Wednesday, April 30, 2014

Postingan Misterius

//Ini adalah postingan misterius//

Halo, salam semuanya.

            Aku adalah si merah. Oke, sebenarnya merah hanyalah nama tengahku. Terserah tuanku mau menambahkan apa pada depan dan belakang namaku. Si Merah Butut, Mesin Merah Biadab, Benda Merah Sialan. Iya, apapun. Tuanku memberiku nama tengah merah karena warnaku. Bukan merah setara malu-malunya wanita, tapi merah pijar api. Merah redam. Sayangnya, tuanku tidak menyukai warna merah. Ia lebih menyukai warna susu, atau hitam, atau biru. Ia hampir menempeliku dengan lembaran kertas warna susu supaya sesuai dengan kesukaannya. Namun, untungnya hal itu belum terlaksana. Jadilah aku masih menyala-nyala sampai sekarang.

            Aku sebenarnya bukan benda mati. Aku benda hidup, sama seperti manusia, sapi, kuda, mangga, hiu, ilalang, meranti. Aku hanya berpura-pura mati ketika tuanku menekan-nekan tubuhku. Aku tersenyum walau tuanku tidak tahu. Ia terlalu serius menatap kalimat-kalimat di layarku. Menggonta-ganti kata, membuat unsur-unsur komedi, memanipulasi alphabet, memukul-mukul spasi, membenamkan backspace. Lihat saja, sekarang aku juga bisa menulis. Benar, menulis, seperti yang dilakukan tuanku pada halaman-halaman sebelum ini.

            Awalnya aku jengah karena harus memelototi rambut yang dianggapnya lurus itu. Huh, lurus apanya. Mencong sana-sini begitu mengaku lurus. Tak ada malunya dia. Tetapi, lama-kelamaan aku menikmati juga tekanan jemarinya pada tombol-tombolku. Aku mulai mengenalnya—tuanku yang berbadan ceking itu—saat ia rajin menulis. Ia jadi tidak terlalu memperbabu aku. Ia mulai rajin merawat dan mengelus-elus badanku. Mengusap dan meniupi muka—atau dalam bahasa manusia adalah layar—ketika diserang semut dan debu. Tentu saja kemesraan kami tidak dalam konteks homoseksual. Walaupun aku jantan dan ia lelaki, tetapi penyamaranku yang membuat manusia mengira bahwa aku benda mati akan menghilangkan status homo antara aku dan tuanku.

            Baiklah, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku membeberkan kepada kalian tentang tuanku dan tentang apa yang kalian pegang ini—keriba-keribo.

            Nama tuanku adalah Adi. Kresnoadi tepatnya. Kesan pertama begitu kalian melihatnya adalah badannya yang kerempeng, tulang-belulangnya yang padat, keras, seakan hanya dililiti urat dan ditempeli kulit. Wajahnya datar serupa pelamun. Tuanku—sejauh yang aku kenal—adalah seorang pemalas. Pemalas bukan sembarang pemalas. Ia pemalas yang bekerja keras. Pola pikirnya sedikit edan, mungkin itu yang membuat rambutnya belingsatan ke sana-sini. Di antara warna susu, hitam, dan biru, tuanku adalah si maniak biru. Jangan heran kalau kau melihatnya berwarna biru dari kepala sampai tumit. Biru, biru, dan biru. Maka pesanku satu: jangan sekali-kali kau ceburkan tuanku ini ke laut. Selain perenang yang buruk, ia juga sulit dibedakan dengan warna air.

            Tuanku, tuanku. Dialah seorang cuek. Ia cuek kepadaku, kepada perempuan-perempuan, kepada lelaki, kepada kuda, kepada tanah, kepada rerumputan, dan ia cuek kepada dia. Engselku telah menjadi saksi atas kepayahannya menjadi pemerhati. Seenaknya saja ia meletakkanku ke ransel, lalu dibawanya belingsatan oleh motor bututnya. Ugal-ugalan. Sekarang, mengangalah ini engsel kananku. Baru tahu rasa si bedebah itu—untuk kasus yang satu ini, sepertinya tuanku layak dijuluki bedebah.

Kamis, August 21 2013

            Olala. Sesaat setelah wajahku ditegakkan aku melihat tulisan ‘'free wifi’. Duduk di depanku adalah orang yang tak ku kenal. Tampangnya sangar. Di mana tuanku?

          'Nih.’  Tuanku mendekat, menyerahkan segelas susu kepada pria belah tengah di hadapanku, kemudian menaruh gelas berwarna hijau di sampingku. ‘Itu kayaknya di belakang kursi ada colokan, deh. Charger ada di tas. Katanya hape lu batrenya abis.

            Enak sekali mereka, duduk di sofa empuk. Dapat menenggelamkan setengah pantatnya begitu, sementara aku digeletakkan di atas meja kayu. Keras, dan… cokelat muda. Huh, aku benci warna cokelat. Terkesan kotor dan bau.

            Gimana, enak ngga?’ tuanku bertanya ke orang di hadapanku.

Kenapa wajah tuanku mendadak cemas? Ataukah itu minuman rekomendasi tuanku sehingga ia takut kalau orang di hadapanku ini tidak suka?


//bagian pertama//
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, April 26, 2014

Infooooooooooo Uwuwuwuw!!

Infooooo!!

Uwuwuw.

Satu. Semakin ke sini, ternyata banyak juga yang suka baca blog ngga jelas ini. Dan semakin ke sini, komentar orang-orang yang baca blog ini semakin kurang ajar. Kalo ngga ngeledekin gue, ngehina gue. Huhuhu. Emang apa yang salah dengan gue dan rambut gue yang mahalurus ini?

Namun, setelah semalaman berpikir di bawah gemerlap bintang. Tsah. Gue akhirnya menemukan jawabannya. Alasan mengapa komentar di blog gue semakin lama semakin ngeselin adalah… karena tulisan gue sendiri. Benar, seperti yang dulu pernah gue bilang, siapapun yang membaca tulisan-tulisan di keriba-keribo akan mengalami penurunan IQ, kemudian moralnya rusak…dan tidak lama kemudian gue akan menguasai dunia. HAHAHAHA! INI SEMAKIN DEKAAAT! SEMAKIN DEKAAAT! BANG KIRI BANG! DUH KELEWATAN KAN!

Berikut adalah salah satu bentuk kebiadaban para pembaca:









Oh, Mohammad Robih yang dimuliakan, dengan ini saya akan menanggapi komentar saudara: Bahwasannya saya adalah manusia normal, pertanyaan saudara aja yang kayak setan.

Selain itu, komen-komen di postingan Gempuran Mahasiswa Laknat juga sama kurang ajarnya. Oh, banyak sekali manusia-manusia jahat yang malah ngeledekin gue, bukannya nyemangatin biar cepet kelar kuliahnya. Apa kalian tahu, membaca komen kalian membuat hati gue berdegup kencang, di mata gue tumbuh kutil, kuping gue mengeluarkan darah. (Gue membaca komentar tersebut sambil menyaksikan video kllip Kangen Band).

Namun, betapapun kampretnya komen kalian, gue sangat berterima kasih karena sudah menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang tidak berguna dengan membaca blog ini. Hehehe.

Dua. Biar gaya kayak blogger-blogger keren yang lain, gue juga mau mbikin segmen. Yosh. Segmen ini gue beri nama Mendengar Gosip. Karena gue sangat tidak mengetahui perkembangan dunia pergosipan tanah air, maka dengan adanya segmen ini gue mau ngga mau akan nonton gosip. Uh, sebuah segmen yang sangat… tidak penting sekali sodara-sodara.

Ngomongin soal gosip, gue malah baru tahu kalau ternyata Kangen Band udah punya vokalis baru. Itu berarti kita tidak perlu menyumpal telinga pake kapas lagi. Dan itu berarti… Andhika bakal jualan cendol lagi nyanyi solo. Gue sempat membayangkan bagaimana aksi panggung Andhika nanti sewaktu bernyanyi. Jelas, dia akan jadi lebih sering berinteraksi dengan penonton.

Yah, gue sebagai pengamat musik terkemuka seantero kos-kosan di Bogor sudah memprediksi. Kalau anak metal ngasih mik ke penonton sambil bilang, ‘MAKE SOME NOISEEEEEEEEE!?’ Penyanyi jazz berinteraksi dengan meliuk-liukkan suaranya, ‘Eee.. oooo’ lalu penonton jawab: ‘Eee.. oooo.’ Juga. Menurut prediksi dan ramalan saya yang sangat macho ini, Andhika nanti bakal ngasih mik ke penonton setelah bilang, ‘Cendolnya Bu… Pak, cendolnya cendol cendol..’

Gosip berikutnya yang gue (baru) tahu adalah tentang Mbak Jupe. Ternyata, oh, ternyata si mbak Jupe ini tidak jadi melangsungkan pernikahannya bersama pemain bola itu. Oh, tragis sekali hidupnya si Mbak ini. Tapi saya yakin, dari lubuk hati saya yang paling dalam bahwa Mbak Jupe adalah orang yang kuat.  Jupe adalah sosok perempuan tangguh. Terbukti bawa semangka dua biji ngga pake tangan.

Tiga. Masih ingat Membaca Sejenak?

Nah, rencananya website tersebut akan dirilis tanggal 5 Mei 2014. Doakan aja ya!

Sekarang sih webnya masih diotak-atik. Baru hari kamis kemarin beli domain dan mudah-mudahan benaran beres pada tanggal segitu. Oya, Membaca Sejenak juga tidak terlalu memfokuskan cerpen untuk anak-anak doang, yang penting mengindonesia. Terserah kalian gimana deskripsiinnya. :))

Kalo untuk yang mau mulai ngirimin cerpen, bisa banget dikirim ke membacasejenak@gmail.com. Jangan lupa nyantumin nama penulisnya ya. Maksimal cerpennya 2 halaman. Kemaren nyoba 4 halaman terlalu panjang, takutnya malah jadi males baca. Hehe.

Sampe sekarang sih kayaknya gue mau nyoba ngurus berdua aja sama Asma (silakan kunjungi blognya di sini), soalnya sejauh ini yang beneran ngirim email buat jadi relawan baru dua orang. Daripada malah ngerepotin mereka, mending sekalian ngurus sendiri. Hehehe.

Yah, doakan saja proyek iseng-iseng ini berjalan lancaar. Amin!

Daaaan, kalau ada yang mau nanya-nanya ke gue juga bisa kirim email ke kresnoadidh@gmail.com

Boleh nanya apa aja kok, di luar topik blog juga nggapapa. Nanti pasti sebisa mungkin gue jawab dan kalau ada yang menarik bakal ditaruh di blog ini.

Mau nanya, ‘Bang Adi.. Bang Adi.. kapan sih seminarnya? Penelitiannya? Kok lama amat, emang jurusan apa?’ boleh.

Atau, ‘Bang Adi.. Bang Adi.. kenapa sih makin lama kok yang suka komen di blog bangsat-bangsat gitu?’ boleh juga.

Atau juga, ‘Bang Adi.. Bang Adi.. kok mukanya mirip Al, sih? Alay.’

Apa aja deh, sekiranya kalian senang dan membikin hati gembira. Yosh. Silakan ke email yang tadi yaa.

Ada soundloud baru, judulnya 'HATI-HATI KALO BELI HELM!?' Ini dia: https://soundcloud.com/dh-kresnoadi/hati-kalo-beli-helm

Oya, ada yang punya kenalan cewek, berpenampilan menarik sekitaran Bogor yang suka komedi nggak, ya? Lagi pengin bikin proyek iseng-iseng lain nih. 
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, April 24, 2014

Anaknya Enci, Ya?



Perhatikan muka tak berdosa ini baik-baik..






Ada yang salah dengan wajah saya?
Apa bulu hidung saya ofset? Apa kumis saya dapat menjerat mahluk hidup?

Kenapa akhir-akhir ini banyak yang bilang tampang gue mirip si anulah. Si inilah.

Hal ini bermula sejak kecil. Gue dimirip-miripin sama Abang gue. Oh, itu sungguh fak yu sekali. Jelas sebagai Adik gue merasa tertindas. Dulu, tiap temen Abang gue main ke rumah, gue selalu diledekin, ‘Eeeeehh ada Bang Sat..’ (nama Abang gue Tiyo, tapi dulu masih ada yang manggil Satriyo).

Kadang mereka ngeledekin gue sambil senyum-senyum, kadang sambil nunjuk-nunjuk gue dan si Abang secara bergantian sampe mereka kembali bilang, ‘Eeeeeeeeehhh Bang Sat-nya ada duaaaaaa. HAHAHA!’

Kunyuk.

Saat itu posisinya Abang gue dan gue satu sekolahan dan itu berarti temen-temennya merupakan senior gue. Ini membuat gue tidak bisa melawan tiap kali dibully. Andai kita beda sekolah, pasti dulu mereka udah gue bales, ‘Itu lobang idung lo juga ada dua. Cieeeee.’

Hal ini terus berlanjut hingga kuliah. Kita (yang lagi-lagi) kuliah di tempat dan jurusan yang sama, pada akhirnya membuat gue kembali diledekin. Senior jadi sering memanggil gue dengan nama Abang gue. Pada awalnya gue merasa risih dipanggil pake nama Abang sendiri. Tetapi, lama-kelamaan otak busuk gue malah berpikir, ‘Wah ini harus segera dimanfaatkan..’

Dengan orang-orang yang ngga tahu nama asli gue, gue jadi bisa membikin onar… tanpa dikenali.

Gue jadi terbayang-bayang, pas jajan di kantin, gue akan pesen makan sebanyak-banyaknya. Nanti begitu selesai makan, pas ibunya nagih bayaran, gue langsung lari kabur. Kalo ibunya jerit,

‘WOI JANGAN KABUUUURR LUU! SIAPA LUU!’

Gue tinggal bilang, ‘Saya Tiyo, Bu.’

Beres.

Otak cemerlang, perut pun kenyang.

Keanehan muka gue bahkan menjadi lebih luas dari yang dibayangkan. Tepatnya beberapa hari lalu, pas lagi ketemuan sama temen lama. Dia sesekali menyandarkan dirinya di kursi. Ngeliatin muka gue dengan serius.

‘Kayaknya muka lu berubah-ubah deh, Di,’ katanya sambil menggoyangkan gelas berisi kopi.

‘Ah masa?’

‘Iya.’ Dia kini menegakkan badannya. Tampangnya serius memerhatikan gue. ‘kalo elu ngadep atas, elu mirip Subul.’

Subul adalah teman SMA kita.

Tidak berapa lama, saat gue lagi asik memotong daging di piring, si temen bilang lagi, ‘Nah, nah kalo barusan elu kayak Eki.’

Eki juga temen SMA kita.

Sewaktu temen gue bilang gitu, gue hanya bergumam dalam hati, ‘Buset. Gerak dikit muka gue berubah.’
Seketika langsung terbersit di pikiran gue buat jongkok di atas meja terus nanya ke temen gue, ‘kalo gini gue mirip siapa?’ namun hal tersebut tidak gue lakukan. Gue yakin temen gue bakal jawab, ‘Mirip orang gila kena diare, Di.’

Oh, apa salah dan dosa mukaku..

Puncaknya adalah sewaktu nganterin nyokap ke pasar. Pas lagi nunggu di parkiran, di sebelah gue ada bapak-bapak lagi ngangkutin sayur ke atas mobil bak. Si bapak berkumis ini tiba-tiba menghentikan aktivitasnya setelah melihat tampang gue. Dia nyamperin dan bilang:

‘Kamu… anaknya Enci, ya?’

Gue cuman cengar-cengir karena tidak mengerti maksud perkataan si Bapak. Gue membalas, ‘Apa, Pak? Maksudnya gimana?’

Setelah gue ngomong gitu si Bapak malah ngotot, ‘Iya nih. Kamu pasti anaknya Enci, kan?’

Dibilang gitu gue malah semakin bingung. Jelas-jelas nyokap lagi belanja dan dia bukan Enci-enci. Setelah berpikir sendiri, gue akhirnya menjawab dengan lantang:

‘Bukan, Pak.’

‘Ah, gak mungkin,’ kata si Bapak, tetep maksa. ‘Adek kamu SMP kan?’

‘Bukan, Pak. Beneran bukan.’

‘Ah, iya nih pasti.’

‘Bukan, Pak. Bukan. Ampun,’ jawab gue, panik. Gue kini malah terlihat seperti orang yang mau diperkosa. (untungnya gue tidak melanjutkan kalimat itu dengan kata-kata: Tidak, Pak. Tidak!! Jangaan! Jangan mendekat atau saya ketapel burung Bapak!! )

Namun usaha tersebut tetap tidak membuahkan hasil (seharusnya langsung gue ketapel saja burung si Bapak tersebut), dia malah tetep ngotot, ‘Udah ngaku aja. Anaknya Enci, kan?’

Karena udah males, akhirnya gue jawab, ‘Iya, anaknya Enci.’

'Ha! bener kan saya!' katanya...yang kemudian berkata dengan laknat, 'Tapi, kok ngga mirip ya..'

Bangkaaaaaaaaaaaaaaaaaaaiiii.

Sumpah ini Bapak-bapak teraneh yang pernah gue temui. Saran gue untuk seluruh umat manusia: Apabila kalian ketemu sama orang di jalan yang tiba-tiba nyamperin dan nanya, ‘Halo, bro. Anaknya Enci, ya?’ Silakan langsung ketapel saja burungnya. 

*UPDATE* 

Satu. Ternyata masih ada juga yang ikutan main Tantangan Tiga Frasa. Ngga nyangka ternyata pada antusias. Berikut adalah dua manusia keren tersebut: 


Dua. Gue baru aja bikin Soundcloud. Yuhuuuuuu! dengan ini Kresnoadi semakin melebarkan sayapnya. Itu berarti... jumlah orang pintar di Indonesia akan menurun drastis. Hueheheh. :p

Ini link Soundcloud gue: 
https://soundcloud.com/dh-kresnoadi  

Sementara ini isinya baru satu. Cerita mengenai kenapa gue mengulur-ulur postingan yang ini. 
 

Gila, udah jam empat lewat! molor dulu deh. 
 
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, April 18, 2014

Kardus dan Terong*


Aku duduk di bangku plastik. Dahiku berkeringat. Tegang. Aku yang lain tengah menunduk di balik mobil. Memeriksa perlengkapan. Mengecek situasi. Sebentar masuk ke ruang belakang, melihat sandera. Aman. Masih tiga.

Aku yang lain mengambil flashbang, bersiap akan kedatangan mereka. Aku berjalan perlahan. Melewati koridor. Lalu bersembunyi di balik kotak besar entah tempat apa, mungkin persenjataan. Mereka datang. Aku mengusap tangan ke paha. Basah. Jantungku berdegup kencang.

‘Come on, guys.’

Aku melempar flashbang. Mereka kocar-kacir. Kutarik pelatuk AK-47 milikku ke segala arah. Lantas berlari ke belakang. Menuju sebuah rak yang di atasnya terdapat kacamata inframerah. Kuambil. Kupakai. Lantas menuju tempat berdarah itu. Tiga. Tidak, hanya tinggal dua orang. Asap mulai hilang. Kulihat baju mereka biru tua. Ada yang mengenakan sejenis helm pelindung. Di tangannya M-16 dan sebuah granat.

Aku berlari ke lantai dua. Kudengar suara jantungku semakin keras. Kubidikkan senjataku ke kepala si pemakai helm. Belum sempat menarik pelatuk, punggungku tiba-tiba terasa panas. Perih. Aku balik badan. Ternyata orang yang tadi menghilang menikamku dengan belati. Darahku menetes cepat.

Aku kabur ke ruang sandera.

Aku mengacak-acak rak kecil tempat kacamata inframerah. Di laci kedua kutemukan kotak putih, obat-obatan. Lumayan. Darahku tidak sederas tadi.

Aku kembali ke luar. Tiga. Dua. Satu. Aku menunduk, melewati lorong kecil, menunggu sasaran. Hanya kulihat satu target. Ke mana yang dua?

Aku panik dan memeriksa sekitar. Tidak. Granat. Aku langsung meloncat ke samping. Tapi ledakkannya cukup dahsyat sehingga kaki kananku terkoyak. Aku tertatih-tatih. Mendadak betis kiriku terasa panas. Entah tembakan dari mana lagi. Lalu daguku kena. Lalu pundak. Lalu lengan. Darah mengucur. Aku berusaha menghindar namun kepalaku hancur dihajar M-16.

‘Kurang ajar.’
‘Setan!’

Aku mengobrak-abrik komputer yang ada di depanku. Kulempar semuanya. Petugas mendatangiku. Ia membawa belati dan menikamkannya ke lenganku. Aku mengantuk.

‘Suntikan ini akan menenangkanmu.’

‘Sekarang, kardus dan terong buat tembak-tembakan. Besok apa? dasar gila.’



*) cerita ini diikutsertakan dalam flash fiction pipet.

*) cerita ini terinspirasi dari Bab Fatima, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, karangan Maggie Tiojakin.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, April 16, 2014

Gempuran Mahasiswa Laknat


Beberapa minggu ke belakang gue lagi jarang ke kampus. Tiap kali mau berangkat dari kosan, firasat gue selalu mengatakan, ‘Jangan Adi.. jangan. Teman-temanmu akan menganiayamu.’ Karena gue lebih mengandalkan logika berpikir, gue tetep berangkat. Pas nyampe kampus, temen-temen nanyain,

‘Gimana penelitian? Kapan seminar?’

Maderfaker.  

Oh, betapa laknatnya mereka. Penelitian gue aja gagal melulu, malah ditanyain begituan. Huhuhu. Gara-gara ngandelin logika malah jadi sebel sendiri. Tapi emang bener, sih, cowok lebih sering menggunakan logikanya dibanding perasaan. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan temen gue: ‘Di, kenapa sih cowok kalo ngeliat perempuan, yang pertama diperhatiin pasti fisiknya.’

Jawaban gue: Kami, laku-laki, adalah mahluk yang menyimpulkan dari apa yang kami lihat, bukan yang kami rasakan. Jadi, sangat jarang kami mengecek kalian dari hatinya duluan. Lagian, ngga mungkin ada cowok nembak gebetannya bilang, ‘Aku mencintaimu sejak pertama kita bertemu. Bentuk lambungmu bagus.’

Kalimat pertanyaan-pertanyaan seputar penelitian dan skripsi tersebut akhirnya membuat gue semakin jarang datang ke kampus. Males euy ditanya itu-itu terus. Seakan-akan temen kampus gue ngga punya topik obrolan lain.

Tolong, kasihanilah kaum-kaum seperti kami.

Gue kan pengin juga ngobrol yang ringan-ringan, kayak siapa kandidat paling kuat cawapresnya Jokowi. (gue menuliskan ini sampai hampir menangis saking ngga kuat ngetiknya). Atau pertanyaan yang membutuhkan kemampuan berpikir seperti: Apakah Deddy Corbuzier kalo naik motor ngga pake helm bakal tetep kena tilang?

Jarangnya gue ke kampus juga membuat sebagian kemampuan gue berkurang. Karena ngga ada kuliah, gue jadi ngga pernah nyoba nulis pake tangan. Pas sekalinya kemaren nyoba, ealah jadinya malah kayak ceker ayam yang ditombak dari segala arah: ANCUR ABIS! KANCUT TULISAN TANGAN GUE EMANG JELEK TAPI NGGA PERNAH SEKANCUT INI. Huhuhuu.

Tapi gara-gara di kosan mulu, gue jadi mendapat tambahan keahlian: nyapu. Benar, buat ngabisin waktu, kerjaan di kosan gue dari pagi sampe sore nyapu doang. Kadang udah bersih tetep aja gue sapu. Kadang debu dari luar gue sapu ke dalem, terus gue sapu lagi keluar (saking nganggurnya). Yah, mungkin menyapu adalah bakat terpendam gue yang selama ini tidak diketahui orang-orang.

Ada yang pengin serpihan hatinya gue sapu?

Lanjut topik lain. Hari senen kemarin gue akhirnya main bulu tangkis lagi! Horeeee. Setelah beberapa bulan ngga pernah megang raket, kemaren megang juga. Rasanya mantap. Pas masuk gor gue langsung pecicilan. Ngambil raket terus lari ke lapangan kayak orang sedeng. Dari awal kita main double. Edan. Gue on fire abis. Bet.. Bet.. Bet.. tau-tau raket gue nyambit temen sendiri. Hehehe. Pala temen gue langsung benjol tiga senti. Saking semangatnya, gue malah ngegaplok temen setim. Maafkan temanmu yang terlalu liar dan brutal ini wahai Fauzan.

Sewaktu selesai main, kita ngobrol-ngobrol sebentar di tempat duduk penonton, di pinggir lapangan. Baru beres ganti baju dan pengin nyamperin anak-anak, ealah mereka malah nanya, ‘Gimana Di penelitian elu? Kapan seminar?’

Osyit men.

Lagi sering-seringnya digempur mahasiswa laknat nih. 

*UPDATED* 

Ternyata nambah lagi yang ikut Tantangan Tiga Frasa. Lumayaan. Yang pengin ikutan atau yang belum tahu bisa cek di postingan sebelumnya. Ini dia orang-orangnya: 

Arif Rahmatullah 
Allan Muhammad 
Rahmat Hidayat 

Gue agak ngga ngerti alasan mereka mau-maunya ikutan main tantangan ini tapi yang jelas gue berterima kasih atas partisipasinya. Tulisannya bagus-bagus kok. Tapi kebanyakan sih ujungnya diculik Wewe Gombel. Entah kenapa gitu. Padahal kan bisa aja bikin cerita yang beda, kayak misalnya Wewe Gombelnya mati dicakar kucing hitam. Yak, apapun itu, makasih udah ikut main bareng keriba-keribo. :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, April 13, 2014

Tantangan Tiga Frasa

Konon, menulis adalah seni yang dapat dipelajari dan diasah, sama seperti menjahit. Dan, sama seperti menjahit, menulis membutuhkan ketekunan dan kedisplinan. Biasanya, penulis hebat akan berlatih menulis dengan disiplin setiap harinya. Mereka menulis apa saja. Dan (bagi para jagoan) di mana saja.

Seringkali orang-orang kebingungan dengan ide. Gue mau nulis tapi pas di depan komputer ngga tahu mau nulis apa.

Jawaban gue ada dua:

Satu. Ngga tahu. Sejujurnya, kalau untuk postingan di blog, isinya adalah cerita keseharian dan apapun yang lagi gue rasakan. Yang gue pengin tumpahin. Jadi, kalo hidup gue datar-datar aja, atau gue ngga ngerasa kenapa-kenapa, gue biasanya ngga posting.

Dua. Gampang. Gue, walaupun ngga nulis postingan, tapi seringkali tetap belajar nulis. (meski sampe sekarang tulisannya gini-gini aja). Karena menulis itu mirip menjahit, kalau lama ngga dilakukan, keahlian kita bakal menyusut.

Perihal latihan menulis, gue tidak melulu menulis komedi. Seperti yang gue bilang di awal, yang penting nulis. Yang penting berlatih.

Kalau lagi ngga ada ide, latihan menulis termudah yaitu dengan memilih beberapa kata acak. Kemudian menjadikannya sebuah tulisan. Seperti beberapa hari yang lalu, sewaktu duduk menulis di kedai kopi, di depan gue ada bule. Langsung aja gue masukkan ‘bule’ ke dalam kotak daftar kata yang harus ada di tulisan gue. Pas lagi menggenggam gelas, di telapak tangan gue menempel air bekas embun dari gelas. Gue masukkan juga kata ‘embun’ ke dalam tulisan. Pas nengok samping, kasirnya cantik, rambutnya sebahu. Gue pun memasukkan frasa 'rambut sebahu' ke dalam tulisan. Jadi, sekarang gue harus menulis dengan tiga buah frasa: bule, embun, rambut sebahu. Tinggal tulis deh. Kata-kata tersebut bisa juga diambil secara acak, seperti postingan Alit yang ini.

Nah, siang tadi, gue kedapatan menulis dengan tiga frasa: badan panas, kucing hitam, dan wewe gombel. Ini dia hasilnya:


Mulanya, biar kau kuberi tahu satu hal: aku tak pandai bercerita. Ini mungkin cerita bohong atau benar tapi aku mendengarnya dari orang-orang sekitarku. Katanya, Iwak sedang memanaskan motornya di garasi. Ia menarik-narik tuas motornya seperti berusaha menghilangkan kurap pada badan orang miskin; susahnya setengah mampus. Iwak terbatuk-batuk. Kurasa, tiga setengah jam lagi ia akan memuntahkan racun-racun dari tubuhnya. Pada pukul sembilan motornya berhasil menyala. Iwak bahagia meski masih terbatuk-batuk.

Selasa itu, Bogor, hampir seperti biasanya, mengalami kemacetan yang parah. Jalanan bangsat itu membuatnya harus meliuk-liukan motornya melewati kendaraan yang berbaris-baris. Bisa mobil bisa becak bisa sepeda bisa juga tukang sayur. Ia seperti ular yang lambat sebab perutnya dipenuhi tikus-tikus yang kotor. Hari itu badan Iwak tidak sehat. Pernapasannya buruk. Sekali waktu ia terbatuk ketika asap knalpot menyemprot wajahnya. Pun sewaktu mendengar nyaring klakson yang tiba-tiba. Batuknya keras. Mungkin mirip orang yang ingin membuang seluruh riak di mulutnya terkadang seperti terlihat orang yang akan mengeluarkan seluruh ususnya lewat lubang mulut terkadang seperti ingin membuang dosa dari perutnya.

Kau tahu, di desa sini, orang-orang kuno masih populer. Anak gadis masih dilarang duduk di depan pintu dan kau tetap dilarang menggunting kukumu di malam hari. Dan itu pula yang menghantui Iwak.

Selasa sore, Iwak masih mencium harum shampo pacarnya yang baru saja ia antar pulang. Sebagaimana orang yang baru belajar mencintai, ia membayangkan sesosok perempuan dengan rambut sebahu dengan bando merah jambon, merangkul dirinya sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket Iwak.

Ketika melewati pasar, indera penciumannya menerima rangsangan jahanam. Baunya aneh, seperti kunyit yang dilumuri bensin dan disemprot pewangi ruangan. Dari samping, arah pasar itu, iwak mencium busuk dan ingin muntah sedangkan dari jok belakang terasa harum rambut pacarnya.

Seketika ia ingin muntah. Mengeluarkan dosa-dosa dari perutnya.

Di depannya, tiba-tiba saja, muncul sesosok hantu perempuan yang matanya berwarna putih. Kulitnya pucat dan berbaju kain hitam-hitam. Dadanya bagus. Bundar dan padat. Beberapa jenak dan dada hantu tersebut berlipat ganda. ke bawah, ke arah perutnya. Dadanya menjadi empat. Lalu membelah lagi menjadi enam.

Si hantu kemudian menjatuhkan kedua tangannya ke bawah, seperti orang bermain kuda-kudaan. Ukurannya mengecil dan Iwak mengucek matanya karena si hantu kini telah berubah menjadi kucing hitam.

Iwak panik dan tidak mampu mengendalikan motornya. Ia terjatuh dengan motor menyeret aspal. Badannya terasa panas dan beberapa menit arwahnya langsung meloncat ke langit.

Orang-orang mengerubungi. Memandangi dengan iba dan menguburnya di belakang pasar yang dipenuhi bau amis ikan dagangan.

Entah mengapa, setiap malam selasa, kata orang-orang, dari liang kuburnya sering muncul bau harum.

‘Ini pasti kutukan!’ kata salah seorang yang kumisnya mengitari mulut.

‘Tidak. Pasti ada wewe gombel yang menjaganya,’ kata orang lain. ‘Ia penunggu pohon di belakang kuburannya.’
‘Ya,’ sahut perempuan lain. ‘Orang yang menabrak kucing hitam akan mati dalam pelukan wewe gombel.’
‘Kita harus kasih ikan. Kucing suka makan ikan.’

Begitulah. Orang-orang kuno itu kini menaruh sepasang bangkai lele di atas kuburanku. Nama asliku Lintang, namun orang lebih mengenalku dengan sebutan Iwak.

Inilah sejarahku. Aku tidak sepenuhnya percaya pada orang di pasar tapi begitulah yang kudengar. Katanya lagi, kuburanku sudah tidak menguarkan bau harum. Sekarang berganti amis.


Daaaan karena gue udah, sekarang waktunya tantangaaaaaaan!
Kapan lagi gue menantang teman-teman pembaca. Huehehe. *ketawa jahat*

Jadi, gue menantang teman-teman untuk membuat tulisan dengan tiga frasa yang tadi: badan panas, kucing hitam, dan wewe gombel. Genre-nya bebas, panjang pendek juga bebas.

Tadi siang gue juga sudah memposting ini di note fesbuk dan ternyata sudah ada beberapa orang yang ikutan main.

Ini hasil mereka:


Daripada ngga ada ide terus ngga nulis, mendingan ikut tantangan ini kan? Hohoho.

Untuk kalian yang udah nulis ceritanya, link-nya bisa ditaruh di kolom komentar, nanti tulisannya bakal gue pajang di sini. Sebenarnya masih ada beberapa tips sotoy yang pengin gue kasih tahu lagi, tapi nanti aja deh. Hehehe.

Baiklah. Tiga, dua, satu. Tantangan dimulai.

Yosh.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, April 9, 2014

Orang-orang Ini..


Tv lagi heboh-hebohnya pemberitaan soal pemilu. Sebenarnya, gue tidak bermasalah dengan banyaknya pemberitaan tersebut. Namun, kebanyakan pemberitaan isinya menjelek-jelekkan. Si A menjatuhkan B, si B menjatuhkan C. Berita-berita ini membuat gue sedih. Kenapa sih harus saling sikut? Tetapi, dari sekian banyak berita, tadi pagi ada berita yang paling bikin gue terenyuh. Nadi gue berdetak cepat. Mata gue berair. Ingus gue seketika keluar gara-gara berita ini. Headline beritanya: Andhika Kangen Band Bakal Manggung Lagi.

Siap-siap beli kapas buat nyumpel telinga lagi, deh.

Ngomongin soal pemilu dan Andhika, gue jadi kepikiran sesuatu. Iya, setelah gue bertapa di dalam goa cuman make sarung wadimor doang yang mengakibatkan gue malaria, akhirnya gue menemukan sebuah fakta: Andhika lebih cocok kerja di politik. Ya, Anda tidak salah baca. Pada kesempatan kali ini, sekali lagi saya tekankan, bahwa Andhika Kangen Band lebih cocok bekerja di bidang politik. Keren sekali bukan? Apa, bukan? Baiklah.

Ehem. Maksud saya begini, daripada partai politik itu membuang-buang uang untuk serangan fajar, lebih baik menggunakan keahlian Andhika sebagai alat untuk meningkatkan suara partai. Caranya? Mudah sekali. Setiap ada yang datang ke TPS, katakanlah, ‘Tolong pilih partai A atau… ANDHIKA NYANYI NEH!! NYANYI!’ sambil nyodorin muka Andhika. Niscaya setelah Anda mengatakan hal tersebut, elektabilitas partai Anda akan meningkat pesat. Keren sekali bukan? Apa, bukan? Baiklah.

Tapi sejujurnya, gue sebel melihat berita tersebut. Kenapa sih, daripada nyanyi, Andhika ngga masuk ke dalam galian PLN aja? Sepertinya lebih bermanfaat. Gue sebel aja, melihat orang yang agak memaksakan diri seperti itu. Masih banyak hobi mantap lainnya buat dia selain nyanyi. Jadi ninja mungkin.

Nanti di tv kita akan melihat seorang Andhika, dengan tampilan wajahnya yang rupawan lagi tiduran di dasar laut…nyamar jadi batu karang.

Yah, sebetulnya, selain mahluk jenis ini, gue juga sering sekali dibuat sebal dengan mahluk-mahluk lainnya.

Satu. Orang yang suka ngedumel. Orang-orang seperti ini tidak pernah memberikan solusi. Ia biasanya hanya menggerutu tentang hal-hal di sekitarnya.

‘Duh, panas banget nich.. blablabla..’ 

'Duh, dingin banget nich.. blablabla'

Ya kalau panas tinggal kipasan. Kalo gerah mandi. Beres. Manusia jenis ini, mungkin pas ada Tsunami bukannya kabur malah mengeluh,’ Duh, pake ada Tsunami segala. Mana airnya tinggi lagi.. Eh, cepet amat sih datengnya, gue kan belon siap-siap.. Aaaakk!! Toloooong!’

Lalu ia hanyut, terus mati dengan kepala nyangkut di pohon kelapa.

Di sisi lain, orang tipe ini adalah orang yang gampang marah. Emosian. Ada kemungkinan sewaktu nonton di bioskop, pas masuk teater dia malah ngamuk sambil tereak, ‘EALAAH PLN BANGSYAAT! GUE PENGIN NONTON LAMPUNYA MALAH MATII!!’

Tips menghadapi manusia jenis ini: tusuk amandelnya pake pensil.

Dua. Orang yang suka pamer. Orang tipe ini biasanya banyak di sosial media. Gue ngga ngerti sama orang yang konsep fotonya pamer dengan pose tersenyum sumringah, berdiri di depan mobil sambil mengacungkan satu jempolnya. Biasanya di fotonya ada tulisan: BOOM!! INILAH HASIL KERJA KAMI! KAMI TIDAK BEKERJA UNTUK UANG! UANG YANG BEKERJA UNTUK KAMI!

Bedebah.

Menurut gue, hal tersebut sangat mudah dimanipulasi. Kita tinggal datang ke parkiran PIM, foto, lalu berikan tulisan: BOOM! Beres deh. Gue menyarankan kepada kalian, supaya pamerlah dengan gaya yang lebih fangki. Jangan tanggung-tanggung. Berfotolah di depan sutet dengan baju compang-camping dan muka gosong. Sertakan tulisan: BOOM! INILAH HASIL KERJA KAMI! KESETRUM LISTRIK 10000 VOLTASE!

Tiga. Orang yang suka kepo. Kepo, sebagaimana yang kita tahu, adalah orang yang ingin tahu privasi orang lain. Kepo sebatas mencari tahu melalui dunia maya, menurut gue adalah kepo yang wajar. Tapi kalau sudah berlebihan, nanya-nanya sampe ke hal remeh temeh, gue jadi sebel. Biasanya, kaum ini keponya sepaket dengan sok tahu. Manusia jenis ini hanya memiliki sepotong-sepotong pengetahuan dan kemudian merakitnya menjadi kesimpulan versinya sendiri. Orang jenis ini sangat menyebalkan karena bisa tiba-tiba datang ke kosan kalian, menggebrak pintu, kemudian berkomentar ngga penting. Contoh: ‘Ciyeee yang kakeknya punya dua lubang hiduung..’ Mereka juga suka memberikan pertanyaan-pertanyaan aneh yang gue sendiri tidak tahu harus merespon apa, seperti, ‘Eh, kakekmu itu suaminya nenekmu, kan? Ciyeee..’  

Hmm, kalau kalian, kesel sama orang kayak apa?


Salam satu nista dari Adi, si rambut lurus. Muah.

*UPDATE*

Gue baru saja menambahkan widget follow blog via email. Ada di bagian footer blog. Jadi, kalau kalian ingin mengikuti perkembangan blog ini, bisa menulis email kalian pada kolom di bawah. Nantinya, setiap update-an postingan bakal dikasih tahu ke email kalian. 

Tadinya sih gue pengin make widget follow biasa, yang tinggal klik, terus beres. Tapi ngga tahu kenapa, tiap mau masang widget itu, eror terus. Gue ngga ngerti, jadi aja make widget yang ini. Hehehe. Oya, sekarang gue juga membikin semua orang bebas berkomentar di blog ini. Jadi, buat yang ngga punya akun gmail, bisa komen dengan Anonim. Semoga aja nanti ngga ada komen aneh-aneh ya. Aaaand yak, mari bersenang-senang bersama keriba-keribo. :)
Suka post ini? Bagikan ke: