Thursday, June 27, 2013

Curhat Sebelum Cabut


Halo,
Duh, gue lagi bingung setengah meninggal nih. Gue punya kabar buruk dan kabar baik sekaligus.

Kabar buruknya: Hari ini, satu angkatan kampus gue bakal naik gunung buat menunaikan tugas praktikum. Selama sebulan. Walhasil, sepertinya blog ini akan tidak terurus selama kepergian gue. Iya, di sana ngga ada internet. Ngga ada warnet. Ngga ada cewe-cewe seksi. :(
Wahai keriba-keribo, kamu harus sabar menjanda selama daku pergi melintasi pohon-pohon cemen di sana. Cih.

Kabar baiknya: Karena gue bakal lama, gue yakin banyak cerita seru selama perjalanan. Jadi, sewaktu pulang ke sini banyak yang bisa gue tulis di blog ini. Kalau ngga males sih. Muahahahha.


Udah deh, gue udah mau ke tempat temen, mau numpang makan, siap-siap, terus cuss nih.


Ciaoo,

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, June 23, 2013

Ciri Lelaki Sejati


Lelaki sejati bangun tidur, matiin alarm-nya dengan cara dipanah.

Lelaki sejati kalau mandi, gayungnya pakai botol akua.

Lelaki sejati, nyuci baju dengan cara berendam ke dalam mesin cuci.

Lelaki sejati makan es campur pake tangan.

Lelaki sejati kalau ngerokok, yang diisep bara apinya.

Lelaki sejati, dilihat dari penampilan fisik, biasanya berbadan tinggi tegap. Maka, kalau ingin jadi lelaki sejati, pakailah engrang ke mana-mana.

Lelaki sejati, ngetik SMS-nya lepas tangan dua.

Lelaki sejati makannya telur mentah, minumnya susu murni nasional.

Lelaki sejati kalau naik motor, duduknya di stang.

Lelaki sejati dipukul ngga nangis, ditinggal pacarnya njerit-jerit.

Lelaki sejati bersifat romantis. Contohnya, tiap nerima telpon, lelaki sejati selalu berkata, “Helloo mannieeessshh..”

Lelaki sejati sewaktu upacara sekolah, barisnya di samping cewe-cewe PMR.

Lelaki sejati kalau bosen, refleks nyanyi, “Tegangan cinta tak dapat dihindar lagee! .. Astutii!

Lelaki sejati kalau punya masalah, ketik reg spasi weton.

Lelaki sejati ketika sakit, minumnya air kobokan batu ponari.

Lelaki sejati itu orangnya smart. Kamu tahu ¾√344188725527 ? Engga? Kamu bukan lelaki sejati.

Lelaki sejati akun twitternya @ThonySiMachoDariKayangan

Lelaki sejati pada umumnya adalah orang yang pendiam. Diem tau-tau kentut.

Lelaki sejati kalau emosi teriak, “Shit up!” kemudian sit up 20 kali.

Lelaki sejati biasanya penyabar. Dikatain yang jelek-jelek tetap sabar, tiba-tiba nonjok.

Lelaki sejati dapat menjaga diri dari godaan wanita. Jadi lelaki sejati yang paling sejati adalah Tong Sam Chong.


Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 17, 2013

Belajar Paraprodoskian


Karena sedang seru menonton stand up-nya Mitch Hedberg sama Steven Wright, gue jadi nyoba belajar paraprodoskian. Dan, ternyata, susah dewa. Otak gue sampe mojrot lewat kuping. Dari seharian bertapa, gue hanya dapet tiga-empat paragraf kasar. Ternyata yang bisa main wordplay hanya orang-orang jenus. Dan gue nampaknya mulai mengiodalakan Mitch Hedberg dalam kasus ini. Dia sangat bertalenta!

Dan baiklah. Ini adalah kerjaan gue yang kurang kerjaan, iseng-iseng latihan paraprodoskian:

Katanya paraprodoskian itu yang suka mainin kata. Gue mau belajar ah. Tapi gue kan ngga suka mainin kata. Kata yang mainin gue. Gue mah mainnya karet. Mainnya di kelas, jaman SD, sama cewe-cewe. Macho. Tapi main karet. Karet gelang. Katanya gelang, tapi mainnya dilompat-lompatin. Kan aneh. Jadinya gue ngga jadi suka main karet. Gue main cewe. Cewenya gue lompat-lompatin. Namanya main cewe gelang.

Cewe-cewe mah aneh. Suka main kode. Ngomongnya dibalik-balik. Katanya, kalau cewe bilang iya, artinya engga. Kalau bilang engga, artinya iya. Kemaren ada cewe, gue ajak nonton, dianya bilang 'mau'. Ya udah gue ngga jadi nonton. Tapi gue ngga nyerah. Gue kan macho, jadi gue cari cewe lain, yang cantik sekalian. Langsung aja itu cewe gue ajak nge-date. Dia bilang 'ngga mau, udah punya pacar'. Gue seneng dong, artinya kan dia mau. Pas gue jemput ke rumahnya, gue malah ditonjok pacarnya. Kurang ajar amat dia. Tadinya pengen gue tonjok duluan itu pacar dia. Tapi gue lupa. Ngga kepikiran. Ngga jadi nonjok deh. Lagipula pacarnya serem banget. Gede. Ijo. Udah kayak genderuwo. Gue kan jadi takut. Ya udah gue baca Ayat Kursi. Eh ternyata ngga hafal juga.  

Gue ngga hafal Ayat Kursi. Gue hafalnya nomor telpon. Kenapa gue hafal? Soalnya gue lupa kalau gue ngga hafal. Iya. Beberapa hari yang lalu, temen gue nelpon. Dia mau songong pamer smartphone baru. “Halo, selamat pagi..,” katanya. Ya langsung gue tutup. Lagian ngeselin, nama gue kan Adi, bukan selamat pagi. Ngga berapa lama ada suara dari hape, “Halo, di.. adii..” Lho kok bunyi? Padahal kan hapenya udah gue tutup. Pakai tudung saji.

Hape gue masih bunyi mungkin karena hape gue jelek. Biarin. Ngapain punya hape bagus-bagus. Punya hape bagus biar bisa dibilang gaul doang. Alay. Emang hape yang gaul yang kayak apa? Yang mahal? Yang touchscreen? Yang bisa voice recognition? Yang layarnya lebar? Yang rambutnya berponi? Yang poninya warna pink? Yang pake skinny jeans?  Yang suka jongkok di depan halte? Yang suka masuk ke angkot? Yang malakin orang? “Ibu, ibu, Bapa, Bapa.. daripada saya mencuri, menjambret, lebih baik saya meminta kepada Bapa bapa, dan ibu, ibu. Kalau dikasih alhamdulilah, kalau ngga dikasih, saya tusuk pakai rambut Mohawk saya.” 
Lho, ini kok jadi malah kayak itu, ya, yang depannya A, belakangnya Y, APOY.

Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, June 9, 2013

Rahasia Bukan Sembarang Rahasia


Baiklah, pada malam ini (atau tepatnya dini hari ini) gue akan membeberkan suatu rahasia tentang diri gue. Rahasia yang banyak orang tidak tahu tentang gue. Bahkan, teman dekat gue tidak tahu. Hanya teman dekat yang benar-benar dekat yang tahu. Bahkan tidak semuanya teman dekat yang benar-benar dekat itu tahu. Rahasia yang bukan sembarang rahasia. Rahasia remeh yang sangat penting. Rahasia penting yang sangat remeh. Rahasia yang sebenarnya tidak semua orang boleh tahu, tapi akan gue beritahukan malam ini. Oke, jangan bacok gue karena terlalu bertele-tele.

Rahasianya adalah: gue bermuka dua.

Betul, bermuka dua seperti di sinetron-sinetron. Perempuan yang kalau ketemu suaminya kayak bidadari surga, padahal cuma ngincer duitnya, yang giliran ketemu mertuanya mukanya langsung mengkerut, tiba-tiba ngomong dalem hati ngerencanain buat bunuh si mertua, terus taringnya manjang satu meter, rambutnya jadi gimbal, tumbuh kumis di atas mulutnya. Ini perempuan seketika berubah jadi Limbad.

Dissosiative identify disorder atau DID merupakan sebuah kelainan mental di mana orang bisa berubah kepribadiannya tanpa sadar. Seperti Gollum di Lord of The Rings  yang tiba-tiba jadi baik maupun jahat karena pengaruh cincinnya.

Well, gue ngga separah itu sih.

Banyak yang mengira kalau gue adalah tipe orang yang suka melucu, periang, yang kalo lagi kumpul suka tiba-tiba cacat sendiri, gila, atau apalah. Gila di sini bukan berarti gue suka pake baju sobek-sobek yang kerjaannya ngaduk-ngaduk sampah di pinggir jalan buat dimakan ya. Bukan. Kalo itu orang gila beneran.

Pada kenyataannya, karakter seperti itu, itu bukan gue.

Tapi ngga sepenuhnya salah juga. Karena sifat itu memang gue tunjukkin ke orang-orang sekitar. Sifat gue yang suka bikin orang ketawa, yang rusuh, liar, yang suka manjat-manjat pohon kelapa di tengah sawah. Oke, sifat yang terkahir itu bercanda. Lagian mana ada pohon kelapa di tengah sawah, ada juga pohon kelapa.. di hati kamu. Eeeaaaa.

Okeh, balik lagi. Karakter yang sifatnya semrawutan, suka melawak, dan senang bercanda tadi memang sengaja gue desain, gue memang pengin orang-orang tahu kalau sifat gue seperti itu. Karena apa? Gue punya dua alasan.

Pertama, gue suka melihat orang tersenyum karena gue. Ada kebahagiaan tersendiri buat gue saat melihat orang lain bahagia. Mungkin kebahagiaan yang sama seperti yang dirasakan seorang koki saat melihat makanannya disantap dengan rakus oleh pengunjung.

Kedua, gue termasuk orang yang introvert. Menurut gue, untuk apa semua orang tahu sifat asli kita. Toh, mereka ngga akan ngapa-ngapain juga. Menurut gue lagi, yang perlu kita bagi ke mereka cukuplah sifat kita yang baik-baik saja. Seperti itu tadi, membuat mereka tersenyum. Atau setidaknya memerlihatkan bahwa kita sedang senang, akan membuat orang lain senang juga, kan?

Lagipula, ngga semua orang akan siap dengan sifat yang kita punya. Sifat yang suka curhat, mungkin. Sifat yang sering galau, mungkin. Atau bahkan, ngga semua orang klop dengan orang pendiam. Bahkan hampir setiap orang sudah punya sifat yang merepotkan diri mereka sendiri. so, gue ngga mau membuat mereka tambah repot.

Dan, dibalik suka ngelawaknya gue, dibalik rusuh-rusuhnya gue. Sesungguhnya. Gue adalah pendiam. Tukang serius.  Yang lebih suka sepi dibanding keramaian. Konyol memang.

Yah, seorang badut sekalipun, pasti akan melakoni segala sesuatu—di luar urusan panggung—dengan serius bukan? membiayai SPP anaknya, misalkan.

Atau yang mungkin kalian lupa, seorang pemain sirkus selalu melatih (dengan serius) lelucon-lelucon dan atraksi konyol yang akan mereka tampilkan di atas panggung.

Jadi, biar lebih mudah, anggap saja gue ini pemain sirkus. Pemain sirkus yang sedang pentas dalam dunia nyata. Dengan kalian sebagai penontonnya. Iya, kalian semua adalah “penonton” gue. Makanya, dalam urusan pertemanan, gue sangat pemilih. Hanya sedikit orang-orang yang gue ajak masuk ke dalam backstage. Lebih sedikit lagi yang betah di dalamnya. Ngga jarang, saat di dalam, orang-orang itu malah mengira backstage gue adalah panggung. Mereka adalah yang mengatakan, ‘Elo kok berubah, ngga kayak biasanya,’ saat gue menunjukkan sifat asli gue. Padahal, biasanya  yang dia maksud justru adalah sebuah ketidakbiasaan. Dan pada umumnya, orang-orang ini akan gue keluarkan secara halus, gue kembalikan mereka ke posisi awal, yakni sebagai “penonton”.

Duh, jadi panjang lebar gini. Sudah tahu kan rahasia saya. Jangan dibongkar ya.
Suka post ini? Bagikan ke:

Friday, June 7, 2013

Sindrom Koala


Karena tugas yang (sangat) menumpuk, dan ngerjain project iseng-iseng, hari ini, gue terkena sindrom koala. Untuk yang belum tahu apa itu sindrom koala, silahkan baca di sini. Kemaren malam, gue niat tidur jam 8 supaya bangun jam 11 untuk ngerjain tugas dan menulis. Tapi nyatanya, gue malah bangun jam 8 pagi. Kemudian ketiduran lagi sampai jam 10, lalu ketiduran lagi sampai jam 11. Dan siangnya, gue tidur lagi sampai jam 5 sore. Sindrom koala level: akut.

Dan karena itu, sekarang gue ngga bisa tidur. Daritadi kerjaan gue hanya menonton sitcom IT Crowd. Baiklah, sekarang gue akan lanjut ngerjain project iseng-iseng. Kalian doain supaya cepet rampung ya. :)

By the way, kenapa sih orang kalau berantem sering nyebut ‘Apa lo! Apa lo!’ dia itu nanya apa sebenernya?

Lain kali kalau kalian diajak ribut sama orang yang bilang ‘Apa lo! Apa lo!’ mari kita jawab dengan bilang, ‘Elu nanya apaan!’ Sempak.
Suka post ini? Bagikan ke:

Sunday, June 2, 2013

Maafkan Saya


Maafkan saya. Akhir-akhir ini sifat buruk saya sering keluar. Dan lalu saya coba introspeksi, mencari tahu asal-muasalnya. Dan akhirnya sadar, karena saya berasal dari kedua orangtua, jadi beberapa dari sifat buruk tersebut pasti berasal dari sifat orangtua saya. Kecuali saya lahir dengan cara keluar dari batu.

Adakah di antara kalian yang pernah merasakannya juga? Seperti sifat kalian saat keranjingan shopping, mungkin. Dengan semangat 45 berburu semua yang diinginkan, kemudian setelah selesai berbelanja kalian menyesal karena telah menghabiskan uang untuk barang yang sebetulnya tidak begitu penting, lantas kalian berkata, Anjir, Nyokap gue banget ini!

Atau pernahkah ngomel ke Bokap karena dia lelet, dan di kemudian hari kalian merasa ah, ntar aja deh, ngaret ternyata enak juga.

Disadari atau tidak, sifat yang kita miliki berasal dari orangtua.

Karena saya manusia normal, maka saya pun begitu. Belakangan, saya sering banget komentar mengenai hal-hal yang telah lewat. ‘Ah, harusnya kemaren gini aja.’ atau, ‘Njir, bener kan. Coba kemaren kayak gini, pasti bla bla bla..’

Dan setelah saya cari tahu, sifat itu dari Nyokap.

Maafkan saya.
Maafkan Nyokap saya. 
Suka post ini? Bagikan ke: