Sunday, December 29, 2013

Postingan Resolusi yang ada Maudy Ayunda-nya

Di akhir tahun seperti ini, manusia planet bumi akan berbondong-bondong membuat resolusi. Entah ada yang cuman iseng-iseng dan nantinya bakal dilupain, ada yang biar dibilang keren, ada juga yang membuat resolusi sebagai motivasi atas kegiatan di tahun yang akan datang. Oleh sebab gue orangnya pelupa dan gampang berubah pikiran, maka gue membuat resolusi untuk tahun 2014… biar dibilang keren.

Adapun resolusi gue untuk tahun depan adalah:
1) Menerbitkan buku bergenre komedi
2) Ketemu dan main bareng penulis-penulis keren
3) Lulus kuliah
4) Santai-santai sebentar
5) Tidak lagi menonton film yang ada joget-jogetnya di televisi (percayalah wahai para produser, film kalian sangat mengganggu.. karena membuat saya goyang melulu)
6) Berkumpul lagi dengan Indonesian Card Artist
7) Traveling keluar pulau Jawa

Yah, meskipun gue seorang pelupa dan mudah berubah pikiran, namun hal-hal di atas akan gue usahakan sepenuh hati. Kalian pasti pernah punya kan, impian jangka pendek yang pengin banget direalisasikan? Rasanya tuh, gatel-gatel sakit nikmat gimana gitu. :)

Jikalau kalian juga punya keinginan yang lagi pengin diwujudkan, share di kotak komentar ya.

Pindah topik. Kemarin malam, di saat orang-orang merayakan malam minggu terakhir di 2013, sejenak terjadi kehebohan di twitter gue. Hal itu diawali oleh twit gue yang seperti ini:




Twit tersebut menimbulkan banyak pertentangan. Ada yang tidak percaya. Namun banyak juga yang diam dikarenakan masih bersembunyi untuk menghindari malam minggu (konon, jomblo yang tidak menyingkir saat malam minggu akan terkena infeksi, lalu diinfus, lalu mati bersama kesendirian).

Yang tidak percaya kebanyakan mencela dengan berkata seperti ini:



Sampai yang paling parah:



Gue tidak mengerti kenapa perjalanan gue beli terompet bareng malah dikaitkan dengan Adipati Dolken. Setelah ngenet 10 menit, gue mengetahui jawabannya: hubungan mereka sedang dekat. Oleh sebab itu, gue tidak ingin merusak hubungan mereka berdua. Lagipula, gue dan Adipati Dolken itu bisa dibilang sohib. Gue tidak mungkin menikung sahabat sendiri. Meski tidak sedekat nasar dan musdalifah, namun gue dan Dolky (panggilan akrab gue untuk Adipati) memiliki hubungan yang sangat erat. Kita berdua bak sepasang mahluk yang tidak dapat dipisahkan. Jika diibaratkan penyanyi, mungkin Dolky adalah Roma Irama sementara gue… pemain gendangnya Soneta Band.

Maka, sebelum timbul konflik yang berkepanjangan. Gue akan melakukan klarifikasi perihal malam minggu gue kemarin bersama Maudy Ayunda. Kita berdua memang hanya beli terompet bareng. Tidak ada hubungan special antara saya dan Maudy Ayunda. Berikut foto-foto kita sewaktu beli terompet:


sesaat sebelum kami mengejar tukang terompet

Detik-detik Maudy girang dan ingin menyundul kepala gue


Sekian dan selamat malam.

Ps: Dolky, kamu jangan marah ya, kita kan fren.
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, December 28, 2013

Humor dan Relasi Implementasi Terhadap Komedi

Seperti halnya karya seni lain semisal karya rupa, menulis puisi, bernyanyi, memainkan alat musik, atau akting, komedi merupakan bidang seni yang dapat dipelajari. Kita dapat memelajari bagaimana membuat orang tertawa, seperti apa jurus-jurusnya. Kita dapat mengasah kemampuan berkomedi dengan membedah dan menganalisa film-film komedi, sitkom, maupun tulisan komedi. Namun, seringkali kita tidak sadar dan tidak tahu apa itu sebenarnya komedi/humor. Bagaimana sesuatu yang lucu dapat membuat kita tertawa.

D.H Monro, dalam bukunya yang berjudul Argument of Laughter, membagi humor ke dalam tiga kategori, yaitu teori superior, teori keganjilan, dan teori kelegaan.

Superiority theory/teori superior adalah sebuah konsep humor yang dilakukan atas dasar ejekan. Telah banyak filsuf yang memandang komedi secara negatif sebab menggunakan unsur ‘cemoohan’ di dalamnya, salah satunya adalah Socrates. Ia mengatakan bahwa tawa yang kita dikeluarkan, berasal dari perasaan senang ketika melihat orang lain berada dalam kemalangan. Namun, Socrates berpendapat bahwa seseorang akan memiliki pengalaman jiwa yang berbeda saat dihadapkan pada komedi seperti ini: seseorang bisa bahagia dan tertawa saat diberikan komedi yang memaparkan kebodohan-kebodohan, tetapi untuk merasakan kesenangan atas kemalangan orang lain, ia harus memikirkan ‘pain of the soul’’.

Teori ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sedang marak digunakan dalam pertunjukan komedi di layar kaca kita. Seperti memukulkan properti ke badan orang, mengolok, mendorong, memasukkan cabai ke mulut seseorang. Dan, kita tertawa akan hal tersebut.

Tingkat kelucuan yang dihadirkan dari perspektif ini ialah kesenjangan antara pengolok (superior) dan orang yang menjadi korban olokan (inferior). Semakin tinggi kesenjangan ini, maka tawa yang dihadirkan akan semakin tinggi. Kita bisa tertawa sewaktu melihat teman nyemplung di got karena kita merasa lebih superior dibandingkan dia. Di saat yang bersamaan, kita akan sulit menemukan paspampres yang tertawa ketika melihat SBY nyemplung ke got.

Aristoteles dan Plato juga melihat komedi dari sudut pandang ini. Aristoteles mengatakan bahwa kita akan tertawa pada humor yang bersifat mengolok-olok ini sampai pada batas terentu saja. Yakni, ketika komedi tersebut belum melewati titik ‘bodoh’ yang dirasa kasar serta menyakiti orang lain. Dan tentunya, tiap orang memiliki batasan tersendiri atas apa yang dianggap ‘kasar dan menyakiti’.

Kita mungkin masih tertawa saat Sule dengan tampang polosnya mau disuruh duduk di kursi gabus dan terjatuh, karena otak kita secara reflek berkata, ‘Hahaha dia goblok. Itu kan gabus, ya jatoh lah!’ kita merasa superior ketimbang Sule. Sedangkan kita mulai merasa, ‘Ih, ini apaan sih?’ sewaktu Olga menjambak penonton atau mendorong rekan kerjanya hingga tersungkur. Hal ini menunjukkan bahwa menjambak penonton atau mendorong seseorang sampai tersungkur sudah melewati titik ‘bodoh’.

Bukti empiris lainnya menunjukkan bahwa humor dan komedi berasal dari keganjilan. Seorang filsuf dari Skotlandia, Francis Hutcheson, menjelaskan bahwa keganjilan dapat dinikmati karena dapat menghindarkan kita dari emosi negatif. Seorang filsuf dari prusia, Jerman, Immanuel Kant, setuju dengan apa yang dipaparkan Hutcheson bahwa humor diperoleh dari pengakuan intelektual akan keganjilan. Ia menambahkan bahwa rasa penasaran yang dimiliki manusia secara psikologis akan memberikan reaksi nyaman ketika dihadapkan pada humor dengan keganjilan. Mengacu pada yang dibilang Kant, kita tertawa pada sebuah absurditas, sebenarnya bukan dikarenakan pikiran kita nyaman karena dibuat frustasi (oleh sesuatu yang absurd), melainkan karena pikiran kita berusaha untuk menerima absurditas yang disodorkan, sehingga menyebabkan respon fisik berupa tawa.

Dalam tulisannya yang berjudul The World as Will and Idea, Schopenhauer, filsuf Jerman, juga mempercayai bahwa humor berasal dari keganjilan dan frustasi intelektual dalam ekspektasi manusia. Sesuatu akan dianggap lucu ketika otak kita ditipu oleh suatu ‘realitas’ yang ditawarkan para komedian.

Pemikiran Schopenhauer mengenai komedi ini bahkan pernah ditulis oleh Raditya Dika, penulis komedi, dalam esainya yang berjudul Schopenhauer dan Konseptualisasi Komedi. Schopenhauer berpandangan bahwa kita memiliki dua cara dalam memahami sesuatu: melibatkan konsep abstrak dan persepsi indera. Masih kata Schopenhauer, setiap orang akan memiliki ‘realitas’ terhadap suatu hal, dan apabila kita diberikan keganjilan dengan membelokkan ‘realitas’ tersebut, maka kita akan tertawa.

Contoh sederhananya seperti ini: di dalam pikiran kita, untuk naik pesawat dari Jakarta menuju Denpasar, kita tinggal datang ke bandara Soetta, naik pesawat yang ke Denpasar, duduk, tunggu landing, lalu sampailah kita di Denpasar. Namun, ketika ada orang yang naik pesawat penerbangan ke Denpasar, lalu minta turun di Surabaya dengan berteriak, ‘Bang, kiri, Bang! Surabaya ya!’ kemudian loncat begitu saja keluar pesawat, kita akan tertawa. Mengapa? Karena kita tidak memiliki ‘realitas’ atau pandangan bahwa orang yang naik pesawat bisa turun sembarangan. Di sanalah keganjilan itu terjadi.

Pandangan ini mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar komedi, yakni setup-punchline. Di saat selesai setup, otak kita akan membuat persepsi tentang hal yang akan terjadi selanjutnya. Ketika kita kaget karena persepsi kita ternyata dibelokkan oleh punchline, kita akan tertawa. Perihal setup-punchline sebagai dasar komedi, pernah dibahas di sini.

Contoh lain: kita akan tertawa apabila melihat Roma Irama joget iwak peyek. Hal tersebut dikarenakan bahwa persepsi kita atas Roma Irama adalah seorang pedangdut yang macho, sedikit bergerak, berbadan besar, dan berwibawa. Maka, saat kita menyaksikan Roma Irama joget Iwal Peyek dengan memutar-mutarkannya kepalan tangannya ke udara, kita akan tertawa. 

Contoh lain lagi: Percakapan antara Denholm dan Jen dalam serial IT Crowd.

Denholm: Aku akan menempatkanmu di departemen IT karena di-CV mu tertulis bahwa kau punya banyak pengalaman dengan komputer!
Jen: Ya. Aku menuliskan itu di CV-ku. Aku punya banyak pengalaman dengan komputer... secara keseluruhan.
 Kau tahu? aku mengerti email.. mengirim email, menerima email, men-delete email.

Semakin kita dibuat nyaman oleh sebuah setup, maka efek keterkejutan dari punchline juga akan semakin tinggi. Hasilnya tawa kita semakin besar. Tentunya, hubungan antara setup dan punchline harus erat.

Namun, dalam buku The Sense of Beauty, George Santayang mencatat bahwa kita juga tertawa pada situasi yang tidak melibatkan keganjilan: kita tertawa saat mendapatkan kemenangan, saat bersimpati dengan orang lain, dan kita juga tertawa ketika digelitiki. Hal-hal semacam ini, dikategorikan oleh Herbert Spencer, dalam The Psysiology of Humor, sebagai Relief theory (teori kelegaan).

Teori kelegaan adalah pandangan mengenai humor di mana tawa yang dikeluarkan adalah hasil dari pembebasan ketegangan emosi yang ada di dalam tubuh. Spencer mencatat bahwa di dalam tubuh manusia, seringkali kita menyimpan kelebihan energi ‘tegang’. Sewaktu energi ‘tegang’ ini dilepaskan dari dalam tubuh, tawa akan muncul.

Contoh paling gampang adalah seorang mahasiswa abadi seperti Alit Susanto yang menyelesaikan studi kuliahnya. Sesaat setelah dosen penyidang memutuskan, ‘Anda, Alit Susanto, disahkan telah lulus sebagai mahasiswa,’ dapat dipastikan Alit bakalan nyengir kuda karena melepas beban energi ‘tegang’ yang telah dibawanya selama ini.


Teori-teori tentang humor tadi menyiratkan bahwa komedi merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan dianalisa. Tawa, dapat dihasilkan dengan berbagai cara tergantung sudut pandang seseorang dalam penentuan unsur humor/komedi di dalamnya.
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, December 24, 2013

Tentang Ular yang Kembali dan Ujungnya Malah Kemana-Mana

Sabtu siang kemarin, sewaktu lagi asik guling-gulingan di lantai depan tv, gue dikagetkan oleh sms Abang gue yang kala itu lagi di rumah Bogor: ‘Dek, Pongki udah ketemu”

Untuk yang belum tahu, pongki adalah nama uler milik abang gue.

Gue sempet panik ketika membaca sms itu. Gimana engga, mahluk yang udah bikin gue parno tengah malem waktu itu tiba-tiba muncul lagi. Berikut gue paparkan perbincangan gue dan Tiyo, Abang gue, via sms:

            Tiyo: De, pongki udah ketemu
            Gue: Oh iya? Ketemu di mana dia?
            Tiyo: Keluar dari kamar lo kayaknya. Tadi lagi jalan di depan wc.
            Gue: Ogitu. Ya udah. Lempar aja ke laut, Mas.

Dan percakapan berakhir begitu saja. Abang gue ngga bales apa-apa lagi. Gue berpikir bahwa ketika itu Abang gue langsung ngibrit ke laut sambil bawa-bawa uler. Belakangan gue tahu bahwa Bogor jauh dari laut, jadi kemungkingan itu pupus sudah.

Tadi gue ke Bogor dan melihat sendiri penampakan pongki di dalam akuarium. Alhamdulilah, beliau masih dalam keadaan sehat dan tetap melata.

Abangku menamainya "pongki", aku menyebutnya "sialan"

Pertanyaannya adalah: ke mana si pongki selama menghilang dua minggu terakhir?

Insting gue mengatakan bahwa selama ini dia berada di kamar gue, tepat seperti yang nyokap katakan. Kalau memang benar, berarti… selama ini gue tidur bareng pongki. Astagah pongki, apa yang telah kamu lihat selama ini! Dasar ular yang tidak tahu adat istiadat! Seenggaknya kan bisa ketuk pintu dulu! Hehehe.

Yah, di manapun dia selama ini,
Dia udah ketemu.
Itu artinya, kembali beli tikus lagi!

Menanggapi postingan sebelum ini, gue baru saja menghitung jumlah kaos yang gue miliki. Dan totalnya ada… 10 (setelah ditambah dengan kaos Abang gue dan kain pel yang sewaktu-waktu dapat dijadikan pakaian darurat). Jumlah yang cukup untuk gue pakai sampai tanggal 27 nanti. So, sepertinya gue tidak perlu menjadi superman seperti yang kalian inginkan. HA-HA-HA. Rasakan. Inilah Adi, si manusia biasa yang tidak kehabisan baju.

Ganti topik lagi.

Sekarang jam satu pagi dan sudah tanggal dua empat. Berarti tahun ini tersisa seminggu lagi. Pada awalnya, gue pengin membuat semacam resolusi untuk tahun depan. Tapi entah kenapa gue tiba-tiba berubah pikiran. Kalaupun ada resolusi, mungkin resolusi pertama gue adalah: mengingat resolusi yang sudah gue buat di tahun ini. Hehee. Maklum aja, tiap awal tahun buat resolusi banyak-banyak, tiap akhir tahun malah lupa kalo pernah bikin resolusi. Maka dari itu, malam ini akan gue habiskan dengan mengingat-ingat. Flashback. Tentang hal-hal yang sudah gue lakukan selama setahun ke belakang.

Beberapa kegiatan yang menurut gue seru dan telah gue kerjakan di tahun ini:

Satu. Tetap nge-blog. Mudah-mudahan ini bakal terus berlanjut sampai tahun-tahun ke depan.

Dua. Bergabung dengan Jamban Blogger. Semacam forum untuk blogger-blogger di Indonesia. Gue bahkan sudah kopdar (bertemu langsung) dengan beberapa foundernya. Anaknya asik-asik, cek aja di sini.

Tiga. Mengirimkan naskah tulisan personal literature ke penerbit. Walaupun entah gimana hasilnya (gue harap pas penerbitnya baca dia tidak langsung tergeletak dan kehabisan trombosit), namun gue merasa senang sewaktu proses pengerjaannya. That’s the first time that I enjoyed spending a bunch of time… alone.

Empat. Menonton stand up comedy  secara live. Dan kayaknya gue kecanduan.

Lima. PKL di Gresik bersama teman-teman yang mana lebih banyak main-mainnya dibanding PKL-nya.

Enam. Dikatain mirip Bastian Coboy Junior sama hampir setiap ibu-ibu di Gresik.

Tujuh. Masih tetep latihan card flourish.

Lapan. Praktek ke gunung selama sebulan bersama temen kampus seangkatan yang isinya kayak orang gila semua.

Apa lagi ya?
Duh, masih banyak dan kayaknya ngga ada yang penting sih. Hehehe.
Tapi ini tahun yang baik,

Dan gue mau tahun depan lebih baik lagi. Ngga muluk-muluk, gue cuman pengin jalan bareng Maudy Ayunda aja. Lho, ngga lah. Kayaknya tahun depan bakal gue ikutin aja.

Mari mengambang di tahun depan!

Udah ah, ini kenapa jadi ke mana-mana.


Kresnoadi, off.
Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, December 18, 2013

Antara Kolor Ijo dan Superman

Di Bogor lagi sering-seringnya hujan. Udaranya enak banget untuk males-malesan. Buat gue, hal ini menimbulkan dua kerugian: 1) pulang kuliah langsung tidur, 2) sering kehujanan di jalan, alhasil baju kotor jadi numpuk.

Pagi tadi, melihat kondisi baju kotor yang kian menggunung (gunungnya satu, ya, bukan dua. Dan tidak ada matahari tersenyum di tengahnya), gue pun memutuskan untuk membawanya ke tukang londri. Sesampainya di sana, terjadilah percakapan antara gue dan si mas-mas tukang londri:

            Mas-mas tukang londri: ‘Dek, kita ngga nerima nyuci dulu.’
            Gue: (melihat dua plastik besar baju kotor di tangan) ‘a-apa, Mas?’
            Mas-mas tukang londri: ‘Kita lagi ngga nerima nyuci.’
Gue: (cengo) ‘Gimana, Mas?’
Mas-mas tukang londri: ‘Kita ngga nerima nyuci.’
(suara mas-mas tersebut seakan menggema di telinga gue: ‘kita ngga nerima nyuci.. ci.. ci.. setan.. tan.. tan.’)
Gue: ‘Kenapa ya, Mas? Duh, saya pengin langsung ke kampus, nih.’
Mas-mas tukang londrian: ‘Besok kita mau libur. Baru buka tanggal 27.’
Gue: (muka ngga ikhlas) ‘ya udah, nggapapa. Nanti saya ambilnya tanggal 27.’
Mas-mas tukang londri: ‘Ogitu. Baiklah. Ini pakaian bersihnya ngga mau diambil sekalian?’
Gue: ‘Nanti aja, Mas. Sepulang kuliah.’
Mas-mas tukang londri: 'Oke.'

04.00 Pm:
Gue beres kuliah, berniat untuk mengambil pakaian bersih yang tadi telah dijanjikan. Namun, tukang londrian-nya tutup. Di depannya tertulis “Balik jam 06.00 sore.”

04.10 Pm:
Gue sampai di kosan dan menyadai kalau pakaian bersih gue tinggal dikit. Tidak lama berselang, Yudha, teman kampus gue, mengajak untuk bermain tenis. Lumayan, ngabisin waktu menunggu tukang londri buka, pikir gue.

04.35 Pm:
Pukulan pertama gue untuk tenis lapang. Gue antusias setengah mati.

05.00 Pm:
Gue menyadari bahwa pukulan gue payah. Bolanya sering keluar lapangan sehingga gue harus berlari untuk mengambil bolanya supaya bisa dimainin lagi.

05.05 Pm:
Masih ngambilin bola di pinggir lapangan.

05.10 Pm:
Tersungkur di pinggir lapangan.


Setelah maghrib, kita semua selesai dan gue kembali ke tukang londrian. Di perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun dan baju gue lepek sepenuhnya dan tukang londriannya masih tutup padahal udah lewat dari jam enam. Maderfaker.

Sesampainya di kosan, gue langsung melepas pakaian dan melemparnya ke ember tempat baju kotor. Gue lalu membuka lemari baju dan menyadari satu hal: Baju gue benar-benar tinggal dikit. Sekarang, komposisi daleman gue lebih banyak ketimbang kaos. Dan, gue baru akan mendapatkan kembali kaos gue setelah tanggal 27. Itu artinya, gue harus menghemat kaos yang gue pakai. Karena, jikalau sebelum sepuluh hari stok kaos gue abis, gue akan seperti kolor ijo yang ke mana-mana cuman make kolor doang.

Satu-satunya trik supaya kaos gue tidak cepat habis dan tetap terlihat modis adalah, menggunakan daleman di luar kayak superman. Nantinya, gue akan gonta-ganti warna daleman yang gue kenakan. Selain modis, gue. Pasti. Tidak. Punya. Teman. Lagi. 

Oh, akhir tahun ini busuk sekali..



Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, December 10, 2013

dan yang Bikin Parno Adalah...

Semenjak kuliah, Abang gue demen banget sama yang namanya reptil. Kalau dipikir-pikir, dari mulai kadal, tokek, biawak, panana, serta berbagai jenis ular pernah dipelihara. Mungkin kalau suster ngesot bersisik dan jalan dengan cara melata, udah dikandangin sama Abang gue.

Yang jadi permasalahan adalah, Abang gue orangnya bosenan.

Jadilah reptil-reptil mengerikan itu tidak bertahan lama di kosan gue. Kebanyakan dari mereka dijual, ditelantarkan (atau dalam bahasa Abang gue: dipertemukan kembali dengan udara segar), dan yang paling sering (sekaligus paling horor)… kabur.

Gue terkadang bertanya-tanya, apa enaknya sih melihara reptil? Ngga ada bulunya, ngga bersuara, dipegang juga aneh. Gue juga kurang setuju jikalau orang yang melihara reptil dicap sebagai orang yang berani. Menurut gue tidak ada hubungannya antara tingkat kemachoan seseorang dengan melihara hewan yang cuman bisa melet-melet. Lagipula, orang yang melihara reptil itu, kalau hidungnya dipatok uler juga ujung-ujungnya ke ugd juga. Sama.

Dulu, ketika Abang gue masih kuliah, sewaktu dia sedang seneng-senengnya sama ular, hampir setiap dua hari sekali dia memandikan ular peliharaannya (meski ularnya sendiri jarang dimandiin). Setelah selesai, dia mengetok kamar gue, lalu mengagetkan gue sambil menggendong ular di tangannya. Hobi itu terus berlanjut… sampai ular peliharaan tersebut menghilang dari kandangnya.

Gue yang pertama kali menemukannya sedang menggantung di atas jendela, langsung ngabarin Abang gue dengan meng-sms. Tidak ada hitungan jam, Abang gue ke kosan dan segera mengamankan ular tersebut dengan selamat sentosa.

Pada malam jumat kemarin, kejadian horor itu kembali terjadi. Gue yang baru pulang pukul setengah dua belas malam dibuat panik karena kandang ular peliharaan Abang gue mendadak kosong. Perbedaannya ialah, sekarang Abang gue sudah lulus kuliah. Gue di kosan sendirian. Jadilah gue semalaman panik, takut ada ular tiba-tiba nongol entah dari mana.

Pada malam itu,
Waktu terasa lambat.

Saking paniknya, tiap gue buka pintu, gue harus memastikan keadaan di dalam dengan mendorong pintunya, lantas menjulurkan leher terlebih dahulu. Kejadian ini juga membuat mimpi gue menjadi aneh: gue tiba-tiba mimpi bertemu ular, ngobrol-ngobrol sebentar, kemudian gue berduel melawan ular… dan berakhir dengan gue mati ditelen uler. Tragis.

Bangun-bangun, gue langsung ngibrit mandi dan pergi ke kampus,
Kemudian langsung pulang ke Pamulang.

Sesampainya di rumah, gue langsung menceritakan duduk perkaranya ke Abang gue. Dia, yang nampaknya pada weekend  kemaren memang sudah ada niatan untuk ke Bogor, langsung berangkat ke Bogor dengan membawa tugas dari gue: mencari dan meringkus ular tersebut. Minggu malam dia kembali ke Pamulang dan membawa kabar yang sangat horor: "Ularnya ngga ketemu, Dek.' Gue makin parno.

Yang membuat gue lebih parno adalah, entah kenapa gue merasa kalau ularnya ada di kamar gue. Dan yang bikin gue lebih parno daripada yang parno adalah, tadi pagi gue menemukan rak yang berisi tumpukan kertas mendadak tidak bisa ditutup, seperti terganjal sesuatu. Dan itu, ada di belakang gue sekarang. Persis saat mengetik ini.

Osyit. Sekarang pikiran gue makin kacau. Takutnya, besok pagi, si ular udah nempel di atas udel gue lalu menyapa,  ‘ Halo, Bro. Main lilit-lilitan yuk, Bro.’



Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, December 8, 2013

Percayalah, Wahai Umat Manusia!


Percayalah, tidak semua wanita pandai tawar-menawar.
Gue pun baru mengetahuinya tadi pagi, sewaktu nyokap minta diantar ke Tanah Abang. 

‘Mau ngapain Bu ke Tanah Abang?’
‘Beli sarung.’
‘Buat apa?’
‘Buat dibagi-bagi. Kan mau lebaran.’
Lebaran?’  karena bingung harus merespon apa, gue hanya menjawab, ‘Oke.’ Padahal, mah, di dalam hati memekik: ‘LEBARANNYA JUGA MASIH LAMA!!’
‘Tapi naik umum ya,’ kata nyokap. ‘Kalo naik motor susah nanti bawa belanjaannya.’
‘Baiklah.’

Kita pun berangkat pukul sembilan menaiki angkot menuju Ciputat. Setibanya di Ciputat, nyokap (entah kesambet apa) malah masuk ke pasar dan melihat-lihat barang di sana. Tidak butuh waktu lama sampai gue bilang, ‘Jangan lupakan tujuan kita, wahai Ibuku.’ Kita pun kembali ke jalan yang benar. Hari belum begitu panas. Gue, yang sama sekali tidak mengerti dunia per-angkutan umum-an hanya bisa mengekor ke mana nyokap berjalan.

‘Kalau mau ke Tanah Abang naik 102, Dek, kopaja,’ kata nyokap. ‘Yang itu.' Nyokap menunjuk sebuah mobil kuning. ‘Kalau yang itu 501.' Nyokap menunjuk mobil lainnya. 'Bukan ke Tanah Abang.’
‘Ogitu. Kalau yang katanya banyak preman-premannya itu yang mana, Bu?’
‘Itu metro mini. 72.’
‘Ogitu. Kalau yang 14045 itu ke mana Bu?’

Nyokap masuk ke Kopaja, menghiraukan pertanyaan gue.

Kopaja berjalan. Pada mulanya, bus semacam metro mini ini tidak terisi banyak penumpang. Hingga satu per satu ibu-ibu masuk. Benar. Hanya gue dan sopir dan kenek yang berjenis kelamin laki-laki. Gue sempat khawatir apabila terjadi sesuatu di Kopaja ini, kami (kaum pria) tidak akan bisa berbuat banyak.  Gue pernah baca di internet, ada seorang preman yang memalaki penumpang ibu-ibu di metro mini, dipukuli oleh seorang lelaki macho sampai mukanya berdarah. Belakangan diketahui bahwa lelaki tersebut adalah tentara. Jikalau hal tersebut terjadi di dalam Kopaja ini, paling juga si preman jadi botak karena dijambak ibu-ibu paruh baya.

Tidak berapa lama, masuk pengamen yang membawa gitar cokelat usang.

‘Assalamualaikum,’ kata seorang teman pengamen tersebut. ‘Selamat pagi bapak-bapak, ibu-ibu. Biarkanlah kami menghibur anda semua dengan sedikit lagu dari kami.’
‘ADUH, DEK. IBU LUPA BAWA RECEH!’
‘Hmm.’
‘ADANYA DUA RIBUAN NIH. GIMANA DONG. INI MAH, KAN BISA BUAT EMPAT PENGAMEN!’ seru nyokap. ‘KITA “MAAF” AJA DEH, DEK!’
‘Iya, Bu. TAPI NGOMONGNYA NGGA USAH DI DEPAN PENGAMENNYA JUGA KALEE!!’
‘He… he…,’ tawa nyokap, maksa.

Setelahnya, semakin banyak ibu-ibu yang memasuki kopaja. Bukan hanya kursi penumpang, mahluk tua itu juga memenuhi koridor. Berdiri sambil pegangan semacam tiang yang menempel di langit-langit kopaja. Berdesakan. Sang kenek susah bergerak untuk meminta ongkos. Aroma keringat dan ketek bertempur.

11.24 AM:

Sampai di Tanah Abang, kami segera memasuki pasar untuk membeli sarung. Tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang kalau mau menawar sangat jago, level tawar-menawar nyokap hanya semata kaki (cetek abis). Setiap mau nawar, nyokap nanya dulu, ‘Pak, ini boleh barangnya saya tawar?’

Sungguh seorang ibu yang sangat santun.

Satu hal yang gue tahu tentang cara perempuan menawar adalah, mereka menjelek-jelekan barang dagangan. Contohnya seperti ini:

‘Ini baju berapa harganya?’
‘Seratus ribu.’
‘Alah. Baju kayak gini doang mahal amat. Tuh, tuh liat, tuh jahitannya udah lepas-lepas gitu!’
‘Tap-‘
‘Udah, lima puluh ribu, ya?’

Lalu si pedagang memperbolehkannya dengan tersedu-sedu.

Berbeda dengan yang dilakukan para wanita kebanyakan, nyokap punya trik tersendiri dalam menawar: mencari sekutu. Benar. Sebelum menawar, nyokap akan memanggil ibu-ibu sekitar untuk ditanyai harga yang pas untuk sebuah barang. Dan biasanya… gagal.

Biasanya, nyokap akan bertanya, ‘Bu, Bu, kalau di tempat Ibu, baju beginian berapa? Ngga mungkin kan seratus ribu?’ Kemudian Ibu-ibu yang ditanya hanya senyum meringis, ‘Heee..’

Meski demikian, nyokap punya cara alternatif. Gue menamainya dengan: Strategi Membuat Pusing. Cara yang dilakukan nyokap adalah sebagai berikut: nyokap akan bertanya tentang apa saja yang ada di dagangan tersebut, berharap si pedagang lengah, kemudian nyokap akan menurunkan harga dengan tiba-tiba.

‘Mas, mau lihat mukena yang itu!’ nyokap menunjuk sebuah mukena berwarna pink.
‘Oke.’
‘Ini berapa harganya?’ Tanya nyokap, sambil membuka mukena tersebut, lalu menebarkannya di atas toko.
‘Kalau kodian seratus ribu.’
‘Kalau yang ijo itu?’
‘Dua ratus lima puluh ribu.’
‘Kalau yang itu? Yang itu? Yang itu?’ Tanya nyokap bertubi-tubi.
‘Ha? Yang mana tadi?’
‘Tidur.’ Nyokap menjentikkan jari. Tukang mukena tidur. Nyokap mengambil mukena lalu tertawa licik. Menang.

12.17 Pm:

Kita berhasil meraup dua kodi sarung dan delapan mukena (tanpa membuat tukangnya tidur, dan tanpa nawar karena nyokap malah terkagum-kagum dengan mukenanya. Katanya: ‘Iya, inimah bagus, ya. Harusnya bisa lebih mahal lagi ini, Bang harganya.’). Kita pun memutuskan untuk makan siang di sekitar pasar. Sumpah, ini adalah tempat makan yang paling mirip dengan metro mini. Tempatnya penuh, sulit untuk berjalan, lantainya cokelat seperti terkena sepatu yang berlumpur, dan pelayannya teriak-teriak persis kenek,

‘Yo, yang ayam bakar yow!’
‘Yo, yang es jeruk yow!’
‘Es teh manis teh manis teh manis!’

Nyokap makan dengan lahap. Katanya, makanannya enak-enak. Gue sendiri kebalikannya, makan dengan lemas. Menurut gue, makan dengan keadaan tidak nyaman sangatlah ngga enak. Gue lebih memilih makan di tempat yang nyaman walaupun rasanya agak ngga enak. Beruntunglah gue keluar dari restoran ini tidak meloncat dengan kaki kiri terlebih dahulu seperti yang orang-orang lakukan ketika turun dari metro mini.

12.30 Pm:

Kita pulang dengan kendaraan yang sama: Kopaja. Gue berdiri gantungan sepanjang perjalanan. Keren. Gue merasa macho. Pantaslah gue dibilang anak metro sejati.
Suka post ini? Bagikan ke: