Thursday, October 31, 2013

[Cerpen] Cerita Jahanam

Buat gue, selain kamar mandi, saat-saat bengong sebelum atau pas lagi ujian di kampus merupakan sumber inspirasi. Dua hari yang lalu, ketika lagi ujian Papan Partikel dan Papan Serat, sewaktu gue ngga tahu lagi mau ngisi apa, gue malah kepikiran yang aneh-aneh.

Tenang. Gue bukan mikirin kenapa video anak SMPN 4 itu udah ngga ada di internet, tapi gue mikir ‘kenapa gue ngga nyoba buat cerpen ya? nyoba keluar dari tulisan gue yang biasanya haha-hihi.’

Walhasil, sewaktu ngerjain ujian itu, gue malah mikirin cerita apa yang pengin gue jadiin cerpen. Gue tiba-tiba lupa kalau lagi ujian. Ya habisnya ngapain inget-inget ujian, ujian aja ngga pernah inget gue (lho?).

Udah deh, langsung aja. Berikut cerpen gue yang berjudul: ngga tahu. Sebenernya gue masih kurang sreg sama judul di postingan ini. Jadi, kalau ada yang punya masukan buat judul, kasih usul aja di kolom komentar ya.

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 27, 2013

Postingan dengan Penuh Ekspresi

Gue punya dua kabar untuk mengawali postingan kali ini.

Kabar buruk: Pertama, gue udah lama banget ngga posting di sini. It kills me slowly. Akhir-akhir ini gue sibuk ngurusin penelitian buat skripsi. Kedua, besok gue UTS.

Kabar baik: Pertama, gue sekarang nulis lagi. Hore. Akhirnya ada jeda sebelum UTS untuk gue menulis. Gue rindu menulis. Gue rindu blog ini. Kedua, persetan dengan UTS. Kalau kata anak selow, masih besok ini. Kalau kata orang Sunda, sabodo teuing lah. Kalau kata Nyokap gue, Astaghfirullah, Nak. Belajarlah kamu..

Tapi serius,
Gue rindu berat nulis di keriba-keribo.

Udah hampir dua minggu gue ngga nulis di sini. Dan, seperti yang gue bilang tadi, gue ngga nulis karena ngurusin penelitian. Gue disuruh bantuin kakak kelas S2 di kampus untuk ngebuat panel kayu, menguji kekuatan produknya, bikin laporan, kemudian ngumpulin laporannya ke rektorat. Semua itu di-deadline berapa lama? Satu bulan. Maderfaker.

Kita berdua ngos-ngosan ngerjain proyek dosen ini, harus selesai tanggal 25 Oktober kemaren, sementara produknya baru jadi sekitar seminggu sebelumnya. Pak Dosen, kalau mau bunuh saya, tusuk saja pakai bambu runcing, jangan pakai deadline gini..

Walhasil, selama seminggu, kita ngebut buat ngerampungin pengujian itu panel kayu dan laporan. Hampir tiga hari berturut-turut kita nginep di lab kampus. Semisal lab-nya kayak laboratorium di luar negeri mah, enak. Gue bisa songong ke temen-temen dengan bilang, ‘Gile, gue dong nginep di lab!’ temen-temen gue pasti terperangah, ‘Serius lu? Gile, sungguh kaum akademisi sejati lu, Di!’ Lha, ini lab di kampus gue bentuknya mirip markas gembong teroris. Kalau gue bilang, ‘Eh, kemaren gue nginep di lab, dong!’ reaksi temen gue pasti, ‘Serius lu? Kok masih idup, Di?’

Laboratorium di kampus gue memang terkenal angker. Berantakannya bukan main. Gelap. Berdebu. Barang-barang aneh berserakan. Ada kompor, panci, kayu-kayu, mutan, sarang laba-laba, gayung. Mungkin kalau di dalam dunia desain ada konsep yang namanya minimalis, nah, lab gue ini termasuk ke dalam konsep ancurabis.

Selasa, 22/10/13
07.30 Pm:

Gue sedang mengukur sampel kayu kotak seukuran genggaman tangan. Sampai di sampel kayu ke tiga puluh sembilan, lampu tiba-tiba mati.

‘AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!’
Dina, kakak S2 yang daritadi mencatat ukuran yang gue sebutkan kepadanya, menjerit dengan kencang.

‘Tenang, ka, tenang,’ kata gue menenangkan, padahal dalem hati njerit-njerit.
‘Udah, ayo, kita keluar aja deh. Ini yang mau dibawa apa aja?’
‘Ayo ayo ayo keluar. Ayo buruan keluar.’
‘Ini yang mau dibawa keluar apa aja?’
‘Ayo, Di. Keluar Di buruan.’
Dengan menahan rasa ingin menyumpal mulut kakaknya menggunakan sisa potongan ayam di meja, gue akhirnya menjawab, ‘Oke.’

Kita pun jalan keluar lab. Dina terlihat bergidik. Mimiknya berkerut-kerut, lengannya bergemetar. Langkahnya cepat-cepat, namun pendek karena mengikuti gerak kaki gue. Dia tidak ingin terlalu di depan gue, juga di belakang. Semuanya hitam, kecuali terang lampu dari handphone gue dan dia.

Sesampainya di pintu lab, gue kembali bertanya, ‘Jadi, apa yang mau dibawa keluar? Laptop? buku? chargeran? kayu?’
‘Bawa aja semuanya, Di.’

Tele kuda.

Sekembalinya dari mengambil laptop, tas, penggaris, kertas, buku, chargeran ponsel, dan beberapa sampel kayu yang tertinggal, kita pergi dari lab, mencari tempat yang lebih terang.

‘Di, gile, elu kok santai banget gitu. Padahal kan katanya di lab situ angker, loh.’


Pengalaman, atau lebih tepatnya perkataan Dina yang terakhir telah membuka pikiran gue. Dia bilang gue santai, muka gue selow, dia ngga tahu aja sebenernya gue pengin nangis, pengen kabur, pengen teriak 'Tegangan cinta tak dapat dihindar lageee!' (lho, kenapa jadi Agung Herkules).

Iya, gue sebenarnya juga takut. Tapi, mungkin muka gue engga menunjukkan itu. Entah gue lupa cara berekspresi (ini ngga mungkin) atau memang dari orok muka gue datar gini. Dan, menurut buku Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps, para lelaki memang tidak pandai berekspresi, berkebalikan dengan wanita. Mungkin beginilah penggambaran ekspresi pria:

Pria: lagi senang

Pria: lagi sedih


Pria: lagi takut



Pria, lagi ngomong: Serahkan hartamu, Pak Broto!

Sedangkan inilah mimik muka wanita seiring dengan perasaanya:

Wanita: lagi ngambek

Wanita: lagi girang (akibat ngisep lem aibon)

Wanita, lagi ngomong: Hihhihi akhirnya harga cabe turun juga!

Yah, dengan adanya foto-foto tersebut menandakan bahwa bukan hanya wanita yang sulit ditebak wataknya, tetapi juga pria. Pria memang bajingan. 

...

Btw, sekarang lagi hari blogger nasional ya. Selamat ya buat para blogger nasional. Keep solid!

Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, October 15, 2013

Perihal Cinta Menurut Mbah Adi



Mungkin Anda bingung dengan judul di atas. Siapa itu Mbah Adi?

Saya adalah Mbah bukan sembarang Mbah. Saya… siapa saya? (lho, malah bingung sendiri)

Yang jelas saya bukanlah Kresnoadi, pemilik blog ini. Saya adalah pakar dari segala pakar. Dan pakar bukan sembarang pakar. Saya adalah… tukang pakar. Oke, maksudnya tukang parkir. Krik. Krik. Krik.

Baiklah, langsung saja kita ke topik.

Untuk Saya, hubungan percintaan dua umat manusia itu mirip dengan bokong dan jok sepeda motor.

Jika Saya disuruh menentukan kelaminnya, maka bokong adalah si pria dan jok adalah si wanita.

Selanjutnya Saya membuat sebuah pertanyaan sederhana. Pernahkah kau naik motor sampai bokong terasa perih? Panas? Hingga merasa sudah tak simetris lagi antara bulatan yang kanan dan yang kiri? Itulah akibat si bokong yang terlalu lama menyentuh si jok motor. Di dalam percintaan pun begitu. Semakin sering bertemu, berkomunikasi, bertatap muka, berpegang tangan, bercengkerama, semakin besar peluang mendapatkan keperihan dalam sebuah hubungan. Bisa jadi karena salah satu pihak terasa bosan. Kehabisan topik pembicaraan. Atau karena sebab musabab lain yang beragam: si jok ngambek karena bokong pasangannya justru menghabiskan waktu bersama bokong-bokong lainnya. Atau bahkan sebaliknya, si jok menemukan bokong lain yang dirasa pas. Bulatannya lebih presisi terhadap lekukan jok motor, ukurannya lebih kecil sehingga si jok tidak lagi menahan beban bokong yang besar. Terlebih lagi bokong yang satu ini wangi. Atau mungkin hanya tidak lebih bau—setahu saya tidak ada pria yang tidak biadab.

Cara menghilangkan perih yang melanda bokong juga sama. Berdirilah. Atau berhentilah sejenak menduduki jok motor Anda. Cukuplah sejenak atau Anda akan malas kembali ke jok yang sama. Camkan ini.

Seperti halnya pengendara motor yang baik, Anda—si pria—harus pandai menempatkan posisi bokong Anda. Jangan menaruh bokong Anda terlalu ke belakang. Posisi ini akan membuat Anda gugup dan kesulitan dalam mengontrol kendaraan yang Anda gunakan. Namun, jangan juga Anda menyondongkan bokong di ujung depan. Selain dicap pengendara yang aneh, Anda akan cepat terserang wasir.

Pernah melihat seorang pria mengendarai motor dengan posisi duduk terlalu menjorok ke depan? Dengan kaki yang mengangkang? Selain jijik, Anda akan merasa ngilu di bagian selangkangan. Nah, kira-kira respon seperti itu yang akan didapat oleh pria yang membentak kekasihnya di tengah jalan. Pria yang terlalu mengomandoi.

Baiklah, mungkin seperti itu kiranya pendapat saya perihal cinta. O ya, satu hal yang jangan dilupakan. Dudukilah jok yang bersih. Setidaknya, bersihkanlah dulu jokmu sebelum diduduki atau bokongmu akan tercemari kotoran.


Salam, Mbah Adi.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, October 10, 2013

Kepada Yang Baca Ini, Tolong Bantu Saya

Saat mengetik tulisan ini di word, gue lupa mau mosting tentang apa,

Kepada para pembaca, tolong bantu saya.

Akhir-akhir ini gue gampang banget lupa. Kalau mau dirunut-runut, sifat lupa ini dimulai dari almarhum kakek gue. Dia lupa nama dia sendiri, lupa di mana dia berada, lupa Nyokap gue  (red: anaknya), sampai ke yang paling ekstrem, lupa muka sendiri. Dulu, sewaktu kakek gue belum meninggal, pas kita lagi buka-buka album foto, gue menunjukkan foto dia. Responnya adalah: ‘Lho, ini sopo, ya?’

Sewaktu sampai di foto Bokap yang masih muda, masih jaya, masih tampan, dia malah berseru, ‘Ini kok mirip aku ya, Dek?’ Dasar.

Gen ini pun terbawa ke Nyokap. Dia mulai lupa hal-hal kecil seperti naruh sisir di mana, udah ngasih makan kura-kura atau belum, dan kalau ngomong suka diulang-ulang. Menurut gue, dia itu lupa kalau sudah bercerita hal yang sama berulang kali. Iya, ngomongnya diulang-ulang. Itu tanda lupa kan?

Nyokap gue kalau ngomong suka diulang-ulang. Itu kan pertanda lupa. Kalau ngomong diulang-ulang. Berarti dia lupa. Oke, baiklah cukup.

Dan sekarang, sampailah gen itu di gue.

Belakangan ini gue sering banget lupa. Gue lupa harus ngapain, gue lupa nama temen sendiri. Men, asli, ngga enak banget kalau papasan sama orang di jalan dan tiba-tiba elu lupa nama orang itu siapa. Percakapan yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut:

*KETEMU DI KAMPUS*

            Temen yang gue lupa namanya: WOIII, DI! MAU KE MANA LAAUU! (anggap saja temen gue alay)
            Gue: (senyum) YOOIII!!
            Temen gue: (mengajak tos) KULIAH DI RUANGAN MANA LAU BROH!?
            Gue: (senyum) (toss) YOOOOIII!!
            Temen gue: APA KABAR, SOB!? MAKIN YAHUD AJE NIH.
            Gue: (senyum) YOOOOOIII!!
            Temen gue: Cukup, Di. Bau, Di, bau. Mulut lu bau..
            Gue: YOOOOOIIIIHHH!!

Tragis sekali kan gue (atau dalam hal ini temen gue karena kebauan jigong).

Jadi kepada para pembaca, tolong bantu saya. Gimana caranya menolak lupa.

Hal naas lain yang menimpa gue paling baru adalah hari sabtu kemarin. Gue lupa naruh stnk motor. Walhasil, ilang. Walhasil, dalam beberapa hari ke depan, gue harus mengurus surat kehilangan di kantor polisi. Doakan aku ya teman-teman. Sebetulnya gue paling males ngurus-ngurus beginian. Karena menurut gue, selain skripshit, hal lain yang menyebalkan di negara ini adalah birokrashit. Takutnya, nanti ketika ngelapor, gue malah disangka tersangka pencabulan anak. Hehe.

Duh, jadi lupa beneran mau posting apa. Udah jam segini pula. Gue harus mandi terus siap-siap ke kampus. Untuk yang mau ngasih tahu cara atau tips menolak lupa, silakan tulis di kolom komentar ya.


Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, October 6, 2013

Seputar Sidang PKL dan Pergantian Email

Wohoo akhirnya gue udah beres sidang PKL!

Lega banget rasanya. Walaupun pas ditanya dosen, gue cuma aa.. ee.. aa.. ee.. tapi ini semua akhirnya berakhir juga. Gue akhirnya sederajat dengan mahasiswa tingkat akhir yang tinggal. Garap. Si Kampret. Bernama. Skripsi. Bentar ya, gue nangis terharu dulu… Oke, udah selesai.

Pelajaran yang gue dapet dari sidang kemaren adalah: jangan takut salah.

Men, dosen gue nanyanya teknis parah. Gue yang pkl di perusahaan kayu lapis ditanyain  warna alat, ketebalan kayu lapis, ketebalan per bagian kayu lapis sebelum dirakit, suhu pengepressan dingin, suhu pengepressan panas. Masalahnya adalah, sewaktu gue jawab, si dosen pasti ketawa-tawa, lalu menanyakan keyakinan gue tentang jawaban yang gue berikan seperti layaknya dalam who wants to be a millionaire:

            Dosen: berapa suhu pengepressan di sana?
            Gue: Err.. Tergantung lem-nya, Pak. Mulai dari 110-135 derajat Celcius.
            Dosen: Hahaha.. Yang pakai phenol!
            Gue: Ser-seratus dua lima sampai seratus tiga lima, Pak.
            Dosen: (gebrak meja) Hah! Yakin kamu!
            Gue: (latah) ALLAHU AKBAR!
            Dosen: Hahaha itu yang benar kamu. Berapa suhunya?!
            Gue: (menunduk karena panik) Ya-yakin, Pak. Kemaren dikasih tahu-nya segitu, kok.
            Dosen: Yakin?
            Gue: Err.. iya, Pak.
            Dosen: Kamu ngga mau pakai bantuan? Fifty-fifty gitu?
            Gue: Hah, engga, Pak.
            Dosen: (mengetuk-ngetuk meja pakai telunjuk) … KELUAR KAMUU!!
            Gue: ASTAGHFIRULLAH!
            Dosen: KAMU LOLOS KE TAHAP SELANJUTNYA!
            Gue: ALHAMDULILLAH!!

Nasib temen gue ngga kalah naas. Bandi, teman berwajah mirip bawang, dihajar dosen pembimbingnya pakai kata-kata. Setelah presentasi panjang lebar tentang-ngapain-aja-dia-selama-pkl si dosen malah bertanya, siapa-pemilik-perusahaan-tempat-Bandi-pkl. Dan Bandi ngga tahu. Habislah dia. Kalau gue jadi Bandi, mungkin setiap malem gue bakal ngelindur, ‘Sumpah, Pak.. bukan saya, Pak.. Ampunilah dosa-dosa saya..’

Tapi yang naas daripada yang naas adalah Yudha. Kaum adam bermuka kotak asal kuningan ini belum sidang. Jangankan sidang, laporan pkl-nya aja belum ditandan-tanganin sama dosen, padahal jadwal ngumpulin ke TU udah lewat. Kata dosennya sih, dia sibuk. Yudha, yuk gue temenin ke tukang sate. Kita colok mata Bapaknya pake tusukan sate.

Pindah ke topik lain. Gue ganti email. Wohoooo!

Email gue yang semula encardist@gmail.com sekarang berubah jadi kresnoadidh@gmail.com. Alasan pertama gue ganti email ialah, ngga enak sama dosen kalau ditanya, ‘email kamu apa? Biar saya kirim ke sana saja.’ ‘encardist@gmail.com, Pak!’ Dia pasti bakal nanya lagi, ‘Encar apa?’ Masak gue akan jawab, ‘Encar dulu dong, Pak. Sabar..,’ dengan gaya kayak Nikita Mirzani kalo lagi sok manja di tv.

Alasan kedua: gue pengen misahin antara email buat main card flourish, sama email standar. Karena email encardist@gmail.com udah lama gue pake, jadi agak lucu aja, misalnya gue tiba-tiba bikin video yang ngga ada hubungannya dengan card flourish terus gue upload pakai email itu di Youtube. Temen-temen dari luar yang biasa komen, ‘nice move! Great video!’ Pasati bakal tiba-tiba berubah jadi, ‘WTH,’ ‘wtf,’ atau kalo orang Indonesia yang komen, ‘Njir, ini video apaan, Di? Cacat bener.’

Untuk yang mau lihat channel youtube gue, silakan kemari: http://www.youtube.com/user/enCardArtist

Karena di dunia per-Youtube-an gue sempet make nickname ‘K’ (dibaca seperti membaca ‘ke’ di dalam kakek, bukan ke mana’), gue hampir membuat email dengan nama tersebut. Tapi, setelah gue pikir-pikir sepertinya aneh aja kalo dipake di Indonesia. Jika orang barat akan menyebut nama gue dengan keren ‘What’s up, Kee’ Sedangkan orang Indonesia, dengan fenomena semua pria dipanggil ‘Bang’, nama gue akan berubah menjadi Bang ke. Tele kuda.

Jadi, kalau kalian mau nanya-nanya sesuatu atau ngasih tau apapun ke gue, langsung aja kirim ke kresnoadidh@gmail.com, ya.


See ya :)   
Suka post ini? Bagikan ke: