Sunday, December 8, 2013

Percayalah, Wahai Umat Manusia!


Percayalah, tidak semua wanita pandai tawar-menawar.
Gue pun baru mengetahuinya tadi pagi, sewaktu nyokap minta diantar ke Tanah Abang. 

‘Mau ngapain Bu ke Tanah Abang?’
‘Beli sarung.’
‘Buat apa?’
‘Buat dibagi-bagi. Kan mau lebaran.’
Lebaran?’  karena bingung harus merespon apa, gue hanya menjawab, ‘Oke.’ Padahal, mah, di dalam hati memekik: ‘LEBARANNYA JUGA MASIH LAMA!!’
‘Tapi naik umum ya,’ kata nyokap. ‘Kalo naik motor susah nanti bawa belanjaannya.’
‘Baiklah.’

Kita pun berangkat pukul sembilan menaiki angkot menuju Ciputat. Setibanya di Ciputat, nyokap (entah kesambet apa) malah masuk ke pasar dan melihat-lihat barang di sana. Tidak butuh waktu lama sampai gue bilang, ‘Jangan lupakan tujuan kita, wahai Ibuku.’ Kita pun kembali ke jalan yang benar. Hari belum begitu panas. Gue, yang sama sekali tidak mengerti dunia per-angkutan umum-an hanya bisa mengekor ke mana nyokap berjalan.

‘Kalau mau ke Tanah Abang naik 102, Dek, kopaja,’ kata nyokap. ‘Yang itu.' Nyokap menunjuk sebuah mobil kuning. ‘Kalau yang itu 501.' Nyokap menunjuk mobil lainnya. 'Bukan ke Tanah Abang.’
‘Ogitu. Kalau yang katanya banyak preman-premannya itu yang mana, Bu?’
‘Itu metro mini. 72.’
‘Ogitu. Kalau yang 14045 itu ke mana Bu?’

Nyokap masuk ke Kopaja, menghiraukan pertanyaan gue.

Kopaja berjalan. Pada mulanya, bus semacam metro mini ini tidak terisi banyak penumpang. Hingga satu per satu ibu-ibu masuk. Benar. Hanya gue dan sopir dan kenek yang berjenis kelamin laki-laki. Gue sempat khawatir apabila terjadi sesuatu di Kopaja ini, kami (kaum pria) tidak akan bisa berbuat banyak.  Gue pernah baca di internet, ada seorang preman yang memalaki penumpang ibu-ibu di metro mini, dipukuli oleh seorang lelaki macho sampai mukanya berdarah. Belakangan diketahui bahwa lelaki tersebut adalah tentara. Jikalau hal tersebut terjadi di dalam Kopaja ini, paling juga si preman jadi botak karena dijambak ibu-ibu paruh baya.

Tidak berapa lama, masuk pengamen yang membawa gitar cokelat usang.

‘Assalamualaikum,’ kata seorang teman pengamen tersebut. ‘Selamat pagi bapak-bapak, ibu-ibu. Biarkanlah kami menghibur anda semua dengan sedikit lagu dari kami.’
‘ADUH, DEK. IBU LUPA BAWA RECEH!’
‘Hmm.’
‘ADANYA DUA RIBUAN NIH. GIMANA DONG. INI MAH, KAN BISA BUAT EMPAT PENGAMEN!’ seru nyokap. ‘KITA “MAAF” AJA DEH, DEK!’
‘Iya, Bu. TAPI NGOMONGNYA NGGA USAH DI DEPAN PENGAMENNYA JUGA KALEE!!’
‘He… he…,’ tawa nyokap, maksa.

Setelahnya, semakin banyak ibu-ibu yang memasuki kopaja. Bukan hanya kursi penumpang, mahluk tua itu juga memenuhi koridor. Berdiri sambil pegangan semacam tiang yang menempel di langit-langit kopaja. Berdesakan. Sang kenek susah bergerak untuk meminta ongkos. Aroma keringat dan ketek bertempur.

11.24 AM:

Sampai di Tanah Abang, kami segera memasuki pasar untuk membeli sarung. Tidak seperti kebanyakan ibu-ibu yang kalau mau menawar sangat jago, level tawar-menawar nyokap hanya semata kaki (cetek abis). Setiap mau nawar, nyokap nanya dulu, ‘Pak, ini boleh barangnya saya tawar?’

Sungguh seorang ibu yang sangat santun.

Satu hal yang gue tahu tentang cara perempuan menawar adalah, mereka menjelek-jelekan barang dagangan. Contohnya seperti ini:

‘Ini baju berapa harganya?’
‘Seratus ribu.’
‘Alah. Baju kayak gini doang mahal amat. Tuh, tuh liat, tuh jahitannya udah lepas-lepas gitu!’
‘Tap-‘
‘Udah, lima puluh ribu, ya?’

Lalu si pedagang memperbolehkannya dengan tersedu-sedu.

Berbeda dengan yang dilakukan para wanita kebanyakan, nyokap punya trik tersendiri dalam menawar: mencari sekutu. Benar. Sebelum menawar, nyokap akan memanggil ibu-ibu sekitar untuk ditanyai harga yang pas untuk sebuah barang. Dan biasanya… gagal.

Biasanya, nyokap akan bertanya, ‘Bu, Bu, kalau di tempat Ibu, baju beginian berapa? Ngga mungkin kan seratus ribu?’ Kemudian Ibu-ibu yang ditanya hanya senyum meringis, ‘Heee..’

Meski demikian, nyokap punya cara alternatif. Gue menamainya dengan: Strategi Membuat Pusing. Cara yang dilakukan nyokap adalah sebagai berikut: nyokap akan bertanya tentang apa saja yang ada di dagangan tersebut, berharap si pedagang lengah, kemudian nyokap akan menurunkan harga dengan tiba-tiba.

‘Mas, mau lihat mukena yang itu!’ nyokap menunjuk sebuah mukena berwarna pink.
‘Oke.’
‘Ini berapa harganya?’ Tanya nyokap, sambil membuka mukena tersebut, lalu menebarkannya di atas toko.
‘Kalau kodian seratus ribu.’
‘Kalau yang ijo itu?’
‘Dua ratus lima puluh ribu.’
‘Kalau yang itu? Yang itu? Yang itu?’ Tanya nyokap bertubi-tubi.
‘Ha? Yang mana tadi?’
‘Tidur.’ Nyokap menjentikkan jari. Tukang mukena tidur. Nyokap mengambil mukena lalu tertawa licik. Menang.

12.17 Pm:

Kita berhasil meraup dua kodi sarung dan delapan mukena (tanpa membuat tukangnya tidur, dan tanpa nawar karena nyokap malah terkagum-kagum dengan mukenanya. Katanya: ‘Iya, inimah bagus, ya. Harusnya bisa lebih mahal lagi ini, Bang harganya.’). Kita pun memutuskan untuk makan siang di sekitar pasar. Sumpah, ini adalah tempat makan yang paling mirip dengan metro mini. Tempatnya penuh, sulit untuk berjalan, lantainya cokelat seperti terkena sepatu yang berlumpur, dan pelayannya teriak-teriak persis kenek,

‘Yo, yang ayam bakar yow!’
‘Yo, yang es jeruk yow!’
‘Es teh manis teh manis teh manis!’

Nyokap makan dengan lahap. Katanya, makanannya enak-enak. Gue sendiri kebalikannya, makan dengan lemas. Menurut gue, makan dengan keadaan tidak nyaman sangatlah ngga enak. Gue lebih memilih makan di tempat yang nyaman walaupun rasanya agak ngga enak. Beruntunglah gue keluar dari restoran ini tidak meloncat dengan kaki kiri terlebih dahulu seperti yang orang-orang lakukan ketika turun dari metro mini.

12.30 Pm:

Kita pulang dengan kendaraan yang sama: Kopaja. Gue berdiri gantungan sepanjang perjalanan. Keren. Gue merasa macho. Pantaslah gue dibilang anak metro sejati.
Share:

8 comments:

  1. Hahahaha nyokap lo kereeeeennnn. Gue pinjem jurus "dua ribu untuk 4 pengamen" yak :))

    ReplyDelete
  2. Hahahaha nyokap lo kereeeeennnn. Gue pinjem jurus "dua ribu untuk 4 pengamen" yak :))

    ReplyDelete
  3. Kok, lo tau banget trik menawar ibu-ibu, Di? Hahaha.
    Sumpah. Itu. Bener. Banget! Dan, nyokap gue kalo nawar selalu terapin trik menjelekan barang si penjual. Hingga menjurus pemaksaan. Like a perampok.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bisa, sekalian jelekin Abang penjualnya semisal dengan berkata, 'Bang, kok item sih?' niscaya barangnya jadi lebih murah... dan jadi lebih mudah digampar Abangnya.

      Delete
  4. Trik menjelek-jelekkan barang dagangannya malah jadi trik terkagum-kagum dengan barang dagangannya. X))

    ReplyDelete
  5. Yang sering gue lihat orang pura-pura pergi gitu biar pedagangnya luluh. Tapi sekarang pedagang udah hafal trik itu --

    ReplyDelete
  6. nyokap lo selain jago nawar juga ahli hipnotis tuh haha xD

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/