Wednesday, August 21, 2013

Emang Om Ini Salah apa..?

Gila,
Gue kangen banget curhat di blog ini.
Sebelumnya, walaupun telat banget, tapi gue mau ngucapin minal aidin walfaidzin ya. MERDEKA!

Baiklah, setelah beberapa kali menulis postingan serius, kali ini gue akan kembali menulis postingan ngga penting. Hehe.

Gue adalah tipe orang yang suka anak kecil. Apalagi anak kecil yang baru belajar jalan. Menurut gue, anak kecil merupakan salah satu mahluk terunyu di dunia. Lihat aja tampangnya, pipi gembulnya, cara jalannya yang masih patah-patah (emang goyang dangdut?) Semua masalah-masalah hidup gue bisa lenyap secara misterius kalau liat eskpresi mereka. Yang jadi masalahnya adalah, kenapa mereka semua tampaknya ngga suka gue. Gue yang udah tulus menggoda mereka malah dibalas dengan perilaku jahanam dari mereka. Kelakuan gue sewaktu pertama kali nemu bayi superunyu: teriak, “WAAAAAA!... UWAAAAA!!” sambil memeletkan lidah. Reaksi mereka setelah melihat aksi gue: Kelojotan sambil jerit-jerit ketakutan, “HAAA!!.. OOLOONG, ADA ETAAAANN! OEEEK.. OEEKK!”

Selalu aja ada masalah antara gue dan anak kecil. Emangnya om ini salah apa nak? Huhuhhu. Gue pernah ketemu tiga anak kecil (2 cowok 1 cewek) di A&W stasiun kota. Lagi enak-enak makan, tiba-tiba gue ngeliat 3 anak kecil unyu ini lagi ketawa-tiwi.

Insting kebapakan gue muncul. Gue deketinlah mereka. Sambil sok-sok -nyengir imut, gue sapa ‘Haloooo adeeek.’
Mereka salng toleh. Kemudian, si cowok yang paling besar tiba-tiba teriak dengan melengking parah, ‘HIIIII!!! ADA OM KIBOOOO!’
Gue kaget, tapi sok santai. Gue deketin lagi, “Adek siapa namanya?”
Sekarang giliran yang cewek teriak, “AAAAAAAAAAAHHHH!”
Gue ngga nyerah. Gue toel-toel pipinya, “Ha? Siapa dek, namanya?”
Cowok yang kecil njerit, “HAAAAAAAAAAAAHHHHH!!”

Hebat. Sekali deketin, gue langsung bisa bikin sebuah kelompok paduan suara. Dengan suara mematikan.

Karena ngga enak sama yang lagi pada makan, gue akhirnya balik lagi ke meja. Ngga lama mereka bertiga mendatangi meja gue. Malapetaka pun dimulai.

Yang cowok paling gede teriak, “KERIBOOOO!! AAAAAAAAAAAHHHH!”
Yang cowok satunya narik-narik celana gue.
Yang cewek ngomong ke kakaknya yang paling gede: “Kaak, jangan teriak-teriak.. AAAAAAAAAAAAkkHHH!!”
Gue membela diri, “Sssssttt.. udah, udah.. Jangan teriak ya, lagian kakak ngga keribo. Ini lurus kok. Hehehe.”
Si cowok paling gede teriak, “AAAAAAAAAAAAAAHH!”
Yang cewek ngga mau kalah, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!!”
Si cowok yang satunya ikut-ikutan, “AAAAAAAAAAAAAHH!!”

Melihat situasi yang semakin tidak kondusif, gue berencana menceburkan mereka ke dalam minyak panas bersama kumpulan paha ayam.


Ngga cuma sekali gue berurusan sama anak kecil kayak gini. Sewaktu PKL kemaren, kaki gue digiles secara tak berdosa oleh salah seorang anak kecil yang lagi main sepeda-sepedaan.
“Aduh, dek. Kaki kakak jangan diilindes dong!”
Dia diem sebentar. Mukanya datar. Tatapannya kosong. Tidak lama kemudian dia lanjut main sepeda.

Saat itu gue berpikir: ini kecilnya gini, gedenya psikopat.

Bukan hanya anak kecil, ibu kos gue malah mirip-miripin gue sama anak kecil: bastian. Coboy. Junior. Sempak. Jadilah gue harus menahan diri karena dibuli selama sebulan. Emang om ini salah apa?

Nih, gue kasih tahu ya. Dia bilang gue yang mirip sama bastian. Jelas-jelas bastian masih piyik, gue udah 20 taun. Kalau mau mirip-miripin ya berarti dia yang mirip gue, bukan gue yang mirip dia, dasar kau bidadari jatuh dari surga. Dihadapanku. Eaa, kenapa jadi nyanyi.

Sekali lagi gue kasih tahu buat si Ibu kos-yang-gue-lupa-namanya. Gue sama bastian coboy junior itu beda banget. Ngga ada mirip-miripnya. Berikut gue kasih tiga perbedaan mendasar antara gue dan bastian coboy junior:

Bastian: Belom sunat
Adi: Udah!
Bastian: Belom akil balig
Adi: Udah!
Bastian: Belom punya pacar
Adi: Bentar, ini kayaknya batre laptop mau abis deh…




Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, August 13, 2013

Kiat Seputar Komedi Ala Keriba-Keribo

Karena sekarang personal blog yang berbasis komedi kian marak, maka gue akan coba memberikan tips mengenai penulisan komedi.

Sebelumnya, ada satu pertanyaan yang sering dilontarkan tentang dunia komedi: Emang komedi bisa dipelajari?

Jawaban: bisa. Seperti halnya seni yang lain, komedi dapat dipelajari, dikembangkan, dan dibedah. Menulis komedi sejatinya tidak hanya menuliskan cerita-cerita lucu, melainkan memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap suatu hal kepada pembaca. Semakin pembaca setuju dengan sudut pandang yang kita berikan, semakin lucu ia.

Pada umumnya, terdapat beberapa jenis komedi yang ada di dalam sebuah tulisan:

1. Situasional komedi: Komedi yang menceritakan peristiwa lucu. Kelucuannya didapat dari kejadian itu sendiri. Misal: ketemu tukang odong-odong yang gayanya mirip Ariel Noah. Tiap kali ada anak kecil yang turun dari odong-odongnya, dia selalu bilang, ‘kalian luarr byasaaahhh..’ atau, di busway ngeliat mas-mas yang kaos di bagian keteknya bolong. Bulu keteknya mencuat keluar luar, tapi si masnya ngga sadar dan malah cengar-cengir sambil megang pegangan busway.
---
2. Observasional komedi: humor yang didapatkan dari hasil pengamatan sekitar. Kelucuannya didapat dari merubah sudut pandang suatu hal. Jelilah, karena comedian yang cerdik adalah mereka yang jeli.

Contoh: Kalian ngerasa ngga sih kalau bahasa Indonesia itu sulit dan ribet? Kita dituntut menggunakan kata-kata yang berbeda hanya karena berhadapan dengan orang yang berbeda. Seperti halnya dalam penggunakan kata ganti orang pertama, ada “Gue, aku, Gua, saya, akikah, dll” Bandingkan dengan di luar negeri yang biasa hanya memakai “you-i” kepada siapapun. Anak kecil di  Amerika bisa ngomong, ‘Dad, could you give me that doll. That’s so cute, Daddy! Please..’ dengan bebas. Kalau anak SD di Indonesia bilang, ‘Pak, bisakah elu membelikan gue boneka itu. Lucu banget, Pak! Plisss..’ paling kena gampar Bokapnya.
---
3.  Deskriptif komedi: Penulisan komedi yang diberikan dengan cara menggambarkan suatu hal. Merupakan yang paling jarang digunakan penulis komedi, karena sifatnya hanya ‘pemantik’. Humor-nya didapat dari cara berdeskripsi. Biasanya, penulis memberikan efek hiperbolik untuk memperoleh kelucuan.

Contoh: Tiga ratus meter di depan adalah pertigaan menuju stasiun Bogor, arah jalan pulang. Betapa beruntungnya gue karena saat mendekat, lampu hijau lah yang menyala. Dengan terampil, gue longgarkan tarikan gas beberapa mili, gue tarik tuas rem dengan penuh perasaan, lalu dalam sepersekian detik saja, gue ubah transmisinya menjadi netral. Laksana Chrisopher Colombus, gue membelokkan kemudi dengan cekatan, memiringkan tunggangan, mengarahkan haluan menuju timur, kemudian melaju diiringi angin. Beberapa detik kemudian, seperti halnya Napoleon Bonaparte dan pedangnya, jemari gue menggenggam kuat-kuat itu tuas gas. Lantas gue tarik-lepas dengan gagahnya hingga menimbulkan suara yang begitu lantang, ‘Rong!! Rong..! Rong..!’ persis bunyi sepeda yang rodanya disangkut akua gelas.
---

Nah, sekarang udah tau kan, ada apa aja jenis komedi yang terdapat di sebuah tulisan. Sekarang gue lanjutkan. Cara membuat joke yang paling sederhana: setup-punchline.

Untuk membuat sebuah tawa, kita harus memberi efek ‘kaget’ kepada pembaca. Karena itulah sebuah joke terdiri dari dua bagian, yakni setup (bagian yang tidak lucu, yang akan menggiring kepada punchline), dan punchline (bagian yang lucu, sifatnya membuat tawa).

Berikut gue berikan contoh: gue laper banget. Gue memutuskan buat beli sate padang, gue jalan ke depan rumah. Gue hafal banget di sana ada tukang sate padang yang udah terkenal. Karena deket, gue teriak aja dari rumah, ‘Bang! Sate padang ye, Biasaa. Buruaan!!’ Dari kejauhan, terdengar suara Abangnya //‘Sabar ya, Nak. Ini Ayah lagi bikinin buat Adek kamu dulu..’
Oh God, gue lupa. Bokap gue yang jualan sate.

Bagian sebelum tanda // adalah setup. Gunanya menggiring pembaca ke arah punchline. Sedangkan bagian setelah // adalah punchline-nya.
---
Sekarang kita lanjut ke tips-tips dalam pembuatan tulisan komedi:

-Perkokoh setup. Karena di dalam tulisan komedi tidak ada timing, intonasi, dan mimik, maka setup harus kokoh. Setup yang baik adalah yang membuat nyaman pembacanya. Setup harus realistis. Semakin kuat setup-nya, semakin mearasa nyaman si pembaca, semakin merasa ter-twist mereka saat membacanya.

-Jangan banyak-banyak. Gue pernah baca di dalam suatu artikel bahwa lebih baik memberikan satu joke pada satu halaman dengan alur yang kuat, dibandingkan maksa menyisipkan 3 joke yang compang-camping. Intinya, perkuat alur. Mirip dengan yang di atas, alur cerita adalah pondasi. Joke dapat disisipkan saat mengedit tulisan.

-Be specific. Semakin spesifik sebuah tulisan komedi, semakin mudah dicerna otak, semakin lucu ia. Salah satu joke yang spesifik: “Gue punya 2 pilihan di sini. 1)Sok cool, 2) Melakukan tindakan ekstrem seperti lari keluar cafĂ© dan nyundul abang tukang gorengan.” –Sesi pemutusan


Mungkin segini dulu tips dari gue, kalau ada komen atau masukan, silakan. Nantinya postingan ini bakal di-update. Ciaoo.
Suka post ini? Bagikan ke: