Monday, September 29, 2014

H-6 Ebook Keriba-Keribo!

Seperti yang gue bilang di postingan kemaren, postingan ini akan berisi apa-apa saja udah gue kerjakan untuk ebook keriba-keribo nanti.

Jadi, hari ini kerjaan gue ngebuat efek blur untuk ebook versi gratisan. Versi yang ini adalah sampel ebook yang bisa kalian download nanti secara gratis. Berbeda dengan yang kemarin, versi gratisan ini tidak full. Gue sudah ngebuat banyak blur di ceritanya. Dan itu sumpah bikin mata jereng. Jadi, dari 200 halaman yang ada, gue membuka satu per satu di corel, lalu membaca ulang, mikir mana yang kira-kira pantas buat disembunyiin. Ketika nemu yang cocok, halaman tersebut gue ubah formatnya menjadi bitmap, baru deh dikasih efek blur. Ini bener-bener satu-satu gitu. Capek. Kayaknya ini adalah salah satu kerjaan yang paling menghabiskan waktu selama gue mengerjakan ebook ini. Sampe sekarang aja belum beres semua. Hoaaah. Mudah-mudahan nggak bikin mata minus.

Karena gue juga nggak jago make Corel Draw, alhasil banyak kalimat yang nggak sengaja kegeser. Jadi antar kata-katanya saling numpuk gitu. Dan gue gak tahu cara balikinnya. Hehehe. Jadi semisal kalian nanti nemu kalimat yang numpuk dan gak jelas, ya terima aja. Namanya juga versi gratisan. \:p/

Dari segi cerita, gue udah gak mau mengotak-atik lagi. Gue hanya tinggal ngerampungin bagian extras. Hari ini gue ngebuat cerita tentang bagaimana pemasaran ebook ini dilakukan. Sekarang baru jadi tiga halaman, tapi lumayaan. Sedikit-sedikit tapi maju terus. Gue sebisa mungkin menuangkan semua yang sudah gue pelajari. Tentunya diracik supaya orang yang baru menjadi blogger atau pengin ngebuat ebook juga bisa mengikuti dengan lancar.

Yak, mari lanjut lagi.
Eh iya, ada yang punya rekomendasi lagu bagus buat nemenin nulis nggak ya?

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, September 28, 2014

H-7 Ebook Keriba-Keribo!

Masih nyambung di postingan sebelumnya, ternyata banyak juga yang ngerasa senasib. Maka di postingan ini gue tegaskan: orang yang kena ADD itu tidak berbahaya! Kecuali dia ADD… dan sering nonton Ganteng-Ganteng Serigala.

Kemaren ada yang nanya tentang ciri-ciri orang yang kena ADD. Ini dia komentarnya:

Sepatu Kiri September 26, 2014 at 12:06 PM

Setelah baca ini kayanya harus banyak cari tau soal ADD, kok beberapa ciri yang bang adi sebutin diatas mirip-mirip sama aku :(

Tanggapan gue:

Ciri paling gampang pengidap ADD: hiperaktif. Pengidap ADD (atau ada juga yang menyebut ADHD) cenderung ingin mengerjakan semuanya secara langsung dan brutal. Alhasil, jadi sering nggak fokus. Waktu lagi ngerjain proyek A, eh tau-tau kepikiran proyek B. Namun sesungguhnya, ADD ini sama sekali tidak perlu ditakutkan. Kalo kita bisa ngontrol malah bisa jadi bagus. Karena para pengidap ADD cenderung ingin ‘mengeluarkan sesuatu’ dari kepalanya. Salah dua orang yang gue tahu mengidap ADD juga: Pandji Pragiwaksono dan Petra Gabriel Michael (“Jebraw Jalan-jalan Men”).

So, don’t worry be happy, guys. :)

Lanjut bahas yang lain. Sekarang udah H-7 rilis ebook keriba-keribo versi berbayar. Setelah kemaren merenung nentuin tanggal dan akhirnya kepilih 5 Oktober, gue baru sadar kalo 5 Oktober itu barengan Idul Adha! Artinya orang-orang bakal pada menggal pala kambing sama sapi. Mudah-mudahan aja begitu ebook gue keluar nanti nggak ada yang pengin menggal palanya sendiri (horor).

Di postingan kali ini gue pengin ngasih bocoran dikit tentang bedanya ebook versi berbayar dengan yang kemaren sempet gue bagiin selama sebulan. Kalau diibaratin, ebook kemarin adalah sebuah meja kayu yang baru selesai dirakit. Sudah jadi meja dan bisa dipakai, tetapi belum dicat. Belum kinclong. Sementara yang nanti akan keluar adalah sebuah meja yang telah diampelas berkali-kali sampai halus, kemudian dicat dan dimasukkan harta karun (harta karunnya berupa extras) ke dalam kolongnya. Jadi bisa gue pastikan yang berbayar nanti akan jauh lebih bagus dibanding yang kemarin.

Untuk yang kemaren udah download dan bukan blogger, gue tidak menyarankan kalian untuk membeli ebook berbayar ini. Kenapa? Karena dari segi cerita tidak terlalu banyak berubah. Isinya tetap 10 bab yang kemarin (hanya ditambah 2 cerita di bagian extras). Tapi kalo mau liat apa aja perubahannya antara yang lama dan yang baru, ya silakan dibeli. Yang jelas, seperti yang gue bilang tadi, meja yang ini sudah diampelas sampai halus dan dicat dengan baik. Selain itu, cerita di dalam ebook yang baru lebih dibuat ramping dan tidak terlalu ‘gemuk’. Gue menghapus paragraf-paragraf yang redundan atau yang memang sebaiknya dibuang aja. Salah satunya ini:

Berbeda dengan Kora-Kora dan Istana Boneka, tempat mengantri Niagara-Gara ini berada di dalam ruangan. Sekatnya melingkar-lingkar. Sekat yang lebarnya persis sepinggang itu membuat para pengantri tidak dapat bergerak leluasa. Jarak tiap orang yang hanya beberapa senti semakin mempersempit ruang gerak. Padat. Takut saling tabrak, para pengunjung akhirnya berjalan dengan gaya penguin.

Untuk kalian yang kemaren udah download dan blogger, gue saranin untuk tetap beli yang berbayar. Soalnya di extras ada referensi-referensi yahut yang gue pakai dalam membuat ebook ini. Baik itu tentang menulis, membuat joke, maupun teknis pembuatan ebook serta marketingnya. Yah, meskipun gue masih cupu, tapi gakpapa. Namanya juga berbagi. :)

Nah, ini yang paling seru. Untuk yang di ebook berbayar mengharapkan agar tulisan gue lebih lucu, kalian harap kecewa. Gue justru memangkas beberapa joke di ebook yang baru. Kalau kalian mengingnkan komedi yang haha hihi seperti menonton The Hangover atau 21 Jump Street, kalian tidak akan mendapatkannya. Kalau kalian suka komedi romantis seperti 50 First Dates atau Cinta Brontosaurus-nya Raditya Dika, ebook ini cocok untuk kalian.

Untuk yang kemaren belum download, tanggal 5 nanti silakan dihajar!

Sekarang bagian yang menegangkan sekaligus mengenaskan. Sejujurnya, ebook berbayar belum selesai seluruhnya. Sekarang udah sekitar 90% sih. Tapi tetep aja, deg-deg ser. Malah ada beberapa konten di bagian extras yang belum gue tulis. Belum lagi harus ngebuat konten-konten lain seperti interlink (rencananya, di ebook ini kalo dipencet judul bab di daftar isi akan otomatis menuju bab tersebut, jadi kalian nggak harus capek-capek scroll lagi) yang berarti seluruh isi ebook harus udah selesai dibuat.

Jadi, supaya tetep kekejar, selama seminggu ke depan gue bakal ngebuat semacam diary di blog ini. Gue akan membuat postingan setiap harinya tentang apa-apa saja yang gue lakukan terhadap ebook keriba-keribo. Ini kayak bakal bener-bener real time gitu. Bisa tentang ngapus paragraf, re-write, mengisi konten, atau apapun sampai ebook ini benar-benar jadi 100% dan rilis tanggal 5 Oktober nanti.

Beberapa hari yang lalu gue dapet email ini:

Hallo, bang Adi.


detik ini, ketika gue ngetik email ini, itu artinya gue baru khatam baca ebook karya abang. keren banget dan penuh ke-macho-an. cadas abis pokoknya. cerita yang paling gue suka itu cerita yang terakhir. dan yang paling gue suka adalah :


"Bukan lagi sedih juga sih. Gue lagi nggak ngerasa apa-apa. Feels nothing. Tau kan, saat di mana kita pengin diem aja. Dieeeem aja bener-bener diem. Biarin orang ngelakuin semua kegiatannya dan kita cuman pengin nontonin mereka. Bukan jadi ‘bagian’ dari sistem yang ada."


itu gue banget. jarang ada yang sama2 bisa ngerasa kaya gitu. kampret lo, bang.

 oh, iya. gue ada pertanyaan buat abang. cuma pengen tau pendapatnya aja sih tentang makin banyaknya blogger yang menurut gue sih ini ya, cuma ikut-ikutan doang. well, mungkin mereka terinspirasi sama salah satu blogger yang inisialnya Raditya Dika *eh* atau bang Alit, atau yang lainnya. dan mereka blogging itu bukan karena passionnya mereka sendiri, tapi ada kepentingan tertentu. menjadi terkenal, misal. ya, sekedar pengen tau aja sih pendapat abang gimana. 


mungkin itu yang bisa gue sampaikan dan tanyakan. tetap berkarya ya bang, ditunggu ebook selanjutnya. Salam Kreatif! :D

Tanggapan gue:

Terima kasih sudah membaca ebook gue secara legal! Buat gue pribadi, sebetulnya sah-sah aja apapun motivasi blogger untuk ngeblog. Entah itu mau terkenal, mau dagangannya laku, mau karena disuruh orangtua (emang ada ya?). Pokoknya, apapun itu, sah-sah aja. Sejauh cara mereka ngeblog betul dan mengikuti kaidah keperbloggeran. Kayak misalnya, nggak boleh copas tanpa seijin pemilik tulisan, nggak nge-spam, de el el. Seiring dengan berjalannya waktu, akan keliatan kok mana yang bertahan mana yang enggak. Yang nggak boleh adalah ketika si orang ini pengin terkenal, tetapi menggunakan cara yang salah. Kayak misalnya, nge-gym sampe berotot lalu ngajak berantem tukang sayur depan komplek.

Waduh, panjang juga postingan ini. Okedeh. Cukup. Kresnoadi, ciao.

Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, September 26, 2014

Jujur

Gue baru buka-buka postingan lama, lalu nyangkut ke tulisan yang ini. Lalu gue menyetel musik ini.

Sekarang,
gue mau jujur-jujuran.

Kalau boleh jujur, sisa hidup gue lebih banyak dihabiskan di dalam kamar. Menyendiri. Dengan internet dan buku dan makanan kecil. Jauh di dalam hati, gue adalah seorang introvert. Tertutup. Gue tidak suka berada di tempat keramaian dan lebih memilih untuk menyendiri di dalam kamar.

Sampai pada suatu titik,
gue merasa kosong.

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa gue adalah pengidap ADD (Attention Deficit Disorder). Untuk yang pengin tahu ADD lebih detail, kalian bisa googlling aja. Simpelnya, ADD adalah penyakit psikologis di mana seseorang merasa kurang mendapat perhatian. Orang ADD itu selalu merasa kesepian. Gue, jauh di lubuk hati yang paling dalam, selalu merasa tidak memiliki tempat untuk bercerita. Gue merasa tidak punya siapa-siapa. Itulah kenapa, orang yang kenal gue secara langsung bakal ngerasa kalo gue caper dan hiperaktif. Kalo ketemu orang bawaannya heboh.

Sebetulnya, itu hanya kamuflase.

Sekali waktu orang melihat gue berbicara nyerocos dan asal di depan teman-teman. Sepulangnya di rumah, gue hanya tiduran, diam menatap langit-langit kamar. Ngedengerin suara jarum jam.

Itulah kenapa, gue senang melihat orang tertawa. Meliihat orang tertawa, membuat gue merasa tidak sendirian. Gue menganggap orang yang tertawa sebagai cerminan diri gue sendiri. Ketika bisa tertawa lepas bersama, i feel like something that I have someone’s ears and eyes.

Itulah kenapa, gue suka menulis. Menulis membuat gue merasa tidak sendirian. Gue seakan punya telinga yang bisa kapan saja mendengarkan. Gue bisa cerita apa saja. Hal yang sangat sulit gue lakukan di kehidupan nyata mengingat gue hanya mau berbicara serius dan berat kepada beberapa orang saja. Itulah kenapa, meskipun blog ini tidak seramai blogger terkenal seperti Alit, Bena, atau Kevin, tetapi gue lanjut terus. Gue berusaha jujur kepada apa yang gue tulis.

Dari masih SMP, keluarga gue sudah mencar-mencar. Bokap bekerja di luar kota. Nyokap tiap hari ngantor sampai malem. Temen gue di sekolah cuma sedikit. Walaupun suka ngawur dan kata orang gue mudah berbaur, tetapi gue cukup selektif memilih teman. Teman yang gue maksud adalah yang beneran teman. Bukan cuma yang say hello kalo ketemu di jalan atau datang kalau ada maunya.

Masuk SMA tidak jauh berbeda. Meski Bokap ketika itu lebih banyak di rumah, gue kurang deket sama dia. Di mata orang tua, gue adalah anak yang selalu dibandingkan ke Abang gue. Gue selalu diberi beban untuk bisa lebih baik dari dia. Kalo lebih jelek, gue bakal dimarahi. Kalo lebih baik, ya wajar saja, kan udah ada contohnya. Gue tidak mendapat perlakuan khusus sebagaimana anak bungsu lain dapatkan.

Tahun pertama kuliah gue tinggal sendiri di rumah Bogor. Gue semakin jarang berkomunikasi dengan orang-orang. Untuk yang udah baca ebook keriba-keribo, you know what, mungkin gue di masa ini mirip seperti kakek gue dulu ketika dia hanya tinggal sendirian dan tidak punya siapa-siapa untuk mengobrol.

Tahun-tahun selanjutnya, Abang gue mulai ikut tinggal di rumah. Agak lucu sebenarnya bagaimana ketika itu kita tinggal bareng tapi jarang ketemu. Tiap pagi gue berangkat dia masih tidur. Pas malemnya gue mau tidur eh dia masih keluyuran.

Masa-masa ini yang ngebuat gue berubah. Setiap ketemu orang, bawaannya kayak ‘jarang-jarang lo ketemu dia. Lo harus buat dia seneng.’ Seperti orang yang kelaparan dan tahu-tahu di depannya disodorin spageti. So, yeah, jadi wajar aja kalo temen-temen SMP atau SMA ketemu gue sekarang bakal shock dengan perubahan kelakuan gue yang makin absurd ini.

Itulah kenapa gue sadar komedian seperti Parto pernah mengeluarkan pistol dan menembakkannya di depan umum, kenapa Mitch Hedberg mati karena overdosis narkoba, kenapa Robin William, katanya mati gantung diri karena stres.

Gue mau jujur kalau sebetulnya, orang yang suka melucu itu, jauh di dalam hatinya menyimpan kesepian yang mendalam.

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, September 21, 2014

Sori, Sarjana

Hoah. Gue lagi hepi nih.

Jadi, ceritanya hari jumat kemaren gue sidang skripsi. Dan hasilnya… lulus! Horeeee!!

Sebetulnya, sebelum sidang gue sempet grogi gara-gara temen banyak yang bilang, ‘Awas, Di. Ati-ati ntar dikerjain loh!’ Karena dosen di kampus gue emang terkenal jail. Tapi, untungnya semua lancar-lancar saja. Satu-satunya pertanyaan yang bikin panik adalah pertanyaan terkahir,

‘Adi, coba kamu nilai diri kamu sendiri,’ kata salah satu dosen. ‘Menurut kamu, kamu pantas dapat nilai berapa?’

Gue lalu berpikir, ‘Hmm ini pasti pertanyaan jebakan.’ Temen gue pernah dikerjain pas ditanya kayak gini. Temen gue, mencoba rendah hati, menjawab, ’50, Pak.’ Lalu dia diserang oleh dosen-dosen. ‘Cuma 50? Ya udah, skripsi kamu kita kasih nilai B!’ Mampus! Gue gak mau dapet B! Tapi gue juga nggak mau ngocol dengan bilang layak dapet nilai gede. Apalagi dengan ngejawab, ‘Saya pantas mendapatkan cinta kasih Bapak.’ Gue belum mau kawin sama om-om.

‘Adi, kamu pantas dapet nilai berapa?’ Sang dosen kembali bertanya.

‘Hmm cari aman cari aman cari aman..’ Gue terus memutar otak. ‘Aha. Gue bilang aja dapet A, tapi jangan terlalu gede. Oke, berarti berapa pun yang penting di atas 75.’ Gue menatap mata dosen, ‘Saya… saya pantas mendapat nilai… emm.. di atas 75, Pak.’

‘Di atas 75? Di atas 75 itu berapa?! 75 itu masih AB lho! 80 baru dapet A!’

DEGH!!

Anjir. Gue lupa kalo di kampus gue ada peraturan baru. Jadi, ada nilai AB, untuk nilai yang nyaris dapet A tapi terlalu gede buat dapet B.

Gue lalu mengeles, ‘Maksud saya, di atas 75 itu 80, Pak. Hehehe. Hehehehe.’

‘Yang betul kamu?’

'Iya, Pak. Hehehe. Hehehehehehe.'

Garing abis.

Gila. Gue panik banget pas tau kalo 75 itu AB. Tapi untung aja nilai yang keluar beneran lebih bagus dari ekspektasi gue. Hehehe. Makasih pak dosen!

Masih bahas sarjana-sarjanaan. Di kampus lagi heboh ngekotak-kotakin mahasiswa tingkat akhir. Jadi, mahasiswa di kelas gue, lagi suka memilah anak-anak berdasarkan statusnya. Layaknya Tuhan, mereka mengubah derajat mahasiswa. Derajat tertinggi, dipegang oleh Sarjana, dan anak-anak yang baru selesai sidang skripsi seperti gue. Di bawahnya, ada mahasiswa yang udah seminar, dan tinggal menentukan tanggal untuk sidang skripsi. Di paling bawah, adalah mahasiswa yang masih penelitian dan belum seminar.

Biasanya, perbedaan derajat ini digunakan anak kelas untuk saling ngeledek satu sama lain.

‘Sori, gue mau ke kantin dulu, ya…. Sarjana,’ kata mereka yang udah pada lulus. Padahal pas di kantin mesennya wedhang jahe. Biasanya mahasiswa yang belum lulus bakal ngebales, ‘Sori, ya. Kampus tempatnya mahasiswa. Bukan pengangguran.’ Padahal tiap minggu kampus gue banyak anak-anak alay pada nongkrong.

Sama-sama gak bener.

Gue sendiri adalah salah satu orang yang menentang keras adanya perbedaan derajat ini. Gue menyebut diri gue Adi, si Omnivora (gue sanggup memakan apa saja, salah satu yang paling gue suka: makan duit temen).

Yah… daripada ngeledek, mending saling bantuin biar sama-sama cepet sukses. Ya tho?

Tapi, namanya manusia, gue juga sempet nyoba ngocol dengan status baru tersebut. Dan langsung gagal.

Kemaren, begitu sampe rumah di Pamulang, gue masuk dan langsung nyamperin nyokap di dapur.

‘Bu, Bu… Sori, Adek udah sarjana dong,’ kata gue, belagu.
‘Oh gitu. Potongin bawang ya.’
‘…’

Lanjut bahas lain. E-book keriba-keribo versi gratis dengan cerita full cuman bisa di download sampai hari ini! Mulai besok, link-nya bakal gue down-kan. Buat yang belum tahu apa itu e-book keriba-keribo, silakan baca postingan tentang buku digital keriba-keribo ini.

Untuk yang versi berbayar, tentu akan jauh lebih bagus. Gue sudah edit beberapa kali, ada interlink, serta bagian extras (menurut gue bagian inilah yang paling seru!) akan dibuka. Gue bakal bongkar habis-habisan cara gue membuat ebook. Dari mulai ide, inspirasi, sampai teknis pembuatan, mencakup software apa saja yang gue pakai untuk membuat ebook ini. Jadi, buat para blogger, kalau kalian mau kalian juga bisa ngebikin ebook sendiri.

Versi berbayar bakal gue rilis di blog ini tanggal 5 bulan depan. Tunggu ya!


Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, September 16, 2014

Suit.. Sepentin?

Seiring dengan berjalannya waktu, fungsi sosial media makin berubah. Dulu, jaman-jamannya Friendster, FS dipake buat pure seneng-seneng. Bodo amat mau iseng upload foto dengan gaya monyongin bibir, foto dari ubun-ubun, atau foto kayang di jalan tol sambil makan mie ayam (namanya juga iseng). Sosial media jaman dulu, berbeda dengan sekarang. Kalo sekarang kita majang avatar twitter dengan foto gaya jari nempel di bibir, follower kita bakal nambah banyak. Semua pasti komentar, ‘Cacingan lo?’

Bukan hanya gaya foto, fungsi sosial media secara umum juga berubah. Salah satu sosial media yang berubah fungsinya secara drastis, setelah gue telisik, adalah Facebook. Jaman dulu fesbuk dipake buat wall-wallan. Semakin ke sini, orang males nge-wall. Kita cenderung ngebales wall lewat kotak komen. Semakin ke sini lagi, fungsi fesbuk semakin bergeser: pengingat tanggal ulang taun.

Dulu, selain nomor telepon, tanggal ulang tahun merupakan salah satu hal yang wajib kita inget. Gue masih suka nyobekin kalender di tembok. Begitu sampe ke bulan ulang tahun temen gue, gue bergumam dalam hati, ‘Mampus lo. Bentar lagi kena kita kerjain.’

Sekarang, ulang tahun temen sendiri aja lupa kalo nggak buka fesbuk. Miris sih, tapi mau gimana. Thankies to facebook!

Karena pada ngandelin fesbuk, banyak orang yang kini ngeganti tanggal ulang tahun di fesbuk-nya.

‘Biar yang beneran inget aja yang ngucapin,’ kata seorang temen, sesaat setelah dia ngeganti tanggal ulang tahunnya di fesbuk.

‘Hmm.. sebuah ide yang masuk akal,’ gue berpikir. Kalo emang beneran kenal, mereka pasti nggak bakal ketipu sama tanggal ulang tahun palsu di fesbuk. Biar lebih misterius, nanti begitu ada yang nge-wall gue nanyain tanggal ulang tahun, gue bakal langsung jawab, ‘Tanggal 22, Bro. Rabiul Awal.’

Gue sebetulnya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu karena emang dari dulu gue gak pernah ngerayain ulang tahun. Tapi, ada yang berbeda di ulang tahun gue ke 17.

Ketika itu gue kelas 3 SMA. Masa-masa lagi mau ujian. Gue dari pagi udah senyum-senyum najong. Bawaannya gembiraaaa banget. Tapi, begitu ngedenger cerita temen gue yang sering dikerjain pas ulang tahun, gue jadi parno sendiri. Temen-temen gue ini, mengaku sebagai korban ulang tahun. Udah dilemparin telor, disiram, endingnya… dimintain traktiran. Anjir! Gue kagak mau kayak gitu! Tahu bakal menjadi korban dan dihabisi temen-temen (dan dihabisi isi dompetnya), gue langsung menjaga jarak. Ngeliat temen bawa botol minum gue langsung mikir, ‘Wah, wah, jangan-jangan gue mau disiram nih.’ Ngeliat temen keluar dari kamar mandi, gue panik, ‘Wah, wah, jangan-jangan gue mau disiram aer kencing nih.’ Ngeliat temen nyongkel-nyongkel motor di parkiran, gue langsung mikir, ‘Wah, wah, sejak kapan temen gue gabung jadi anggota curanmor?’

Pokoknya waktu itu gue parno banget. Dikit-dikit curiga. Sampai akhirnya, bel pulang sekolah berbunyi begitu saja. Gue yang sudah mempersiapkan diri, pulang dengan rasa kecewa. ‘Udah, gini doang?’ kata gue dalem hati.

Karena waktu itu lagi masa ujian, sorenya gue siap-siap berangkat les. Pas lagi asik mandi, Bokap ngetok dan bilang, ‘Misi, listrik!!’

Bukan, bukan. Dia ngasih tahu kalo di depan rumah ada temen gue nyariin. Gue waktu itu cuman mikir, ‘Ah, paling si Ega ngajak ke tempat les bareng.’ Gue lalu menyuruh Bokap supaya temen gue nunggu bentar.

Pas beres mandi, gue ngintip keluar lewat jendela. Ealah orang yang gue kira Ega, ternyata, temen, sekelas. Gila. Rame banget. Gue yang waktu itu cuman make anduk doang langsung ngibrit ke kamar, make baju lalu sisiran sampe ganteng. Setelah 137 tahun kemudian (karena gue gak ganteng-ganteng), gue keluar rumah dan bilang, ‘Ini ada apa ya rame-rame?’ Gue lalu disorakin sekelas. Hehehe. Gue malu abis. Belom pernah bok disamperin rame-rame sama temen sekelas. Saking ramenya, kalo waktu itu gue anak yang gaul, mungkin begitu keluar gue bakal teriak mantap, ‘Eeh penontoooon?!’

Terus mereka nyaut, ‘Oooooooooooii!!’

Terus kita adu pantun.

Terus gue digampar Bokap karena berisik di depan rumah.

Setelah acara sorak-sorakan selesai, gue ngebuka gerbang. Lalu, dari tengah kerumunan, keluarlah Ve Amalia sambil bawa kue (buat yang udah baca ebook keriba-keribo, pasti tahu siapa itu Ve Amalia). Gue makin salting, men! Begitu kuenya nyampe di hadapan gue, langsung gue tiup kenceng-kenceng, ‘Huuufff!!’ Tiga detik setelah niup, anak kelas pada ngomel, ‘Nyanyi dulu kali kitanyaaa!’ Hehehe kena omel lagi deh. Saking groginya sih.

Beres acara niup-niupan, mereka langsung pada brutal masuk ke rumah. Bokap, yang kaget karena tahu temen gue ternyata manusia, langsung ke depan beli ayam buat dimakan rame-rame. Terima kasih ya kalian! That was an imperfectly perfect moment. Gara-gara kalian gue jadi tahu betapa yang orang bilang tentang sweet seventeen  itu benar adanya. Dan gara-gara kalian, gue dapet pelajaran: jangan pernah bawa 20 orang kelaparan ke dalam satu rumah sekaligus. Makasih, loh. Jangan pada main ke rumah lagi ya. Bangkai memang kalian semua. Hehehe.

Okay then, kalau di antara kalian ada yang baca ini pas lagi ulang tahun, selamat ulang tahun ya! Semoga yang cewek kian cantik dan yang cowok kian tampan meski takkan sanggup mengalahkan ketampananku!



*UPDATED* 
Sesi gratis E-book keriba-keribo cuman sampai minggu ini ya. Setelah itu link-nya bakal gue down, persiapan untuk e-book yang versi full. So, selamat menanti! :)


Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, September 11, 2014

Sahrul Oh Sahrul

Beberapa bulan yang lalu, Sahrul mulai jadi penghuni rumah gue. Berbeda dengan Arip yang iluminati abis, Sahrul ini anaknya sangat religius. Gue masih inget pas pertama kali ke sini, gue bukain dia pintu, lalu dia bilang, ‘Assalamualaikum… Pak, minta, Pak. Sedekahnya, Pak.’ Sungguh suatu pertemuan pertama yang sangat islami.

Pokoknya segala yang dia lakukan sangat sangat baik dan beragama. Beda banget sama gue. Dia tiap sore baca kisah-kisah nabi, gue tiap sore molor. Dia kalo udah waktu solat langsung ke masjid, azan. Keren. Gue satu-satunya pengen azan cuman pas bulan puasa dan lupa saur karena ketiduran. Dia celananya ngatung sedikit di atas mata kaki. Gue celananya skinny jeans. Sekalinya ada celana yang ngatung, ngatungnya sampe selangkangan. Celana dalem.

Sahrul, berbeda sama gue dan Arip, orangnya cool banget. Dia pendiem. Kayaknya kalo gak diajak ngobrol duluan dia nggak bakal nyaut. Ngomongnya irit seperti bicara adalah sesuatu yang harus bayar. Pagi diem. Siang diem. Malem mabok-mabokan pake air zam-zam.

Sahrul juga seorang yang berjiwa wirausaha tinggi. Hasrat bisnisnya emang udah terlihat dari dulu. Dia pernah jualan roti di kampus. Katanya juga, dia dulu pernah bisnis taneman. Sampe yang terakhir adalah jualan kutu aer. Betul sekali, kutu aer. Anda kagum?  Bagus, gue juga tidak.

Waktu itu Arip tiba-tiba ngetok kamar gue, ‘Di, Di liat deh, tebak ada apa di bawah mesin cuci!’
‘Sempak lo?’
‘Sampingnya!’ kata Arip, nunjuk sebuah akuarium berisi air rada keruh.
‘Ini?’ gue mengangkat akuarium tersebut. ‘Aer apaan nih?’
‘Coba perhatiin baik-baik! Itu anak-anaknya Sahrul!’ Arip ketawa, lalu balik ke ruang keluarga.

Gue masih gak tau benda di akuarium itu berisi apa. Yang gue liat cuman mahluk kecil gerak-gerak. Kalo ini beneran anaknya Sahrul, gue jamin begitu pada gede, mahluk sebanyak ini udah bisa bikin kita solat jumat di rumah.

Begitu Sahrul balik dari kampus, gue langsung samper ke depan pintu sambil bawa akuarium.
‘Rul, kata Arip ini anak lo?’
‘Yoi,’ jawab Sahrul. Senyumnya mantap sekali.
Gue pengin tanya SIAPA YANG MENGHAMILI ELO RUL! JAWAB SEKARANG JUGA?! JAWAB!!  tapi gue yakin maksud Arip biilang ‘anak Sahrul’ adalah cuman kiasan semata. Jadi gue tanya, ‘Ini apaan?’
‘Kutu aer, Di,’ katanya, singkat seperti biasa. ‘Gue mau jualan kutu aer.’

Wow. Jualan kutu aer. Sebuah pemikiran yang out of the box. Jiwa bisnis yang spektakuler. Di saat dunia sudah globalisasi, dengan internet dan dunia online yang pesat, Sahrul memilih untuk jualan… kutu aer. Wow. Gue bisa ngebayangin nanti Sahrul dagang kutu aer di depan masjid sehabis jumatan.

‘Ya Akhi akhi semuanye… ukhti ukhti… lihatlah barang ane yang paling hot. Mahluk yang lebih kecil daripada tuyul di Pasar Anyar. Mahluk spektakuler abad ini! Inilah dia... kutu aer.’ lalu dia nunjuk akuarium yang ada aer buteknya.

Sungguh wow.

Hal yang mengagetkan dari Sahrul baru gue ketahui belakangan ini. Ketika itu gue lagi tidur-tiduran di kamar sambil dengerin lagunya Ellie Goulding yang beating Heart. Pas sampe di bagian ‘Wanna hear your beeeaaaa… ting heart tonight.’ Tiba-tiba gue mendengar desahan. Awalnya gue pikir itu emang si Ellie Goulding yang lagi mendesah. ‘Wanna hear your beaaaarrgghhh… aarrghh!!’ tapi setelah gue pikir-pikir suara Ellie Goulding tidak seperkasa itu.  Gue pun mematikan music player di laptop. Suara misterius itu terdengar semakin jelas: ‘Aaarrgghhh… aarrgghhhh!!!’

Gue dengerin terus suaranya. Kayak suara orang mengejang dan menahan sakit. Kadang pula di akhiri dengan bunyi ‘Brot! Brot!’

‘Aaaaaarrghhh… aaaaaaarrggghh brot!’

Gue masih heran dengan asal suara tersebut, maka gue keluar kamar dan mencari sumber suara misterius nan mistis itu. Setelah gue selidiki, tidak salah lagi, suaranya dari kamar mandi. Hmm.. Arip? Gue lalu ngecek kamar sebelah. Arip lagi tidur setengah bugil. Gue ke halaman belakang nyari Sahrul, kagak ada. SAHRUL. KAGAK. ADA.

Belum hilang rasa heran gue, Sahrul udah keluar dari kamar mandi sambil megang anduk.

‘Ah, lega, Di!’ Sahrul ngacungin jempol. tampangnya memancarkan kebahagiaan yang mendalam.
‘Rul, itu, elo, yang, dari, tadi, mendesah, jerit-jerit?’
‘Lho, emang kedengeran, ya?’
Kedengeran, ya? BUSET ITU SUARA LO MENGGELORA SATU DUNIA JUGA BISA DENGER LO KALO BOKER BIASA AJA WOIIII!!!’

Ternyata memang sudah kebiasaan Sahrul sejak dulu kalo boker harus sambil mendesah dan jerit-jerit napsu gitu. Gila. Gue serem juga. Padahal, dia kan religius. Nggak bisa apa ya ngedennya diganti dengan kata-kata yang lebih islami.


‘Aaaaaarrrghhh… Arrrghh… Sssstaghfirullah!! Brot!’
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, September 9, 2014

Susahnya Jadi Orang Lemah

Sintinggggggggggggg. Akhirnya bisa nulis lagi di sini. Halo! Uh!

*peluk keriba-keribo*

Udah dari jumat kemarin gue nge-drop parah. Badan rasanya lemeeees banget. Demam tinggi tapi berasa kedinginan. Kena angin dikit langsung serrrrr. Asma gue kambuh. Mana kalo berdiri kepala rasanya pusing banget. Dunia kayak muter-muter. Berasa jadi orang mabok gara-gara gak bisa jalan lurus. Sekarang juga masih ngerasa lemes, meskipun udah mendingan sih.

Badan gue emang lemah. Jadi sekalinya sakit dikit langsung gabung deh penyakit aneh-aneh. Kemaren aja giliran lemesnya mendingan, tau-tau maag gue kambuh. Terus dari kemaren kan gue kalo makan apa-apa rasanya pait, sekarang sekalinya udah enakan, eeeh malah sariawan. Huhuhu. Nasib jadi orang lemah.

Gue jadi inget dulu pas jaman SD. Waktu itu gue lagi ikut outbond pramuka ngelilingin komplek sekolahan. Kayaknya panaaaaasss banget waktu itu. Temen-temen pada antusias semua, gue keok sendirian di belakang. Begitu mau nyampe sekolah lagi, ibu-ibu pada teriak ke gue.

‘AYO DEK! AYO! DIKIT LAGIII!!??’

Gue langsung kebayang lapangan di belakang sekolah tempat garis finish outbond. Makin mendekati lapangan, ibu-ibu di pinggir sekolahan makin pada heboh nyorakin gue.

‘AAAAAKK!! AYOO?!! AYOO!’

Gue coba lari lebih kenceng. Semangat gue membara. Begitu mao sampe garis finish, Bokap gue keluar dari kerumunan orangtua di samping. Gue cuman bengong sampe dia bilang, ‘Itu daritadi mimisan, kamu nggak sadar?’

‘Ha?’

Gue ngelap idung pake punggung tangan. Gue liat tangan gue sendiri yang penuh darah. Gue pingsan di tengah aspal.

Begitulah gue. Panas dikit pusing, dingin dikit sesak napas. Susahnya jadi orang lemah.

Ada yang tau obat biar bisa cepet nyembuhin sesak napas nggak sih?

Update lain. Kayaknya testimoni Bena sama Romeogadungan di postingan sebelum ini bikin banyak kontroversi deh. Banyak yang nanya bener apa nggak, ada yang ngirim email ke gue. Jawaban gue: bener mereka emang komen tentang e-book gue, tapi nggak kayak gitu. Jauuh. Jauuuuh bahkan dari komenan kayak gitu. Nanti komen aslinya bakal gue munculin pas rilis e-book berbayar. :)

Maka, dengan ini, demi menghilangkan kontroversi yang ada, gue memutuskan untuk menghapus komen tersebut.

Akhir-akhir ini gue baru sadar kalau postingan gue di fesbuk isinya cuman link postingan keriba-keribo aja. Daripada terkesan nyepam ke temen-temen fesbuk lain, gue pun memutuskan: Buat facebook page!

Sejauh ini sih, untuk yang nanya-nanya secara personal kayaknya emang lebih enak di fesbuk. Makanya page-nya juga bisa sekalian untuk ngobrol-ngobrol bareng. Masih bingung nih mau diisi apaan. Hehehe. 

Untuk yang mau main bareng di fesbuk, bisa klik like di fesbuk page sini. Mari di-like beramai-ramai. :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, September 1, 2014

Semua Karena Giant Baru

Ini masih jam 5 pagi dan gue udah ditinggal orang rumah. Sedih.

Gila. Rasanya semalam adalah perjalanan balik gue dari Bogor ke Pamulang yang paling lama. Dua setengah jam. Dua kali lipat dari biasanya. Begitu sampe rumah, pantat gue osteoporosis.


Salahkan semua ini pada pembangunan Giant baru di Bogor. Untuk selengkapnya, silakan baca berita ini dan yang ini.

Pas tau ada pembangunan Giant baru deket kampus, gue udah was-was, ‘Anjir, kagak ada begituan aja udah macet mampus! Ini lagi nambah-nambah.’ Dan ternyata bener aja. Begitu pembukaan, orang-orang pada rusuh pengin ngeliat Giant. Gue sendiri bingung kenapa masyarakat Bogor heboh banget sama Giant. Isinya kan swalayan? Mungkin di suatu rumah ada percakapan begini,

Anak: Bu, ada Giant baru, Bu! Liat Bu! Liat liat liat!
Ibu: Ayooooooookk!! Giant yang dari Jepang itu, kan?

Giant-nya Doraemon.

Gue lalu berpikir dengan kejadian hebohnya Giant ini. Kata gue dalam hati, ‘Hmm… gue harus belajar marketing dari dia.’ Kemudian gue coba memelajari teknik yang dipakai Giant untuk mendatangkan customer.

Banner sepanjang jalan dengan tangal rilis. Umbul-umbul gambar bread talk. Lalu ada restoran ayam. Promosi bertuliskan “Giant”-nya sendiri malah diikit. Tetapi tetep aja semua pada berbondong-bondong pengen ke sana. Begitu dibuka tanggal 29 kemarin, langsung macet sadis. Jalanan sekitar kampus lumpuh. Supir angkot mogok kerja. Gue tiba-tiba kena diare. Belakangan diketahui kalo gue kebanyakan makan ketoprak pedes.

‘Keren,’ batin gue. Bagaimana Giant bisa mempesona warga sekitar untuk ke sana. Temen gue bilang bahwa begitu baru dibuka pasti banyak promo. ‘Nggak perlu dikasih tahu, semua cewek pasti langsung sadar yang kayak gitu,’ kata temen gue. ‘Hmm… cukup menghemat budget,’ gue mengangguk keren. Terpesona dengan cara Giant mengurangi biaya promosi justru dengan tidak mengumbar adanya promosi di sana.

Di tengah-tengah perjalanan pulang kemarin, gue lalu berpikir, ‘Tapi, Giant kan swalayan.’ Kata-kata “Swalayan” masih mengganggu gue. Entah kenapa, bagi gue aneh aja. Giant menjual kebutuhan rumah tangga. Apa begitu tau bakal ada Giant buka tanggal 29, orang Bogor langsung pada makan yang banyak dan ngabisin berasnya biar bisa beli lagi?

Gue, masih di tengah kebingungan, mencoba berpikir positif, ‘Ooh, ini pasti gara-gara gue lewat sini. Orang-orang pada mau liat gue… pengen ngelempar pake kacang.’


Udah ah, mau siap-siap ke Bogor lagi. Kemaren sih liat berita katanya Pak Walikota udah ngamuk. Mudah-mudahan aja nggak macet lagi. Yosh.
Suka post ini? Bagikan ke: