Friday, April 18, 2014

Kardus dan Terong*


Aku duduk di bangku plastik. Dahiku berkeringat. Tegang. Aku yang lain tengah menunduk di balik mobil. Memeriksa perlengkapan. Mengecek situasi. Sebentar masuk ke ruang belakang, melihat sandera. Aman. Masih tiga.

Aku yang lain mengambil flashbang, bersiap akan kedatangan mereka. Aku berjalan perlahan. Melewati koridor. Lalu bersembunyi di balik kotak besar entah tempat apa, mungkin persenjataan. Mereka datang. Aku mengusap tangan ke paha. Basah. Jantungku berdegup kencang.

‘Come on, guys.’

Aku melempar flashbang. Mereka kocar-kacir. Kutarik pelatuk AK-47 milikku ke segala arah. Lantas berlari ke belakang. Menuju sebuah rak yang di atasnya terdapat kacamata inframerah. Kuambil. Kupakai. Lantas menuju tempat berdarah itu. Tiga. Tidak, hanya tinggal dua orang. Asap mulai hilang. Kulihat baju mereka biru tua. Ada yang mengenakan sejenis helm pelindung. Di tangannya M-16 dan sebuah granat.

Aku berlari ke lantai dua. Kudengar suara jantungku semakin keras. Kubidikkan senjataku ke kepala si pemakai helm. Belum sempat menarik pelatuk, punggungku tiba-tiba terasa panas. Perih. Aku balik badan. Ternyata orang yang tadi menghilang menikamku dengan belati. Darahku menetes cepat.

Aku kabur ke ruang sandera.

Aku mengacak-acak rak kecil tempat kacamata inframerah. Di laci kedua kutemukan kotak putih, obat-obatan. Lumayan. Darahku tidak sederas tadi.

Aku kembali ke luar. Tiga. Dua. Satu. Aku menunduk, melewati lorong kecil, menunggu sasaran. Hanya kulihat satu target. Ke mana yang dua?

Aku panik dan memeriksa sekitar. Tidak. Granat. Aku langsung meloncat ke samping. Tapi ledakkannya cukup dahsyat sehingga kaki kananku terkoyak. Aku tertatih-tatih. Mendadak betis kiriku terasa panas. Entah tembakan dari mana lagi. Lalu daguku kena. Lalu pundak. Lalu lengan. Darah mengucur. Aku berusaha menghindar namun kepalaku hancur dihajar M-16.

‘Kurang ajar.’
‘Setan!’

Aku mengobrak-abrik komputer yang ada di depanku. Kulempar semuanya. Petugas mendatangiku. Ia membawa belati dan menikamkannya ke lenganku. Aku mengantuk.

‘Suntikan ini akan menenangkanmu.’

‘Sekarang, kardus dan terong buat tembak-tembakan. Besok apa? dasar gila.’



*) cerita ini diikutsertakan dalam flash fiction pipet.

*) cerita ini terinspirasi dari Bab Fatima, Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa, karangan Maggie Tiojakin.
Share:

14 comments:

  1. besok botol bekas yang dibikin bazooka atau geranat :D
    ternyata pasien rumah sakit jiwa yak....
    nice post gan :D

    ReplyDelete
  2. Makin jago Adi skrg bikin fiksi nya...
    Lanjutkan, Di...

    ReplyDelete
  3. wihh keren nih, fiksinya. gue belum tentu bisa.
    gue kira beneran perang2an kek the raid ternyata orang gila -__-

    ReplyDelete
  4. fiksi kalo dibuat dengan tokoh utamanya merupakan pengalaman penulis di dunia nyata, emang hasilnya bisa luar biasa.... mantep...

    ReplyDelete
  5. orang gila.. orang gila.. orang gila..!!! :3

    ReplyDelete
  6. Hampir menyentuh bagian akhir gua kira lu lagi maen CS, Di. Ternyata eh ternyata...

    ReplyDelete
  7. Hahahahha ternyata orang gilaaaa xD

    ReplyDelete
  8. Yaelaaaah, orang gila hahahaha. Keren bang! Lanjuuuut!

    ReplyDelete
  9. Ohh ini blog yg authornya suka komen di postingan gue xD hagahaha Twitter lo apa sih? Gue penasaran kaya pernah tau hahahahah

    ReplyDelete
  10. gak tahu kenapa baca ini langsung inget toni blank.
    good luck ya...

    ReplyDelete
  11. Monkey.

    Ternyata cuma khayalan orang gila. Wahahaha tapi bagus di. Setupnya enak banget dan puchlinenya langsung bikin gue ngakak!. Keren di...

    ReplyDelete
  12. Seet dah ternyata orang gila, tapi BTW
    Wah keren cara tellingnya, ajarin dong gan ?

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/