Thursday, March 28, 2013

Hal Yang (entah kenapa) Gue Pertanyakan Belakangan Ini


Satu. Entah gue doang atau ada orang lain yang merasakan: Dunia musik Indonesia—khususnya di tv makin geje. Bukannya sok atau apa, menurut gue, lagu jaman sekarang semakin ngga waras.

Ternyata benar soal ramalan kiamat itu.

Penyanyinya ngga ada yang bisa nyanyi. Modal ganteng/cantik putih, mangap-mangap, jadi penyanyi. Suaranya diputar dari music player di belakang panggung—dengan suara editan pas rekaman—biduannya joget-joget di depan panggung. Mana jogetnya kayak orang kejang-kejang. Kalau emang situ mau ngasih hiburan, kasihlah yang bener. Mending bintang tamunya dancer  sekalian, cover dari lagu orang misalkan, ngga ada bedanya kan?

Si pencipta lagu nyiptain lagu seenak udel. Ngga mentingin roh dari lagu itu, yang diliat hanya jangka pendek--apakah bisa dapetin uang dengan cepat. Hasilnya? Ngga ada lagu yang benar-benar melegenda.

Untuk melihat apakah suatu lagu melegenda atau engga, simpel: cek di jalanan. Dulu, sejak gue kecil, sampai SMA (sekarang kuliah semester 6), kalau ada perempuan yang nyanyi, mau dari bercandaan, kawinan, pengamen yang bawa speaker, di angkot, lagunya: Goyang dombret.

Sekarang?

Semua lagu—yang kebanyakan dinyanyikan boyband/girlband—susah untuk dinyanyikan. Maksud gue susah adalah harus nyanyi sambil salto-salto. Gimana mau melegenda dan dikenal banyak orang, kalau pengamen mau cover lagu SuperNineBoyz, misalkan. Harus jungkir balik di dalam angkot. Dapet duit engga, tulang pada patah digebukin orang satu angkot.

Biduan yang suka bawa-bawa speaker, misalkan. Harus nyanyi lagu apa dia? Goyang itik? Nyosor-nyosorin bokong ke bahu jalan? Yang ada dapet ikan mentah, disangka penguin kena stroke sama orang-orang.

Anak-anak?  ngga ada yang hafal lagu anak-anak. Malah cenderung males, takut dikatain cemen. Dasar cemen.

Teman gue pernah menyuruh seorang pengamen anak kecil untuk menyanyikan lagu anak-anak dan berjanji akan membayar lebih, tapi nyatanya, si pengamen ogah nyanyi. “Ngga mau ah, malu, “ katanya.

Lihatlah perbuatan kalian wahai para pemain uang dengan moda industri musik di tv.

Kunyuk.

Kedua. Kenapa ya, ada orang yang gampang mengambil keputusan. Gampang ngambil keputusan di sini adalah elu belum benar-benar tahu tetapi langsung beranggapan yang aneh-aneh. Dan yang biasa melakukan ini adalah: komunitas cewe-cewe bawel nan rewel.

Contoh:

Ada seorang cowok berjalan melewati cewek. Simpel, sewaktu mau berpapasan, si cowok nengok ke arah si cewek. Karena merasa ngga kenal, dia jalan terus tanpa ngomong sepatah katapun. Kalau ceweknya naksir, dia pasti menjerit dalam hati, “GILLLAAAAA, DIA NGELIAATTTIIIN GUE, DIA PASTI PUNYA PERASAAAN YANG SAMA KAYAK GUEE. UUUU MUNYU-MUNYU-MUNYUUUU.”

Ngga lama si cewek cerita ke teman-temannya kalau si cowok naksir dia dengan awalan, “Eh kalian tau ngga sih, tau ngga sih, tau ngga sih” kepala godek-godek sedikit, tahan napas, “Si anu tadi ngeliatin gue di jalan. Dia pasti naksir sama gue. Aaaah gue jadi malu. Unyu-munyu-munyu.”

Seketika cewek ini tewas karena kepalanya gue jedotin ke tembok.

Contoh lain:

Ada seorang cowok berjalan melewati cewek. Simpel, sewaktu mau berpapasan si cowok nengok ke arah si cewek. Karena ngga kenal, dia jalan terus tanpa ngomong sepatah katapun. Kalau ceweknya NGGA naksir, dia akan menjerit dalam hati, “GILLLAAAAA, SOMBONG BANGET DIA. NGGA NYAPA, NGGA NGAPA-NGAPAIN. BARU JADI KAKAK KELAS AJA UDAH SONGONG. HUH, GUE SANTET KELUAR PAKU DARI IDUNG, NIH?!!”

Ngga lama si cewek cerita ke teman-temannya kalau si cowok sombong setengah mampus dengan awalan, “Eh kalian tau ngga sih, tau ngga sih, tau ngga sih” kepala godek-godek sedikit, tahan napas, “Gue tadi ketemu sama si anu di jalan. Gila, jangankan nyapa, ngeliatin gue aja nengok doang. Dikit?!!”

Seketika cewek ini tewas di tempat karena gue tembak pakai senapan gajah.

Ketiga. Gue suka sebel kalau gue lagi di kamar mandi, terus dari luar ada yang ngetok-ngetok, dan bertanya dengan nada seru, “Wooii. Di. Lagi ngapain lu di dalaam?!!”

Sontak gue diam, sembari menatap kucuran air keran dengan tatapan kosong. Ngga tahu mau ngerespon kayak gimana.

Ya, menurut lu? Kalau di kamar mandi, gue masak?

Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, March 23, 2013

Fenomena Tukang Parkir dan Kata-Kata


‘Yaaah, udah di kardusin. Baru juga parkir sebentar?! Sempak.’

Pernah ngga kalian ngerasa dibikin emosi sama tukang parkir? Cuma ngapain bentar, eh balik-balik, motor sudah ditandain sama tukang parkir pakai kardus. Salah satu profesi yang mencari duit dengan pemaksaan menurut gue.

Belakangan, gue tahu ada fenomena tukang parkir. Yaitu respon yang diberikan si tukang parkir terhadap banyaknya uang yang kita kasih. Kalau gue kasih gopek, dia pasti langsung merebut duit itu dari tangan gue, pergi sambil menunduk, lalu ngomong dengan perlahan, ‘Lah, cuma segini. Pelit amat.’ Kalau gue kasih seribu, dia sok-sok bantuin narik motor kita. Kalau gue kasih dua ribu, dia bakal narik motor kita, kemudian bilang, ‘Makasih ya, hati-hati dijalan!’ sambil nyengir lima jari. Dan jika gue kasih lima puluh ribu, dia bakal naik ke motor, kemudian nganterin gue sampai ke rumah.

Yang gue suka heran adalah, kenapa kalo gue ngga ngasih duit dia ngomel. Padahal lahan bukan punya dia, motor juga bukan punya dia.  Beberapa beralasan, ‘Ya kan kalo motornya hilang, pasti Adek nyalahin kita!’

Lah, terus? Lu pikir kalo gue nyalahin elu ,motor gue bakal diganti? Engga.

Malah, di tempat-tempat ramai seperti Blok M, misalnya, kita harus kena dua kali baayar parkir. Setelah melewati kasir resmi ,gue bayar. Dan sewaktu mau parkir, tiba-tiba, ‘Priiiiittt!’ Ada lagi tukang parkir (entah palsu entah bukan) Dan harus bayar juga. Gaul.

Begitu pula untuk event­  seperti PRJ (Pekan Raya Jakarta), biaya parkir versi preman sekitar mendadak bikin jantungan. Lima puluh ribu. Dewa.

Oke, cukup kekesalan gue tentang si tukang parkir.

Sebetulnya, gue sedang mengerjakan beberapa drafts, iseng-iseng. Entah untuk apa. Siapa tahu nanti bisa jadi buku kayak teman-teman yang sudah terkenal. Yah,we’ll see. :)

Sewaktu menulis, gue menemukan kata-kata aneh yang biasa dipakai orang Indonesia.

Apa kalian pernah mendengar saat orang lagi main PS, atau apalah. Dan ada yang salah memenncet tombol, orang itu berkata ‘Aduh, sorry. Gue salah pijit tadi. Bentar, bentar.’ Karena gue lagi giat-giatnya belajar nulis dan buka-buka thesaurus, gue malah jadi suka berimajinasi sendiri. Di pikiran gue, si anak tadi benar-benar memijit joystiknya pakai minyak arab. Dikasih kemben, dioles-oles, diraba-raba.

Sama halnya ketika tawuran. Banyak para muda-mudi berteriak ‘Woi, seraaaangg. Ayoo sikaat, sikkaaaaat?!!’ Gue kan bingung, itu tauran atau kerja bakti. Pakai bawa-bawa sikat segala.

Hal sebaliknya gue temukan di ruang kelas, saat disuruh mengerjakan soal dari dosen, teman gue—dengan lantangnya teriak, ‘Ayo Di kita hajar soalnya! Abisiiin?!’ Saat itu juga, gue secara refleks langsung meninju kertas soal. Hasilnya, tangan  gue pengkor mukul meja.

Jadi, buat kalian para pecinta kedamaian. Apabila kalian disuruh berantem sama orang yang ngomong, ‘Abisiin aja orang kayak dia! Abisiiin!!’ Tolaklah dengan berkata, ‘Wah, sorry men. Gue bukan kanibal.’

Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, March 19, 2013

Mengadu domba Anak SMA dan Jerawat


Hihihiihi.

Gue lagi kepengen jahat nih. Mumpung ini blog gue, dan berarti suka-suka gue. Maka, dalam postingan kali ini, gue akan mengadudombakan jerawat unyu dan anak SMA. Hihihihi.

Oke, mari sejenak kita lupakan ketawa ‘Hihihhi’ yang aneh itu. Ihihiihihhik. Uhuk uhuk. To… long. Aiir, aiiir. Selamatkan sayaa.

Pertama, siapa yang ngga tahu sama buku Jerawat Unyu-unyu, karya si Mahardika Gayuh ? Oke, awalnya gue juga ngga tahu.

Kedua, siapa pula orang yang belum baca buku Senior High Stressnya si Yoga Cahya Putra ? Nah, sama. Gue juga sebenernya ngga kepengen baca.

Oke, kesimpulannya, kedua buku tadi emang ngga bagus-bagus amat. Hihihhihi.

Ceritanya, gue akan me-review dan mem-versuskan kedua buku ini menggunakan teorema kesoktauan dan gaya tengil gue. Sip, kita mulai dari Senior High Stress:

First impression: Sewaktu gue liat buku ini di rak, yang pertama tercetus dipikiran gue adalah: ini buku komedi. Tapi, bagi yang liatnya sekelebat, bisa jadi dia mengira ini buku teenlit biasa.  MENURUT GUE, sebelum dibuka, ini buku komedi keren. Covernya simpel tapi eye catching. Keren. MENURUT GUE, pemilihan sinopsis buku di bagian belakang terbilang pintar. MENURUT GUE, joke yang dipilih dapat membuat mindset  kita bilang ‘Wih, buku apaan nih? Hahahaha.’

Thanks to, pengantar: Dari dua ‘prakata’ ini, gue tahu kalau si Yoga adalah seorang blogger sekaligus comic –stand up comedian asal Balikpapan. Inspiratornya dalam menulis, yakni Alitt Susanto. Sayangnya, baru baca dua halaman ini, gue dan kesoktahuan beranggapan bahwa Sang penulis terlalu terburu-buru dalam ‘mengeluarkan’ karyanya. Memang banyak joke-joke yang bersifat pengamatan dari lingkungan sekitar, tetapi ngga sedikit juga joke yang terlihat sebagai joke yang ‘disisispi’ memang untuk nge-joke. Ini ditandai dengan banyaknya joke yang menggunakan awalan  ‘…,’ atau dalam kurung (), dan tanda dua bintang ** yang menyatakan suatu kondisi. Banyaknya pengulangan-pengulangan ini semakin lama membuat pembaca akan hafal dan bersiap-siap dengan adanya joke, sehingga ‘punch’ kurang mukul.



Isi buku: lagi-lagi, MENURUT GUE, DAN KESOKTAHUAN, gaya bahasa yang diberikan si penulis sangat SMA. Tapi, terlalu banyak kata yang ngga baku, membuat efek deadpan  jadi berkurang. Kepintaran si penulis ialah tema yang dibawakan. Sangat nge-pop dan anak muda. Kebanyakan merupakan pengalamannya sendiri, tetapi karena banyak juga joke universal, membuat buku ini MENURUT GUE ngga akan cuma diterima teman-temannya yang notabene paham betul akan kejadian dalam buku (sepertinya nonfiksi).  Tetapi, entah gue salah atau benar, cukup banyak juga joke yang berasal dari singkatan atau perumpamaan yang hiperbola khas mas Alit, kayak (ini ngga ada di dalam buku, hanya contoh joke perumpamaan) "Dia marah banget saat gue ambil buku PR-nya. Mukanya udah kayak bencong ngga makan dua hari terus keserempet bajay". Nah, kata-kata yang gue tebalkan adalah yang gue maksud. Sangat susah membuat joke seperti ini menjadi joke yang benar-benar lucu (MENURUT GUE).

Last but not least: Ngga jarang juga gue ketawa karena baca buku ini. Keren. Tapi cara penulisannya cenderung berantakan. Kurang terstruktur dengan rapih tiap paragrafnya. MUNGKIN, MENURUT GUE, joke-nya sangat ke-komika-an sekali. Sehingga lebih cocok dicerna secara visual, lewat mata dan telinga. Bukan mata dan imajinasi.

Ratting: 3,5/5

...

Lanjut, kedua, Jerawat Unyu Unyu karya Mahardika Gayuh. Oke, pokoknya ini MENURUT GUE. Agak menyebalkan ngetik dua kata ini berulang-ulang:

Firsst impression: Hoek. Njir, apaan nih? Buku lawak? Buku komedi?  Ngga gini juga kali. Covernya membuat yang cowo ngga akan mau beli, bahkan untuk sekedar liat-liat. Kalau yang cewe, mungkin dipegang-pegang, tapi paling ujungnya ngga dibeli juga. Covernya pink, gradasi ungu, dengan muka entah apa (menurut yang punya itu muka mirip dia). Ada unsur kebiruannya di sudut-sudut bukunya. Dan yang lebih bikin males, judul bukunya: Jerawat unyu-unyu: catatan konyol si manusia ajaib. Entah kenapa gue merasa terlalu pasaran kata-kata ‘catatan blablaba’ Covernya jelek. Ehm, maaf. Kurang menjual.

Kata pengantar: Gue tahu ternyata si Gayuh ini seorang blogger, alamat blognya juga sama dengan judul bukunya. Duh, tapi kan ngga harus pake embel-embel catatan blablabla segala. Nanti dibandingin sama Mas Raditya Dika loh. Hayolooh. Di sini juga sering diselipkan kata ‘AJAIB’. Namun, sampai selesai gue baca, gue belum nemu yang dimaksud ajaib di sini. Mungkin salah pilih ciri khas. :p sekali lagi, MENURUT GUE.



Isi buku: di buku ini dibagi menjadi beberapa bagian, atau lebih tepatnya, ‘dikotak-kotakkan’ antara cerita pendahuluan siapa dia, blog, dan berbagai onderdil lain, cerita asmara, keluarga, serta kampusnya. Secara teknik penulisan, gue lebih menyukai si jerawat buluk ini dibandingkan Senior High Stress. Cara menulisnya rapih, keren. Dan lebih mengandung unsur deadpan, kalo yang gue rasa, sih. Alhasil, belum sampai ke bagian ‘punch’ terkadang, gue udah senyam-senyum sendiri.

Last but not least: Covernya malesin, bikin ogah beli. Padahal isinya ngga seburuk ‘luarnya’ tapi gimana kita tau kalau dalamnya bagus, kan diplastikin sama mas-mas gramed.

Ratting: 4/5

...

Conclusion:  Senior High Stress sukses menggampar Jerawat lewat tampilan luarnya, Covernya yang kece dan terkesan lebih menjual. Namun, untuk masalah konten dan isinya, gue memilih si Jerawat yang lebih unggul. Walaupun kualitas joke sebenarnya dimenangkan si Senior High Stress. Oke, ini (lagi-lagi) MENURUT GUE.

Ps: Kata-kata gue memang sok tau, jangan terlalu diambil pusing. Keduanya tetap karya yang lolos seleksi penerbit. Artinya keren. Yang jelas, beli saja keduanya. Lalu, bandingkan. :)

Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, March 16, 2013

Cerita Bukan Sembarang Cerita (Bag:5)



Tiba-tiba saja, dengan naga terbangnya. Ahmen datang menyelamatkan avanza mereka.

Dari atas naga, Ahmen berteriak, ‘Tenang anak muda, kalian berada di tempat yang tepat! Keluarlah dari mobil kemudian berpeganglah pada nagaku!’

Sena, si Monyet, Dora, dan si Bule segera melompat keluar. Mereka memegangi sisik-sisik naga yang kokoh itu. Sang naga mengibaskan ekornya ke mobil. Seketika, mobil avanza itu terbang jauh ke suatu awan. Menabrak kepala tukang somey. Si Tukang somey akhirnya dapat menjual someynya dengan naik mobil. Dia pun hidup sentosa.

Di atas kepala naga, terjadi percakapan antara Ahmen, si pria ganteng, hidung panjang, dengan yang lain,

Ahmen: Syukurlah, kalian semua selamat. Hosh.. hoshh..
Sena: Iya, terima kasih Tuan. Siapa nama Anda?
Ahmen: Ahmen. Hosh.. hosh..
Sena, dan yang lain: Terimakasih, emm.. Ahmen?
Ahmen: Iya, sama-sama… Ngomong-ngomong, kalian mau kemana? Biar saya antar. hosh.. hosh.
Sena: Anu, saya mau ke Lembah teknologi, Tuan.
Dora: Benar, Lembah Teknologi!
Ahmen: Baik, akan saya antar antar wahai anak muda. Hosh.. hosh..
Dora: Benar, baik.
Ahmen: Oke.. hosh hosh
Dora: Benar, Oke.

BLETAAAKKKK??!!!!
Dora pingsan disepak si Bule.

Sena: Ahmen, kamu nampaknya lelah sekali, memang apa yang sebenarnya terjadi?
Ahmen: Aku… lemah syahwat.

Akhirnya mereka sampai di tempat yang bernama Lembah Teknologi, di pintu masuknya terdapat plang bertuliskan ‘t1me z0ne’ di dalamnya, berisi banyak mainan-mainan. Baru saja memarkirkan naganya, Ahmen dikejutkan dengan teriakan seseorang dari jauh, ‘AAAAAAAAHHHHHHH… SKATEBOARD GUEEEEE??!!!’ Ahmen terperangah, ‘Maaf teman-teman, saya harus membantu seseorang yang berteriak AAAAHHHH.. Saya pamit dulu.’

Ah. Pantas saja. Namanya Ahmen. AH.
 ...

Sena dan rombongan masuk ke dalam t1me z0ne, mereka menghampiri seseorang yang sedang berjaga di sana. Badannya kekar, ototnya besar, rambutnya panjang, mukanya sangar.

‘Hmm.. Mas ini mirip sekali dengan Ade rai.’ Gumam Sena sambil menghampirinya.
‘Ah! Kau pasti orang yang katanya dari tahun 2000 itu kan? Perkenalkan.. Saya Ade Roy. Ahli teknologi nomer wahid di tahun dua puluh juta…’ Roy menyalami tangan Sena.
‘Ah, ya, Benar! Bagaimana kau bis…’

Belum selesai Sena bicara, dua jari Roy sudah menempel di bibirnya, ‘Aku tahu dari teman-temanku.. Sudahlah, ku bilang kan aku ahli teknologi nomer satu. Alat ku amat canggih!’

Sena berusaha menjawab, ‘Tap… tapi, Mas.’

‘Sudah… sudaaah…’ Ade Roy membekap mulut Sena.

‘Pengap, begok!’

Singkat kata singkat cerita, si Roy memberikan tantangan kepada Sena, apabila ia ingin kembali ke tahun 2000, maka ia harus memenangkan pertandingan panco melawan Ade Roy. Melihat postur Ade Roy yang bongsor pasti amat sulit untuk Sena memenangkannya. Seperti peribahasa yang saya buat sendiri: Bagai hidup di ketek bencong. Yang artinya, asem.

Sena enggan gentar, dia ngga mau berhenti sebelum mencoba. Tetiba dia teringat akan benda pemberian Spiderman: Gumpalan awan.

Dia pun memakan gumpalan awan itu. Seketika ia berubah. Seperti Ade Roy, ia tinggi, gendut, penuh lemak, kolesterol jahat, lagi perempuan. Ia mengepalkan tangannya erat-erat di depan si Roy untuk menggertaknya. Sena mengeram: EMMGGRRHH. Si Roy balas mengepalkan tangan sambil mengeram: EMMGGRRHH. Kini mereka tampak seperti capres dan cawapres yang depresi.

Pertandingan dimulai.

Sorak-sorai penonton membahana seantero t1me z0ne yang luasnnya mencapai 5x5m. Teriakan penonton pendukung Sena amat banyak. Kalau tidak salah ada… 3 penonton waktu itu. “Sena! Sena! Senaaa! Ayoo Senaaa, kamu bisaaa! Ayo maniiiissss… cantik, jangan menyeraaah…” rekaman pendukung Benteng Takeshi disetel untuk menambah riuh suasana.

5 menit pertama, keadaan masih seri. Kedua tangan sama kuat. Begitu pun hingga 10 menit. Pertandingan amat seru. 15 menit, Sena mulai kelelahan. Tangannya mulai terdorong 30 derajat. “Ayoo, Senaa. Berrjuanglaaaah! Kamu pasti bisaaaa!” rekaman Benteng Takeshi kembali diputar.

Seena sudah hampir kalah. Tangannya hampir menyentuh meja tempatnya adu panco. Dora berteriak histeris, ‘AAAAAAHHHHH!!!’, si monyet berteriak ‘AAAAAAAAHHHHHH!!’, si Bule menyusul, ‘AHH.. AHHH.. AHH.. YESS.. GOOAAALL!’ dia asik main game bola di t1me z0ne.

Entah dari mana asal-muasalnya, Ahmen datang. Dan secara ngga sengaja, si naga menyundul bokong Ade Roy. Ade Roy megap-megap.

‘HORRRRRREEEEEEEE???!!’
‘SENAA MENAAAANNGGG.. HOREEEEE, KEEREEEENNN??!!!’
‘HOREEEEE... GOAAALL LAGIIIIII...’

Prok prok prok prok

Tepuk tangan penonton membangunkan Sena. Seketika ada suara dari orang yang sering ia tonton di layar tipi, ‘kamu merasa lebih segar kan sekarang?’

Tanpa sadar Sena mengangguk.

‘Yak, itu tadi Uya Kuya telah menghipnotis Sena, peserta x-factor Indonesia. Kita nantikan, apakah ia dan pacarnya akan putus? Eeea! Eeaaa! Eeeaaaa! Nantikan setelah yang satu ini. Tetap di bukan empat mataaaaa??!!!’

(tamat)
Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, March 9, 2013

GIVEAWAY #DIARYKOMEDI


WAH ngga terasa viewer di blog ini sudah mencapai 10.000++. Makanya, sesuai judul di atas, gue mau ngasih penghargaan untuk para pembaca gue. Penghargaannya berupa GIVEAWAY. Berupa apa giveaway-nya? Nih lihat. Giveaway bukan sembarang giveaway. Giveaway-nya dipersembahkan oleh LOCALI CLOTHING:



Yap, benar. Gue akan bagi-bagi kaos karya si LOCALI ini. Keren-keren banget loh desainnya. Ada yang versi Anak bangsa, versi Anime, versi bola, sampai versi musik.

Berikut penampakan gue saat menggunakan salah satu kaos dari locali:

jangan pedulikan mukanya


...
Nah, langsung saja. Jadi, berhubung gue adalah penulis komedi, maka giveaway-nya akan gue kasih apabila kalian membuat semacam postingan di blog mengenai diary komedi. Caranya sangat mudah. Kalian tinggal posting mengenai keseharian kalian tapi harus dalam bentuk semacam diary, boleh fiksi boleh nonfiksi. Dan diary yang kalian tulis minimal dalam 2 (dua) hari. Inget, dua hari MINIMAL! Jadi boleh lebih, tapi NGGA BOLEH KURANG.

Contohnya:

Saturday, 12/31/2012
Gue di rumah blablabla…

Sore hari:  gue laper banget. Gue memutuskan buat beli sate padang, gue jalan ke depan rumah. Gue hafal banget di sana ada tukang sate padang yang udah terkenal. Karena deket, gue teriak aja dari rumah, ‘Bang! Sate padang ye, Biasaa. Buruaan!!’ Dari kejauhan,terdengar suara Abangnya, ‘Sabar ya, Nak. Ini Ayah lagi bikinin buat Adek kamu dulu..’
Oh God, gue lupa. Bokap gue yang jualan sate.
Blablabla

Malamnya:
blablabla

Sunday, 01/01/2013
Blablablabla….

...
Kurang lebih kayak gitu, terserah format penulisannya. Mau langsung dua hari, mau satu hari-satu hari. Mau pagi, siang, malem. Sekali lagi, yang penting Minimal 2 hari, ngga boleh kurang! Lebih boleh.

Nah, karena udah tahu cara menulis isi postingannya, Sekarang gue bakal kasih tahu cara ikut lombanya:

1.       Update status di twitter kamu dengan, ‘WAH ADA LOMBA MENULIS #DiaryKomedi !! Gue aja ikutan. Masa elu engga!! Infonya, cek di: [beri link postingan ini]’ Update status ini merupakan syarat sahnya daftar lomba ini.

2.     Setelah update status, mention twitter atau kirim email ke gue dengan subjek: ‘Ikutan Diary Komedi’’ , biar gue cek dan masukkan nama kalian ke daftar lomba. Nantinya, daftar pengikut lomba akan gue masukkan di postingan ini. [Twitter gue ada di footer blog ini].

3.     Setelah mention, ada baiknya kalian follow gue. Karena apabila ada pergantian atau pengumuman mengenai Giveaway ini, pasti gue akan lebih dulu ngasih tau lewat twitter. [Follow gue ini sifatnya sunnah muakkad, bukan wajib]

4.     Jika kalian sudah menulis postingan, (lagi-lagi) mention link postingan kalian ke gue dengan hashtag DiaryKomedi (#DiaryKomedi) atau jika ingin via email, kirim dengan subjek: ‘Link Diary Komedi’

5.     Pendaftaran dibuka saat gue memposting tulisan ini, dan berakhir tanggal 31 Maret.

6.     Pengumuman pemenang akan gue beri tahu lewat email, atau twitter kalian langsung. Sebelumnya, akan gue pajang nama-nama kalian di postingan ini pada tanggal 1 April.

Oh iya, pemenangnya ada 3 (tiga) orang, dan setiap orang, hanya boleh memberikan satu link ke gue. Hadiah yang akan didapat tentu sangat-sangat-sangat keren dan berbeda dari Giveaway pada umumnya. Para pemenang akan dapat memilih desain kaos sesuka hati. Jadi, ibaratnya, kalian bebas menentukan hadiah yang kalian inginkan. Keren ngga? Ya iyalah. Hihihihih.

Desain kaos bisa dipilih di sini:





...
Para pemenang yaitu:

1.     Tulisan yang bisa membuat gue nyengir, yang jelas yang lucu. Terserah kalian bagaimana caranya. Tapi  gue lebih suka kalau itu orisinil, alias merupakan karakter asli kalian yang ngga dibuat-buat.

2.     Pemenang pertama akan mendapat satu kaos pilihannya, ongkir gue yang tanggung.

3.     Pemenang kedua dan ketiga, akan mendapat masing-masing satu kaos yang kalian paling suka. Ongkir kalian yang tanggung.

Yak, segitu aja giveaway-nya. Semoga dengan adanya giveaway ini semakin banyak penulis komedi keren yang berkeliaran di muka bumi.

Salam,

Ps: setelah pemenang diumumkan, kalian wajib mengirimkan ukuran kaos dan desain yang kalian inginkan.

Ps: Beri keterangan di akhir postingan kalian, apakah postingan kalian itu fiksi atau nonfiksi. Postingan nonfiksi akan mendapat poin lebih tinggi. Ngga ada-nya tulisan fiksi/nonfiksi otomatis akan gue anggap sebagai fiksi.

...
UPDATE

Peserta:
Chairil Alby 
Dio Saputra 
Ochaii 
Sarah
Amira 
Ryo Edward 
Yura permata Sari 
Amri Evianti 
Zulfan Lutfiadin 
Fuad 
Willy Anugrah 
Lalu alfian

Supported by:





Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, March 4, 2013

Cerita Bukan Sembarang Cerita (Bag: 4)


SENA melihat ke arah stir mobil itu. ‘KAMUUU?!!!’

Sena menggedor-gedor kaca depan mobil avanza itu, ‘Nyet, Monyet. Tolongin Aku. Berhentii!!’ Di balik setir mobil, si Monyet hanya mengibas-ngibaskan ekornya.  Sena merogoh hotpants-nya. Tersisa uang dua ribuan. Sena pun mengibas-ngibaskan uang itu ke arah si Monyet.

Si Monyet ngerem, membuka mobil dan menyuruh Sena masuk. Sena bengong saat menyadari ada si Dora dan si Bule sedang pingsan di kursi belakang mobil avanza.

‘Nyet, kenapa mereka ada di sini?’  tanya Sena kebingungan.
‘uu.. uu.. aaa. aaaa..’
‘cerita dulu, baru Aku kasih uang!’ bentak Sena ke si Monyet.
‘Ah, dasar pelit!’ celetuk si Monyet. ‘Mereka cuma mabok udara, kok. Emang dari lahir udah cemen gitu,’ si Monyet menjelaskan.
‘Ooh, gitu. Yaudah, kasih ini ke mereka,’ Sena memberikan antimo.

Setelah diberikan antimo, mereka berdua langsung sadar dan engga mabok lagi. Sena lalu bercerita bahwa dia tadi telah bertemu dengan Spiderman yang membawa skateboard. Pengalaman yang cukup aneh. Dia juga sudah tahu bahwa ini adalah taun dua juta, bukan 2013.

‘Hah. Spiderman? Hahahahaha,’ tawa si Bule menggema seantero mobil. ‘Di sini mah mane ade Spiderman, cuy. Itu Superhero jaman jebot!’
‘Tapi beneran loh, Bule. Tadi Aku ketemu, malah makan somay bareng dia!’  tungkas Sena tak percaya.
‘Beneran, cuy. Sekarang tuh taun dua puluh juta. Bukan dua juta. Lagian, pahlawan yang lagi tren di sini. Namanye… Mister tukul,’ lirih si Bule malu-malu.
Sena melongo, ‘Kalau di jaman Aku, Mister tukul mah kotak amal.’
‘Jadi, ke mana kita sekarang? Ayo tanya petaaaa!!!’ tanya Dora antusias.
‘Diam kau. Kutu kupret!’ kata Bule, Sena, dan si Monyet bersamaan.

Piip. Piiip. Piiip. Piiip.

‘Wah, ada SMS. Mana nih hape gue?’ tanya Monyet ke diri sendiri. ‘Ada yang liat, ngga? Tolong cariin dong!’ tambahnya.

‘Eh, sempak. Itu tuh suara alarm mobil ini. Artinya dia kehabisan bensin! Sudah berape lama sih ente nyopir?’ si Bule sewot.

‘Emm.. udah lumayan kok, sob. Udah… 10 menit yang lalu.’ Jawab Monyet pelan. ‘ehehe. Eheheheh. Ehehehehehe.’ ‘Bos… ehehe.  Mesinnya tiba-tiba mati. Avanzanya ngga bisa terbang lagi. Ehehehehe.’ Monyetnya ketawa maksa.

‘AAAAAHHHHHHHHH!’ serempak, suara mereka kayak banci.

‘GIMANA NIIIH, DASAR ENTE KAMPREEET. BAHLUL ENTE. BAHLUUUUL!!’ hardik si Bule ke Monyet.

‘Njir, apa di sekitar sini ngga ada pom bensin? Kita harus ke mana nih?’ si Monyet berusaha mengendalikan mobil.
‘Ke mana? Lebih baik kita tanya peta! Ayo. Katakan PETAAAA!’ ujar si Dora lugu.

‘AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!’


Tiba-tiba saja, dengan naga terbangnya. Ahmen datang menyelamatkan avanza mereka.

Siapa itu ahmen? Tunggu di episode pamungkasnya, nanti.
(bersambung)
Suka post ini? Bagikan ke: