Monday, October 20, 2014

Perihal Stand Up Comedy, dan Akhlak Berkomedi

Karena gue pikir blog ini ‘terlalu main-main’ untuk menuliskan hal yang ‘rada berat’, jadi jumat lalu gue mencari forum baru untuk bisa menuliskan opini gue. Setelah googling, gue nemu forum yang pas, yakni kompasiana. Hari itu gue langsung iseng bikin akun dan mempostingkan sebuah tulisan berjudul 'Stand Up Comedy, dan Akhlak Berkomedi'. Tulisan tersebut adalah pendapat gue tentang stand up comedy akhir-akhir ini dan perbandingannya terhadap format komedi lain. Tidak disangka, tulisan tersebut sangat ramai dikunjungi dan langsung menjadi headline dalam dua jam setelah tulisan itu di publish sampai hari minggu kemarin.

Karena merasa mendapat respons yang bagus, ada baiknya tulisan itu coba gue share ke kalian juga. Berikut adalah tulisan gue yang ada di kompasiana:

Humor, komedi, melawak, atau apapun kamu menyebutnya, seperti seni lain, adalah sesuatu yang bisa dipelajari. Hanya sedikit orang yang terlahir sebagai manusia 'yang benar-benar lucu'. Seorang penyanyi yang terlahir tanpa memiliki 'suara penyanyi', tetap bisa menjadi penyanyi dengan memelajari teknik bernyanyi; belajar nada, ketukan, cara pengambilan napas. Teknik-teknik terseebut adalah teknik dasar yang sepatutnya dipelajari oleh seseorang yang ingin menjadi penyanyi. Namun apabila kamu ingin dikenal sebagai seorang penyanyi dengan genre tertentu, tentu saja harus mendalami teknik yang berkaitan langsung dengan genre yang kamu pilih. Kalau kamu ingin menjadi seorang penyanyi dangdut, kamu harus berlatih cengkok dangdut. Kalau kamu ingin menjadi seorang penyanyi metal, kamu harus memelajari teknik berteriak yang keren. Layaknya penyanyi tersebut, seseorang bisa menjadi komedian dengan memelajari teknik-teknik dasar berkomedi. Apabila si komedian ingin dianggap lebih spesifik, seorang pelenong misalnya, ia harus jago berinteraksi dengan penonton. Apabila si komedian ingin dikenal sebagai komedian yang bisa bermusik, ia harus belajar main gitar.

Semua seni itu sama, setidaknya itu menurut saya. Mungkin ada orang yang sewaktu lahir ditiupkan roh seorang penari ke ubun-ubunnya, tetapi dia tidak akan ujug-ujug menjadi seorang penari kalau tidak berlatih menari. Sama seperti komedian.

Every art has a sexy part in itself.

Lebih jauh, akhir-akhir ini sedang ada satu seni yang menurut saya lagi happening: stand up comedy. Sebetulnya seni ini sudah sangat tua di Amerika, bahkan sempat masuk ke dalam serial Spongebob Squarepants. Di mana si Spongebob membicarakan tupai yang tidak bisa mencopot bohlam lampu. Sampai tahun 2011 stand up comedy mulai booming di Indonesia. Raditya Dika dkk membawa stand up comedy dengan misi 'menambah tipe' komedi baru di Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, seperti ada pergeseran paham dari orang-orang yang baru mengikuti stand up comedy. Mereka beranggapan bahwa stand up comedy adalah lawakan cerdas. Banyak yang mengatakan bahwa stand up comedy 'harus' mempunyai pesan moral di dalamnya. Lebih jauh lagi, orang-orang ini kerap merendahkan tipe komedi lain.

Buat saya, ini adalah pemahaman yang salah.

Sama seperti lenong, slapstick, dan komedi lain, stand up comedy adalah sebuah konsep komedi. Tujuan dari sebuah komedi tentu saja satu: membuat tawa. D. H Monro, dalam karyanya Argument of Laughter, bahkan menyebutkan tiga teori mengenai bagaimana orang tertawa. Hal ini menunjukkan bahwa ada banyak teknik yang dapat digunakan untuk membuat orang tertawa. Tujuannya sama, hanya tekniknya yang berbeda. Kalau di sepakbola kita menggunakan kaki, di bola basket kita melatih otot tangan, hal ini sama dengan komedi. Lenong menekankan kepada 'kedekatan kepada penonton', slapstick melatih kita untuk membuat tawa dari superioritas semu yang diberikan kepada penonton, sementara stand up comedy menekankan kepada teknik dasar membuat joke: setup-punchline.

Lalu bagaimana dengan pemahaman yang menyebutkan bahwa 'stand up comedy adalah komedi yang harus punya pesan moral'?'

Menurut saya, ini juga pandangan yang keliru.

Seperti yang saya katakan, tujuan dari penampilan setiap komedian, apapun genre-nya, adalah memancing tawa. Kalau stand up comedy dikatakan komedi yang wajib memberikan pesan moral, lalu disebut apakah Mitch Hedberg, Steven Wright (sebelum mengubah personanya), Panca Atis yang kebanyakan materi jokes-nya berupa oneliner? Bagaimana dengan komik lokal Bintang Bete? Tentu kita semua tahu bahwa komedi yang bergizi adalah yang memiliki pesan moral, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa pesan moral wajib dimasukkan ke dalam setiap penampilan komik.

Lalu bagaimana dengan lawakan cerdas?

Saya sendiri tidak tahu dari mana kalimat ini berasal. Kalau yang dimaksud cerdas karena harus membuat materi, menurut saya semua komedian (di luar genre stand up comedy) juga cerdas. Mereka semua harus berpikir dalam membuat joke/gimmick-nya untuk melawak.

Sule dan Andre pasti sudah mempersiapkan secara matang, membuat gimmick-gimmick baru di belakang panggung. Berpikir bersama. Begitu pula Dimas Danang dan Imam Darto. Siapa yang tahu bahwa Sasongko Widjanarko menulis dan menggonta-ganti lirik untuk membuat lagu setiap dia meminum kopi di acara Ini Talkshow?

Kalau itu yang dimaksud, setiap komedian, lebih jauh setiap seniman,  adalah orang cerdas. Mungkin yang lebih tepat adalah, menonton stand up comedy membutuhkan pikiran yang terbuka, yang tidak menutup diri pada opini orang lain. Karena kalau tidak membuka diri, komik akan kesulitan dalam menggiring opini ke kepala audiens. Hasilnya, lawakan yang dilontarkan menjadi tidak lucu. Hal ini seperti yang dipaparkan oleh Schopenhauer. Bahwa stand up comedy adalah perihal mengubah sebuah realitas. Bagaimana realitas penonton terhadap satu hal dibelokkan dengan realitas baru. Kalau si penonton tidak mau menerima realitas awal yang diberikan komika, maka akan terjadi ketidaksinkronan. Oleh sebab itu, menonton stand up comedy membutuhkan kewolesan tingkat tinggi.

Jadi, sebetulnya, stand up comedy sama saja seperti genre melawak lain. Buat saya, tidak ada genre komedi yang satu lebih cerdas dibanding yang lain. Karena menjatuhkan diri ke gabus, tidak berarti slapstick lebih bodoh dibanding stand up comedy. Karena konsepnya memang berbeda. Seorang musisi blues juga tidak mungkin menyebut pemusik grunge lebih bodoh/ tidak cerdas darinya hanya karena perbedaan genre.

Jawa, Bassist Maliq and d'essentials, mengatakan, 'Ketika di panggung, kamu harus berkata dalam hati bahwa IM SUPERSTAR! Gue lebih oke dari lo semua! tapi ketika tidak di panggung, kamu harus easy going, rendah hati, dan tetap mau belajar sama siapapun.'

Sekali lagi, tulisan tersebut adalah murni pendapat gue pribadi. Jadi, gue tidak mempermasalahkan apakah kalian harus setuju atau tidak. Kalau ada yang mau main ke akun kompasiana gue, silakan klik link ini. Kalau kalian pengin beli book keriba-keribo dengan rupiah, klik tulisan ini. Kalau mau membeli ebook dengan cara ngetwit, kliklink ini.


Share:

21 comments:

  1. Keren bang tulisannya. Otak gue berasa kenyang dikasih makan tulisan 'enak'.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, uus. Haha ini pas lagi iseng aja sebenernya. Eh gara-gara banyak yang tertarik, jadi dimasukin sini deh.

      Delete
  2. Dari awal ngebaca udah manggut-manggut juga dibs. Ciee yang tulisannya jadi headline di kompasiana. Traktir ebook berbayar traktirr! *eh. Overall, such a fresh and great opinion.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciee. Biasa aja kewles. Traktir? kan ada itu yang gratis, cuma bayar pake ngetwit. :))

      Delete
  3. Tulisannya keren kak. Kalo ada options like, pasti banyak like :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Masa sih, jadi malu. \:3/ *tabrakin diri ke dinding*

      Delete
  4. Gile, tulisannya berbobot nih.
    menurut gue, kenapa stand up disebut lawakan cerdas, selain karena seringnya menyisipkan pesan moral, itu karena komik biasanya membuat penontonnya ikut berpikir, dan akhirnya penonton akan berkata 'Iya juga ya' atau 'bener juga sih' dll. Jadi bukan cuma asal ketawa doang. Tapi nggak semua juga sih.
    Oke, ini cuma opini :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi kadang ada yang padahal emang otaknya cetek dan gak ngerti lawakannya, jadi ikut-ikutan ketawa karena takut dikatain. :))

      Delete
  5. wih keren bang..
    bener memang cerdas, karena membuat setup dan punchline nya itu mesti ditulis dulu..
    sebenernya mah yang namanya seni gak ada yang paling bagus, karena setiap orang menilai keindahan kesenian itu berbeda-beda. caileh gue sotau
    ya kayak misal musik blues lebih keren daripada dangdut, tapi untuk penggila dangdut, pasti kerenan dangdut dong. gitu hoho :D

    ReplyDelete
  6. Wih. Tulisannya keren abis. Gue setuju sama isi tulisan lo, di!.

    ReplyDelete
  7. Setuju. Btw, lo gak kenapa-kenapa kan, Di? Baik-baik aja kan? Tumben banget nulis beginian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak papa. Ini pas kebetulan lagi kebanyakan nyemilin bumbu mie kayaknya. :))

      Delete
  8. anjirrr berat banget tulisannya. sebenarnya ini masalah mindset orang yang udah ter-kotak-kotakan bahwa stand up comedy itu pasti lucu dan cuman orang cerdas yang bisa paham dan menikmatinya.
    sebaliknya, slapstick adalah komedi bodoh yang hanya orang bodoh yang bisa tertawa dengan komedi menjatuhkan diri ke gabus. kira-kira begitu, pikiran orang awam sudah di setting dengan default seperti itu sih, menurut gue

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nghooh.. mindset. Bukan miniset loh ya. \:D/

      Delete
  9. Gak heran sih kalo ini bisa masuk headline kompasiana..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue sih malah heran. Tapi nggakpapa deh, jadi ada postingan di blog. Hahaha!

      Delete
  10. opini yang bagus hohoho. mungkin karena baru dan berbeda jadi stand up comedy "sedikit" diagungkan, padahal ya sama saja dengan comedy lain tujuannnya. masalah pesan moral itu cuma bonus, banyak pesan moral tapi gak ketawa? ya percuma

    ReplyDelete
  11. keren abisss....susah untuk berkata2...

    ReplyDelete
  12. Bro keren! Tapi, kayaknya dasar Stand Up Comedy bisa dipakai, loh, buat nulis komedi. Terutama tentang setup sama punchline itu :)
    Join balik, ya, bro! kurussaurus.blogspot.com :D

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/