Monday, January 20, 2014

Pada Malam Keakraban Itu

Seperti halnya pertemuan, perpisahan juga merupakan hal yang mutlak terjadi. Sabtu kemarin, satu jurusan kelas gue membuat semacam acara perpisahan menjelang perubahan status menjadi mahasiswa tingkat akhir. Kelas kita membuat semacam malam untuk semakin mengakrabkan diri di puncak.

Menurut gue, hal seperti ini sangatlah asik mengingat tiap mahasiswa sudah sibuk mengurusi penelitiannya sehingga jadi jarang ketemu…sampai Adha, sang pembuat acara, mengumumkan agar kita bermain sebuah permainan yang bernama the guardian angel.

Satu persatu lingkaran orang yang duduk di hall dengan ubin yang terbuat dari kayu disuruh berdiri, lantas mengambil sebuah kertas yang berisi nama mahasiswa lain.

‘Orang yang namanya kalian ambil, adalah orang yang harus kalian jaga,’ jelas Adha. ‘Kalian harus menjadi malaikat penjaga mereka selama kita di puncak ini! Sebelum pulang, nanti kita evaluasi, apakah benar kalian menjaga atau tidak!’

‘Gila, ftv banget nih,’ pikir gue, sekilas terbayang penginapan kita bakal kebakar, kemudian gue masuk menerjang kobaran api, keluar sambil membopong orang yang gue jaga, temen-temen menyoraki, gue terbatuk-batuk, jatuh, terus dikubur di taman makam pahlawan.

Namun, permainan ini malah dimanfaatkan oleh Yogi, temen gue yang poninya hampir menusuk mata, 'Nanti gue ngumpet aja. Kalau ada yang nyariin, berarti dia guardian angel gue!’ Yogi menjentikkan jari, ‘Setelah itu, tinggal gue suruh-suruh deh. Ngambilin makan, mijitin, nyari selimut. Enak banget!’

Syahrul, teman gue yang taat beragama, menepuk-nepuk pundak Yogi, ‘Astaghfirullah Yogi..,’ katanya. ‘Bener juga yak!?’

Gue pun mengambil kertas yang disediakan Adha. Di dalamnya tertulis nama ‘Wida’, teman satu dosen pembimbing skripsi gue.

Buat gue, menjaga Wida sangatlah mudah. Selain dia tidak suka kegiatan aneh-aneh yang membahayakan keselamatan (seperti memborgol kaki sendiri dengan ban serep lalu nyelem ke kolam), dia juga sudah punya pacar yang badannya lebih gede dan keker daripada gue, which is lebih jago ngelindungin Wida dibanding gue…yang kalo sendalnya ilang aja jerit-jerit kayak orang kesurupan.

‘Yak, sekarang acara bebas!’ Adha berteriak, ‘nanti kita kumpul lagi jam 2!’

Gue bersama mahasiswa lain langsung mencari kamar untuk menaruh barang-barang. Sepanjang jalan dari hall, kita mencoba mengembuskan napas, mengecek apakah keluar asap dari mulut seperti orang-orang Eropa di musim dingin.

Meski gerimis, orang-orang antusias untuk berenang. Gue dan beberapa teman hanya memandangi dari balkon sambil gitaran dan nyanyi-nyanyi ngga jelas.

Pukul 2 siang, kami kembali ke hall. Gue sudah mengganti celana menjadi celana jeans pendek.

Adha berdiri di tengah, membuka suara, ‘Buat pola melingkar! Kita akan bermain Truth or dare!’

Anak-anak riuh. Gue mengusap-usap lutut sambil sesekali menarik napas, grogi.

‘Gue akan memberikan pulpen kepada salah seorang dari kalian! Nanti Dimas akan bernyanyi, dan selama dia nyanyi, kalian harus membuka tutup pulpen tersebut dan menaruhnya di ujung belakang pulpen, kemudian operkan pulpen itu ke sebelah kalian. Dia harus membuka tutup pulpennya, kemudian memasukkan ke ujung yang lain. Begitu seterusnya!’

Dimas mulai bernyanyi, anak-anak bersorak, pulpen mulai dioper.

‘Yak, stop!’ Dimas keluar dari balik meja tempatnya menyanyi.

Pulpen berhenti di tangan Arif Kampung.

Adha menyuruh si Kampung untuk berdiri di tengah lingkaran. Si Kampung gelagapan. Anak-anak mendesak. Pulpen kembali diputar dan berhenti di tangan Yusril.

‘Nah, elu mau truth atau dare ?’ Yusril menunjuk si Kampung.
‘Truth..’
‘Ada ga, orang yang elu suka selama ini di kelas?’ tanya Yusril. ‘Sebutkan! Dan.. kenapa?’

Si Kampung menyebutkan sebuah nama. Perempuan.

Cih. Permainan truth or dare sejatinya hanya untuk asmara. Tidak lain tidak bukan. Dari zaman SD sampai kuliah, kalau truth, pertanyaannya: ‘Siapa orang yang ditaksir’, kalau dare, ‘coba tembak orang yang pernah ditaksir.’ Sungguh suatu pemikiran yang primitif abis. Kalau memang niatnya mempermalukan, cobalah tantangan yang lebh inovatif seperti misalnya: ‘ goyang oplosan pake baju ABRI.’ ,atau kalau mau yang jahat ‘siram bulu kaki Anda menggunakan air keras.’ ,atau kalau mau yang versi sinetron Indosiar, ‘Rebutlah harta Bu Broto! Uhuahahaha!’

Dua orang. Tiga orang. Semakin banyak yang menjadi korban kebengisan permainan ini. Dan, benar saja, semuanya sama. Kalau ngga menyatakan cinta, ya sebut nama orang yang dicinta.

Pulpen kembali diputar. Gue menengok ke kanan mengecek posisi pulpen. Dimas seperti melambatkan lagunya. Waktu seakan menjadi pelan. Pulpen sudah berada di tangan Arif (bukan Arif Kampung), dua orang di kanan gue. Sekarang, ia telah berpindah posisi ke tangan Alam, samping gue. Gue gugup. Dimas berdiri dari balik meja dengan gerakan slow motion. Gue buru-buru merenggut pulpen dari tangan Alam. Dimas menunjuk. Gue mengoper pulpen ke Syahrul, sebelah kiri gue. Dimas berteriak.
‘Seetoooooopp!!’

Pulpen sudah berada di genggaman Faisal, sebelah kiri Syahrul....tutup pulpennya masih ada di gue. Ketinggalan. Dimas kembali berteriak, ‘Udaaaah!! Udaaah!! Stopp! Stooop!!’ gue menjerit, ‘SIMONGKEEEEYYY!!’

Pulpen kembali diputar, menentukan siapa yang akan menanyai gue. 
Dan, 
pulpennya berhenti di tangan Wida. 
'DABELMONGKEEEEYYY!! MANA ADA MANUSIA NGERJAIN MALAIKAT PENJAGANYA SENDIRI KUNYUUKK!!??' Gue mengadu ke Adha. Namun dia tidak menggubris.

Dan, sama seperti yang lainnya. Gue disuruh mengungkapkan perasaan kepada dia dari masa lalu. Gue berjalan ke arahnya. Semakin langkah kaki berjalan ke depan, waktu terasa semakin mundur. Mundur jauh.

Gue telah berada di hadapannya. Namun jantung gue entah di mana. Seperti hilang dari posisinya. Anak-anak mengerubungi. Gue membuka suara. Mengakhirinya dengan embusan napas yang berat. Anak-anak ramai menghampiri. Ada yang menepuk-nepuk. Ada yang memberi ucapan selamat. Ada juga yang menyalami.

Setelahnya, gue duduk, kembali ke tempat semula. Gue merasa, setelah ini hubungan kita pasti semakin buruk.
Bukan karena ucapan yang gue lontarkan,
Melainkan karena kondisinya,
Karena situasinya,
Anak-anaknya.

Seperti halnya pertemuan, perpisahan merupakan hal yang mutlak terjadi.

Malamnya, gue bersama tiga orang teman duduk di tangga paling atas. Mengamati cahaya dari berbagai sumber di ujung sana. Untuk menghilangkan dingin, yang dua mengobrol. Yang satu mendengarkan lagu. Sementara gue,
berpikir,
dan berpikir

dan berpikir.
Share:

8 comments:

  1. Udah tingkat akhir masih aja maen-maen nih, ngurus skripsi sana.

    ReplyDelete
  2. Berpisah bukan berarti kita tak akan pernah mengenalnya lagi. Hanya lapisan tipis yang menyekat diantara dua orang yang terpisah yaitu ruang dan waktu.

    seru juga permainannya, hehe

    ReplyDelete
  3. Tuh kan, bener kata lo bang, permainan 'itu' cuma buat kelicikan, hadeh.

    ReplyDelete
  4. Ini merusak kewibawaan malaikat nih. Hehe.
    Andai aja bisa gitu. Misalnya ada malaikat izral yang mau mencabut nyawa bakal gue takut-takutin lebih dulu.

    ReplyDelete
  5. weisss.. ini acara prom night gitu maksudnya?
    prom night versi kuliahan?? :D

    ReplyDelete
  6. cieeeee Adi.. ngungapkan P-E-R-A-S-A-A-N niyeeeee.. wahahaha

    ReplyDelete
  7. Gimana, Di, dialog pas lu mengungkapkan perasaan itu? Penasaran gua. Hahah..

    ReplyDelete
  8. Adi gue baca ini hahahaa. Ngebayangin makrab kemaren

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/