Wednesday, September 25, 2013

Postingan yang Harusnya Diketik Sambil Lega

Harusnya malem ini gue bisa leye-leye dengan lega. Harusnya.

Iya, tadi siang harusnya gue ada sidang praktek kerja lapang (postingan tentang pkl bisa diliat di sini), tapi setelah gue deg-degan nyiapin materi, begadang ngebuat power point, setelah gue dandan tampan ala kepala desa, setelah gue dateng pagi-pagi padahal ngga ada kuliah, setelah gue ketuk pintu ruangan dosennya tiga kali, dosennya malah ngga ada. Sempak.

Ada dua perasaan yang gue rasakan setelah tahu kalau dosen pembimbing pkl gue ngga ada di kampus:

1) Sedih. Tadi pagi padahal gue udah bilang, ‘Gile, gue pengen cepet-cepet sore deh. Biarin lah presentasi ngaco, yang penting udah ngga ada beban.’ Kenyataannya sekarang: masih ada beban. Dan nyesek karena kemaren gue nyiapin materi sampe pagi. Kalau kata temen gue, ini gue udah kebelet boker, lari-lari nyari toilet, dan pas ketemu, toiletnya dikunci. Maderfaker.

2) Seneng. Pasti ada hikmah dibalik ini semua. Walaupun hari ini gue merasa kalah, pasti ada kemenangan di hari yang lain. Tidak mungkin ada orang yang tidak menang kecuali ia layak untuk di-tidak-menangkan. Oke, kalimat di nomor dua ini pasti karena gue kebanyakan baca timeline-nya @MTLovenHoney.


Pindah ke topik lain, hari senin minggu lalu, dosen gue cerita tentang teknologi-teknologi yang digunakan oleh orang-orang di peradaban zaman lalu, kayak Piramida, Borobudur, Machu Picchu, dan bagaimana uang batu digunakan di Mikronesia. Dia bertanya tentang bagaimana cara orang-orang dulu dengan segala keterbatasannya mampu mengangkat batu segede gaban, berjalan 5 km, bagaimana menyatukan batu-batu tersebut tanpa semen dan bisa benar-benar menyatu dengan sempurna. Dia juga punya temen yang kerja di bidang plasma, dan secara keilmuan menyatakan kalau kira-kira dunia ini udah mengalami regenerasi sebanyak 5 kali.

Sesaat setelah dosen gue ngomong gitu gue ngangguk-ngangguk, ‘Hmm.. bener juga ya. Udah banyak juga perubahan yang kita alami. Orang dulu mampu bawa-bawa batu, sementara gue sekarang, bawa telor sekilo aja langsung salah urat.’

Tapi memang benar sih. Perubahan di bidang teknologi sudah sangat pesat. Tapi, yang membuat gue bingung setelah mendengar pertanyaan dosen gue adalah: perkembangan kita itu maju, atau malah mundur?

Apakah orang-orang di peradaban zaman dulu itu benar-benar tidak ada teknologi? Atau sebenarnya ada, dan malah lebih canggih? (yang terbukti dengan adanya bangunan-bangunan yg udah gue sebutkan)

Apakah orang-orang di masa depan nanti akan berpikir seperti kita berpikir tentang orang di masa lalu?

Apakah bakal ada benda-benda khas di masa sekarang yang akan menjadi benda bersejarah di masa depan? Apa orang di masa depan akan berpikir, ‘Wah, gile. Jaman dulu ada Monas. Tiang listrik, ujungnya lancip! Kuning pula! Keren bangetz.’

Atau nanti, di masa 200 juta tahun lagi, Sewaktu para arkeolog menggali-gali tanah mereka syok karena menemukan fosil iphone 4.

Ah, ngga tahu deh. Ngapain juga mikirin begituan. Hehehe. Udah ya, gue pengen lanjut nonton bola Indonesia – Palestina. Seru banget ncui. Komentatornya ahay-ahay melulu. Minta dijebret.
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, September 21, 2013

Lanjutan Postingan Sambil Ngeliatin Hujan

Silakan baca postingan yang ini dulu kalau mau tahu cerita sebelumnya.

***

03.15 Pm:
Gue sampai di rumah Agung.

‘Assalamualaikumm.. Aguuung!’
Nyokapnya keluar, ‘Maaf, ya. Engga dulu deh, ya..’
Njir, apaan nih maksudnya…’ 

Gue yang bingung mendengar respon dari nyokapnya Agung hanya bisa menunjuk diri sendiri dan bicara terbata-bata, ‘nga-nganu, Tante, Agungnya ada?’
‘Oalaahh… ADI TOH! MASUK, SINI, MASUK, DI!’
‘IYA, ADI, TANTEEEE!!?’
‘Agungnya… ngga ada, Di.’
‘…’
‘Agung lagi ke depan. Duduk dulu sini. Mari.’
‘Baiklah..’

03.30 Pm:
Agung masuk ke rumah sambil lari-lari kecil. Dia membawa satu kresek makanan. Gue membuka jaket cokelat yang lepek, menaruhnya di sofa.

Gue: ‘Gue pikir elu lagi potong rambut, Gung. Tadi di sms katanya mau potong?’
Agung: ‘Belum, Di. Kalo gue biasanya potong rambut mah sore. Jadi enak, abis potong kan ngantuk tuh..’
Gue: (mengangguk sotoy, menghormati pernyataan dia) 'Hmm. Iya, iya..’
Agung: ‘...jadi enak, Di, bisa langsung molor malemnya.’
Gue: (tunggu, tunggu, apa hubungannya potong rambut sama ngantuk?) 'Emang, Gung, apa hubungannya potong rambut sama ngantuk?’
Agung: ‘Iya, Di. Kan disemprot-semprot gitu kepalanya. Nah, jadi ngantuk, deh.’

Sungguh seorang kaum adam yang istimewa. Gue, kalo lagi tidur ngga bangun-bangun aja disiram mukanya, lha kalo dia, disiram malah tambah pules.

Gue: (menepuk-nepuk bahu Agung yang penuh otot) 'Hmm.. hmm.. sensasional sekali kamu, Gung.’

Kita berdua mengobrol ngalor-ngidul. Gue cukup senang karena sekarang dia sudah mau diterima sebagai seorang radiolog di rumah sakit UIN. Walaupun katanya dia mendapatkan perlakuan spesial (pas mau tes, temennya dikasih tau kalo ada tes tulis, dia engga. Temennya dikasih tau kalo disuruh magang dulu sampe hari rabu, dia engga. Temennya dikabarin sama cewe terus, dia sama mas-mas. Agung, oh, Agung. Malangnya nasibmu.)

Dan, sewaktu tes wawancara, Agung merasa kalau dia seperti sedang diinterogasi

Agung: ‘Iya, Di. Parah banget tuh yang nanya, ngeledek gue.’
Gue: ‘Ngeledek gimana maksudnya?’
Agung: ‘Iya, gue kan ditanya, menurut, teman-teman di sekeliling kamu, kamu itu orangnya seperti apa?’
Gue: ‘Terus?’
Agung: ‘ya…,’ Agung memberikan jeda sebelum melanjutkan, ‘Baik. Standar lah, Di. Gue bilang kalo ada yang minta tolong ya dibantuin. Ya gitu-gitu deh.’
Gue: ‘Terus dia nanya apa lagi?’
Agung: ‘Nah, iya, dia nanya kayak yang elu tanyain.’
Gue: ‘ha?’
Agung: ‘Iya, dia nanya terus, yang lain apalagi, masa baik doang?’
Gue: (gue mengannguk mantap) ’Ooo.’
Agung: ‘Dan elu tau gue jawab apa?’
Gue: ‘engga.’
Agung: ‘Nah, iya. Gue jawab kalo gue itu… aneh.’
Gue: (kembali menepuk-nepuk bahu si Agung) 'Wajar, Gung, wajar…’

05.00 Pm:
Setelah sembahyang dan siap-siap. Kita pergi ke tukang cukur rambut di komplek rumahnya Agung. Selama perjalanan gue iseng nyobain dibonceng Agung sambil menghaadap ke belakang. Karena si Agung bawa motornya kayak kuda, dan gue ngga bisa menebak arah belokan, jadilah adrenalin gue meningkat pesat. Jadi, buat kalian yang ngga punya duit untuk ke Ancol, cobalah permainan ini. Selain memacu adrenalin, kalian juga bakal disangka orang idiot karena naik motor ngadep belakang sambil teriak-teriak girang.

05.10 Pm:
Sampai di tukang potong rambut. Antriannya ternyata rame banget. Jadi kita terpaksa nunggu. Pada sesi menunggu antrian ini, kita menyadari satu hal: semua cowok yang selesai potong rambut tampangnya sedih. Ini fenomena. Fenomena cowok sedih setelah potong rambut. Karena penasaran, kita pun menyelidiki sebab musabab si cowok-cowok ini sedih. Kita pun mendapati beberapa kemungkinan tentang fenomena ini:

1) Tukang cukurnya seenak jidat. Ngga sesuai permintaan. Jujur, gue juga pernah mengalami malpraktek karena hal semacam ini. Ketika itu waktu SMA, gue minta rambut gue cuma dirapihin, tapi tukang cukurnya malah ngotot, ‘ini dipendekin aja ya, Dek.’ Sewaktu gue bilang ngga usah pendek-pendek banget dia malah jawab, ‘Yah, biar saya motongnya agak banyakan, Dek. Masak cuman sedikit..’

Lha, situ kan dibayar atas sesuai/tidaknya sama permintaan pelanggan. Bukan banyak/enggaknya rambut yang dipotong. Lagian kan, malah enak. Motongnya dikit bayarnya sama. Sempak.

2) Tukang cukurnya budeg. Waktu kita bilang ‘Mas, potongnya dikit aja yak!’ dia malah dengernya: ‘Ohh dipotong sampe tinggal dikit. Ya, ya.’

3) Tukang cukurnya ngga ahli. Coba deh kalian ke tukang cukur kemudian menunjuk poster beragam orang dengan rambut berbeda yang biasanya ditempel di tukang cukur, ‘Nomer tiga belas ya, Mas!’ Pasti si-mas-nya ngga ngerti. Malah cengo. Ngga bakal ada yang jawab ‘Oooh potongan dengan jambul setinggi 5 senti setara ombak di Samudera Hindia. Potongan memakai ujung gunting dengan sudut lengkung 15 derajat. Ya, ya.’

Ketidak-ahlian tukang cukur ini juga terlihat dari tatanan rambut si pencukur. Ngga ada satu pun dari mereka yang memakai model seperti yang dipajang. Ini kan ibarat konter hape, tapi ternyata di dalemnya tukang laundry kiloan. Bisa dibayangkan ketika kita ingin membeli pulsa, dialog yang terjadi adalah sebagai berikut:

Gue: ‘Mas, pulsa ya. im3, sepuluh ribu!’
Mas-masnya: ‘Oke, Bang! Mari, biar saya timbang dulu..’

06.10 Pm:
Agung akhirnya potong rambut. Seperti para pria yang lain, tampangnya jadi sedih setelah selesai dipotong. Rambutnya jadi cepak. Gue hanya bisa menghibur, ‘Udah, Gung. Ada masanya semua pria kayak gini. Nanti gue juga bakal kayak gini, kok.’

Sekembalinya di rumah Agung, bokapnya komentar, ‘Ihihihik. Bagus, kok, Gung, rambutnya. Ihihihihik.’

Untungnya malam itu Agung tidak mendramatisasi kesedihannya dengan mengurung diri di kamar sambil sesenggukan, ‘Ihihihik.. Bapak jahat sama Agung. Ihik. Hik. Hikss..’



Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, September 20, 2013

Postingan Sambil Ngeliatin Hujan

Gila. Hari ini gue mati suri, tidur sampe 11 jam sendiri.

Di Bogor sekarang udah sering hujan. Dan gue suka. Gue suka aroma tanah yang disentuh air hujan. Gue suka situasinya. Gue suka dengerin lagu sewaktu hujan, ngeteh sewaktu hujan, baca buku sewaktu hujan. Semuanya terasa pas ketika hujan. Hal yang gue ngga suka ketika hujan adalah waktu mau beli makan dan malah kejebak hujan. Itu tingkat nyebelinnya sama kayak kamu nanya harga nasi goreng ke Abangnya dengan bilang ‘berapa, Mas?’ lalu dijawab ‘LHA, PIYE, KATANYA TADI BELINYA SATUU!’

Ngomong-ngomong soal hujan, hari minggu kemarin gue juga sempet berhubungan sama yang namanya hujan. Ceritanya seperti ini:

Minggu, 15/9/13

11.00 Am:

‘Totalnya jadi berapa mas?’
’37 ribu.’

Gue memberikan uang. Si masnya memberikan kembalian. Gue keluar ruangan, membereskan berkas sambil berjalan ke tukang fotokopian.

Rencananya, hari ini gue bakal masukin naskah project iseng-iseng gue ke penerbit di daerah Ciganjur. Sembari jalan ke fotokopian, gue bolak-balik lagi naskah gue. Menimang-nimang apa yang kurang, sampai gue teringat ‘Oh iya, lembar pengajuan belum gue isi.’

Di tukang fotokopian, gue buka lagi naskah gue, dan benar saja, lembar pengajuannya masih kosong. Gue mulai mengisi dari pertanyaan seputar biodata seperti nama, alamat, hobi, semuanya gue isi dengan cepat. Hingga gue berhenti pada sebuah pertanyaan: ‘apakah selling point dari naskah gue?’

Dan jawaban gue adalah,
Tidak tahu.

Gue diam. Merenung. Si Mas tukang fotokopian menatap gue dengan tatapan ini-orang-waras-apa-kaga-sih.

Berbagai pikiran berkecamuk di dalam perenungan gue. Gue berpikir licik, ‘apa gue curang aja, ya.’ Gue buat saja tulisan sok pintar supaya terlihat keren.

‘Dengan membaca naskah ini, pemerintah akan mengurangi kebiasaannya dalam berkorupsi. Orang-orang yang menduduki pemerintahan juga tidak akan berhidung belang (kalau pemerintah tidak lagi kerokan di batang hidung).’

Atau versi religiusnya,
‘Dengan membaca naskah ini, Anda akan masuk surga.’

Atau versi yang tidak nyambung,
‘Dengan membaca naskah ini, saya akan sangat bahagia.’

Gue: ‘Mas, jilid ya,’ kata gue, setelah mengisi pertanyaan laknat tersebut dengan jawaban, rahasia. ‘Yang rapih, ya.’
Mas-mas tukang fotokopian: Oke, Ponakan.

Ponakan?

Entah apa maksud dan tujuan dia memanggil gue dengan sebutan ponakan. Setelah pernyataan tersebut terlontar dari mulut mas-mas tukang fotokopian, sekelebat terlintas di pikiran gue: ‘Apa jangan-jangan, dia memang Om gue yang selama ini belum pernah ketemu? Yang seperti di film-film?’  Tidak. Setelah dipikir-pikir, gue ngga punya Om yang mukanya kayak curut kena radiasi gitu.

12.15 Pm:
Gue pergi naik motor ke Ciganjur, masih dengan muka heran, abis di-ponakan-in ama tukang potokopian.

01.00 Pm:
Gue sampai di Ciganjur. Lebih tepatnya  di daerah… ngga tahu. Gue nyasar. Saat ini gue berjalan hanya berdasarkan indera. Masalahnya indera gue suka ngawur. Jadilah gue jalan ngasal-sengasal-ngasalnya umat. Gue malah sempat punya pikiran apa gue balik aja ya, nanti deh, kapan-kapan nyerahinnya. Dan seketika saja muncul suara entah dari mana: ‘Jangan.’
Oke, baiklah. Jangan.

01.15 Pm:
Mendadak hujan turun, gue meminggirkan motor, berteduh di warung kelontong. Kombinasi antara nyasar ditambah hujan ditambah teh kotak dingin yang gue seruput kecil-kecil dan alunan Just a feeling  membuat gue merasa tampan. Gue memandangi titik-titik air yang berjatuhan. Menghirupi aroma tanah-tanah basah yang membuat rongga dada seakan melebar.

Di sebelah kiri warung kelontong ini, terdapat gerobak mie ayam berwarna biru yang seperti menebeng di tempat bengkel motor. Terdapat bangku kayu panjang dengan meja seadanya di depan gerobak tadi. Di sebelah kursi panjang itu, ada kursi lain yang hanya muat diduduki satu orang. Mamang-mamang tukang mie ayam duduk di sana.

Gue, berhubung sudah lapar, akhirnya jalan ke sana dan memesan semangkuk mie ayam.
‘Mas, mie  ayam ya, satu!’
‘Pedes ngga, Bang?’
Ngga usah.’
‘Mau pake oli motor ngga, Bang? Ehehehe,’ kata si Abang berkumis, sambil nyengir lebar.
‘Ngga usah, Mas.’ Gue menunjuk ke arah bengkel, ‘Pake minyak rem aja.’
Abangnya tertawa, ‘Ah, si Abang, bisa aja. Ehehehehe.’

Gue langsung duduk ke bangku panjang, tidak mengindahkan perkataan si Abang tukang mie ayam.

Tidak lama berselang, dia menghampiri gue, ‘Ini, Bang,’ katanya, yang kemudian menaruh semangkuk mie ayam di depan gue. ‘Mie ayam spesial… pake oli bekas! Hehehe.’

Mencurigakan.

Sebelum benar-benar melahap mie ayam ini, gue baca doa lama-lama, kemudian melihat-lihat ke dalam bengkel. Mencari-cari benda yang bisa dihantamkan ke kepala Abangnya kalo ternyata rasa mie ayamnya benaran aneh.

Gue tusukan garpu ke mie ayam tersebut pelan-pelan, lalu gue putar sampai mie-nya menggumpal di garpu. Gue masukkan ke dalam mulut… enak! Selamatlah si Abang dari sabetan gir motor yang sudah gue siapkan sebelumnya.

02.20 Pm:
Hujan mulai reda. Gue pergi dari tukang mie ayam dengan damai. Baru mundurin motor, gue kaget setelah melihat plang, ‘Lho, jadi ini Jl H. Montong?’

Gue, yang daritadi nyasar nyari alamat ini, ternyata, tempatnya, gue sudah sampai. Alhamdulillah. Gue cek lagi ponsel gue, melihat nomor rumahnya, ‘Ooooh 57. Ya, ya, ya.’ Gue pun menyusuri Jl. H montong perlahan-lahan, sampai akhirnya gue tepat di depan sebuah rumah besar dengan tulisan nomor 57 di temboknya.  Pintu gerbangnya sedikit terbuka. Gue puter balik. Ngga jadi masuk. Pengecut.

Karena bingung mau ke mana lagi, akhirnya gue sms Agung, teman SMP gue yang tampangnya kayak kuli
‘Gung, di mana?’
‘Di rumah.’
‘’Gue ke sana, ya.’
‘Oke.’

Setengah perjalanan, dan, mendadak, hujan, kembali turun. Gue neduh di tukang vermak jeans. Tempatnya agak kecil, tapi cukuplah untuk gue berteduh. Dan jujur, tempat vermak jeans bukanlah tempat yang layak dijadiin tempat buat berteduh. Gue selama di sana berdiri dengan celana basah, abangnya ngeliatin celana gue mulu. Njir, gue kan jadi mau (lho).

Masih dalam kecanggungan diliatin abang tukang vermak celana, ada mas-mas yang turun dari angkot dan neduh di samping gue. Tingginya setara gue, tapi badannya agak lebih besar sedikit. Dia dadah-dadah melulu ke tiap angkot yang lewat. Gue juga ngga mengerti ritual apa yang sedang dia lakukan sampai dia berteriak sambil mengangkat kedua tangannya, ‘ HUA! HULA! HAAAA!!’

Seketika saja angkot-angkot pada berhenti. Dia naik angkot. Mungkin itu semacam bahasa pemanggil angkot.

Tidak lama setelah ditinggal mas-mas tersebut naik angkot, dua orang cowo abg naik vario tiba-tiba mengerem di depan gue. Mereka berdua masuk ke toko vermak jeans sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang lepek terkena hujan. Gue kecipratan.
Di dalam hati gue berteriak, ‘AAAAA TOLOONG, SETAAAN, SETAAAN!!’
Mereka berdua ngobrol sambil berteriak, ‘LHA, CACAT DAH. DI SONO NGGA UJAN. DI SINI UJAN!’
Kata gue di dalam hati, ‘Muke lu noh, cacat.’

02.45 Pm:
Hujan berhenti. Gue melanjutkan perjalanan ke tempat Agung.

***
Karena udah terlalu panjang, mungkin cerita gue ngapain aja di tempat Agung, teman gue yang kuat tapi ngga suka keliling komplek bawa-bawa barbel, mungkin akan gue lanjutkan di postingan selanjutnya.

*lanjut ngeliatin hujan sambil minum cokelat*

Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, September 16, 2013

Tentang Pergantian Fungsi dan Panggilan dari Masa Lalu


Halo,

Apa kabar kalian semua? gimana tampilan blog gue yang baru, lebih statutisasi harmonisasi kan?

Setelah berapa lama akhirnya gue kembali mengubah tampilan blog. Walaupun cuman ngotak-ngatik dikit, tapi lumayanlah. Tampilan yang sekarang terlihat lebih segar, tetep simpel, dan… biru. Meski gue masih rada belum sreg sama  font judul tiap blog, tapi untuk sementara gue pake ini dulu. Dan, oh iya. Karena mulai postingan ini gue ganti jenis huruf di postingan, jadi maaf ya kalau belang-belang.

Perubahan tampilan keriba-keribo ini sekaligus mengganti fungsi dari blog ini sendiri. Yang tadinya diisi postingan apa aja suka-suka otak gue, mungkin nanti ke depannya keriba-keribo bakal lebih terstruktur. Gue bakal buat blog ini menjadi sebuah diary. Iya, benar-benar diary kayak zaman SD dulu.Hal ini akan cocok mengingat gue juga jarang memasukkan gambar-gambar ke dalam blog ini. Gue pun akan membuatnya seperti orang menulis diary pada umumnya. Kalo orang-orang biasa menulis diary dengan sapaan, maka postingan ini dimulai dengan sapaan halo. Kalau orang lain menulis diary dengan mencantumkan tanggal, gue pun begitu. Kalau orang lain menulis diary di binder yang ada gambar Putri Mermaid-nya. Gue engga. Astaghfirullah. Mana mau gue. Gue. Maunya. Gambar. Siluman. Buaya. Putih.

Pokoknya nanti keriba-keribo bakal jadi diary yang bener-bener diary, kayak di postingan ini.

And, here we go.

Sabtu, 14/9/13

02.00 Pm:

Gue buka Facebook, kemudian menemukan ini di grup ICA:
Sir Alex:  “buat ICA Tangerang, berhubung besok ada yang minta gath, jadi buat yg mau dateng silahkan dateng aja. Tempat seperti biasa di depan Pizza Hut, SMS (Summarecon Mall Serpong) jam 4 sampe kelar. Gue sndiri mungkin ngga dtg krn lagi tepar. Tapi yang lain silahkan dateng dan ramein gath nya ya. Yang blom ke tag tp ada di daerah tangerang/ gading serpong/ BSD/ dan sekitarnya silahkan lgs mampir aja.

Gue seneng. Akhirnya ada kumpul lagi setelah lama ngga main sama anak-anak ICA buat latian  flourish bareng. Langsung gue komen: Insya Allah dateng. Jam 5 sampe sana.

03.00 Pm:

Gue mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, nyokap menghampiri gue sambil bertanya penuh curiga: ‘mau ke mana, Dek?’

Gue pun kaget. Di dalam hati gue berpikir: ‘Gile nyokap bisa baca pikiran gue.. tau aja dia kalo gue mau pergi.’ Gue pun berucap, ‘i-iya, Bu. Mau kumpul ICA.’

Gue memang ngga pernah dianggap benar sama nyokap dalam urusan mandi-mandian. Kalau mandi agak sore, dimarahin. Katanya nanti rematik. Giliran mandinya ngga telat, dicurigain mau pergi. Dan masalahnya, nyokap merupakan orang yang detail. Setiap gue mau pergi pasti ditanya macem-macem.  1) Kamu mau ke mana? 2) Naik apa? 3) Sama siapa? 4) Pulang jam berapa? 5) Kenapa Aceng Fikri menceraikan istrinya dalam waktu 4 hari saja?

Kalau udah kelewatan begitu, biasanya gue jadi males. Ujung-ujungnya gue hanya menjawab: main… ke depan.

05.05 Pm:

Gue sudah sampai di Summarecon Mall Serpong. Duduk di downtown depan pizza hut, membaca buku sambil pasang earphone.

05.25 Pm:

Belum ada yang dateng.

05.30 Pm:

Belum ada yang dateng.

05.35 Pm:

Gue gebrak meja: DUAR!  Orang-orang pada ngeliatin: DUAR! Gue ditembak pake senapan angin.

Karena ngga ada yang dateng, gue memutuskan untuk jalan-jalan ke gramed. Rencananya mau baca-baca Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Karena ternyata bukunya ngga ada, gue pun mencari buku-buku menantang lainnya. Gue pergi ke rak politik. 5 menit baca, otak gue langsung konspirasi kemakmuran.

06.40 Pm:

Setelah konspirasi kemakmuran gue mereda, gue sembahyang dan kembali ke downtown, depan pizza hut. Merasa ngga bakal ada kumpul ICA, gue pun mengabarkan kepada dia dari masa lalu. Hari itu kita juga punya rencana buat ketemuan.

‘Hei, Di. Elu sekarang tinggian ya,’ sapanya.

Gue, dengan tetap menjaga wibawa, membalas,’ Gue mah ngga tinggi. Elu aja yang kependekan.’

Waktu itu kita ngga begitu banyak cerita, lebih banyak canggungnya. Mungkin karena udah lama banget ngga ketemu dan dia datang dari masa lalu membuat suasananya makin kikuk. Gue hanya sesekali menggoyang-goyangkan lilin dalam gelas yang terdapat di meja. Sampai ke sebuah pertanyaan yang membuat gue was-was, ‘elu udah makan, Di?’ Astaghfirullah. Dompet. Gue. lagi. Labil. Ekonomi.

Gue sok-sokan ngeles, ‘Belum. Nanti aja kayaknya.’

Sampai ngga berapa lama kita akhirnya memilih untuk beli makan di luar mall. ‘Elu mau makan apa, Di?’ tanya dia. ‘Apa aja.’ Gue melanjutkan dengan tersedu-sedu, ‘Yang penting murah…’

Gue pun hanya mengemudikan motor ke arah yang dia tunjuk.

07.20 Pm:

Masih di atas motor, sembari menunjuk-nunjuk sekitar, dia berbicara, ‘Nah, di sini banyak makanan, Di. Elu mau makan apa?’

Gue, yang ngga tahu daerah di sana-dan-ngga-tahu-ada-mamang-mamang-jualan-apa akhirnya memilih makanan paling standar, dan paling biasa: nasi goreng.
‘Elu mau apa?’ tanya gue balik.
‘Samain aja deh.’

Gue pun meminggirkan motor, menyambangi gerobak tukang nasi goreng, memesan dua piring nasi goreng, kemudian duduk di kursi plastik. Belum lama duduk, dia seperti memberi kode, ‘Eh, tau ayam coblos ngga? Di sini kan ada..’ Dia melanjutkan, ‘Di kosan gue juga ada tukang soto. Tapi agak ngga enak, sih..’ Gue, yang-MANA-TAU-KALO-DAERAH-SITU-ADA-MAKANAN-GITUAN- coba membela diri, ‘Ah. Ini juga nasi gorengnya pasti enak kok.’ Gue menoleh ke Abangnya, ‘Ya kan, Bang. Enak nasi goreng buatan Abang?’

Abangnya diam.

'Ya kan, Bang? Enak kan, Bang?'

Abangnya tetap diam.

Diamnya si Abang ini, menurut analisa gue, punya dua arti: 1) Nasi goreng buatannya emang ngga enak, 2) Dia pengen naroh penggorengan ke kepalanya buat jadi topi-topian, tapi malu.

Setelah makan, gue ke kosan dia dari masa lalu, dan yang terjadi berikutnya adalah,

Rahasia.


Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, September 11, 2013

Kopdar Merasa Ganteng Itu Karena...

Beberapa waktu yang lalu, komunitas Jamban Blogger mengadakan kopdar. Kopdar, kependekan dari kopi darat, yang berarti ketemuan. Gue ngga tau asal muasal kata kopdar ini. Apakah orang-orang yang melakukan ‘kopdar’ pertama kali ketemuannya sambil ngopi-ngopi di darat? Apakah komunitas para nelayan kalau ketemuan namanya kopi laut? Apakah komunitas para pedangdut kalo ketemuan namanya kopi dangdut? Ngopi-ngopi sambil goyang itik? Ah, ngga ngerti lah. Padahal kan, lebih bagus goyang sundul gan.

Duh, maaf. Gue jadi ngga konsentrasi. Mungkin ini akibat dari kebanyakan minum kopi luwak. Maksudnya gue minum kopi terus muka gue dicakar-cakar sama luwak.

Begini, sabtu kemarin, Jamban Blogger mengadakan kopi darat di mcd gajah mada (Jakarta pusat) jam 10 pagi. Gue, yang kebetulan di Bogor, meng-sms Tiwi—salah satu admin—kalau gue bakal dateng siang. Sebelum berangkat, gue ditugasi oleh Abang gue untuk menyelesaikan sebuah misi: ngasih makan uler.

08.00 Am:
Jadi, mulai pagi, gue naik motor berkeliling kampus untuk mencari mencit (tikus putih). Sesampainya di fakultas peternakan, karena ngga tau di mana lokasi persis penjual mencit, akhirnya gue mendedikasikan diri untuk bertanya ke satpam yang lagi kongkow-kongkow di tempat pengolahan susu sapi. Lho, di sini mah ngga ada yang jual mencit, Dek, katanya. Setelah gue mengubah beberapa kata, akhirnya si satpam kembali ngomong, ‘Oh, di sini mah ada yang jual tikus putih, Dek.’ Gue hampir saja melindas kaki kanannya, sampai dia melanjutkan, ‘ Di sana tempatnya, masih ke paling ujung.’

Melewati jalan yang gronjal-gronjal, di penuhi rasa was-was—takut-takut motor gue bannya bocor, dengan sangat elegan gue menyambangi tempat penjual mencit. Gue sebenarnya agak tidak enak hati karena sesampainya di sana, yang ada hanya seorang satpam yang lagi setengah bugil tengkurep dan satu teman pria-nya yang lagi mijit-mijit. Merasa sudah kepalang tanggung, gue bertanya. Wah, hari sabtu mah ngga ada mencitnya. Adanya senin sampai jumat.’ Gue ngga berani bertanya ke mana mencit-mencit itu pergi tiap sabtu dan mniggu, selain karena takut melihat tampang si satpam, gue juga takut satpamnya akan bilang, ‘Ngga tahu Dek. Mending ikut kita sini, pijit-pijit. Ihihihiihi.’

Gue, yang ngga tahu harus berbuat apa, memutuskan untuk balik ke kosan. Di perjalanan gue sempat mikir, katanya, si pongki (nama uler abang gue) udah tiga minggu ngga makan. Kalau minggu ini ngga gue kasih makan, kepala gue bakal digantung di atas perapian sama Abang gue. Gue pun punya ide, ‘Aha. Gimana kalo kasih makan burung.’

Gue pun bertanya ke sana-sini, dari satu toko burung ke toko burung yang lain. Ternyata harga burung-burung yang di jual abangnya mahal-mahal. Sementara burung Abangnya sendiri ngga dijual.

Gue sms Abang gue: ‘Mas, ngga ada nih mencitnya, gimana?’
Abang gue, dengan insting seorang hewan, langsung menelepon gue, ‘Lho, emang ngga ada mencitnya? Duh, kasihan si pongki. Nanti dia kalo ngga makan-makan bisa kurus. Pongki, uler yang telah menemani, membuka setiap pagi gue dengan melet-meletnya akan rentan terkena tetanus. Ya udah, nanti gue ke Bogor.’
'Baiklah.'

09.50 Am:
Setelah ke warnet untuk menghafal jalan menuju mcd gajah mada, gue memacu motor ke sana.

1.05 Pm:
Hujan deras di Sudirman. Karena udah telat, gue punya dua opsi: 1) bantai terus ke mcd gajah mada dan akan kopdar dengan muka kayak gelandangan atau 2) berteduh dulu, telat banget, tapi sewaktu kopdar gue tetep ganteng.

Tiwi menelepon. Gue meminggirkan motor. Berteduh. Tuhan masih ingin melihat gue kopdar dengan muka ganteng.

‘Di, di mana lu?’
(panik karena udah dicari) ‘Di Sudirman. Hujan nih, paling gue sampe sana siang. Kopdar mah lama ini kan?’
‘Yakin lu mau jadi tetep dateng?’
(mulai mengendus sesuatu yang aneh) ‘Gue udah di jalan sih. Ya kalo pada dateng, gue dateng aja. Pengen ketemu juga, kan sama anak-anak.’
‘Ya udah deh. Gue juga baru mau berangkat nih. Ada acara kampus tadi.’
(ngga panik karena ternyata ngga dicari) ‘O-oke, deh.’

01.35 Pm:
Sampai di mcd gajah mada walaupun sempet nyasar-nyasar sampai ke glodok. Gue sudah mempersiapkan alasan yang keren kalau ditanya kenapa baru dateng: ‘Tadi nyobain nyasar dulu, biar keren aja.’

Setelah sembahyang dan memperoleh tambahan aura-aura ketampanan, gue memasuki mcd.

Gue pun sadar suatu hal: lho, tampang mereka kayak apa ya? Gue kan belum pernah ketemu. Logika gue mengatakan kalau kopdar gitu pasti ada rame-rame rusuh, lantas gue naik ke lantai dua, tempat mcCoffe. Ngga ada.  Satu-satunya yang ramai adalah di lantai tiga. Lagi ada sesi ulang taun anak balita. Karena ngga mungkin si kevin—admin lainnya Jamban Blogger—masiih balita dan ngerayain ulang tahun di mcd, (Orang kayak dia mah, menurut pengalaman gue, kalo ulang tahun ngerayainnya… di kfc) akhirnya kembali ke lantai satu, memesan sebuah panas medium, dengan minum yang ditukar teh botol.

02.00 Pm:
Seusai makan, gue mengendus sesuatu yang aneh (belakangan gue sadar ada tokai kucing di dekat gue). Kenapa pada belum dateng ya? Katanya dari jam 10? Gue pun kembali ke lantai 2. Mencari orang-orang yang mukanya mirip si kevin. Karena bingung mau ngapain, gue, yang merasa ganteng karena kopdar cuman sendiri akhirnya memesan sebuah hot chocolate sambil ngenet-ngenet kecil.

02.24 Pm:
Setelah gue mention, kevin membalas: Di Monas..

02.26 Pm:
Hot chocolate datang. Gue seruput dikit, lidah gue melepuh soalnya masih panas.

02.30 Pm:
Tiwi meng-sms: Diiii, kita di monaaaaas..

02.30-02.40 Pm:
Gue mengipas-ngipas lidah karena kepanasan.

02.40 Pm:
Tiwi menelepon: ‘Di, kita di monas nih. Gimana, mau ke sini ngga?’
Gue, yang baru saja memesan minum, bingung harus merespon apa: ‘Kalian di sana? Gue hampir aja nepok orang yang mukanya mirip landak. Gue kira si kevin.’
‘Iya, kita di monas. Elu mau ke sini apa engga?’
Tuuut.. Tuut.. Tuut..
GANTENG. LUAR. BIASA.

Gue langsung menyeruput si hot chocolate secepat mungkin, dengan berbagai gaya. Diseruput, ditegak, pakai sedotan, pakai piring ala mbah marijan kalo minum kopi. Sampai sewaktu gue bersiap-siap mau berangkat, si kevin kembali me-mention gue: Udahan nih..

GANTENG. ASTAGHFIRULLAH. LUAR BIASA.


Hari itu gue ngga berjodoh sama mencit, juga sama anak Jamban Blogger. Jadi, apa kamu jodoh aku?
Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, September 3, 2013

Saya Farhat Abess Dan Saya Membuat Pasal Baru

Hai hai hai. Salam kenal,  saya Farhat Abess. Saya politikus yang bergelut di dunia asmara. Kamu naksir temen kamu tapi ngga ngaku? Sini, sumpah pocong dulu! Kamu udah keburu move on padahal belum putus? Ngga ngaku? Sini, sumpah pocong dulu! Kamu kalo denger musik dangdut bawaannya pengen goyang itik? Ngga ngaku? Sama sih, saya juga malu mengakuinya..

Saya memperhatikan bahwa belakangan ini sedang marak terjadi kasus-kasus di dunia asmara. Hal ini akan berimbas kepada citra mahluk-mahluk di Indonesia (maksudnya pria dan wanita, pocong goyang pinggul tidak termasuk). Iya, benar sekali. Saya melihat fenomena yang aneh belakangan ini, cewe jelek jadian sama cowo yang gantengnya selangit, cowo jelek jadian sama cewe cantik, mulai banyak jomblo yang mati bergelimpangan di jalan raya karena ngga ada yang ngingetin makan. Ramai foto cewe-cewe gendut di dunia maya yang hanya memamerkan mukanya (kalo sebadan-badan ngga muat), sering kali kita lihat avatar/proile picture menggunakan foto-foto kartun. Untuk kalian wahai mahluk-mahluk seperti ini, saran saya cuman satu: nyanyikanlah lagu saya. Anda tidak hafal lagu saya? Sama sih, saya juga.

Ehem. Uhuk, uhuk. Maaf, Saya suka batuk kalau harus bicara serius seperti ini. Maklum, kebanyakan ngisep knalpot.

Jadi, untuk meminimalisir adanya kasus-kasus mengenai ketidakadilan dalam berasmara, Saya, Farhat Abess, membuat lima pasal baru yang berhubungan dalam asmara. Harap pasal ini dibacakan keras-keras pada malam Jumat Wage, niscaya Anda dianggap sinting oleh keluarga Anda.


Berikut pasal-pasal yang telah saya buat:



Salam,

FARHAT ABBESH!

Calon politikus asmara dunia yang doyan sumpah pocong

Suka post ini? Bagikan ke: