Wednesday, April 30, 2014

Postingan Misterius

//Ini adalah postingan misterius//

Halo, salam semuanya.

            Aku adalah si merah. Oke, sebenarnya merah hanyalah nama tengahku. Terserah tuanku mau menambahkan apa pada depan dan belakang namaku. Si Merah Butut, Mesin Merah Biadab, Benda Merah Sialan. Iya, apapun. Tuanku memberiku nama tengah merah karena warnaku. Bukan merah setara malu-malunya wanita, tapi merah pijar api. Merah redam. Sayangnya, tuanku tidak menyukai warna merah. Ia lebih menyukai warna susu, atau hitam, atau biru. Ia hampir menempeliku dengan lembaran kertas warna susu supaya sesuai dengan kesukaannya. Namun, untungnya hal itu belum terlaksana. Jadilah aku masih menyala-nyala sampai sekarang.

            Aku sebenarnya bukan benda mati. Aku benda hidup, sama seperti manusia, sapi, kuda, mangga, hiu, ilalang, meranti. Aku hanya berpura-pura mati ketika tuanku menekan-nekan tubuhku. Aku tersenyum walau tuanku tidak tahu. Ia terlalu serius menatap kalimat-kalimat di layarku. Menggonta-ganti kata, membuat unsur-unsur komedi, memanipulasi alphabet, memukul-mukul spasi, membenamkan backspace. Lihat saja, sekarang aku juga bisa menulis. Benar, menulis, seperti yang dilakukan tuanku pada halaman-halaman sebelum ini.

            Awalnya aku jengah karena harus memelototi rambut yang dianggapnya lurus itu. Huh, lurus apanya. Mencong sana-sini begitu mengaku lurus. Tak ada malunya dia. Tetapi, lama-kelamaan aku menikmati juga tekanan jemarinya pada tombol-tombolku. Aku mulai mengenalnya—tuanku yang berbadan ceking itu—saat ia rajin menulis. Ia jadi tidak terlalu memperbabu aku. Ia mulai rajin merawat dan mengelus-elus badanku. Mengusap dan meniupi muka—atau dalam bahasa manusia adalah layar—ketika diserang semut dan debu. Tentu saja kemesraan kami tidak dalam konteks homoseksual. Walaupun aku jantan dan ia lelaki, tetapi penyamaranku yang membuat manusia mengira bahwa aku benda mati akan menghilangkan status homo antara aku dan tuanku.

            Baiklah, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk aku membeberkan kepada kalian tentang tuanku dan tentang apa yang kalian pegang ini—keriba-keribo.

            Nama tuanku adalah Adi. Kresnoadi tepatnya. Kesan pertama begitu kalian melihatnya adalah badannya yang kerempeng, tulang-belulangnya yang padat, keras, seakan hanya dililiti urat dan ditempeli kulit. Wajahnya datar serupa pelamun. Tuanku—sejauh yang aku kenal—adalah seorang pemalas. Pemalas bukan sembarang pemalas. Ia pemalas yang bekerja keras. Pola pikirnya sedikit edan, mungkin itu yang membuat rambutnya belingsatan ke sana-sini. Di antara warna susu, hitam, dan biru, tuanku adalah si maniak biru. Jangan heran kalau kau melihatnya berwarna biru dari kepala sampai tumit. Biru, biru, dan biru. Maka pesanku satu: jangan sekali-kali kau ceburkan tuanku ini ke laut. Selain perenang yang buruk, ia juga sulit dibedakan dengan warna air.

            Tuanku, tuanku. Dialah seorang cuek. Ia cuek kepadaku, kepada perempuan-perempuan, kepada lelaki, kepada kuda, kepada tanah, kepada rerumputan, dan ia cuek kepada dia. Engselku telah menjadi saksi atas kepayahannya menjadi pemerhati. Seenaknya saja ia meletakkanku ke ransel, lalu dibawanya belingsatan oleh motor bututnya. Ugal-ugalan. Sekarang, mengangalah ini engsel kananku. Baru tahu rasa si bedebah itu—untuk kasus yang satu ini, sepertinya tuanku layak dijuluki bedebah.

Kamis, August 21 2013

            Olala. Sesaat setelah wajahku ditegakkan aku melihat tulisan ‘'free wifi’. Duduk di depanku adalah orang yang tak ku kenal. Tampangnya sangar. Di mana tuanku?

          'Nih.’  Tuanku mendekat, menyerahkan segelas susu kepada pria belah tengah di hadapanku, kemudian menaruh gelas berwarna hijau di sampingku. ‘Itu kayaknya di belakang kursi ada colokan, deh. Charger ada di tas. Katanya hape lu batrenya abis.

            Enak sekali mereka, duduk di sofa empuk. Dapat menenggelamkan setengah pantatnya begitu, sementara aku digeletakkan di atas meja kayu. Keras, dan… cokelat muda. Huh, aku benci warna cokelat. Terkesan kotor dan bau.

            Gimana, enak ngga?’ tuanku bertanya ke orang di hadapanku.

Kenapa wajah tuanku mendadak cemas? Ataukah itu minuman rekomendasi tuanku sehingga ia takut kalau orang di hadapanku ini tidak suka?


//bagian pertama//
Share:

17 comments:

  1. Nasib kita sama bang. Sama-sama gak bisa renang hoho

    ReplyDelete
  2. si merah yang misterius, nunggu bagian yang kedua deh :D

    ReplyDelete
  3. Udah ketebak dong sama gue...
    Ini cerita tentang laptop lo yang bisa menulis kan?
    keren.. keren... Lanjutin dongg. Gantung ceritanya :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tunggu. Sesungguhnya postingan ini hanya dapat dipecahkan oleh kaum yang terkucilkan. Apa kamu dikucilkan?

      Delete
    2. Tidak, aku tidak kutilkan. Bahkan, sekarang aku tidak punya kutil.

      Delete
  4. sekarang pada ceritain benda mati ya ?
    Kevin juga gitu minggu-minggu lalu. :D

    ReplyDelete
  5. Ceritanya gantung nih, lanjutin dong. Sejauh ini keren.

    ReplyDelete
  6. Untung laptop gue gak gue bolehin nulis di blog, bisa-bisa dia bilang ke semua orang kalo gue paling ganteng, malu kan gue.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jelas iya.. temenmu kan kambing semua.

      Delete
  7. Aku sebenarnya bukan benda mati. Aku benda hidup, sama seperti manusia, sapi, kuda, mangga, hiu, ilalang, meranti.

    MANGGA?? Sejak kapan Di, sejak kapan??? Ini bener-bener blog yang menyesatkan... Tapi, mengasikkan...
    Blog lo kaya mie instans Di, mengandung penyakit. Tapi enakkkkkk......

    ReplyDelete
  8. gua curigation si merah mau di jual. :o

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/