Thursday, May 23, 2013

Delapan Komika Berkarakter Versi Keriba-Keribo


Stand up comedy  atau komedi tunggal, menurut gue adalah sebuah kegiatan di mana seseorang berdiri dan membawakan sebuah materi yang lucu. Yah, sesederhana itu. Seperti halnya bermusik, dan menari, melakukan komedi tunggal juga merupakan sebuah seni. Seorang komika—orang yang melakukan stand up comedy—selalu membuat dan melatih materi-materi yang dibawakannya. Jadi, menurut gue, ngga ada salahnya seorang komika membawakan materi yang sama berulang kali. Gue mengibaratkan ini sama dengan seorang penyanyi yang membawakan lagu secara live, walaupun konsekuensinya adalah sebuah kejenuhan.

Salah satu unsur terpenting dalam stand up comedy adalah persona. Persona merupakan sebuah topeng sosial yang biasa digunakan guna menunjukkan identitas/karakter dari si komika.

Dan berikut, adalah 8 komika Indonesia yang memiliki persona paling kuat versi gue:


Fico Fachriza. Ia merupakan komika dengan persona yang sangat kuat. Ia menjadikan dirinya sebagai seorang idiotic. Sebuah karakter yang sangat khas, gampang diingat, dan mudah dicerna. Ditambah materi absurdnya yang luar biasa jenius, menjadikan dirinya sebagai seorang idiot yang menawan. Jangan lupa, postur tubuh dan mimik wajah yang terlihat innocent semakin memperkuat karakter Fico. Pantaslah orang ini menduduki posisi runner up di ajang kompetisi Stand Up Comedy Indonesia KompasTV.


Benedictus Siregar. Seorang piawai dalam memanfaatkan pikiran penonton. Dia menggunakan distorsi sebagai penguat personanya. Anak UGM ini, memilih menjadi pria tampan, kaya, dan belagu sebagai topengnya di panggung. Hal yang pastinya menimbulkan pertanyaan, bagaimana dengan tampang seperti itu dia justru memilih sesuatu yang sangat 180 derajat? Sebagian malah menimbulkan gelak tawa. Lihatlah, betapa cerdiknya dia, memutar otak para penonton yang justru akan semakin mempertegas karakternya sebagai si ganteng.. dengan wajah pas-pasan.

Di pentas, ia biasa melakukan stand up dengan menggunakan standing mic, sembari memasukkan tangannya ke saku. Ini semakin mencirikan dia sebagai seorang belagu, lagi cool, seperti kebanyakan orang Indonesia—dengan watak seperti ini—lakukan. Melihatnya ber-stand up­­, akan mengingatkan pada salah seorang komika idola gue, si jenius Mitch Hedberg.


Genrifinadi Pamungkas. Tak perlu diragukan lagi, si jawara Stand Up Comedy KompasTV Season 2 ini memiliki persona yang kokoh. Karakternya yang ngocol, serta pembawaannya yang banyak bergerak membuatnya memiliki ciri khas yang kuat.  


Kemal Palevi. Siapa yang ngga mengenal si juara tiga Stand Up Comedy KompasTV Season 2 ini?  Tatanan gayanya yang sangat anak band sekali sangat mudah diingat. Di atas panggung, gayanya pecicilan. Ketawa-tawa sendiri sewaktu tampil bukanlah hal yang baru baginya. Tampangnya yang seperti orang mabok lem, serta tingkahnya yang seringkali ajaib membuatnya dilabeli dengan komika absurd. Bitnya yang nge-pop membuatnya digandrungi para abg. Kemal juga memiliki fan base dengan sebutan kemalicious. Ehem. Alay sekali namanya.


Bintang Timur. Si pemenang Street Comedy 2 ini pembawaannya kalem, namun slenge’an. Personanya sangat kuat di materi. Orang yang bermuka tanpa dosa ini sangat khas dalam membawakan materinya. Bitnya yang seakan patah-patah, memiliki kekuatan tersendiri. Banyaknya tags dalam tiap bit, menjadikan materinya nampak gagah. Bridge dari satu bit ke bit lain terasa sangat mengalir, membuat materinya menjadi elegan. Entah berapa juta tahun dia bertapa untuk memproduksi sebuah materi berdurasi 6-7 menit.

Salah satu bit yang membuat nama seorang Bintang Timur meledak bak petasan jangwe, ‘Gue waktu itu mau nonton bola arsenal lawan liverpool, featuring semen padang. Gue nonton sama mamah gue.  Mau nonton, berantem rebutan remote. Mau nonton tv ,remotenya ilang diumpetin. Remotenya ketemu, tvnya ilang. Tv-nya ketemu, antena ilang. Antena ketemu, mamah gue ilang. Udah ilang, bawa remote lagi.’

See, berapa banyak tag yang ditaruh bintang dalam tiap bitnya. What a brilliant comic!


Raditya Dika. Siapa pula yang ngga mengenal comedian kelas kakap ini? Seorang penulis, aktor, dan creativepreneur kawakan ini mampu mengolah kata-kata menjadi hal yang menggelitik. Dalam stand up comedy, personanya adalah sebagai anak muda yang mudah resah, tapi rentan galau. Act-outnya luar biasa. Untuk menambah kesan galauannya, dia biasa mengubah suaranya menjadi sengau. Kejeliannya dalam meneliti kelucuan-kelucuan di sekitar membuatnya  dikagumi banyak komika. Mahluk yang mengiodalakan Woody Allen ini lebih sering membawakan materi Inner Self  saat tampil.


Ernest Prakasa. Juara tiga Stand Up Comedy KompasTV sekaligus pelopor Stand Up Comedy Indo ini semakin lama semakin memantapkan dirinya sebagai komika yang lebih sering mengajak penonton mengobrol. Dia menempatkan dirinya sebagai seorang teman bagi penontonnya. Pembawaan materi-materinya sangat santai, bahkan beberapa kali Punchline-nya sering ditutup bersama dengan si penonton. Si pendongeng yang ulung ini memilih Ellen Degeneres sebagai kiblat stand up-nya.


Panca Atis. Salah satu komika absurd dari sedikit komika—yang pengin jadi absurd—yang ada. Materinya kebanyakan one-liner yang berlandaskan paraprodoskian, terasa sangat dekat dengan dirinya. Komika yang satu ini biasanya melakukan ritual ‘wisuda’ sebelum melakukan stand up


Suka post ini? Bagikan ke:

Thursday, May 16, 2013

Perihal Bahasa


Bahasa Indonesia itu susah. Gue setuju itu. Dari jaman gue bayi sampai kuliah, nilai tertinggi gue dalam pelajaran bahasa Indonesia kalau ngga salah itu Delapan. Dan itu jaman SMP. Waktu UAN pula, saat di mana lagi giat-giatnya belajar. Ya gimana ngga giat, setiap malam Bokap ke kamar gue sambil ngasah gesper kulit buaya. Ketahuan ngga belajar cambuk melayang.

Kita punya 34 provinsi, anggap aja tiap provinsi memiliki satu bahasa, total 34 bahasa. Negara mana yang punya selain kita? Gaul.

Dalam bahasa Indonesia pun kita mengenal kata baku/tidak baku (seperti formal dan informal), contohnya pada kata ganti orang, aku-saya-gua-gue. Sama seperti kita, jepang juga mempunyai aturan serupa—kata ganti orang pertama yang berbeda, sesuai dengan siapa kita bercakap. Ada watashi  yang penggunaannya sama dengan ‘saya’ boku yang artinya sama dengan ‘aku’ juga ore, atau gue. Malah, dalam bahasa jepang terdapat lebih banyak lagi kata ganti orang pertamanya, kayak washi  yang lebih sering diucap oleh orangtua, dan atashi  yang khusus digunakan oleh wanita dan bersifat informal. Jadi, jika kalian sedang pergi ke Jepang dan mendengar seorang pria berkata ‘atashi no bosene go dainu kaito dong.’ Itu artinya, ‘Duh, eke bosen nih. Godain kite dong, cyin.’

Dulu sekali, gue sempat berpikir kenapa sesuatu itu diberi nama dengan nama seperti yang sekarang kita ketahui. Mengapa pintu dinamakan pintu, tempat untuk tidur itu kasur, atau kenapa benda yang berada di langit-langit, yang akan menyala jika tombolnya ditekan itu dinamakan lampu. Lalu kemudian, siapa yang memberikannya mereka nama? Kenapa gue mau-mau aja disuruh nyebut pintu itu pintu? Gue pasti dihipnotis Uya Kuya ini.

Berbeda dengan benda-benda tadi yang hanya memiliki satu nama, kata ganti orang dalam bahasa Indonesia maupun Jepang mempunyai beragam nama. Kenapa ngga diciptakan satu nama yang menurut kita paling sopan. Seperti bahasa Inggris yang mempergunakan ‘You’ kepada semua orang. Dari mulai sesama orangtua, anak kecil yang berbicara dengan orangtua pun tetap menggunakan kata ‘You’.

Mengapa kita, bahasa Indonesia harus membuat berbagai kata? Biar dibilang gaul? Pret.

Gue rasa hal itu akan menambah masalah. Kita jadi harus berpikir, kapan kita harus menggunakan kata aku, saya, gue, eke, akikah, dll. Salah-salah malah menyusahkan. Jika anak kecil di  Amerika bisa ngomong, ‘Dad, could you give me that doll. That’s so cute, Daddy! Please..’ dengan bebas. Kalau anak SD di Indonesia bilang, ‘Pak, bisakah elu membelikan gue boneka itu. Lucu banget, Pak! Plisss..’ paling kena gampar Bokapnya.

Memang sih, setiap Negara pasti tetap memiliki slang atau bahasa gaul. Seperti wanna, gotcha, u; I wanna marry you; I LOVE U. Atau di Indonesia: w cNta nGgedH mA u. jdIan yUx??

Ah, jadi pusing karena kata-kata.

O ya, ngomongin kata-kata pasti ngga lepas dari jejaring sosial Twitter. Jangan lupa follow twitter gue ya. Hehe. Entah kenapa, (kebanyakan) orang-orang twitter selalu men-judge apa yang kita tulis. Nulis kalimat bijak dibilang motivator, ngetwit sedih dikit dibilang galau, ngetwit kegiatan dikatain curhat, nyoba-nyoba ngelucu dibilang ikut-ikutan selebtwit yang udah lucu. Yaelah manusia.

Karena ngga semua yang dilihat dengan mata telanjang sama dengan bentuk aslinya.

Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, May 4, 2013

Yang Mosting Lagi Melankolis


Dulu, semasa SMP, gue pernah mengobrol dengan salah satu sahabat tentang pentingnya berpacaran. Dan kesimpulannya adalah: pacaran itu latihan untuk masa depan. Sebelum kita menjejaki yang namanya pernikahan.

Namun, dalam beberapa hari belakangan gue mendapat pelajaran. Nampaknya, "pacaran sebagai ajang latihan masa depan" tidaklah sepenuhnya benar. Gue sedikit banyak berpendapat bahwa dengan terjalinnya sebuah hubungan, maka, pada akhirnya kita akan dihadapkan oleh dua pilihan: melaju ke hubungan yang lebih serius (nikah) atau meninggalkan hubungan itu begitu saja (putus).

Dua duanya sama-sama menuntaskan masa pacaran. Bedanya, yang satu akan tetap hidup bersama pasangan, dan yang satu lagi memilih untuk berpisah.

Dan kami, baru-baru ini, karena alasan ini-itu, memilih opsi yang kedua.

Ironis memang. Karena keputusan ini diambil ketika gue tengah seru-serunya menulis tentang hubungan gue dan si ehem untuk dimasukkan ke dalam project  kecil-kecilan gue.

Sejauh ini, gue jadi memiliki tiga orang mantan kekasih. Dan tiap bekomunikasi terhadap salah satunya, pasti akan timbul rasa canggung, kikuk, kesal, dendam, atau bisa juga ngarep. Semua itu tergantung dari prosesi ‘pemutusan’ yang dilakukan. Apakah sedang ribut, ngobrol, atau bahkan hilang secara perlahan.

Yang ingin gue tanyakan adalah

Apakah, jumlah mantan  kalian lebih banyak dibanding jumlah orang yang kalian pacari/nikahi saat ini?

Apakah hubungan kalian dengan mantan  lebih banyak yang menjadi canggung, kikuk, kesal, dendam, benci, atau ngarep. Dibandingkan yang baik-baik saja?

Jika iya, apakah kalian pernah berpikir kalau pacar/suami/istri kalian itu merupakan sebuah resultan dari rusaknya hubungan dengan mantan-mantan  kalian?

Apakah kalian yakin kalau mereka itu jodoh kalian, atau suatu hari nanti, kembali berujung menjadi mantan kalian?
Kembali rusak. Canggung, kikuk, bahkan beberapa timbul rasa benci.

Pertanyaan lainnya adalah, apakah, untuk menemukan jodoh, kita harus menyakiti hati orang-orang terlebih dahulu, membuatnya menjadi mantan  yang lain lagi? Trial and error?  Kalau harus begitu, sampai kapan?

Bagaimana kita tahu, orang yang sekarang bersama kita itulah yang dimaksud Tuhan sebagai jodoh kita?

Dan jadi, pacaran itu melatih, atau lebih banyak merusak?

That’s the question of life.



Suka post ini? Bagikan ke: