Friday, February 21, 2014

Buku Kenangan*

Minggu lalu, malam-malam, sewaktu lagi bongkar-bongkar lemari rumah, gue menemukan sebuah buku tebal berwarna biru dengan halaman depan bergambar kompas. Gue mengusap cover depannya yang mulai berdebu, lalu tersenyum kecil. Buku itu seakan menguarkan kenangan-kenangan semasa SMA dulu.

Itu buku tahunan.

Gue membawa buku itu ke kamar, lantas membalik satu per satu halaman yang harumnya seperti bau buku pertama kali dibeli. Senyum gue semakin lebar, entah kenapa gue sangat suka bernostalgia. Rasanya mirip dengan bertemu sahabat lama, yang kemudian mengajak kita ngobrol sampai puas.

Kini halaman sudah di tengah. Gue tertawa melihat bocah kerempeng dengan totolan jerawat, sok-sokan memakai polo berwarna krem dengan earphone menempel di kuping kanan. Gue menggumam, ‘dulu pasti gue berasa keren dandan begini.. sekarang pas diliat lagi kok malah kayak anak cacingan kena tumor di kuping, ya?’



Sebagian orang menganggap SMA adalah zaman yang keren.

Zaman yang tidak mungkin dilupakan karena lagi macho-machonya.

Buat gue, SMA merupakan zaman culun-culunnya. Masa di mana gue belajar menjadi ‘manusia’.

Saat di mana anak lain mendengarkan musik metal, atau punk, atau rock dengan penuh teriak-teriakan, gue malah mendengarkan lagu reggae. Which is setiap kali sekolah gue ngadain pensi, anak-anak pada pake baju item-item, lari ke tengah lapangan buat mossing. Mengangguk-anggukan kepala, ngibas-ngibasin rambut dengan rusuh. Gue cuman di pinggir lapangan. Pake gelang merah-kuning-ijo sambil sesekali menjerit, ‘Yomaaaann..!’

Ngga keren abis.

Zaman SMA, juga merupakan zaman di mana gue doyan-doyannya foto ngadep belakang. Benar, di saat orang-orang lagi heboh motoin kaki sendiri, gue malah foto membelakangi kamera. Gue sebetulnya agak lupa, gimana asal-muasalnya sampe gue dapet ilham untuk foto ngadep belakang. Sejujurnya, dari dulu gue paling tidak suka yang namanya foto. Entahlah, mungkin minder, atau biar beda, atau pas kecil gue pernah naik sepeda kemudian jatuh dengan kepala nyungsep duluan dan tiba-tiba tersadar, ‘kayaknya struktur punggung gue lebih mirip muka, deh.’

si gembel dengan wajah penuh rambut


Gue membalik halaman sekali lagi. Dan tiba-tiba nyokap masuk kamar.

‘Dek, Bapak kok, kalo sms, singkat-singkat melulu, ya?’ kata nyokap, sewot.

‘Singkat-singkat gimana?’

‘Nih, ya, misal Ibu tanya, “Bapak udah makan belum? Ini Ibu lagi sarapan bareng Adek” dia paling cuman bales “ya“ atau “belum” doang.’

‘Emang gitu kali,’ jawab gue, masih melihat foto anak-anak di buku angkatan, belum fokus.

‘Gitu ya?’

Gue menghadap nyokap, ‘Iya, atau mungkin, jempol Bapak kegedean, Jadi susah ngetik smsnya,’ kata gue, datar. Yang kemudian malah benar-benar membayangkan orang berjempol gede, kesulitan mengetik sms. Mau nulis “ya”, malah jadinya “y9AAGGHHEE!!”

‘Tau tuh si Bapak, ngga ngerti lagi deh.’ Nyokap keluar kamar.

Gue lanjut membalik halaman. Lalu mata gue mengarah kepada perempuan yang mengenakan topi pantai. Bergaun putih.

Sosok itu, gue pernah bertemu kembali beberapa waktu lalu. Namun, hal terakhir yang paling gue ingat adalah sewaktu gue sedang membungkuk, menaruh sebuah boneka Tazmania, di depan pintu rumahnya.

Benar. Dia, adalah wanita pertama yang membuat gue merasakan yang namanya jatuh. Dan ketika SMA, gue tidak mengerti soal cinta-cintaan. Gue seorang pemula.

Sebagaimana pemula pada umumnya, gue hanya mengamatinya dari kejauhan. Kita sangat jomplang. Dia adalah si anak basket yang menawan. Pada saat itu, basket merupakan eksul dengan kasta kekerenan tertinggi di sekolah. Sementara gue, si culun yang sok-sokan ikut ekskul sepakbola. Posisi gue waktu itu adalah sayap luar. Luar lapangan. Pas sepuluh menit pertama, gue berasa sakrotul maut, ngga kuat dan langsung bengek-bengek. Akhirnya memilh untuk jajan es kelapa muda di pinggir lapangan.

Selazimnya orang yang jatuh cinta, gue juga jadi menyukai semua hal yang dia suka. Setelah tahu dia punya blog, gue ikutan buat. Blog dia berisi puisi dan kata-kata anggun nan menawan, sedangkan gue berisi cerita motivasi hasil copy-paste dari google. Dia memberikan nama blognya sesuai dengan namanya sendiri, sedangkan nama blog gue: kodok biru. Cupu abis.

Gue tidak mengerti apa yang merasuki gue sampai ngasih nama blog gue dengan nama seperti itu. Satu-satunya hal yang gue ingat sampai sekarang hanyalah karena gue suka warna biru. Dan kodoknya, entah muncul dari mana. Tidak terbayang apabila di masa itu, gue suka warna ijo lumut. Nama blog gue bakalan jadi: kodok ijo lumut. Dabel cupu abis.

Gue sempat PDKT dengan dia, bahkan jadian sebentar. Gue juga sempat melakukan hal-hal yang sepertinya lucu juga kalo dipikir. Orang yang baru jadian, biasanya sering mengucapkan 'hati-hati' ke pasangannya. Entah kenapa harus seperti itu, padahal sebelum jadian biasa aja. Seakan-akan pasangan kita adalah barang pecah belah yang kesenggol dikit langsung rusak. Mau berangkat sekolah, 'hati-hati ya berangkatnya.' pas pulang dari sekolah, 'hati-hati ya pulangnya.' Atau pas dia mau boker, bilang, 'hati-hati ya ceboknya, nanti pantatnya lecet, loh.'

Aneh, tapi gue juga melakukannya. Hehe.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Gue menutup buku.

Buku kenangan itu, menyadarkan gue.

Bahwa tidak harus menjadi keren untuk membuat bangga dengan masa lalu.

Dan bahwa kita, tidak boleh melupakan masa lalu, seburuk apapun ia. Bahwa kita harus berani untuk belajar menghargai masa lalu. Karena masa lalu merupakan salah satu komponen yang membangun kita, yang membentuk kita menjadi seperti sekarang. Itu berarti, ketika melupakannya. Menghilangkannya. Membuangnya. Kita menghilangkan, bagian dari tubuh kita sendiri.




Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, February 17, 2014

Sepenggal Kisah Naas di Family Gathering

Pada jumat kemarin, jurusan di kampus gue mengadakan family gathering di puncak. Kita disuruh kumpul jam satu siang dan nantinya naik angkot bareng dari kampus. Sebenarnya, gue agak ragu bisa ikut atau tidak (kemaran masih banyak kerjaan di kampus) hingga Yudha, teman gue yang maha baik itu bersabda,

‘Udahlaah, kita nyusul aja naik motor.’
‘Ayo deh. Di mana sih tempatnya?’
‘Ngga tahu. Hehehe.’
'...'

Kita pun memutuskan untuk nyamperin anak-anak dulu dan bertanya tentang lokasi family gathering. Sebelumnya, gue memutuskan untuk menancapkan benda tumpul ke wajah Yudha.

Kita berangkat dari kosan sekitar jam 03.30 dan di perjalanan, kita sempat membayang-bayangkan seperti apa nanti acaranya. Yudha sempat mengatakan bahwa acara ini dibuat oleh para dosen sehingga isi acaranya ngga jauh-jauh dari perkenalan, karaokean, kemudian lanjut bebas.

‘Wih, asyik banget berarti kalo banyak bebasnya ya!’ seru gue.
‘Iya, Di. Nanti gue mau berenang ah yang banyak.’
‘Berenang? Di puncak? Dingin-dingin gitu?’ tanya gue, heran.
‘Yaa..nggapapa,’ kata Yudha, ‘mumpung banyak ceweknya..’

Dan itulah Yudha, si bocah yang jago berenang.. terlebih kalo bareng cewek-cewek.

Jam 05.30 kita sampai di lokasi, disambut dosen pembimbing skripsi Yudha yang kala itu membimbing kita menuju liang kubur kamar. Setelah menaruh tas dan barang lainnya, kita langsung berkeliling.

Yuhuuuu keren banget tempatnya!

Ada dua rumah yang didominasi oleh kayu-kayu sehingga terkesan hangat. Di depan rumah yang gue tempati ada lapangan futsal, di depannya lagi ada kolam renang yang cukup luas, di pojokan ada Yudha lagi jongkok di semak-semak. Pokoknya banyak dan luas dan keren bangeet. Di belakang villa bahkan ada kebun teh yang gue langsung berasa ada di ftv-ftv. Bawaannya pengin nabrakin diri ke cewek-cewek seksi biar langsung jadian. Hehe.

Malamnya kita dikumpulkan untuk perkenalan, kemudian lanjut games dan karaokean. Persis seperti yang Yudha ramalkan. Games-nya lucu abis. Jadi, kita diputerin lagu dan disuruh joget-joget, lalu secara tiba-tiba, si MC mematikan musik dan menyebutkan sebuah angka. Dan anak-anak harus berkumpul sesuai dengan jumlah angka yang disebutkan.

Awalnya permainan ini berjalan biasa saja. Anak-anak joget dengan malu-malu. Kemudian si MC menyebutkan angka. Baru anak-anak lari heboh. Sampai pada suatu waktu, saat nafsu anak-anak kian menggelora, mendadak terdengar suara mistis dari speaker, ‘ Tutupen botolmu.. tutupen oplosanmu..’ Para mahasiswa pun serentak berbaris, lalu joget-joget dengan buas.

Gue syok, langsung lari ke depan barisan dan seketika meronta, ‘ASTAGHFIRULLAH!  INI LAGU APAAN SEEH!’ Beberapa saat kemudian, gue masuk barisan, ikut goyang.

Setelahnya kita lanjut karaoke. Lagu yang paling bikin gue pengin ngeluarin darah dari kuping adalah lagu yang dinyanyikan oleh Ratih.

Biasanya tak pakai minyak wangi.. Biasanya tak suka begitu..’

Gue melihat sekeliling, anak-anak yang sedang ngumpul duduk di pinggir tembok ikut bernyanyi. Gue melirik ke tv, melihat video klip. Di sana terpampang seorang wanita kurus berbaju merah mencolok mata, joget sambil menggeliat-geliat kayak laba-laba kena stroke.

Gue yang ngga ngerti sama lagu aneh itu bertanya ke Yudha.

‘Itu Ayu Ting Ting, Di. Judul lagunya Minyak Wangi. Lagi nge-hits, lho.’

‘Ayu Ting Ting? Kok jogetannya kayak orang diestrum gitu?’

Yudha pun tidak menjawab, larut dalam alunan lagu.

Malam itu, otak gue resmi dirusak oleh tindak kriminal teman-teman.

Barusan gue mencoba nyari lagu itu di Youtube. Bagi yang penasaran, ini dia. Silakan saksikan sendiri (jangan lupa sebelumnya baca bismillah):



Sabtu paginya, acara bebas. Gue menepuk-nepuk Yudha pertanda bangga karena ramalannya benar. Gue dan beberapa teman memilih untuk jalan-jalan di kebun teh. Gile, asik banget. Udaranya masih sejuk. Rasanya segaaar sekali. Di kebun teh tersebut, gue menemukan banyak tanaman teh (ya iyalah). Ada ibu-ibu yang lagi menanam. Ada juga orang naik kuda ngiter-ngiter di sekitaran kita.

‘Di, tempat penyewaan kuda kayaknya di sana deh,’ kata Tari, menunjuk sebuah tempat.

Kita bergegas pergi ke sana, lalu menemui si Abang-abang tukang penyewaan kuda.

‘Kalo nyewa kuda, berapaan, Bang?’
’35 ribu, Dek. Mau?’

Hmm.. kita manggut-manggut. Murah juga 35 ribu untuk muter-muter pake kuda keren gitu. Kita menengok ke kanan. Ada seorang perempuan lagi naik kuda serta dua kuda mengikuti di belakangnya. ‘Hmm.. Tuhkan keren,’ gumam gue. Dan tiba-tiba. Kuda yang dinaikin si Mba-mba tersebut. Ngamuk. Osyit. Si Mba tidak sanggup mengontrol si kuda. Dia jatuh dan terinjak-injak kuda di belakangnya. Kita semua melongo. Horor.

Siang harinya kita pulang. Anak-anak naik angkot sementara gue dan Yudha naik motor boncengan. Perjalanan pulang kita dihiasi ngobrol-ngobrol kecil di motor. Dan gue, baru sadar, bahwa ngobrol di motor itu sangatlah sulit. Suara orang yang di depan biasanya akan kebawa angin sehingga tidak terdengar sampe belakang. Jadi, supaya tidak salah kaprah, gue hanya membalas perkataan Yudha yang tidak kedengeran itu dengan jawaban paling aman di dunia. Kira-kira dialog gue dan Yudha adalah seperti ini:

Yudha: ^%&&$!!!
Gue: Iya.
Yudha: #$@@??  %%##$!!
Gue: Ho oh.
Yudha: AUJKHEEK!!
Gue: Oke, sip.


Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, February 14, 2014

Tulisan di Dinding Itu..

Beberapa hari belakangan, gue sering memandangi tembok di sudut kamar. Tempat di mana tulisan-tulisan itu menempel. Berjajar-jajar. Mereka—tulisan itu—menyerupai barisan pohon-pohon pinus yang dari batangnya menguapkan kebahagiaan. Namun terkadang pula, tulisan itu jadi seperti burung kurir yang hinggap di pucuk pohon pinus,  yang mengantarkan kenangan dan masa lalu.

Malam ini gue menyeduh secangkir susu putih,
menaruhnya di meja

di bawah tulisan-tulisan itu. Gue lalu memerhatikan kepulan asapnya, yang sesekali naik dan menyampaikan ‘halo’ kepada tulisan-tulisan itu. Kemudian, ini kepala perlahan-lahan naik, dan akhirnya kembali menelusuri tulisan-tulisan itu.

Tulisan itu adalah kesan dan pesan teman-teman terhadap gue sewaktu mengikuti malam keakraban kemarin. Tapi lebih dari itu, tulisan tersebut adalah cermin. Di mana huruf-huruf yang terangkai saling bergabung dan menciptakan gue versi tulisan.

Selalu ada banyak rasa ketika gue mulai membaca satu persatu tulisan tersebut. Ada yang membuat manggut-manggut sendiri, membikin kesal, berekspresi ‘oh’, ‘ah masa’, sampai tertawa terbahak-bahak.

Buat gue, tulisan-tulisan ini berharga.

Dan oleh karena itu, gue pengin memberikan respon atas pernyataan yang ada dalam tulisan tersebut.

Daaan, ini diaaa:

Di kertas-kertas itu, banyak yang menyemangati gue untuk tetap melanjutkan menulis dan bahkan ada yang menyuruh untuk cepat-cepat membuat buku. Terima kasih atas dukungannya, teman-teman. Pernyataan kalian ini semakin memperjelas bahwa tulisan gue mampu menurunkan IQ seseorang. Hehehe.

Kebanyakan dari mereka juga menuliskan 'keribo'. Dan itu wajar. Sekalinya ada yang bukan keribo, malah nulis, ‘sumpah gw mau ngeliat rambut lo lurus supaya nama blog lo ngga keriba-keribo lagi.’ Minta dibakar.

Selain itu, 'pendiam'. Yang mana pada kesempatan kali ini saya menyatakan: kalian telah ku kelabui! Duhai para rakyat jelata! Entah kenapa kalian terlalu mudah kubodohi…sampai gue menemukan kertas-kertas yang bertuliskan bahwa banyak teman gue banyak yang suka baca blog ini. Oh, ampuni dosaku, teman-teman.

Uh, dengan ini saya menyatakan bahwa saya turut andil dalam merusak moral bangsa. Hehehe. Dan tapi, dari semua tulisan yang tertempel di dinding, jawaranya adalah yang satu ini: pesan dari mahluk transedental yang tidak mencantumkan namanya di kertas. Pesannya berbunyi demikian, ‘Di… Jadilah pribadi yang terbuka sama orang lain…cobalah jadi pribadi yang ringan dan menyatu sama orang lain, gw yakin lw bisa…hehe…’

Gue hampir menangis ketika membaca pesan tersebut. Ini adalah sebuah pesan yang sangat bijak untuk mahluk unyu seperti gue. Gue yang buka baju lima menit aja langsung hipotermia, ini malah disuruh terbuka sama orang lain. Dan dia, yakin kalau gue bisa.

Oh, kepada siapapun engkau yang menuliskan tulisan di atas, gue yakin bahwa hubungan kita bisa berjalan sangat dekat. Sedekat Roma Irama dan bulu dadanya.

Tapi, apapun tulisannya, gue sangat senang dan bangga pernah bermain-main sama kalian. Tulisan-tulisan ini akan membantu gue tumbuh dan terus tumbuh. Terima kasih ya. Thanks for all these kind words :)

Lanjut soal komentar. Kemaren ada yang bilang kalo nyamuk suka sama nafas yang ngos-ngosan, tapi masalahnya temen gue yang lain ngga dinyamukin separah gue. Jadi mugkin jawaban yang agak sesuai adalah yang bilang kalau nyamuk suka sama golongan darah O. Iya, golongan darah gue O. Pantes aja gue dinyamukin sampe liar gitu. Ternyata begitu toh. Baidewai, kalau yang orang-orang bilang darah manis itu yang kayak apa sih?

Di komentar kemarin juga banyak yang nyinggung soal Riana. Ada yang bilang kalau Riana tidak menunjukkan jati diri aslinya, makanya Deddy lebih memilih Russel sebagai juara pertama The Next Mentalist. Hmm, sebuah alasan yang logis dan masuk akal. Ada juga orang yang bilang, karena Deddy yang menciptakan karakter Riana, maka agak ngga etis kalau dia memenangkan ciptaannya sendiri. Hmm, ini juga alasan yang masuk akal dan tidak dibuat-buat. Ada juga yang bersuka cita setelah tahu Riana tidak juara. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya dibasmi dari muka bumi.

*updated*

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia, sekali lagi tertimpa musibah. Mulai dari banjir bandang di Manado, Sinabung, dan terakhir meletusnya gunung Kelud di Kediri. Semoga teman-teman yang ada di sana tetap bisa bertahan dan aman. Kalian tidak sendiri, guys. Kami, percayalah, di belahan tempat lain juga membantu kalian entah itu dengan caranya masing-masing. So, jangan merasa kesepian dan khawatir. Kita tetap bersama, Indonesia. :)
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, February 10, 2014

Minggu Gue Kok Ngga Banget, Ya?

Setelah sekian lama tidak berolahraga, kemarin sore akhirnya gue main basket juga. Oh, ini lah rasanya, badan remuk-remuk. Otot pada pegel, rambut jadi semakin lurus. Ya begitulah kalau orang sudah kelamaan tidak menggerakkan badannya. Gue jadi males bergerak ngapa-ngapain, bawaannya cuman pengin tiduran aja.

Dan saya sarankan kepada kalian semua untuk yang pengin olahraga sore-sore deket pohon: JANGAN PAKE BAJU ITEM! FAK! GUE KEMAREN PAKE BAJU ITEM POLOS CELANA JUGA ITEM DAN DIKERUBUNGIN NYAMUK BANYAK BENER… ASTAGHFIRULLAH, PENGEN SEHAT BANYAK BENER COBAANNYA!

Kira-kira begini kondisi gue ketika bermain basket kemarin:

04.30 Pm:
Pemanasan ringan di pinggir lapangan.

04.35 Pm:
Bermain dengan semangat.

04.38 Pm:
Keringat mulai turun.

04.40 Pm:
Napas abis. Ganti pemain.

04.44 Pm:
Duduk di bawah pohon di pnggir lapangan.

04.45 Pm:
Digigitin nyamuk.

04.47 Pm:
Sibuk nepukin nyamuk di pinggir lapangan.

04.50 Pm:
Ngga tahan sama nyamuk, akhirnya kembali masuk lapangan.

04. 55 Pm:
Ngga tahu lagi caranya bernapas. Lemah syahwat.

04.57 Pm:
Terkapar di lapangan.

05.00 Pm:
Diseret ke pinggir lapangan.

05.03 Pm:
Dinyamukin lagi.

05.06 Pm:
Malaria.

05.08 Pm:
Diinfus pake baygon.

Huhuhu. Gue memang tidak memiliki stamina tinggi. Apabila diibaratkan, Cristiano Ronaldo kalau lari ada efek bayangan macan yang mengikuti. Kalau gue yang lari…efek bayangannya adalah tupai rabies yang sebelah kakinya ilang dimakan serigala.

Yang jelas gue dapat pelajaran, kalau olahraga sore-sore deket pohon, gue ngga bakal pakai kaos hitam lagi.

Lanjut topik lain. Kemarin, Riana, jagoan gue di The Next, ternyata kalah. Huhuhu. Dia juara dua, padahal menurut gue permainannya lebih keren dibanding peserta satunya. Sesaat sebelum menonton, gue berpkir, ‘nanti live tweet ah, biar kayak orang-orang gaul gitu…’ namun pas acaranya mulai, gue malah bingung mau live tweet gimana. Tadinya gue pengin menceritakan secara detail isi acaranya seperti ini:

08.00 Pm:
The Next mulai.

08.02 Pm:
MC-nya lagi pembukaan.

08.04 Pm:
MC-nya masih pembukaan.

08.07 Pm:
MC-nya ngasih tahu siapa jurinya.

08.08 Pm:
Eh, ada cewe cantik.

08.10 Pm:
Njir, malah iklan.

08.12 Pm:
Masih iklan.

08.15 Pm:
LAMA AMAT IKLANNYA, NYET!


Tapi akhirnya gue tidak melakukannya. Selain ribet, gue juga tidak mau kehilangan teman-teman di twitter. Hehehe. Setelah gue menulis ini gue baru sadar: kok hari minggu gue ngga banget, ya?
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, February 9, 2014

Membaca Sejenak

Halo,

Gue punya tiga pengumuman untuk kalian:

Satu. Nanti malem adalah final The Next Mentalist di trans tujuh. Gue ngga sabar pengin menyaksikan jagoan gue, Riana, tampil serem (walaupun gue nontonnya sambil merem saking takutnya). Tapi kalian wajib nonton jugak!

Dua. Bentar lagi gue pengin main basket. Udah lama banget gue ngga olahraga. Oh, badanku, semoga engkau siap menerima beban yang sebentar lagi akan kuberikan. Hoho. Terakhir kali gue berkeringat itu pas lagi benerin plat motor…dan berujung jempol kaki gue biru ketimpa kunci inggris.

Tiga. Siang tadi gue membaca salah satu berita tentang Indonesia yang isinya adalah kurangnya tingkat kegemaran membaca. Gue jadi prihatin sendiri. Lalu tercetuslah sebuah ide: kenapa ngga gue bantu aja mereka, orang-orang yang sebenarnya pengin baca, tapi kesulitan karena kekurangan bahan (atau bahannya bermutu rendah). Oleh sebab itu, gue pengin membuat semacam proyek kecil-kecilan bertema Membaca Sejenak. Tulisannya sudah gue tulis di note facebook gue yang baru. Silakan berkomentar di sana. Sekalian ngerusuhin fesbuk gue. Hehehe.

Untuk yang ngga punya fesbuk karena kebanyakan udah pada main twitter, ini gue taroh sini tulisannya:

Gue baru membaca berita di sini: http://bit.ly/1bAEOEc

Kemudian gue tersadar,
ternyata banyak orang yang butuh dibantu. Banyak orang yang masih tidak acuh dengan pentingnya membaca. Atau bahkan, teman-teman kita di sebagian pelosok, ingin membaca, ingin bertambah pengetahuannya, tetapi tidak bisa.

Sebetulnya gue juga senang dengan project Cerita Bagus Untukmu yang dikelola oleh Agung Bawantara dan A.S Laksana. Mereka menganggap bahwa kita, sekarang, kekurangan bahan bacaan untuk anak-anak. Dan, mereka membuatnya. lalu mengunggahnya ke dalam blog agar bisa dibaca siapa saja. Sesimpel itu.

Tapi sayangnya,
postingan terakhir adalah September tahun lalu. 

Ada juga website yang dibuat oleh beberapa kumpulan penulis. Webnya adalah http://cerpenmu.com/. Itupun sebuah ide yang luarbiasa. Di sana, siapa saja boleh menulis dan memasukkannya ke dalam website tersebut. 

Nah, dengan membawa semangat gabungan keduanya, gue pengin mencoba membuat sebuah proyek ala kadarnya berjudul Membaca Sejenak. Seperti Agung dan A.S Laksana, gue mau kita menambah cerita-cerita bermutu, bukan melulu cerita cinta menye-menye (meski bagus, menurut gue itu sudah terlalu banyak di toko buku, kalian bisa saja datang dan membawa pulang satu atau dua atau tiga belas kalau kalian punya uang atau bahkan membacanya di tempat sambil duduk-duduk selonjoran)

Gue pengin menumbuhkan semangat baca orang Indonesia,
dengan cerita yang baik
yang bermutu.
yang meng-indonesia.

Tapi gue juga tidak mau proyek ini berjalan sehari-dua hari sebulan-dua bulan. Gue, mengikuti website cerpenmu, juga ingin membuat agar siapa saja yang hobi menulis dapat memasukkannya ke dalam proyek yang nantinya akan dibuat ini. Tentu dengan penyeleksian terlebih dahulu.


Rencananya, setiap orang yang akan menampilkan cerpennya bisa mengirimkan email ke:membacasejenak@gmail.com dengan subjek: judul cerita (spasi) nama pengarang (spasi) kategori umur (A/R/D)

syarat cerpen:
Genre apapun selain cinta.
Diutamakan untuk anak-anak, tapi selain itu juga boleh (bisa dilihat http://ceritabagusuntukmu.blogspot.com/ untuk cerpen anak)
Kalau ceritanya terdapat adegan pembunuhan, pemerkosaan, darah, pembalasan dendam (masukkan ke dalam kategori remaja/dewasa)
Panjang cerpen maksimal 4 halaman.
Font Arial, 10.5, paragraf at least 13,5pt.


Selain itu, gue juga membutuhkan relawan untuk membantu berjalannya projek ini. Nantinya, relawan inilah yang akan menyeleksi cerpen-cerpen yang masuk ke email, sekaligus mengunggahnya ke blog atau web Membaca Sejenak. Intinya, merekalah pengurus inti dari proyek ini.

Syarat menjadi relawan:
Menyukai cerpen atau menulis dari hati (bukan karena biar tenar atau sekadar ikut-ikutan)

Cara mendaftar jadi relawan:
Kirim email ke membacasejenak@gmail.com dengan subjek Relawan (spasi) nama lengkap

isi email berupa nama lengkap, umur, jenis kelamin, dan alasan mengapa kalian ingin mengikuti proyek ini. Dan kalau kalian pernah membuat cerpen, sertakan juga ke dalam email.

Jadi, mau diam terus dan mengeluh karena banyak bacaan jelek, atau ingin membantunya menjadi baik?



Untuk yang mau tanya-tanya, bisa kirim email aja ke kresnoadidh@gmail.com atau di facebook gue di sini.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, February 7, 2014

Perkara Tempat Angker Bagi Cowok

Tempat angker seperti kuburan, tempat sepi, maupun Timeline mantan merupakan sebagian dari banyak tempat yang paling dihindari manusia, khususnya wanita. Namun, selain itu semua, kaum pria memiliki tempat yang dianggapnya paling mengerikan dan sadis. Jadi, untuk kalian wahai para wanita yang tidak sengaja membuka timeline mantan kemudian timbul hasrat untuk membelah badannya jadi dua, bawalah mereka ke tempat yang satu ini: Tukang potong rambut.

Benar, tukang potong rambut.

Para pria, berbeda dengan wanita yang selalu girang jikalau pergi ke salon atau tempat potong rambut lainnya. Pria-pria ini, biasanya cuman hepi di awal-awal, sebelum mereka merasakan duduk di kursi laknat tempat si abang tukang potong rambut nyengir-nyengir setan.

Berikut perbedaan wanita dan pria saat masuk ke salon:

Wanita biasanya pergi beramai-ramai. Setelah membuka pintu, mereka bakal heboh meminta apa saja seperti potong rambut atau manjangin rambut atau potong sambil manjangin rambut (lho?). Pulang-pulang mereka senyum penuh kebahagiaan…sementara pacarnya nangis di meja kasir. Mereka yang baru keluar dari salon menganggap diri mereka adalah wanita paling cantik sejagad dan jadi sering ngaca-ngaca sendiri.

Pria memandang kepergiannya ke tukang cukur sama dengan berjihad. Dibutuhkan mental yang kuat untuk mengambil keputusan, ‘ah gue pengin potong rambut aahh..’ karena di otak pria, kalimat tersebut berarti, ‘Aku sudah tak tahan dengan beratnya hidup ini…Aku..Aku.. Hiks Hiks.’ Sementara pria-pria bejat akan mengibaratkan kalimat tadi dengan, ‘Wess.. lumayan nih leher gue dipijet.’

Sesaat setelah si pria memasuki salon dan terkena dinginnya AC, mereka akan merasa adanya aura-aura negatif dan menjadi panik seketika. Percakapan yang biasa terjadi antara pria dan tukang cukur adalah seperti ini:

Tukang Cukur: (si mas menepuk-nepuk kursi) Mari, Mas. Ayo. Ini sudah saatnya.
Pria: HAH, SAATNYA??!! SAATNYA APAAN, MAS? AK-AKU BELUM SIAP. AKU BELUM DISUNAAT!!
Tukang cukur: Saatnya dicukur. Jadi, mau diapain, Mas?
Pria: JANGAN APA-APAIN AKU, MAS. ASTAGHFIRULLAH, NYEBUT MAS!
Tukang cukur: Santai aja, Mas. Rileks. Mau dipotong model apa?
Pria: Oke, oke. Kalau gitu saya mau cukur kayak nomer 13 itu ya. (menunjuk poster gambar-gambar cowok macho dengan berbagai model rambut).
Tukang cukur: O, itu ngga bisa, Mas.
Pria: ya udah nomer 14.
Tukang cukur: ngga bisa juga.
Pria: ya udah nomer 7.
Tukang cukur: belum latihan mas.
Pria: (air mata mulai mengalir dengan indah) ya-ya udah…rapihin aja, Mas.
Tukang cukur: oke, Mas! Gancil itu mah!

Lalu potongannya ngga sesuai dengan yang kita pengenin. Lalu si pria berniat mengambil gunting dan memasukkannya ke lubang hidung si mas-mas tukang cukur.

Oh, duhai para tukang cukur rambut, kenapa kalian kalo motongin rambut cowo sampe pendek banget. Kita kan cuman minta dirapihin, bukan bikin kepala jadi erosi karena kekurangan rambut.

Inilah ekspresi muka cowo pas datang ke tukang cukur:

Muka sewaktu sedang mengantri. Pikiran-pikiran aneh mulai bergejolak.


Tampang pas mas-masnya mulai mencukur. Ekspresi muka mengejan.



Tampang sesaat setelah beres dicukur...dan sadar kalau dompetnya ketinggalan

Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, February 3, 2014

Tentang Riana yang Masuk Final dan Komik Basket

Horeeeeeeeeeeeee!

Ini jam setengah dua pagi dan gue lagi hepi. Riana, jagoan gue di The Next Mentalist, masuk ke grand finale. Yuhuuuu!

DI MANA LAP PEL SAYAA!!??

Dia perform keren abis. Dia bisa ngeluarin puluhan zombie dari satu kotak kecil. Dan dia bisa menghindari terkaman zombie dengan…manjat tembok. Agak kayak cicak memang.

Di sisi lain, tadi pas awal-awal acara mulai, si mc bilang bahwa nanti Deddy bakal menghipnotis penonton yang ada di rumah. Karena belakangan televisi kita sering menyuguhkan acara dengan hipnotis-hipnotis ngga jelas, maka gue berpikir, ‘Ah, si Deddy ngga mungkin bisa hipnotis gue.’

Sebelum memulai aksi ini, dia melakukan atraksi melompati lingkaran api bareng lumba-lumba yakni menghipnotis orang dengan mata terbuka. Dia tidak seperti kebanyakan tukang hipnotis yang jikalau menghipnotis orang harus bakar tisu atau menjentikkan jari atau ngegaplok jidat orang. Tidak. Sekarang dia juga sudah tidak menggunakan kata-kata andalannya, ‘tatap mata saya..’ Dia juga tidak mengubahnya menjadi, ‘tatap gundul saya..’ Sungguh tidak.

Dia menghipnotis dengan kata-kata. Dengan intonasi.

Selesai dengan atraksi pertamanya (yang berhasil membuat sepuluh orang kedinginan dan merasa sedang di kutub), ia kemudian mulai menatap kamera. Seolah-olah berbicara dengan penonton di rumah. Saat itu gue masih berpikir, ‘Coba aja hipnotis gue. Gabakal bisa.’

‘Untuk Anda yang mau ikut bermain dengan saya, pertama-tama saya harus katakan,’ kata Deddy. ‘Bahwa yang mau ikut tidak boleh punya serangan jantung.’
‘Ah gue bisa!’

‘Tidak boleh berusia di atas 45 tahun.’
‘Oke!’

‘Yang mau ikut juga tidak boleh sendirian di dalam rumah.’
‘Wah, gue sendiri. Ah, nggapapa coba aja!’

‘Pertama-tama, dengarkan suara saya baik-baik.’
‘Iye!’

‘Untuk yang tidak mau terkena efek ini, silahkan berdiri dari tempat Anda.’
‘Oke!’

‘Rasakan udara di sekitar Anda mulai dingin..’
‘OKEFINEGUEBEDIRIII!!

Hehehe. Gue ngga berani ngikutin dia. Takut aja gue benaran kedinginan sendiri di kosan. Tanpa dihipnotis saja, tiap hujan aku kedinginan. Tak punya orang untuk menghangatkan. Huhuhu.

Tapi keren lho, si Deddy ini, di segmen selannjutnya banyak yang nge-twitpic entah ke akun mana, foto-foto orang pada duduk pake selimut. Ada yang mukanya pucat juga. Lucu-lucu. Sekaligus serem. Kata dia, pengaruh alam bawah sadar kita terhadap otak itu sangat tinggi. Contoh sehari-harinya, ketika ada tukang sate lewat depan rumah, terus baunya yang sedap masuk ke hidung. Nah, pengaruh alam bawah sadar dari aroma sate tersebut membuat kita merasa 'tiba-tiba lapar' meski sebelumnya kita lagi kenyang.

Setelah menyaksikan pertunjukan ini, gue jadi kepikiran untuk belajar ilmu hipnotis. Sepertinya seru. Nanti sewaktu ujian, pengawasnya akan gue hipnotis. Gue akan bilang, ‘Rasakan usus dan enzim-enzim di perut ibu sedang mencerna makanan dengan sangat bernapsu...’ Gue lalu jalan ke depan kelas, mengelus perut si ibu dosen, ‘Rasakan lebih dalam… rasakan… lalu mencretlah.’ Si ibu pun langsung ngibrit ke kamar mandi. Kita sekelas nyontek dengan damai.

Hal lain yang lagi gue demen banget adalah menonton Kuroko No Basket. Hari jumat kemarin, gue dikasih anime ini yang season dua oleh Yudha, si anak yang hobi bersih-bersih itu. Sabtu kemarin seharian gue pakai untuk menonton dan karena belum sampe tamat, gue  lanjut ngomik nyari di internet. Untuk yang belum tahu, Kuroko No Basket itu bercerita tentang sebuah tim basket SMP yang berisi pemain yang jagonya naudzubilah. Karena terlalu jago, sewaktu SMA mereka memutuskan pisah dan membentuk tim di sekolah masing-masing. Yang menarik adalah si tokoh utama, Kuroko, dia tidak termasuk ke dalam tim inti ketika SMP dulu. Dan dia pengin membuktikan bahwa, bermain basket adalah permainan tim, bukan individu.

Kuroko No Basuke

Oya, perihal komik basket kalian juga harus coba baca Sora The Wingless Duck. Salah satu favorit gue juga :)

Ngomongin basket, gue jadi inget di masa SD dulu, gue sempet eksul basket. Pada masa itu, gue merasa bahwa basket adalah olahraga dengan kasta kekerenan tertinggi di sekolah. Gue merasa bahwa orang yang main basket itu keren dan bakal dilirik cewe-cewe. Makanya dulu gue memilih itu. Hehehe. Sungguh suatu alasan yang sangat bocah sekali.

Yep. Last but not least, gue pengin bilang kalo gue baru potong rambut. Banyak yang syok, banyak yang jantungnya langsung melemah. Apalagi ibu-ibu warteg langganan gue. Dia terkejut dan mulutnya menganga…terlebih ketika gue bilang mau ngutang dulu. Hehe.

Udah deh. Mungkin cerita tentang rambut ini gue bikin di postingan selanjutnya aja kali ya. Udah ngantuk dan besok pagi harus ke kampus buat ngelanjut penelitian. Doakan cepet beres ya!

Kresnoadi, sign out.  

Tanggapan untuk komentar di postingan Terima Kasih, Oh yudha yang Dimuliakan:

Dari Hanna Ridha: Perasaan kaya yang jahat gimana gitu ya..
Tanggapan: Ah, itu perasaanmu saja..

Dari Allan Muhammad: Apakah Yudha adalah seorang yang gemar menolong orang? Kalau begitu, saya minta untuk membersihkan kamar saya yang juga berantakan ini :(
Tanggapan: Ya, dia gemar menolong orang. Tapi, emang kamu siapa, begitu katanya. Dua ribu dulu dong, begitu lanjutnya.

Dari Aditya Regas: Padahal kamar berantakan itu laki banget loh mas…
Tanggapan: hehe. Iya tapi percuma kalau ngga nyaman.

Dari Rifqi Akram: Astaga! Hebat sekali yudha! Eh, di, nomernya yudha berapa? Gue mau nelpon dong biar kamar gue disulap sama dia. Hehehe #canda

Tanggapan: WOI DI, NGAPAIN LU NGASIH-NGASIH NOMER GUE KE ORANG!! GUE ITU BIASA PAKE L, KALO XL KEGEDEAN KALO M UDELNYA KELIATAN!! *seketika terdengar erangan Adi dari kejauhan*
Suka post ini? Bagikan ke: