguh prinsip ‘waktu adalah uang.’ Maka dari itu, jual lah jam tangan kalian! Duitnya buat bayar listrik! Itulah prinsip nyokap yang sesungguhnya. Baru juga beres mandi, nyokap udah tereak lagi nyuruh siap-siap.

‘Buruan ini udah jam satu!’ nyokap ngasah gesper di depan tv.

Gue masih andukan lucu. Karena gue orangnya santai, maka gue tanya, ‘Emang acara pengajiannya jam berapa sih?’

‘Jam 8 malem.’

Buset. Acara jam 8 siap-siap dari jam 1.

‘Iya. Nggakpapa. Takut ada halangan tiba-tiba.’

‘HALANGAN TIBA-TIBA JUGA GAK NYAMPE TUJUH JAAM!!’

Mungkin halangan tiba-tiba yang dimaksud nyokap adalah kalo di perjalanan ketemu makhluk luar angkasa yang membajak bus kita. Sehingga kita harus terjebak selama 7 jam… karena aliennya gak tau cara nyetir.

Shit shit shit. Gara-gara buru-buru juga kaos gue ketinggalan semua. Huhuhu. Ini artinya, sampai di bogor hari senin nanti gue tetep pake baju yang sama, yang nempel di badan. Itu artinya, kematian bagi seluruh penumpang bis.

Njut topik lain. Hari ini gue sengsara banget. Sedih rasanya jadi orang jawa yang gak ngerti bahasa jawa. Tiap ngobrol sama orang, gue langsung mengalami disfungsi telinga. Atau dalam bahasa lainnya: superbolot!

Kejadian bolot pertama adalah pas lagi istirahat sewaktu berangkat mudik kamis lalu. Waktu di tempat peristirahatan, gue ngiter-ngiter sendirian bermaksud ngelurusin kaki. Tau-tau ada mas-mas nyeletuk, ‘Dek, ^&%$$%enaf??’

Gue garuk pala. ‘Emm… apa, Mas?’

‘%$##^prauuj?’

Gue, karena nggak ngerti sama sekali dia nanya apa, dengan kesotoyan tingkat dewa menjawab, ‘Hee.. Iya, Mas.’

‘*&hyjalan, Dek?’

Sinting. Kengasalan gue berbuah manis! Gue mampu berbicara dengan bahasa jawa! Karena penasaran, gue akhirnya ngaku dan bilang kalo ngobrolnya pake bahasa indonesia aja. Eeeh, ternyata pertanyaan dia yang tadi adalah: ‘Tadi malem bis kita nyerempet bis lain gimana ceritanya sih?’

Sementara gue dengan sotoynya menjawab, ‘Iya, Mas.’ Sungguh bolot. Kalo gue yang jadi mas-masnya pasti udah kesel setengah mampus. Gimana enggak, wong gue jawabnya nggak nyambung banget. Kalo gue nanya ke orang ‘Bro, apa kabar, bro?’ dia jawab ‘Naek bus gua.’ aja pasti gue gampar. Gimana ini? Apa jangan-jangan arti dari ‘*&hyjalan, Dek?’ itu ‘Bajingan kamu, Dek.’ ya? Hehehe.

Kejadian bolot kedua terjadi baru aja. Pas lagi pengajian, bapak-bapak di samping gue nanya, ‘Dek, ikjayw kan? pripun?’

Gue pun cuman bisa jawab sambil nyengir mesum, ‘Hee.. gimana pak?’

‘ikjayw pripun?’

‘Gimana?’

‘Ikjayw. Ik-jayw.’

‘Maaf. Gimana?’

‘IK-JAYW. IKJAYWWW!!’

Aaaaaaaakk gue tidak boloooot pak! Gue hanya butuh subtitle!

Njut ke topik penting. Ebook keriba-keribo sudah rilis! Horay! Kalian bisa beli secara legal maupun mengunduh sampelnya. Cukup klik menu tab ‘Ebook’ di atas. Atau silakan klik tulisan ini.

Yak, happy reading guys!



Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, October 8, 2014

Anak Motor, Deritanya Tiada Berakhir

Anak motor, deritanya tiada berakhir.

Dari dulu gue paling nggak suka sama gosip. Buat gue gosip itu horor. Apalagi sejak kecil gue udah disuguhkan sama Feni Rose dan dandanannya yang item dan suka nyilet-nyilet. Nyeremin abis.

Nah, salah satu gosip yang sering melanda anak motor adalah “gonti-ganti goncengan”. Sebagaimana gosip yang menyebar lebih cepat dari kecepatan suara, gosip ini juga sempat menghampiri gue.

Gue merasa serba salah. Dulu gue sering banget pergi bareng satu temen karena ada project bareng.

‘Gue liat lo boncengan sama dia mulu, Di. Lagi PDKT ya?’ kata seorang temen.

Gue cuma bisa jawab, ‘Bukan. Lagi latian jadi tukang ojek aja nih.’

Sekarang, di saat project bareng temen udah beres, temen-temen malah ngira gue gonta-ganti pacar. Setelah gue selidiki, ternyata mereka ngomong gitu karena gue SERING NGEBONCENGIN SIAPA AJA.

Oh, sungguh suatu alasan yang aneh sekali.

Mereka mengira setiap orang yang gue bonceng adalah gebetan. Itu jelas pikiran yang aneh. Padahal, gue biasanya ketemu orang-orang ini secara tidak sengaja. Seperti pas mau pulang, lalu dicegat oleh temen gue.

‘Lo mau balik ya?’ kata Gisel, nyegat gue di parkiran.
‘Ho’oh.’
‘Bareng dong. Gue juga mau balik nih.’
‘Okeh!’ Gue menjawab penuh gairah. ‘Dua ribu yak..’ (insting tukang ojek memang gak bisa boong).

Atau kasus lain,

‘Di, lo mau ke mana?’ tanya Yuda di depan laboratorium.
‘Bingung nih. Kayaknya mau balik aja deh.’
‘Nebeng dong.’
‘Oke. Ke mana?’
‘Ke hatimuuuu.’

Karena ngeselin, Yuda pun gue lindes kaki kanannya.

Yah, pokoknya gitu deh. Gue bingung aja sama orang yang mikir kalo gonta-ganti boncengan sama dengan gonta-ganti pasangan. Kalo gitu, mulai besok gue nggak mau lagi boncengin siapapun. Begitu orang minta nebeng langsung gue tolak dengan macho, ‘Tidak boleh! Ini untuk gebetanku!’ Begitu ditanya ‘Emang siapa gebetan lo?’ gue jawab lagi dengan macho, ‘Tidak punya!’

Lagipula, gue gak pernah tuh ngeliat ada orang yang ngegosipin tukang ojek (yang jelas-jelas tiap hari ganti boncengan). Ini berarti derajat gue lebih rendah dari tukang ojek! Aku kalah! Aku lemah! Cabutlah nyawaku sekarang! (horor). Supaya adil, seharusnya para tukang ojek ini juga diledekin. Nanti begitu si tukang ojek lagi narik, orang-orang langsung pada keluar dari semak-semak dan nyegat motornya. Lalu mereka semua nunjuk-nunjuk si tukang ojek dan bilang, ‘Cieeee.. perasaan tadi sama yang kerudung biru.. kok sekarang sama yang jenggot biru.. Cieeee..’


Oh anak motor, deritanya tiada berakhir.

Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, October 4, 2014

H-1 Ebook Keriba-Keribo?

Yo, maaaan!

Gue udah lumayan seger nih. Tiga hari kemaren gue lemes banget. Dan jujur, gue belum ngerjain apa-apa lagi untuk ebook keriba-keribo. Sebetulnya udah beres sih. Semua konten sudah rampung dibuat, tapi ada beberapa fitur untuk pdf nanti (seperti interlink, dll) yang belum dibuat. Gue juga sudah berpikir bahwa, ‘kok kayaknya kalo keburu-buru nggak enak juga ya.’

Maka, dengan ini gue putuskan: jadwal rilis ebook keriba-keribo diundur. Dari yang semula besok tanggal 5 Oktober, menjadi tanggal 11 Oktober. Hal ini mengingat banyaknya kaum-kaum jomblo yang bingung harus ngapain di malam minggu. Sekalian juga biar gue ada kerjaan, soalnya minggu depan gue bakal ke Solo. Ada yang mau ketemu? Hehe.

Untuk yang belum tahu, ebook keriba-keribo berisi 10 bab plus extras yang berisi behind the scenes  serta dua cerita pendek. Berikut daftar bab yang ada di dalam ebook:

Satu: Bo..Bo.. Bobo. Bercerita tentang perjalanan gue keluar rumah. Di dalamnya ada dua cerita terpisah, yang pertama adalah sewaktu gue main bareng temen deket untuk pergi nonton. Satu lagi tentang gue yang beli celana jeans (dan dengan tololnya) masuk ke mal dengan make helm.

Dua: Anak Wonosobo Itu. Bab ini mengisahkan tentang pertemanan gue bersama manusia camen bernama Radit. Mulai dari awal ketemu (pas SMP) sampai terakhir ketemu (kuliah). Pokoknya di bab ini bercerita tentang pertemanan banget. Rusuh-rusuhnya partner in crime. Bagaimana gue dan Radit main game online bareng, dipalak bareng, sampe gue yang nyamperin dia ke Bandung buat ketemu dan nostalgia.

Tiga: Catatan Akhir Pekan. Bab ini adalah tulisan lepas. Gue terinspirasi dari esai komedinya David Sedaris. Di bab ini, gue kayak lagi nulis diary gitu. Di mana isinya adalah hasil pengamatan gue terhadap lingkungan sekitar yang kok kayaknya aneh banget. Mulai dari gue yang kesal sama tukang parkir yang suka dateng tiba-tiba, cerita tentang Dahsyat dan Inbox yang aneh banget kalo ngadain kuis, sampai ke acara Mamah Dedeh.

Empat: Lemah. Salah satu bab favorit nih. Isinya adalah perjalanan gue ke hutan di Garut. Bagaimana gue bertahan hidup kagak mandi, ngeliat bunga bangkai (yang benar-benar bangkai!), ngitung kalong sampe mata jereng. Pokoknya, ini adalah cerita perjalanan. Bagaimana gue yang awalnya  ngerasa salah masuk jurusan sampe ngerasa seneng karena bisa jalan-jalan dan mendapat pelajaran langsung dari alam.

Lima: Ternoda Karena Tornado. Mengisahkan tentang perjalanan gue bersama pacar ke Dufan. Di bab ini kemachoan gue diceritakan secara lantang dan keras. Gue yang awalnya panik karena belum pernah ke Dufan dan takut nyasar. Sampai akhirnya beneran nyasar.

Enam: Antara yang Sejati dan yang Seenak Jidat. Berisi perbedaan antara pengendara motor yang baik dan yang seenak udelnya sendiri. Kamu bisa tahu kamu termasuk yang mana dengan melihat ciri-cirinya di sini.

Tujuh: Hilang Bukan Berarti Kosong, Nak. Bab ini didedikasikan untuk sahabat gue, Bobby Fiorentino dan almarhum kakek gue, Soedijana.

Delapan: Pertama Bukan yang Terakhir. Di sini diceritakan bagaimana gue menemukan cinta pertama. Gimana begonya gue. Gimana gue mulai belajar untuk mencintai, meski harus berakhir tragis karena ulah gue sendiri.

Sembilan: Perjumpaan (kembali) dengan Ve Amalia. Sebuah pertemuan dengan cinta pertama gue setelah begitu lama tidak bertemu.

Sepuluh: Keriba-Keribo. Cerita konklusi dari buku digital keriba-keribo.


Buat gue, kesepuluh bab ini punya warna sendiri-sendiri. Mereka tidak bisa dibandingkan antara satu dengan yang lain. Mereka punya karakternya sendiri-sendiri.


So, silakan nabung dulu ya! :)

*UPDATED*

E-book keriba-keribo udah rilis! Kalau kamu pengin tahu cara mesennya, klik tulisan ini ya. Ada yang gratis juga lho!
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, October 1, 2014

H-5 Ebook Keriba-Keribo!

Hoah udah jam berapa ini? 

Sungguh gila. Hari ini gue belum nambah satu halaman pun. Semalem, abis ngetik postingan H-6 itu, gue nggak tahu lagi mau ngelanjutin apa. Rasanya kayak suliiit banget buat nulis. Tiap beres satu paragraf, gue ngapus empat paragraf. Terus nulis lagi beberapa paragraf. Jadinya kayak jalan di tempat. Gue sempet mikir, ‘Ah, daripada maksain mending besok pagi aja deh.’ Biasanya otak gue rada bener kalo ngetik subuh-subuh. Begitu melek tadi pagi, tau-tau udah jam 9. Sialan.

Masalahnya, seharian ini gue full di kampus. Keliling-keliling nyariin dosen. Begitu sampe rumah udah jam 4. Rebahan bentar. Eeeeh ketiduran. Entah kenapa juga gue akhir-akhir ini kena sindrom procrastinator. Bawaannya pengin ngunduur melulu. Dikit-dikit bilang sama diri sendiri. ‘Ah, nanti aja deh agak maleman’. Begitu agak malem, ‘Ah, nanti aja deh abis nonton 86 (seriously, I love this film!).’ Begitu 86 kelar, udah depan laptop, ‘Ah, nanti aja deh ngenet dulu bentar.’ Terus tau-tau udah jam seginiii!

Oh my god.

Sekarang aja lagi nyari-nyari lagu yang kalian kasih tahu kemaren. Kebanyakan emang gue sering denger, sih. Kayak For The Foxes, Tulus, sama Payung Teduh. Tapi ada juga beberapa yang bener-bener baru dan itu keren. Macam Afternoon Talk sama Teman Sebangku. Feel-nya mirip-mirip Mocca dan White Shoes. Hehehe. Ternyata keren juga ya kalian. Gue pikir jawaban yang bakal kalian kasih band-band terkenal kayak… Trio Ubur-Ubur.

Oya, ngomongin soal band, hari minggu kemaren di kampus gue ada Mata Najwa On Stage. Terus beberapa hari sebelumnya ada Stand Up Comedy. Jadi si stand up ini masuk ke dalam rangkaian acaranya Mbak Najwa. Nah, yang pengin gue ceritain adalah soal band pembuka Stand Up Comedy ini.

Jadi, waktu itu gue lagi duduk-duduk ganteng nungguin acara mulai. Gue mikir kalo stand up comedy itu lawakan yang mengandalkan kekuatan verbal, jadi begitu pintu dibuka dengan liar gue langsung milih duduk di samping speaker. Sampai gue sadar kalo itu adalah kesalahan terbesar di hari itu.

‘Yak, sebelum acara inti dimulai, kita kasih kalian hiburan sedikit ya!’ MC keluar dari balik panggung. ‘Sebentar lagi akan ada band terkenal yang tampil!’

‘Wah, keren juga nih acara,’ batin gue. ‘Udah gratis, pake ada band-band segala pula.’

‘Langsung saja kita tampilkan! Band yang sedang naik daun!!’

Hmm siapa nih? Gue mulai nebak-nebak. Apakah Noah? Atau Ungu? Atau… Band.. Ot? Bandot??

‘ARJUNA BAAAANDDD!!!’

Siape tuh?  Sumpah, pas MC-nya bilang ‘ARJUNA BAND!’ gue cuman bengong. Gue nggak pernah tahu di dunia ini ada yang namanya Arjuna band. Gue tunggu tunggu tunggu. Eeh, begitu keluar tampilannya udah kayak Bandot kena hepatitis. Vokalisnya mirip Pa’ang Wali… versi kebanyakan ngemilin bumbu mie rebus. Ini mah bukan band yang lagi naik daun, tapi naik ojeg (terlihat dari gaya rambut personel-nya yang kayak orang keseringan trek-trekan gak pake helm).

‘Hellllooooowwwhh IPEBEEE??!!’

Krik. Krik. Krik.

Satu gedung nggak ada yang nyaut. Ketika itu gue sadar kalo selera musik anak kampus masih bagus.

‘Kamihh dariihhh Arjunaaahhh.’

Mungkin, karena nggak enak, satu gedung mulai teriak, ‘Kyaaaaa!! Waaaaa….!! Waaaa..!!’ lalu dilanjutkan dengan sorakan, ‘TURUNNN!! TURUN!! TURUN!!’

Mereka lalu memperkenalkan personelnya satu per satu. Keren banget. Sesungguhnya gue langsung terpesona dan mulai ngefans. Apalagi ketika sang vokalis mengenalkan keyboardist-nya yang punya poni nutupin mata. Keren abis! Meskipun gue sempet bingung dia ini keyboardist atau ninja, tetapi gue tetep ngefans sama mereka. Rambut si keyboardist ini seperti perpaduan antara gaya rambut Kevin Aprilio dan Andhika Kangen Band. Sumpah, tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Rambutnya panjang sampai semulut dan dibiarkan menjuntai dengan indah menutupi mata (gue curiga di belakang telinganya ada kerekan buat naikin rambutnya). Gue juga bisa meramalkan bahwa gaya rambut ini akan menjadi tren di masa depan. Masa setelah dunia ini kiamat.

Rasa ngefans gue pun semakin meningkat sewaktu si vokalis bernyanyi.

‘Uwooohh.. cincaaakkuuu.. Oooowwhh..’

Gue sendiri gak begitu jelas dia ngomong apa. Suaranya sengau abis. Keren. Kayak Ariel abis masturbasi. Gue cuma takut aja kalo sebenernya di atas panggung sana dia nggak nyanyi.

‘Uwoooohh.. Cincaaakuu. Huooo… Alif laaam miiim..’

Duh, kan jadi ngelantur gini.
Jadi sampe mana tadi ebook gue?


Suka post ini? Bagikan ke: