Sunday, January 26, 2014

Terima Kasih, Oh Yudha yang Dimuliakan

Alkisah terdapat dua orang anak manusia yang dateng naik mobil pick up di depan kosan gue. Setelah keluar dan sadar bahwa mereka ternyata tukang kusen yang dipesen bokap, yang satu namanya Asep, mahluk berkaos putih bergaris ijo di postingan sebelum ini sementara satunya lagi temennya Asep. Namanya adalah…Asep’s friend (ngeles, padahal ga tau namanya).

Mereka pun gue suruh masuk dan mengecek kusen kamar, mengukur sana-sini, lalu menggantinya supaya lebih ciamik. Setelah beres, bokap nanya ke mereka apakah mereka sanggup untuk ganti bak mandi yang udah jebol sekaligus benerin tembok yang udah pada retak-retak. Dan mereka bilang kalau ngga bisa.

Bokap akhirnya mencari tukang lain dan didapatkanlah seorang tukang (iyalah, masa dugong) yang bernama Pak No. Sembari menunggu Pak No kerja, bokap biasanya tiduran sambil membaca majalah misteri. Benar, majalah misteri. Benar, majalah misteri. Iya benar, majalah misteri. Oke-oke ampun.

Gue yang memerhatikan bokap lagi bolak-balik majalah itu merasa, ‘Gile. Bokap pemberani abis. Bacaannya aja serem gitu.’ Kemudian dia jalan ke ruang tamu, ngeliat si Pongki, uler Abang gue, lalu teriak, ‘ADEK, INI MAHLUK APAAN! JAUHKAN BENDA ITU DARI BAPAK, JAUHKAAANN!!’

Pesan: membaca majalah seram belum tentu membuat Anda menjadi pemberani.

Kemarin, ketika Bokap balik ke Pamulang, dia meninggalkan sebuah majalah misteri di kasur. Gue, dengan penuh penasaran, panik, dan bergidik, akhirnya mendekati majalah itu. Lalu sebuah pertanyaan timbul: semisteri apakah isinya?

Setelah gue buka, ternyata eh ternyata, isinya sungguhlah misteri (namanya juga majalah misteri, Cuk). Ternyata isinya kebanyakan tentang setan-setan gitu. Banyak juga promosi gendam, pelet (pelet yang dimaksud bukanlah makanan ikan, apalagi menjulurkan lidah seperti herder), juga susuk. Tapi…yang membuat gue tertarik adalah banyaknya promosi obat kejantanan. Osyit. Majalah ini semakin misteri saja.

Gue jadi teringat dulu pernah menemukan iklan obat peningkat kejantanan pria:

OBAT PAK HAJI! (merknya gue lupa, tapi yang buat pak haji)
MENINGKATKAN KEPERKASAAN PRIA!
DIJAMIN KUAT DAN TAHAN LAMA!
KALAU TIDAK PERCAYA?? LIAT SENDIRI PUNYA PAK HAJI!!

Maderfaker.

Lanjut. Jadi, gara-gara kosan lagi dibongkar habis-habisan. Kamar gue jadi super-duper mega ultimate berantakan. Cara membayangkan betapa berantakannya kamar gue:

1. Ingat-ingat muka pak haji
2. Pak haji yang mukanya telah Anda bayangkan tersebut tiba-tiba naik elang
3. Pak haji dan burung elangnya (dan burungnya pak haji) terbang mengitari kosan gue
4. Pak haji meng-kamehameha kosan gue dari atas langit.

Oleh sebab betapa berantakannya kamar gue, sore tadi gue mengajak (atau dalam hal ini memperalat) Yudha, teman kampus, untuk beres-beres kosan. Gue meng-sms dia.

11.45 Am:
‘Yud, nanti sore free kah?’

12.00 Pm:
‘Free. Napa emang di?’

12.34 Pm:
‘Bisa bantu berbenah ngga?’

12.41 Pm:
‘Bisa tentunya. Jam berapa? Jam 4 lebih ya.’

12.42 Pm:
Gue tersenyum. Penuh kemenangan. Rasakan kau Yudha. Engkau tidak tahu arti berbenah yang sesungguhnya! Kau sudah kuperdayai! Huahahaha!

12.44 Pm:
HUAHAHAHAH!! Huaahh… Huaaahh..! MULUT GUE KRAAAM! TOLOONGG!! TOLOOONG!

01.00 Pm:
Tertidur dengan damai dan sentosa

03.15 Pm:
‘ASSALAMUALAIKUUM! MISII! ASSALAMUALAIKUUUM!!’ Gue bangun kemudian ngulet dengan bersahaja. Dengan kepala yang sedikit pusing gue mengambil guling. Pikiran gue menyatakan bahwa orang di luar adalah tukang minta-minta atau pak RT atau tukang listrik dan gue malas untuk membuka pintu, maka gue tutup ini wajah dengan guling.

03.17 Pm:
Ponsel berdering. Telpon dari Yudha. Gue baru ingat jikalau sore ini Yudha mau ke kosan. Dengan antusias gue lari keluar dan membuka pintu. Gue menyambutnya dengan suka cita, membentangkan kedua tangan sambil senyum sumringah. Padahal di otak sudah menyimpan rencana licik. Rencana ini, seperti di sinetron-sinetron, menyebabkan apapun yang gue katakan menjadi berbeda dengan isi hati.

Perkataan: ‘WAHAI YUDHA YANG DIMULIAKAN, MARI MASUK-MASUK!’
Di dalam hati: ‘Yudha, oh, wahai pesuruhku. Akhirnya engkau datang juga.’

Perkataan: ‘Duh, liat deh, tuhkan berantakan banget kosan gue. Bekas bongkar-bongkar kemarin nih. Sorry ya ngerepotin.’
Di dalam hati: ‘LIHAT YUD! INILAH LAPANGAN PEKERJAAN BARUMU!!’

Dan akhirnya, dia pasrah saja. Kita berdua pun memulai aksi beres-beres kamar. Dalam hal ini, tugas Yudha adalah memindahkan semua barang ke tempat yang seharusnya sementara gue…mengumpulkan tenaga dengan leyeh-leyeh di kasur. Hehehe.

Dan inilah dia hasil kerjaan si Yudha pesuruh baru gue kita:

BEFORE
AFTER

BEFORE
AFTER


Oh, terima kasih Yudha. Berkatmu, kini aku menemukan kamarku yang dulu. Kamar yang dulu, adalah yang sekarang. Yang bersih dan bau apek ini. 
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, January 24, 2014

The Next, Semut, dan Rapelan Jawaban

Ini hari jumat dan sudah seminggu kuping kiri gue sakit. Pendengaran gue agak terganggu. Gue tidak tahu kenapa tapi rasanya seperti ada sesuatu di dalamnya. Dulu, pas kecil, gue juga pernah ngerasain sakit yang mirip kaya gini. Ketika itu, gue sedang menonton Dragon Ball dengan adegan Picollo yang lagi melatih anaknya songoku. Di masa itu, gue berpikir bahwa piccolo itu keren banget. Dia itu mahluk ijo dari luar angkasa yang keseringan dijewer nyokapnya (terbukti dengan kupingnya yang panjang). Karena merasa piccolo adalah orang yang keren, maka gue mengambil cotton bud dan menyelipkannya di kuping (supaya kuping gue sama panjangnya kayak kuping picollo). Gue berkaca, joget-joget sambil memeragakan gerakan picollo sewaktu bertarung. Capek, gue lalu tiduran dan

CROT!

Cotton bud-nya nyolok kuping dengan sempurna. Gue dibawa ke rumah sakit dan kuping gue pendarahan dalam.
Semoga aja yang sekarang ngga aneh-aneh. Huhuhuu.

Di sisi lain, pagi ini gue bangun dalam keadaan excited. Gue sedang menunggu-nunggu datangnya hari minggu karena pengin nonton ajang pencarian bakat yang menurut gue keren abis: The Next Mentalist.

Gile. Menurut gue The Next Mentalist itu sangatlah keren. Gimana engga, pesertanya dipilih sendiri sama Deddy Corbuzier, dan dieliminasi juga sama dia. Murni tanpa sms dukungan. Pokoknya keren abis. Dan, yang lebih keren daripada yang kerennya lagi, jagoan gue masuk ke tiga besar. Hmm.. jadi makin ngga sabar buat nonton hari minggu.
 
ASTAGHFIRULLAH.. MATA KIRI SAYA MANA YAAA!!??

Adapun alasan lain yang membuat gue bilang kalau acara ini keren abis adalah ketika pesulapnya mau tampil. Terjadi dialog antara si peserta dengan master Deddy. Kira-kira seperti ini:

Deddy: Russel (nama peserta), are you the next?
Peserta: Yes, Master!
Deddy: Show me!
Lalu peserta tersebut tampil dengan keren di atas panggung.

Namun, Dialog tersebut akan tidak keren apabila gue yang pendengarannya sedang cemen ini menjadi pesertanya

Deddy: Adi, are you the next?
Gue: Hah? kenek??
Deddy: Show me!
Gue: Ciputat… ciputat… putat Bu!! Putat! Kanan masih kosong itu!! Woy, geser lah kau, Lay!!

Percakapannya juga akan menjadi aneh apabila yang menjadi juri adalah…Deddy Mizwar

Deddy: Adi, are you makan so nice?
Gue: Yes, Master!
Deddy: Show me!
Gue: (mengeluarkan sosis dari saku celana)
Lalu musik mengalun merdu. Gue dan bang Deddy bergoyang sambil berdengang, ‘ES…EM…ESSS.. SEMUA MAKAAN SO NAAAIISS!’

Pindah topik lain. Di postingan Semut-semut Everywhere, ternyata banyak yang bingung kenapa semut bisa makan kusen. Kenapa bukan rayap. Oh.. saya tidak tahu. Tapi sumpah demi sumpah pocongnya Farhat Abas, itu memang benaran semut. Gue ngga sempet foto, tapi yang jelas semutnya gede, dan bersayap. Menyeramkan. Gue yang anak kehutanan, yang sudah bersahabat sama kayu-kayuan aja bingung. Yah, sekarang gue berdoa aja semoga rumah gue ngga ada mahluk-mahluk aneh lainnya.

Oya, kusen kamarnya udah beres dipasang. Kusen yang baru dari alumunium. Sekarang, tidak bakal ada yang gerogotin kusen gue lagi…kecuali kalo malam-malam lapar dan gue kekurangan kudapan.

Ini foto pas lagi pembongkaran kusen:
ini pas baju putih lagi gabut

ini pas baju ijo lagi gabut...dan latihan foto gaya pura-pura-gak-liat-kamera


Lanjuut. Tanggapan atas komentar-komentar terdahulu. Dimulai dari postingan Semut-semut Everywhere:

Dari Aji Purnomo: Kalo kesemutan, itu ada hubungannya dengan semut-semut kecil yang makanin kusen gak yaa :|
Tanggapan: Ada. Jika pada suatu masa kepala elu kesemutan, nanti gue hantam ke arah kusen.

Dari Hafidh Riza Perdana: sama kaya gue gan, semut oh semut, lo boleh aja hidup, tapi jangan di kamar atau kusen gueee~ geraaahhh gue tidur di rayap-rayapin semut… haha. Btw mampir ke blog saya juga ya: rainbowmaniswriting.blogspot.com izin follow, button follownya dimana yah?? :3
Tanggapan: Wah, kita senasib gan. Pengen ane cendolin tapi ane punyanya gerobak cendol. Gimana kalo ane giles aja gan? Oya, keriba-keribo memang diatur supaya tidak memiliki fitur follow. Kalau mau tukeran link, silakan komen di sini.

Dari Zegaisme: wah kok semutnya dibasmi ya. Mereka tuh gak berdosa loh. Cuma nyari makan. lo jahat men. Siapa tau semutnya masih jomblo. Haha. Gua juga baru nyadar nih template udah ganti.
Tanggapan: NYARI MAKAN APAAN SAMPE NGABISIN DUIT SEJUTA! PERSETAN DENGAN JOMBLOO!! ASTAGHFIRULLAH!! INI MATIIN CAPSLOCK-NYA GIMANA SIHHH??

Postingan Pada Malam keakraban Itu:

Dari oomguru: Weisss.. ini acara prom night gitu maksudnya? Prom night vers kuliahan?? :D
Tanggapan: Yoeeeh!

Dari tirsnine: Gimana, Di, dialog pas lu mengungkapkan perasaan itu? Penasaran gua. Hahaha.
Tanggapan: Hahahahaha. ahahahaha. Rahasia.


Ngeniweei. Terima kasih buat yang sudah menyemangati gue untuk cepetan garap skripsi. Yeaaahh! Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir yang pengin lulus tahun inii!!

Selain itu, terima kasih juga buat yang sudah mendoakan nyokap dan Abang gue biar cepet sembuh. Mereka ngga ngantor sampai hari senin. Nyokap udah bisa ngapa-ngapain meski kadang masih suka ngeluh sakit. Abang gue dengkul kanannya agak benjol dikit. Tapi overall semua udah makin baikan. Dantapi, dari semua komen yang ngasih selamat ulang tahun kemarin, gue paling bingung untuk ngerespon komen dari Ismie Nurbarina.

Komentar dari Ismie Nurbarina: Saengil chukae hamnida..

Tanggapan: ASELOLEEE… JOSSSS!!
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, January 22, 2014

Pilih Yang Mana

Halo,
Selamat ulang tahun
buat gue sendiri.

Hari ini, tepat di ulang tahun gue, Tuhan Yang Maha Baik juga ikut memberi kado. Tuhan memberi yang terburuk sekaligus yang terbaik.

Kado terburuk datang tadi pagi, sewaktu dalam perjalanan ke Bogor bersama bokap. Ketika itu, Abang gue menelpon, mengabarkan bahwa ia dan nyokap baru saja kecelakaan motor dan sedang berada di rumah sakit pertamina.

Dan seharian, Tuhan memberi kado yang terbaik. Dengan mengembalikan gue ke Pamulang. Meminjam sebentar waktu gue, dan menggabungkannya dengan milik nyokap. Tuhan memberikan badan nyokap untuk dapat gue peluki. Seharian.

Hari ini, Tuhan Yang Maha Baik telah memberi pilihan atas kado-kadonya. Tinggal gue yang menentukan, mau pilih yang mana.
Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, January 20, 2014

Pada Malam Keakraban Itu

Seperti halnya pertemuan, perpisahan juga merupakan hal yang mutlak terjadi. Sabtu kemarin, satu jurusan kelas gue membuat semacam acara perpisahan menjelang perubahan status menjadi mahasiswa tingkat akhir. Kelas kita membuat semacam malam untuk semakin mengakrabkan diri di puncak.

Menurut gue, hal seperti ini sangatlah asik mengingat tiap mahasiswa sudah sibuk mengurusi penelitiannya sehingga jadi jarang ketemu…sampai Adha, sang pembuat acara, mengumumkan agar kita bermain sebuah permainan yang bernama the guardian angel.

Satu persatu lingkaran orang yang duduk di hall dengan ubin yang terbuat dari kayu disuruh berdiri, lantas mengambil sebuah kertas yang berisi nama mahasiswa lain.

‘Orang yang namanya kalian ambil, adalah orang yang harus kalian jaga,’ jelas Adha. ‘Kalian harus menjadi malaikat penjaga mereka selama kita di puncak ini! Sebelum pulang, nanti kita evaluasi, apakah benar kalian menjaga atau tidak!’

‘Gila, ftv banget nih,’ pikir gue, sekilas terbayang penginapan kita bakal kebakar, kemudian gue masuk menerjang kobaran api, keluar sambil membopong orang yang gue jaga, temen-temen menyoraki, gue terbatuk-batuk, jatuh, terus dikubur di taman makam pahlawan.

Namun, permainan ini malah dimanfaatkan oleh Yogi, temen gue yang poninya hampir menusuk mata, 'Nanti gue ngumpet aja. Kalau ada yang nyariin, berarti dia guardian angel gue!’ Yogi menjentikkan jari, ‘Setelah itu, tinggal gue suruh-suruh deh. Ngambilin makan, mijitin, nyari selimut. Enak banget!’

Syahrul, teman gue yang taat beragama, menepuk-nepuk pundak Yogi, ‘Astaghfirullah Yogi..,’ katanya. ‘Bener juga yak!?’

Gue pun mengambil kertas yang disediakan Adha. Di dalamnya tertulis nama ‘Wida’, teman satu dosen pembimbing skripsi gue.

Buat gue, menjaga Wida sangatlah mudah. Selain dia tidak suka kegiatan aneh-aneh yang membahayakan keselamatan (seperti memborgol kaki sendiri dengan ban serep lalu nyelem ke kolam), dia juga sudah punya pacar yang badannya lebih gede dan keker daripada gue, which is lebih jago ngelindungin Wida dibanding gue…yang kalo sendalnya ilang aja jerit-jerit kayak orang kesurupan.

‘Yak, sekarang acara bebas!’ Adha berteriak, ‘nanti kita kumpul lagi jam 2!’

Gue bersama mahasiswa lain langsung mencari kamar untuk menaruh barang-barang. Sepanjang jalan dari hall, kita mencoba mengembuskan napas, mengecek apakah keluar asap dari mulut seperti orang-orang Eropa di musim dingin.

Meski gerimis, orang-orang antusias untuk berenang. Gue dan beberapa teman hanya memandangi dari balkon sambil gitaran dan nyanyi-nyanyi ngga jelas.

Pukul 2 siang, kami kembali ke hall. Gue sudah mengganti celana menjadi celana jeans pendek.

Adha berdiri di tengah, membuka suara, ‘Buat pola melingkar! Kita akan bermain Truth or dare!’

Anak-anak riuh. Gue mengusap-usap lutut sambil sesekali menarik napas, grogi.

‘Gue akan memberikan pulpen kepada salah seorang dari kalian! Nanti Dimas akan bernyanyi, dan selama dia nyanyi, kalian harus membuka tutup pulpen tersebut dan menaruhnya di ujung belakang pulpen, kemudian operkan pulpen itu ke sebelah kalian. Dia harus membuka tutup pulpennya, kemudian memasukkan ke ujung yang lain. Begitu seterusnya!’

Dimas mulai bernyanyi, anak-anak bersorak, pulpen mulai dioper.

‘Yak, stop!’ Dimas keluar dari balik meja tempatnya menyanyi.

Pulpen berhenti di tangan Arif Kampung.

Adha menyuruh si Kampung untuk berdiri di tengah lingkaran. Si Kampung gelagapan. Anak-anak mendesak. Pulpen kembali diputar dan berhenti di tangan Yusril.

‘Nah, elu mau truth atau dare ?’ Yusril menunjuk si Kampung.
‘Truth..’
‘Ada ga, orang yang elu suka selama ini di kelas?’ tanya Yusril. ‘Sebutkan! Dan.. kenapa?’

Si Kampung menyebutkan sebuah nama. Perempuan.

Cih. Permainan truth or dare sejatinya hanya untuk asmara. Tidak lain tidak bukan. Dari zaman SD sampai kuliah, kalau truth, pertanyaannya: ‘Siapa orang yang ditaksir’, kalau dare, ‘coba tembak orang yang pernah ditaksir.’ Sungguh suatu pemikiran yang primitif abis. Kalau memang niatnya mempermalukan, cobalah tantangan yang lebh inovatif seperti misalnya: ‘ goyang oplosan pake baju ABRI.’ ,atau kalau mau yang jahat ‘siram bulu kaki Anda menggunakan air keras.’ ,atau kalau mau yang versi sinetron Indosiar, ‘Rebutlah harta Bu Broto! Uhuahahaha!’

Dua orang. Tiga orang. Semakin banyak yang menjadi korban kebengisan permainan ini. Dan, benar saja, semuanya sama. Kalau ngga menyatakan cinta, ya sebut nama orang yang dicinta.

Pulpen kembali diputar. Gue menengok ke kanan mengecek posisi pulpen. Dimas seperti melambatkan lagunya. Waktu seakan menjadi pelan. Pulpen sudah berada di tangan Arif (bukan Arif Kampung), dua orang di kanan gue. Sekarang, ia telah berpindah posisi ke tangan Alam, samping gue. Gue gugup. Dimas berdiri dari balik meja dengan gerakan slow motion. Gue buru-buru merenggut pulpen dari tangan Alam. Dimas menunjuk. Gue mengoper pulpen ke Syahrul, sebelah kiri gue. Dimas berteriak.
‘Seetoooooopp!!’

Pulpen sudah berada di genggaman Faisal, sebelah kiri Syahrul....tutup pulpennya masih ada di gue. Ketinggalan. Dimas kembali berteriak, ‘Udaaaah!! Udaaah!! Stopp! Stooop!!’ gue menjerit, ‘SIMONGKEEEEYYY!!’

Pulpen kembali diputar, menentukan siapa yang akan menanyai gue. 
Dan, 
pulpennya berhenti di tangan Wida. 
'DABELMONGKEEEEYYY!! MANA ADA MANUSIA NGERJAIN MALAIKAT PENJAGANYA SENDIRI KUNYUUKK!!??' Gue mengadu ke Adha. Namun dia tidak menggubris.

Dan, sama seperti yang lainnya. Gue disuruh mengungkapkan perasaan kepada dia dari masa lalu. Gue berjalan ke arahnya. Semakin langkah kaki berjalan ke depan, waktu terasa semakin mundur. Mundur jauh.

Gue telah berada di hadapannya. Namun jantung gue entah di mana. Seperti hilang dari posisinya. Anak-anak mengerubungi. Gue membuka suara. Mengakhirinya dengan embusan napas yang berat. Anak-anak ramai menghampiri. Ada yang menepuk-nepuk. Ada yang memberi ucapan selamat. Ada juga yang menyalami.

Setelahnya, gue duduk, kembali ke tempat semula. Gue merasa, setelah ini hubungan kita pasti semakin buruk.
Bukan karena ucapan yang gue lontarkan,
Melainkan karena kondisinya,
Karena situasinya,
Anak-anaknya.

Seperti halnya pertemuan, perpisahan merupakan hal yang mutlak terjadi.

Malamnya, gue bersama tiga orang teman duduk di tangga paling atas. Mengamati cahaya dari berbagai sumber di ujung sana. Untuk menghilangkan dingin, yang dua mengobrol. Yang satu mendengarkan lagu. Sementara gue,
berpikir,
dan berpikir

dan berpikir.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, January 16, 2014

Tulisan Sebelum Hibernasi Ini

Kemarin, Radit, sahabat gue sejak SMP, tiba-tiba sms: gue hari jumat mau sidang.
And it hits me.

Einsten memang benar mengenai relativitas waktu. Kecepatannya. Caranya berjalan. Berlari.

Dan sekarang,
Ia terbang. Time flies.

Seperti yang gue baru tulis di sini, gue tidak mungkin lupa zaman goblok-gobloknya kita semasa SMP. Radit yang pertama kali datang, melangkahkan kakinya dengan malu-malu ke dalam kelas. Mengenalkan diri dengan suaranya yang kecil—dan langsung terbunuh oleh berisiknya kelas. Si bocah Wonosobo itu. Bagaimana ia mengajak gue bermain game online pertama kali. Bagaimana kita lari-larian di gang kayak orang gila. Ngelompat-lompatin portal komplek…sampe kemudian selangkangan gue nyangkut di portal. Sudah banyak hal-hal abstrak yang kita lakukan. He is my partner in crime.

Dulu gue paling seneng nongkrong di teras rumahnya. Duduk-duduk di dipan yang dialihfungsikan menjadi kursi. Ketawa-tawa kayak orang bego. Tapi terkadang juga, kita cuman duduk. Ngelatin sore, menghirupi udaranya sambil menyantap mie ayam yang dijual di deket SMP.

Sekarang, udah mau lulus aja. Mau jadi manusia.

Bahkan Agung, sahabat kita yang lain, udah kerja. Dia sibuk jadi radiolog di rumah sakit.

Gue juga, hari ini UAS terakhir di semester tujuh. Artinya semester depan udah ngga ada kegiatan. Tinggal penelitian dan menyusun skripsi. Merasakan apa yang orang-orang bilang tentang mahasiswa tingkat akhir. Setelah itu, jadi manusia.

Waktu ternyata tidak hanya mampu berlari,
ia juga pandai
menyusut.
Membuat sesak.
Dan, disaat ia menggembung kembali,
kita sadar. Bahwa kita,
telah berada di ruang yang besar,
yang di dalamnya
berisi peristiwa yang luar biasa.

Duh, gue nulis apaan sih ini. Sindrom begadang semalam nih. Hehe. Udah ah, mau hibernasi dulu. Besok mau ke Kota Tua. :)


Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, January 14, 2014

Semut-semut Everywhere...

Gue menulis ini dengan satu tangan,
Yang sebelah lagi sedang megangin jempol kaki.

Barusan gue coba masang mur plat nomor motor, sok-sokan mainin kunci inggris sambil dilempar-lempar. Lalu... kunci inggrisnya loncat dengan menawan ke jempol kaki kiri gue. Kalo jempol kaki itu ibarat otak, jempol kaki gue udah kena geger otak.

Yaya, hikmah pagi ini: jangan lempar-lempar kunci inggris sembarangan.

Di sisi lain, entah kenapa di kosan gue akhir-akhir ini banyak semutnya. Semut seringkali berbaris-baris dengan indahnya tanpa permisi dulu ke gue (ya iyalah). Tadinya gue santai-santai saja… sampai bokap datang ke kosan, lalu dengan brutal menyemprot baygon ke segala arah.

‘Dek, ini banyak banget ya semutnya!’ Bokap semangat nyemprotin baygon ke mana-mana.
‘Iya, Pak. Terus?’
Bokap kemudian masuk ke kamar gue, SROT! SROT! ‘ini kayaknya kamar kamu banyak semutnya juga deh.’
‘Duh, jangan disemprot dong, kan ada akunya,’ protes gue, ‘Lagian udah biasa. Nggapapa.’
‘Jangan gitu!’ Srot! Srot! Bokap tetep nyemprot dengan semangat, ‘Ini harus dibasmi! HARUS!’
‘OHOHOHOHEEEK.. AMPUN, PAK. IYA! IYAAA! SABAAAR! INI KENAPA AKU DISEMPROT JUGA!’
‘TUHKAN, SEMUTNYA KELUAR SEMUA DARI KUSEN!’
‘Iya, Pak,’ kata gue, berusaha santai (padahal menggelepar-gelepar di lantai).
‘TIDAK BISA SANTAI! INI HARUS DIBASMIII!!’

Satu hal yang harus kalian ketahui. Apabila nanti kalian bertemu gue dan kelakuan gue kayak psikopat, kalian tahu itu turunan siapa.

Semut-semut everywhere…

Dan,
Sekarang rumah lagi ramai.

Bokap langsung menyuruh tukang-tukang untuk mengganti kusen kamar gue dan kamar (bekas) Abang gue yang udah rontok dimakan semut. Dulu, Melisa, penyanyi cilik, pernah nanya sambil nyanyi ke semut, ‘Semut semut kecil, saya mau tanya… apakah kamu di dalam tanah, tidak takut cacing?’

Sekarang gue kalo ketemu Melisa bakal jawab, ‘Tidak, karena mereka dengan bangsatnya menggerogoti kusen saya.’

Badanku bengkak bukan karena digigit semut loh..

Semut-semut everywhere…

Gue barusan browsing, dan menemukan fakta yang mencengangkan. Bahwa terdapat semut (namanya semut bulldog) yang ganasnya luar biasa. Sengatannya mampu membuat syok pada orang yang alergi. Setiap tahun, pasti bakal ada yang mati di Australia akibat serangan si semut ini.

Di sisi lain, zaman sekarang masih ada orang yang pas orang disemutin malah bangga, ‘Iya dong. Berarti gue manis.’

‘Iya, manis. Kematianmu juga akan manis. Huahahahaha. (ketawa jahat).’


Duh, ketularan bokap nih, psikopatnya keluar. Hehehe.

...
Oya, gue gembira banget karena banyak di antara kalian yang bilang kalau tampilan keriba-keribo sekarang jauh lebih fresh dibanding yang lama. Template-nya masih tergolong ringan untuk modem smartfren. Bikin mata adem. Headernya bagus. Meski lebih banyak yang memuji Aufa dibanding gue-nya. Jelaas.. gambaran dia memang bagus nan keren sekali (untuk Aufa, bayarannya ngutang dulu ya. hehe.)

Gue jadi makin semangat nge-blog nih. Jangan lupa main-main di Fb gue yang baru yah. Kita sharing tentang menulis ataupun blog di sana. Ramein aja serusuh-rusuhnya! Hehe. Kalau mau curhat dan curhatannya pengin gue jawab di blog, bisa kirim email ke krenoadidh@gmail.com

Udah ah, mau mandi dulu..
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, January 12, 2014

Tentang Wajah Baru, Dunia Maya, dan Nurul

Holaaaaa!!

Akhirnya keriba-keribo ganti wujud jugaa. Wohoooo!

Uh yeah. Gue suka banget tampilannya. Lebih fresh, tetep biru dan sederhana…walaupun agak banci dikit. Hehe. Menurut kalian gimana? Bagus ngga? Berat ngga? Bikin katarak ngga? Komentarnya yaa!

Gue menaruh link keriba-keribo dan said it sad, blog gue lainnya di sticker sebelah kiri. Liat aja kalo mau baca-baca tulisan ‘lain’ dari gue. Hehe. Selain itu, gue juga mindahin tab yang biasanya ada di atas menjadi di sebelah kanan. Kalau ada yang mau link blognya ditampilin di sini, tulis aja di blogroll. Jangan lupa taruh link keriba-keribo dahulu di blog kalian yaa.

Oya, gue mau terima kasih dulu buat Aufa yang udah bikin header keriba-keribo jadi lebih manusiawi…dan tetap menghancurkan mata kalian. Kepada kalian yang sudah memencet link ini, segeralah cek mata kalian. Hoho.

Ini adalah hasil-hasil gambaran Aufa yang lainnya:



Dan tiba-tiba, keahliannya menghilang setelah gue minta buatin header keriba-keribo:


Akhirnya gue minta dibikinin biar ganteng, tapi:


Kalau mau liat dan temenan sama dia, bisa follow twitternya di sini, atau instagramnya di sini.

Lanjut ke persoalan lain, belakangan sepertinya ada yang risih dengan cara gue menggunakan twitter. Banyak yang protes karena gue tidak membalas mention-nya. Benar, buat gue twitter adalah sarana mengungkapkan. Tempat sampah untuk membuang-buang ucapan, buat promosi diri sendiri, bukan untuk tempat chit-chat. Ngga percaya?  Follow aja @enggakeribo. :p

Maka dari itu, barusan gue membuat facebook baru. Gunanya biar kita bisa ngobrol dan chit-chat bareng. Biar ngga cuman dibatasi 140 karakter. Lebih puas. Buat yang suka baca keriba-keribo terus penasaran sama yang punya (walaupun pada akhirnya kalian akan menyesal) maupun yang gatel sama kata-kata gue di twitter yang sering satir, bisa banget main ke sana. Yang pasti wall-nya bakalan gue bales (karena belum ada temennya). Jadi silakan add gue di sini (diutamakan cewek. Yang cantik apalagi). Mari berbincang-bincang! :)

Baiklah, saatnya memberi tanggapan atas komentar di postingan Suatu Saat ketika Pikiran Jalan Sendiri:

Dari Roel Batu: serunya masa masa sma… udah pada kuliah ya sekarang, berarti Nurul udah gak lemot lagi dong XD
Tanggapan: Iya, udah pada kuliah. Nurul? ASTAGHFIRULLAH, TADI GUE TAROH MANAAA YA!!??

Dari hlga: wkwkwkwk cerita nurulnya lucu.. kasian sering dibully mulu. Titip salam buat dia ya. *lah
Tanggapan: Wahai hlga yang dimuliakan, kamu telah membuat suatu kesalahan besar karena nitip salam buat dia. Kalau mendadak ada bau-bau aneh di sekitar, cepet-cepet istigfar ya.

Dari Edotz Herjunot: Hahaha Jin dan Jun kampret. Gue bisa ngerti gimana kerennya dan asiknya momen masa-masa kalian SMA dulu. Walopun menikmati momen tahun baru bersama sesame jenis bukan sama pacar. Tapi menurut gue kayaknya momen itu jauh lebih keren. Kebukti, sekarang elo nulis postingan ini. Tentang temen-temen elo. Dan.. yah, hidup memang harus melaju ke depan, walaupun sesekali kita perlu menengok ke belakang.
Tanggapan: Pertama, gue dan Radit ngga satu SMA, kita temen pas SMP, dan naasnya… gue satu SMA sama Nurul. Iya, sepertinya gue khilaf nulis postingan kemaren.

Dari Joga Tjahja Poetra: merasa sendiri dalam keramaian? Gue sering, di malam tahun baru apalagi :)) yeah, semakin dewasa, semakin jarang ngumpul sama temen2 lama, udah pada nemuin hidupnya masing2 :”)
Tanggapan: kasihan. Kamu terlihat jomblo, Nak.

Dari tukang minder: kayaknya si nurul pakemodem sm*rtfren deh “katanya dia lemot :D nice post bro, jadi keinget temen smp yang udah almarhum, namanya nurul juga. :”)
Tanggapan: :”)


Segitu dulu deh. Semoga suka sama wajah baru keriba-keribo yaa!
Suka post ini? Bagikan ke: