Saturday, May 17, 2014

Tantangan Karakter Fiksi!

Banyak yang tidak tahu, meskipun tulisan gue di blog ini kebanyakan haha hihi gak jelas, gue juga membaca hampir semua jenis buku. Malah, dua buku lokal pertama yang membuat gue jadi ingin menulis (setidaknya menulis di blog) adalah buku fiksi.

Nah, bicara soal fiksi, tidak lepas dari yang namanya karakter. Untuk membuat sebuah cerita yang kuat, kita membutuhkan karakter yang nyata. Karakter dalam sebuah cerita harus logis, seperti manusia di muka bumi pada umumnya.

Karakter-karakter dalam cerita tersebut, selain kita harus tahu bentuk fisiknya (rambutnya panjang atau tidak, perawakannya, bentuk giginya) kita juga harus tahu pola pikirnya. Bahkan latar belakang si tokoh. Kita harus membuat si tokoh benar-benar mirip dengan manusia, ia punya agama, bagaimana takdirnya, apa yang akan dilakukan ketika dihadapkan sebuah permasalahan tertentu. Neil Gaiman bahkan sering main dan kumpul dengan teman wanitanya sebelum membuat tokoh wanita di dalam novel-novelnya.

Terkadang, saking banyaknya pilihan dalam menentukan watak dari karakter yang akan kita buat, kita jadi bingung sendiri dan tidak konsisten. Maka dari itu, kita dapat membuat opsi lain selain membuat si tokoh, yakni dengan menemukan tokoh kita. AS Laksana, penulis sekaligus pengisi Ruang Kolom Putih Jawa Pos, memberikan cara termudah untuk itu: mewawancarainya.

Nah, jadi gue kembali membuat tantangaaaaaaaaaaaan! (semena-mena) Hehe.

Yosh.

Kemarin gue sudah mewawancarai tokoh Lintang di dalam kehidupannya di dunia cerita. Berikut kutipan wawancara gue dengan tokoh Lintang:


Aku baru selesai mandi dan langsung takjub ketika seluruh Anak dan Istriku duduk lesehan di depan tv, memandangi seseorang berbicara dengan lantang. Mereka mendengar dengan serius, ruang keluarga menjadi hening.

Selanjutnya, tidak tahu apa yang terjadi denganku. Badanku seperti tertarik sendiri dan ikut duduk di tikar bambu bersama mereka.

Setelah acara yang menampilkan koar-koar orang itu selesai, aku ingin terjatuh. Badanku tiba-tiba dapat digerakkan kembali. Penasaran, kucari tahu nama orang itu: Lintang.

Lintang tinggal di sebuah rumah dengan atap mirip kubah, di sebuah tempat di belakang gunung. Di pagarnya penuh tulisan ‘Awas Anjing Galak’. Namun, sudah terlanjur kuat nyaliku, maka kuminta satpam yang sedang duduk santai untuk menemuinya. Awalnya satpam itu bilang bahwa ia sibuk, tetapi setelah kuperlihatkan kartu nama dan ID Card wartawanku, ia mempersilakan.

Ternyata rumah orang ini unik—kalau tak boleh kubilang eksentrik. Ruangan pertama yang kumasuki penuh dengan guci dan lantai yang mengilap. Ubinnya besar-besar, seperti masuk ke supermarket yang menjual guci khusus untuk orang kaya. Aku mengucap ‘permisi’ dalam bahasanya, namun satpam itu segera menyuruhku menutup mulut. Katanya, ia sedang berada di alam lain.

Semakin ke dalam dan ruangan berganti ruangan. Telah kulewati ruangan yang seluruhnya dipenuhi warna merah dengan lukisan naga terbang besar di dinding. Juga ruangan yang baunya seperti aroma melati, tapi lebih busuk. Pun dengan ruangan yang dipenuhi kursi kayu goyang, sofa, dan televisi, mungkin itulah ruang tamunya.

Dan sampailah aku di dalam—tepatnya di bawah tanah—kutahu karena aku masuk melalui pintu yang berada di lantai. Di sebuah ruangan gelap itu, yang diremangi lilin-lilin di sekitarnya, orang itu duduk bersila. Aku mengucap ‘permisi’ sekali lagi dan si satpam segera menyuruhku menutup mulut kembali.

‘Jika kau ingin bertanya, bertanyalah dengan menulis. Si satpam menyodorkan papan tulis kecil dan sekotak kapur. ‘Diam dan menulislah,’ katanya lagi.

Aku kemudian menuliskan pertanyaan pertama: ‘Apa benar namamu Lintang?’

Si satpam mengambil papan tulis kecil itu, lalu ia menyerahkannya ke depan Lintang. Mata Lintang tetiba terbuka dan melotot ke arah papan tersebut. Ia mengerang. Meringis. Tanganku dingin.

Ia mengangguk.

Lalu pertanyaan lanjutanku: ‘Kenapa sewaktu kau berbicara di televisi, orang-orang seperti terhipnotis, tidak dapat menggerakkan badannya?’

Ia hanya mengerang, tangannya menggaruk-garuk tanah dan bebatuan di tempatnya duduk.

Aku menulis lagi, ‘Apa kau melakukan hipnotis?’

Ia kembali mengerang. Perilakunya seperti macan, dan sekarang kepalanya berada lima senti di depan kepalaku.

Aku bertanya kepada satpam, apa aku boleh membuatnya menjadi waras—agar tanya jawab ini cepat selesai dan ia tak perlu kulaporkan apa-apa ke media—dan ia pun setuju. Sebagaimana orang-orang kecil yang tunduk pada ancaman, satpam ini akhirnya mengambil sebuah kendi di belakang orang itu. Ia kemudian menaburkan bebungaan lantas mengucurkan kendi tersebut ke telapaknya dan membasuh wajah Lintang. Beberapa jenak dan Lintang tersadar.

‘Bagaimana kalau kau sedang tidak bekerja di sini? Apa ia akan waras dengan sendirinya?’

Si satpam hanya menaikkan tangannya, tidak menjawab pertanyaanku.

Kami kemudian pindah ke ruangan yang berisi kursi goyang kayu, sofa, dan televisi dan tebakanku benar bahwa ini adalah ruang tamu. Lintang sudah sepenuhnya sadar ketika si satpam menjelaskan kedatanganku ke sini. Ia melempar kausnya yang penuh keringat ke atas kursi goyang. Kami duduk lesehan di depan sofa.

‘Kau tidak mau memakai kaus dulu?’

‘Tak perlu,’ katanya. ‘Ini kebiassaan.’

‘Baik, akan kuulang pertanyaanku, ‘Apa benar namamu Lintang?‘

‘Apa maksudmu? Tentu saja begitu.’

‘Lalu, kenapa sewaktu kau bicara di televisi, kami mendadak tak dapat menggerakan badan? Semua baru bisa digerakan ketika acaramu usai.’

‘Aku menggunakan hipnotis.’

‘Hipnotis? Hipnotis bagaimana?’

‘Apa urusanmu?’ matanya melotot.

Aku mengeluarkan kartu nama dan ID Card wartawanku dan ia kembali tenang.

‘Mungkin kau melihat ada sekelebat benda hitam yang pergi dari rumahmu sewaktu acaraku selesai. Aku menggunakan benda hitam tersebut untuk menghipnotis penonton.’

Aku heran, sesungguhnya aku tidak melihat apapun pada hari itu. Maka kukatakan hal itu padanya: ‘Aku tidak melihat apapun.’

‘Itu salahmu,’ katanya. ‘Aku telah menjelaskannya dengan benar dan jujur dan kau tidak memercayainya. Wartawan macam apa kau ini?’

Aku kemudian mencatat di note kecil bahwa benda hitam itu berpengaruh besar terhadap acaranya. ‘Apa kau menyebar benda itu ke seluruh rumah di dunia ini? Bagaimana cara kau menyebarnya?’

‘Itu rahasia.’

‘Lalu apa motifmu?’

‘Motif?’

‘Kenapa kau melakukan semua ini?’

‘Ini demi Ibuku.’

‘Ceritakan tentang ibumu.’

‘Tentu aku tidak akan menceritakannya, namun kau pasti akan menggertak dengan ID Card itu lagi, maka kuceritakan seperlunya saja,’ katanya. ‘Ibuku, tadinya adalah orang yang suci. Sebelum ia bertemu keparat itu.’

‘Siapa dia?’

‘Entahlah.’

‘Lalu?’

‘Keparat itu adalah seorang pegawai negeri. Jabatannya tinggi. Aku melihatnya pertama kali ketika usiaku 6. Di sekelilingnya kulihat banyak benda hitam. Ia penghancur keluargaku. Ayahku sering bertanya siapa dia dan Ibu hanya menjawab bahwa ia adalah orang yang baik, sering membantunya di kantor. Ayah tak percaya.’

‘Nama orang itu?’

‘Entahlah. Aku tidak tahu. Ayah mungkin juga tidak tahu. Tapi yang kutahu, ia memiliki banyak benda hitam, seperti yang kukirim ke rumah orang-orang ketika menonton acaraku.’

‘Lalu apa rencanamu?’

‘Aku ingin sewaktu si keparat itu menonton acaraku, ia sadar akan adanya benda hitam itu, lalu tahu bahwa aku adalah anak dari perempuan yang direbutnya dari Ayah. Aku ingin meninju kepalanya sampai hancur.’

‘Sekarang di mana Ayahmu?’

‘Ia ada di halaman belakang.’

‘Sedang apa?’

‘Tidur. Di dalam tanah. Ia mati depresi karena cintanya terhadap Ibu tidak tersalurkan. Begitulah, ia mencintai Ibu. Ibu memilih si keparat karena benda hitam itu dan Ayah memilih tambang untuk disangkutkan ke leher. Aku cinta Ayah Ibu.’

‘Sekarang di mana Ibumu?’

‘Entah. Makanya aku mengisi acara itu. Orang-orang berpikir bahwa aku adalah orang yang mampu memotivasi orang dan aku tidak peduli. Acara itu tak lain adalah alat untuk aku menemukan Ibuku.’

‘Lantas kalau kau sudah menemukan Ibumu, apa yang kau lakukan?’

‘Aku ingin menunjukkan Ayah kepadanya.’

‘Hanya itu?’

‘Aku ingin meninju si keparat sampai hancur.’

‘Hmm baiklah,’ kataku sambil berdiri. ’Cukup sampai di sini pertanyaanku. Kupikir kau adalah orang yang busuk. Nyatanya tak begitu, hanya caramu yang busuk. Semoga kau cepat bertemu Ibumu.’ Aku pamit dan menyalami tangannya.

‘Kalau bertemu Ibuku, katakan aku cinta dia juga suaminya yang dulu.’

Aku tersenyum dan meninggalkan rumah yang dipenuhi ruangan-ruangan aneh tersebut. Si satpam mengawalku sampai ke depan pagar. Mulanya ia meminta tip karena sudah menghabiskan waktu majikannya untuk mengambil benda hitam, tapi kusodorkan kartu namaku, ‘telepon aku. Uangnya akan kukirim lewat majikanmu.’


Kalian juga bisa melakukan wawancara terhadap anakku, istriku, si pegawai negeri, Ayah Lintang, maupun, Ibu Lintang untuk mengetahui latar belakangnya. Dengan adanya wawancara tadi, mudah-mudahan kalian tidak tersesat dengan inkonsistensi watak dari si tokoh yang akan kalian ciptakan sewaktu menulis.

Sekaraaang, dari latar belakang tokoh Lintang tersebut, kalian harus membuat cerita pendeknya. Ini dia cerita versi gue: Pertempuran Benda Hitam.

Kalau sanggup dan tertantang, link tulisannya silakan ditaruh di kotak komen bawah ya, biar bisa dipajang dengan menawan!


Share:

25 comments:

  1. ini maksut tantangannya meneruskan cerita itu ? bnar begitukah ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbikin cerita dari hasil wawancara itu. Contoh ceritanya yang Pertempuran itu. :))

      Delete
  2. keren nih penulisannya.. gue aja gak bisa segitunya..

    ReplyDelete
  3. Oh gitu ya. Udah gitu aja. Bye.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ih, jangan gitu aja kali, Ma. Ikutan main. :))

      Delete
  4. oh nantang nih.. nantang...??
    beneran nantang? yaudah gua cuma nanya..

    ReplyDelete
  5. Kita harus jadi Tuhan buat menghidupkan tokoh fiksi. Ga boleh main-main emang.
    Ini saya juga lagi belajar psikologi kepribadian.

    ReplyDelete
  6. Bagus banget, sayang bukan tipe bikin fiksi. Kayaknyabseru nih kalau ada yang berani jawab tantangan abang.

    ReplyDelete
  7. ini tumbenan bang nulis nya kaya orang bener. _,_

    ReplyDelete
  8. bentar deh bang, kenapa pas baca postingan lo yang cuma haha hihi gak jelas, gue malah paham, nah giliran baca postingan serius gini, gue malah mikir keras saking gak pahamnya -__- jangan2 gue udah terkontaminasi postingan lo yang gila2 gitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHA RASAKAN KAU LILIS RUSMIA KUSUMAWATI SUTARDJO MANGUNKUSUMO! *ganti2 nama orang seenak jidat*

      Delete
  9. Mirip konsepnya kayak wawancara tokoh di buku A.S. Laksana ya..
    Tokoh utama, ibu, sama ayah. Keren-keren..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kan emang di atas bilang itu dari dia vin..

      Delete
  10. sebagai orang yang bercita-cita jadi penulis juga "gue merasa gagal" Kenapa? Kenapa? Kenapa bukan gue yang diwawancara?? *Ah lupakan

    ReplyDelete
  11. Yup, menciptakan karakter fiksi emang sulit. Selain kita harus menciptakan emosinya, sifatnya, kita juga harus perhatiin voice nya. Brrrr....

    ReplyDelete
  12. Nantang nih ceritanya ? :v

    ReplyDelete
  13. iya samaa, yang bikin gue tertarik nulis itu dari cerita-cerita fiksi.

    ReplyDelete
  14. Hei, lo dapet Liebster Award dari gue http://aulizaizaa.blogspot.com/2014/06/the-liebster-award.html

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/