Monday, July 29, 2013

Joko Pinurbo, dan Resep Menulis Puisi


Halo,
Gimana puasanya? Apa? Ngga ada yang bangunin sahur? Oh.

Oke, baiklah. Gue sadar kalau gue sudah cukup lama ngga update postingan di keriba-keribo ini. Gue punya 2 alasan: 1) Gue lagi PKL di Gresik, kurang lebih selama sebulan, diitung mulai tanggal 27 bulan Juni kemarin. 2) Gue lagi sering posting di blog gue satu lagi: saiditsad.

Benar, blog yang berisi puisi dan tulisan-tulisan sedih (dan maaf, kalo ngga berhasil buat sedih, namanya juga masih baru), hehe. Akhir-akhir ini gue lagi getol belajar tentang puisi, entah itu mencari ‘referensi’ orang yang akan menjadi panutan, warna puisi, sampai ke metode pembuatan puisi.

Baiklah, pada postingan kali ini, gue akan sedikit mengajari kalian resep membuat puisi paling sederhana dari seorang penyair yang gue kagumi: Joko Pinurbo. ‘Puisi yang tampaknya liar dan gelap sebetulnya adalah formulatik,’ kata Joko Pinurbo dalam blognya AS Laksana. Sama seperti menulis fiksi, dan membuat joke, sebenarnya menulis puisi juga ada rumusnya. Yang gue akan bahas di sini adalah mengenai SOS (Switch Object-Subject ). Dengan cara ini, kita dapat mengubah kalimat sederhana menjadi sebait puisi. Untuk memperrmudahnya, gue akan beri contoh satu kalimat:

Mahasiswa tingkat akhir itu memikirkan cara melunasi kos-kosannya.

Gue ubah menjadi:
Bola mata berwujud hujan itu memikirkan cara melunasi kenangannya.

See? Gue hanya mengubah kata-kata ‘Mahasiswa tingkat akhir’ menjadi ‘Bola mata berwujud hujan’ dan ‘kos-kosan’ menjadi ‘kenangan’, dan voila. Jadilah dan jadilah.

Namun tetap, kita harus mempunyai rasa terhadap subjek/objek yang akan kita ganti, jangan sembarangan. Berikut gue contohkan yang salah:

Bu Marni membeli sayur ke Pasar.

diubah menjadi:
Pak Marni membeli sayur ke Pasar.

SALAH. Kenapa? Karena setelah diubah, kalimat tersebut seperti tidak ada perubahan rasa. Kalau gitu caranya, sekalian aja ubah jadi, ‘Marni and the gank membeli sayur ke Pasar, kemudian pulangnya terbang naik kangkung.’

Nah, sudah tahu kan? Sekarang gue kasih contoh salah satu puisi yang gue bikin dengan resep ini.

MANDI-
Aku masuk ke ruang antah berantah./ Tanpa sinar, dan tanpa rembulan./ Ku ambil seciduk tawa dalam hampa./ Ku basuhi tubuhku dengan membabi buta./ Ku sabuni perasaanku dengan liar./ Sebenarnya, tawa apa yang kuambil, tidak tahu./ Sebenarnya, sabun apa itu, aku tidak tahu./ Ah, setidaknya jadi suci.

Puisi di atas sebenarnya berasal dari rangkaian kegiatan mandi, prosesnya seperti ini:

Aku masuk ke kamar mandi. Tanpa baju, dan tanpa celana. Ku ambil seciduk air dalam bak mandi. Ku basuhi tubuhku dengan gayung. Ku sabuni punggungku dengan susah payah. Sebenarnya, air apa yang kuambil, tidak tahu. Sebenarnya, sabun apa itu, aku tidak tahu. Ah, yang penting bersih.

Jadi, selamat menulis puisi.

Ps: ada oleh-oleh dari gue untuk kalian dari Gresik. 




Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, July 22, 2013

Postingan Karena Lagi Nginget-Nginget Ospek

Pada umumnya, lemah berhubungan dengan kondisi fisik seseorang.  Tapi, bagi Senior-senior di kampus gue, itu engga sepenuhnya benar. Anak-anak di Fakultas gue terkenal kreatif. Itu terbukti saat masa-masa ospek beberapa tahun lalu. Kata-kata ‘lemah’ tersebut disulap oleh para Senior menjadi kata serbaguna. Ajaib. Lemah ngga hanya menunjukkan kepayahan dalam kekuatan fisik. Tapi apapun. Semua-semua lemah. Sedikit-sedikit lemah. Njir.

Awalnya, kata ‘lemah’  dipakai oleh Senior untuk meledek fisik seseorang, seperti:
“Duh, kak larinya pelan-pelan aja dong, capek..”
“LEMAH!”

“Ayoo, push-up buruaaan!! Satu.. dua.. ti..gaa!!”
“udh…aah.. kaaak. Aku caph..eek”
“LEMAH!”

Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mendramatisir kata tersebut:
“Woy, jalannya buruan… LEMAH!”
“Kenapa kamu bisa terlambat? Dasar… LEMAH!’

Anak-anak pun terdoktrin. Semua-semua lemah. Ngga bisa dikit dibilang lemah. Aneh dikit, lemah. Kutu kupret.
“Belum ngerjain tugas… LEMAH!”
“Ngga mandi… LEMAH!”
“Mandi tetapi pake air panas… LEMAH!”
“Rambut botak dikit… LEMAH!”
“Ngga boker dari pagi… LEMAH!”
“Minum susu terus mabok… LEMAH!”
“Pake v-neck… LEMAH!”
“Sarapan pake telor dadar… LEMAH!”
“Begadang lalu masuk angin… LEMAH!”
“Punya motor bensinnya abis… LEMAH!”
“Ngga punya duit… LEMAH!”
“Minjem duit temen… LEMAH!”
“Temen ngga minjemin duit… LEMAH!”
“Jajan gorengan… LEMAH!”
“Jajan gorengan tapi bagi-bagi… NGGA LEMAH!”
“Solat ngga pake sarung… LEMAH!”
“Ngga punya pulsa… LEMAH!”
“Naik angkot duduk di depan… LEMAH!”
“Ngga bisa jawab pertanyaan Senior… LEMAH!”
“Senior ngga lulus-lulus… NGGA LEMAH!”
“Batre handphone abis… LEMAH!”
“Tidur ngorok… LEMAH!”
“Berat badan naik… LEMAH!”
“Kalkulus dapet D… LEMAH!”
“Ngga berani ketemu dosen… LEMAH!”
“Berani ketemu dosen lalu meninjunya… NGGA LEMAH, langsung kena DO.”

Mungkin, di masa yang akan datang, para Senior di kampus gue akan menggunakan kata-kata ini dengan lebih absurd, seperti:
“Apaa!! Kamu ngga bisa makan lewat lubang idung?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu ngga bisa lompatin lingkaran api untuk lumba-lumba?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu ngga bisa masukin tuyul ke dalam botol?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu ngga bisa salto ke belakang?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu ngga bisa njoget Dahsyat?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu laki-laki?... LEMAH!”
“Apaa!! Kamu bapak saya?... Minal aidzin ya pak..”


Duh, malah jadi postingan ngelantur gegara inget jaman-jaman diospek. Ya sudahlah, goodnight.
Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, July 18, 2013

Curhat Setelah Cabut

HUANJEEEEEEEEEEEEERRRRR!! Akhirnya bisa nge-blog lagi, yuhuuuuu!
*bakar mercon* *tangan gue ikut kebakar* *khilaf*

Gile, gue kangen banget menggerayangi si keriba-keribo ini. Setelah tiga minggu di gunung yang ngga ada sinyal, internet, dan cewe-cewe seksi, sekarang gue bisa ngenet dan buka blog ini dan gue akan melanjutkan misi utama gue: mencari cewe-cewe seksi merusak mata kalian wahai pembaca.

Baiklah, untuk postingan kali ini, gue akan menceritakan hal-hal yang gue inget selama perjalanan ke gunung kemaren:

Satu. Sebelum berangkat, sewaktu gue dan Alam dalam perjalanan ke lapangan tempat ngumpul, kita yang lagi ngos-ngosan bawa tas carrier disapa oleh seorang cewe satu angkatan (ketahuan dari jaket angkatan yang dia pakai). Si Alam dipanggil, ‘Hoi, lam, udah siap praktikum nih kayaknya! Cieeee…’ giliran gue lewat, dia menyapa dengan muka ketakutan, "Misi, BANG!" Wasem! Kita seangkatan woi! Naik gunung juga belum, hidup gue sudah terhina. Masya Allah.

Dua. Ngga jauh dari situ tiba-tiba punggung gue encok dan gue minta Alam buat istirahat sebentar. Mungkin. Gue. Emang. Tua. Njir.

Tiga. Kita berangkat menggunakan truk TNI. Hal ini membuat gue bingung sendiri. Dengan posisi tempat duduk yang kayak angkot, dan ngga ada kaca jendela, serta perjalanan ke Sukabumi yang memakan waktu selama tiga jam, membuat gue harus memilih: Duduk berhadapan dengan cewe yang berarti gue harus jaim dan jadi patung selama tiga jam penuh, atau berhadapan dengan cowo yang berarti gue harus tatap-tatapan sama dia selama tiga jam dengan kemungkinan di gunung nanti gue bakal jadi rimbawan ngondek.

Dari Sukabumi kita beralih ke Cianjur.
Empat. 20 menit setelah membereskan perlengkapan di mess, gue digodain mbak-mbak masyarakat sekitar. Astagfirullah.

Lima. Ini malam minggu. Gue dan empat orang teman berjalan-jalan ke pasar malem daerah setempat. Karena abis ujan deras, jadialah itu alun-alun sepi, becek, dan penuh lumpur. Tinggal bawa pacul, jadilah kami segerombolan petani salah alamat.

Enam. Berhubung bosen muter-muter ngga jelas dan kaki udah penuh lumpur, kami memilih untuk membeli teh hangat dan berbagi kehangatan. Kegiatan standar saat jomblo-jomblo berkumpul.

Tujuh. Pada waktu yang berbeda. Di warung kopi setempat, oleh salah seorang teman, gue yang nonperokok ini diajari filosofi rokok. Katanya, yang sering perokok bilang tentang ‘abis makan mulut asem’ itu cuma ilusi perokok. Padahal mah ngga asem, cuman enak aja kalau ngerokok abis makan.

Delapan. Katanya lagi, hobi para perokok yang biasa mengetuk-ngetuk bungkus rokok di dengkul itu biar rokoknya padat. Jadi, kalau kamu punya pacar dan bodinya kurang padat, tendanglah ia pakai dengkulmu.

Sembilan. Ngga lama setelah pembicaraan tadi berlangsung, dia menawari gue untuk merokok, dan mukanya hampir gue sundut pakai rokok.

Sepuluh. Setelah berniat menyundut wajah teman gue, kita berempat disamperin seorang orang gila cewe, dan kita sukses kena palak dua ribu dan empat gorengan. Kita memang lelaki lemah.

Sebelas. Ngga mau kena perkara, kita kabur ke masjid setelah dipalak cewe tadi. Dan kita malah dikejar. Panik setengah meninggal, kita pun ngumpet ke kamar mandi rame-rame. Jadi benar kata petuah itu, melawan perempuan ngga bisa pakai logika.

Dua belas. Cari aman, kita berputar menuju sisi lain dari masjid tersebut. Saat memasuki halaman masjid, kita dilempari petasan sama bocah-bocah sekitar. Kita pelototin dia, dan dia, bukannya takut malah senyum kayak mafia Indosiar. Senyumnya bersuara, ‘HUAHAHAHAHA.. MATILAH KAU ANAK MUDAAA HARTA ITU MILIKKUU!!’

Tiga belas. Melihat senyumnya yang licik, kita hampir punya rencana untuk menggulungnya dalem sajadah masjid.

Empat belas. 



Lima belas. Salah seorang teman menemukan ehem momentum-nya di sini.

Enam belas. Kami sempat dua kali naik truk sapi. Dempet-dempetan. Selain tau rasanya jadi sapi yang digoyang-goyang di dalam truk, gue juga menemukan beberapa aksi modus yang dilancarkan teman-teman pada kesempatan desak-desakan ini.

Dari Cianjur kita beralih ke Desa Sukagalih, desa percontohan untuk kawasan yang mampu hidup berdampingan dengan hutan.
Tujuh belas. Di sini semua masayarakat menggunakan air murni dari hutan. Airnya ngocor terus dan malah kebuang-buang. Keren tapi agak dsayangkan.

Delapan belas. Gue belajar banyak bahasa sunda di sini, seperti punten, nuhun, punten, dan… punten.

Menuju Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Sembilan belas. Kita sampai ke sebuah tempat bernama Kawah Ratu. Luar biassssaaaah, sodara-sodara. Keren banget pemandangannya—walaupun saat difoto tampang gue gitu-gitu aja.

Kita kembali ke Sukabumi
Duapuluh. Kasus Curandal banyak terjadi di tiap sudut tempat.

Dua puluh satu. Bersyukurlah bahwa di duniamu yang sekarang ini, alfamart dan indomaret tersedia di mana-mana.

Dua puluh dua. Pada kesempatan kali ini, gue menyadari, bahwa bertatapan dengan seseorang dapat membuatmu ngga tidur sampai pagi.

ps: sendal baru yang terpaksa gue beli karena yang lama kena kasus curandal:

SEPULUH RIBU!

Suka post ini? Bagikan ke: