Saturday, December 28, 2013

Humor dan Relasi Implementasi Terhadap Komedi

Seperti halnya karya seni lain semisal karya rupa, menulis puisi, bernyanyi, memainkan alat musik, atau akting, komedi merupakan bidang seni yang dapat dipelajari. Kita dapat memelajari bagaimana membuat orang tertawa, seperti apa jurus-jurusnya. Kita dapat mengasah kemampuan berkomedi dengan membedah dan menganalisa film-film komedi, sitkom, maupun tulisan komedi. Namun, seringkali kita tidak sadar dan tidak tahu apa itu sebenarnya komedi/humor. Bagaimana sesuatu yang lucu dapat membuat kita tertawa.

D.H Monro, dalam bukunya yang berjudul Argument of Laughter, membagi humor ke dalam tiga kategori, yaitu teori superior, teori keganjilan, dan teori kelegaan.

Superiority theory/teori superior adalah sebuah konsep humor yang dilakukan atas dasar ejekan. Telah banyak filsuf yang memandang komedi secara negatif sebab menggunakan unsur ‘cemoohan’ di dalamnya, salah satunya adalah Socrates. Ia mengatakan bahwa tawa yang kita dikeluarkan, berasal dari perasaan senang ketika melihat orang lain berada dalam kemalangan. Namun, Socrates berpendapat bahwa seseorang akan memiliki pengalaman jiwa yang berbeda saat dihadapkan pada komedi seperti ini: seseorang bisa bahagia dan tertawa saat diberikan komedi yang memaparkan kebodohan-kebodohan, tetapi untuk merasakan kesenangan atas kemalangan orang lain, ia harus memikirkan ‘pain of the soul’’.

Teori ini dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sedang marak digunakan dalam pertunjukan komedi di layar kaca kita. Seperti memukulkan properti ke badan orang, mengolok, mendorong, memasukkan cabai ke mulut seseorang. Dan, kita tertawa akan hal tersebut.

Tingkat kelucuan yang dihadirkan dari perspektif ini ialah kesenjangan antara pengolok (superior) dan orang yang menjadi korban olokan (inferior). Semakin tinggi kesenjangan ini, maka tawa yang dihadirkan akan semakin tinggi. Kita bisa tertawa sewaktu melihat teman nyemplung di got karena kita merasa lebih superior dibandingkan dia. Di saat yang bersamaan, kita akan sulit menemukan paspampres yang tertawa ketika melihat SBY nyemplung ke got.

Aristoteles dan Plato juga melihat komedi dari sudut pandang ini. Aristoteles mengatakan bahwa kita akan tertawa pada humor yang bersifat mengolok-olok ini sampai pada batas terentu saja. Yakni, ketika komedi tersebut belum melewati titik ‘bodoh’ yang dirasa kasar serta menyakiti orang lain. Dan tentunya, tiap orang memiliki batasan tersendiri atas apa yang dianggap ‘kasar dan menyakiti’.

Kita mungkin masih tertawa saat Sule dengan tampang polosnya mau disuruh duduk di kursi gabus dan terjatuh, karena otak kita secara reflek berkata, ‘Hahaha dia goblok. Itu kan gabus, ya jatoh lah!’ kita merasa superior ketimbang Sule. Sedangkan kita mulai merasa, ‘Ih, ini apaan sih?’ sewaktu Olga menjambak penonton atau mendorong rekan kerjanya hingga tersungkur. Hal ini menunjukkan bahwa menjambak penonton atau mendorong seseorang sampai tersungkur sudah melewati titik ‘bodoh’.

Bukti empiris lainnya menunjukkan bahwa humor dan komedi berasal dari keganjilan. Seorang filsuf dari Skotlandia, Francis Hutcheson, menjelaskan bahwa keganjilan dapat dinikmati karena dapat menghindarkan kita dari emosi negatif. Seorang filsuf dari prusia, Jerman, Immanuel Kant, setuju dengan apa yang dipaparkan Hutcheson bahwa humor diperoleh dari pengakuan intelektual akan keganjilan. Ia menambahkan bahwa rasa penasaran yang dimiliki manusia secara psikologis akan memberikan reaksi nyaman ketika dihadapkan pada humor dengan keganjilan. Mengacu pada yang dibilang Kant, kita tertawa pada sebuah absurditas, sebenarnya bukan dikarenakan pikiran kita nyaman karena dibuat frustasi (oleh sesuatu yang absurd), melainkan karena pikiran kita berusaha untuk menerima absurditas yang disodorkan, sehingga menyebabkan respon fisik berupa tawa.

Dalam tulisannya yang berjudul The World as Will and Idea, Schopenhauer, filsuf Jerman, juga mempercayai bahwa humor berasal dari keganjilan dan frustasi intelektual dalam ekspektasi manusia. Sesuatu akan dianggap lucu ketika otak kita ditipu oleh suatu ‘realitas’ yang ditawarkan para komedian.

Pemikiran Schopenhauer mengenai komedi ini bahkan pernah ditulis oleh Raditya Dika, penulis komedi, dalam esainya yang berjudul Schopenhauer dan Konseptualisasi Komedi. Schopenhauer berpandangan bahwa kita memiliki dua cara dalam memahami sesuatu: melibatkan konsep abstrak dan persepsi indera. Masih kata Schopenhauer, setiap orang akan memiliki ‘realitas’ terhadap suatu hal, dan apabila kita diberikan keganjilan dengan membelokkan ‘realitas’ tersebut, maka kita akan tertawa.

Contoh sederhananya seperti ini: di dalam pikiran kita, untuk naik pesawat dari Jakarta menuju Denpasar, kita tinggal datang ke bandara Soetta, naik pesawat yang ke Denpasar, duduk, tunggu landing, lalu sampailah kita di Denpasar. Namun, ketika ada orang yang naik pesawat penerbangan ke Denpasar, lalu minta turun di Surabaya dengan berteriak, ‘Bang, kiri, Bang! Surabaya ya!’ kemudian loncat begitu saja keluar pesawat, kita akan tertawa. Mengapa? Karena kita tidak memiliki ‘realitas’ atau pandangan bahwa orang yang naik pesawat bisa turun sembarangan. Di sanalah keganjilan itu terjadi.

Pandangan ini mengingatkan kita untuk kembali kepada dasar komedi, yakni setup-punchline. Di saat selesai setup, otak kita akan membuat persepsi tentang hal yang akan terjadi selanjutnya. Ketika kita kaget karena persepsi kita ternyata dibelokkan oleh punchline, kita akan tertawa. Perihal setup-punchline sebagai dasar komedi, pernah dibahas di sini.

Contoh lain: kita akan tertawa apabila melihat Roma Irama joget iwak peyek. Hal tersebut dikarenakan bahwa persepsi kita atas Roma Irama adalah seorang pedangdut yang macho, sedikit bergerak, berbadan besar, dan berwibawa. Maka, saat kita menyaksikan Roma Irama joget Iwal Peyek dengan memutar-mutarkannya kepalan tangannya ke udara, kita akan tertawa. 

Contoh lain lagi: Percakapan antara Denholm dan Jen dalam serial IT Crowd.

Denholm: Aku akan menempatkanmu di departemen IT karena di-CV mu tertulis bahwa kau punya banyak pengalaman dengan komputer!
Jen: Ya. Aku menuliskan itu di CV-ku. Aku punya banyak pengalaman dengan komputer... secara keseluruhan.
 Kau tahu? aku mengerti email.. mengirim email, menerima email, men-delete email.

Semakin kita dibuat nyaman oleh sebuah setup, maka efek keterkejutan dari punchline juga akan semakin tinggi. Hasilnya tawa kita semakin besar. Tentunya, hubungan antara setup dan punchline harus erat.

Namun, dalam buku The Sense of Beauty, George Santayang mencatat bahwa kita juga tertawa pada situasi yang tidak melibatkan keganjilan: kita tertawa saat mendapatkan kemenangan, saat bersimpati dengan orang lain, dan kita juga tertawa ketika digelitiki. Hal-hal semacam ini, dikategorikan oleh Herbert Spencer, dalam The Psysiology of Humor, sebagai Relief theory (teori kelegaan).

Teori kelegaan adalah pandangan mengenai humor di mana tawa yang dikeluarkan adalah hasil dari pembebasan ketegangan emosi yang ada di dalam tubuh. Spencer mencatat bahwa di dalam tubuh manusia, seringkali kita menyimpan kelebihan energi ‘tegang’. Sewaktu energi ‘tegang’ ini dilepaskan dari dalam tubuh, tawa akan muncul.

Contoh paling gampang adalah seorang mahasiswa abadi seperti Alit Susanto yang menyelesaikan studi kuliahnya. Sesaat setelah dosen penyidang memutuskan, ‘Anda, Alit Susanto, disahkan telah lulus sebagai mahasiswa,’ dapat dipastikan Alit bakalan nyengir kuda karena melepas beban energi ‘tegang’ yang telah dibawanya selama ini.


Teori-teori tentang humor tadi menyiratkan bahwa komedi merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan dianalisa. Tawa, dapat dihasilkan dengan berbagai cara tergantung sudut pandang seseorang dalam penentuan unsur humor/komedi di dalamnya.
Share:

9 comments:

  1. Dan Indonesia adalah negara paling humoris.

    ReplyDelete
  2. wah. bisa jadi bahan skirpsi juga nih. analisanya mendalam banget. keren.

    ReplyDelete
  3. Manteb nih, Di.
    Ini adalah sebuah pencerahan untuk orang yang suka komedi.
    Btw, lo menganalisa seperti ini? punya bukunya, ya? Ah, gue juga mau beli deh.

    ReplyDelete
  4. Iya, keren nih. Bacaan cerdas&membuka wawasan. Sukses terus bro!

    ReplyDelete
  5. gue adalah salah satu dari banyak komedian gagal dan itu bukan karena gue ngga lucu, itu karena gue belum mempelajari cara berkomedi yang cerdas kayak artikel diatas, hehehe (ini dalem banget)

    ReplyDelete
  6. Sumpah, ini keren! Gue harus membaca tulisan ini berulang-ulang biar makin paham :))

    ReplyDelete
  7. buku rujukannya dari mana aja bang?

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/