Friday, March 21, 2014

Renungan Pagi-pagi

Malam itu, gue baru saja selesai mandi. Capeknya badan karena seharian menghadiri acara toys and comics festival membuat gue memutuskan untuk langsung menggeletakkan diri di depan tv. Di lantai ada nyokap sedang duduk sambil memegang piring makanan, sesekali menyuap kangkung dengan tangannya. Di kursi panjang ada bokap selonjoran.

Acara di tv menayangkan sebuah adegan di mana seorang bocah tambun sedang berjongkok di depan rumpun bambu dengan diiringi backsound menegangkan (entah kenapa acara sekarang senang sekali menggunakan musik horor). Lalu tiba-tiba datang segerombolan pemuda membawa obor seperti mencari sesuatu. Si anak kecil berada di tengah-tengah para pemuda.

‘Pak, aku di sini, Pak,’ kata si bocah, melambaikan tangan di depan muka salah satu Bapak.

Si Bapak celingukan, seolah tidak melihat bahwa si bocah gendut itu berdiri persis di depannya.

Tidak berapa lama, para pemuda itu pergi begitu saja. Gue tidak mengerti, hanya tertawa-tawa kecil.

‘Bu, itu maksud film-nya apa sih?’ kata gue ke nyokap.

Nyokap menaruh piring ke lantai,’ Oh, itu pasti gara-gara si anak main petak umpet abis maghrib, terus diculik kolong wewe,’ katanya. ‘Makanya yang nyariin ngga ngeliat. Mereka udah beda dunia.’

Gue hanya ber ‘oh’ sambil tertawa.

Nyokap lalu pergi mandi. Gue diam sebentar, kemudian mengganti saluran tv.

Buat gue, lucu aja. Secara tidak langsung, acara tadi mengatakan bahwa jangan main petak umpet malem-malem nanti diculik kolong wewe.

Kenapa ya, kita lebih senang menggunakan kata jangan dalam usaha penyingkiran sebuah pilihan.

Jangan lari-larian di dalam rumah, nanti jatoh.

Jangan makan dengan tangan kiri, ngga sopan.

Kita lebih senang memasukkan pikiran-pikiran negatif ke dalam kepala orang lain, untuk membuatnya memilih pilihan yang lain. Atau emang bawaan orang Indonesia ya? Memberi tahu hal-hal buruk supaya melakukan hal baik. Kenapa tidak langsung saja memberikan akibat apa yang didapat ketika kita melakukan hal baik?

Jangan lupa belajar, nanti ngga naik kelas.

Lho, ngga belajar? Nanti remed aja baru tahu rasa.

Bahkan sejak kecil, pikiran kita telah disuguhkan dengan pengetahuan bahwa kalau kita berbuat jahat, nanti kita masuk neraka. Dan di neraka lidah kita bakal dipotong, badan kita disetrika. Dan pada akhirnya kita menjadi takut untuk berbuat jahat.

Orang kita lebih sering menggunakan hal-hal negatif dengan permakluman: kan tujuannya baik. Kami membuatnya takut.

Maksud gue, emangnya kenapa kalo kita memberikan pengetahuan moral dengan cara menyebutkan hal-hal baik yang didapatkan dari hal baik lainnya?

Jalan kaki di dalam rumah dapat membuatmu sehat, Nak. Kau tahu, orangtua dalam iklan susu yang senyumnya tulus selalu berjalan kaki ke mana-mana , bukan?

Kenal kah kau dengan Habibie si pembuat pesawat itu? Ia selalu mulai belajar lebih pagi dari teman-temannya. Maka belajarlah beberapa menit lebih awal, agar kelak kau dapat menerbangkan mimpimu setinggi pesawat-pesawat itu.

Sadar atau tidak, budaya dan tradisi berpikir seperti inilah yang akhirnya membuat kita seringkali tidak tulus dalam berkegiatan. Kita, orang Indonesia (karena gue ngga tahu cara berpikir orang luar), cenderung melakukan sesuatu hanya untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar. Datang pagi ke kantor cuman karena takut dimarahin bos, mengerjakan pr cuman biar tidak dihukum dan dipermalukan di depan kelas.

Hal ini, menurut gue, menyebabkan efek domino yang lain.

Untuk membuat diri kita seolah lebih unggul, lebih baik daripada orang-orang lain, kita harus menjatuhkan orang lain tersebut. Membuatnya terlihat jelek.

Si anu mukanya penyok. Mending pilih saya!
Tapi si anu kalo duduk, kursinya langsung anget. Mending pilih saya!

Hasilnya jadi saling sikut-sikutan. Semrawut deh bangsa ini. Hehe.

Memangnya untuk meningkatkan kualitas diri sendiri itu susah? Ya memang susah. Hehehe.

Duh, kambuh lagi deh gue nulis ngga jelasnya. Gara-gara deket pemilu dan mulai banyak yang saling ngejatohin nih.  

Gue hari ini bakal pergi ke Magelang setelah entah terakhir kali kapan. Gile. Gue excited abis…sampai nyokap bilang, ‘Dek,jalur pantura lagi dibenerin, bis kita nanti lewat jalur selatan.’

Oh, aku lemah jalanan bergoyang. Sepertinya nanti bakal bermesraan bareng antimo nih. Hehe.

Jadi, apakah Kresnoadi bakal selamat dan tidak muntah sampai ususnya keluar (ekstrem) ?

Apakah Kresnoadi bakal turun dari bis dengan menawan?


Kita lihat saja nanti.
Share:

15 comments:

  1. Aku selalu suka cara menulismu, Di. Keren :)

    ReplyDelete
  2. BTW, gue nonton nih acara diculik kalong wewe..
    wahahaha.. :D

    ReplyDelete
  3. wah keren ni brooo kreatif abisss
    mampir ke blog gw ya bro:D

    ReplyDelete
  4. Tulisannya cerdas nih. Aku sih yes, gak tau deh kalo mas Dha... sudahlah.
    Semoga Allah melindungi perjalanan kalian :)

    ReplyDelete
  5. Nah, bener tuh. Seharusnya, untuk melakukan penyingkiran pilihan, orang tua tidak perlu menasihati dengan hal negatifnya. Ya contohnya tadi :

    jangan main petak umpet malem-malem nanti diculik kolong wewe.

    Padahal untuk menasihati, kita bisa ambil sisi positifnya seperti :

    'Kalau sudah malam, kamu tidak boleh bermain lagi. Karena kita (orang islam) harus menunaikan shalat, Nak. Agar engkau nanti bisa masuk surga.'

    Gue bener gak di? (tumben gue bijak)

    ReplyDelete
  6. Huahahah. Postingan baru kita samaan, Di.
    Memasukkan unsur kolong wewe didalamnya, tapi lo lebih detail memberikan penjelasan tentang kolong wewe itu. Apakah engkau menyukainya? :))

    Memang. Gue juga heran perlakuan orang tua terhadap anaknya sejak kecil. Mereka memberika sugesti yang tidak baik seperti... menakuti-nakutinya supaya takut melakukannya. Contoh sederhananya, sih. Di negara kita cerita khusus anak-anak selalu berkaitan dengan durhaka. Anak-anak selalu dituntut untuk takut kepada orang tua. Kampret!

    Btw, ada angin apa, Di. Kok tulisan jadi bijak gini? Hahaha.
    Oiya, ternyata depok gue deket sama unpam. Lo bisa main-main kerumah gue kalau mau. :p

    ReplyDelete
  7. waahhh bener banget ini, jadi bikin mikir.. *bukan yang bagian diculik kolong wewe*

    ReplyDelete
  8. Kalau ga boleh pake jangan, kasihan dong leluhur yg udah cape-cape bikin kata jangan dalam bahasa Indonesia.
    Yg pasti, semoga selamat di perjalanan. Baik perjalanan menuju Magelang maupun perjalanmu dalam meniti karier dan asmara. Tsah~

    ReplyDelete
  9. gua setuju sama postingan ini. kita emang terlalu byk direcoki pikiran negatif, dan parahnya malah dimulai dari lingkungan keluarga. bahkan ada yang melarang anaknya sambil membentak. entah bagaimana kondisi psikis anaknya nanti.

    btw, semoga selamat sampai tujuan ya

    ReplyDelete
  10. Sama kayak peraturan di sekolah, isinya kebanyakan "dilarang blablabla...."

    Pas ditanya kenapa gitu: kan tujuannya baik. ( '-')/

    ReplyDelete
  11. Bingung mau komen apa,cuma bisa angguk2 baca postingan ini..

    Kenapa? "Kebiasaan sejak jaman ketumbar" mungkin....

    ReplyDelete
  12. memasukkan kata "jangan" itu udah kayak kebiasaan, pas ngomong pake kata "jangan" gue selalu gak sadar. seperti udah mendarah daging. yah begitulah -,-

    ReplyDelete
  13. Wewe nya udah ada di paralel world. Kisah nya sci-fi gini ya :)

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/