Saturday, November 16, 2013

Hikayat Rabu Pahing*

Akhirnya aku akan membocorkan cerita ini. Kuberi tahu kau satu hal: cerita ini fiktif. Meski begitu, aku tak menyarankanmu untuk memberikannya kepada orangtuamu. Ini buruk bagi kejiwaan orang yang sudah berumur dan tempramen. Apabila kau ngeyel dan tetap memberi tahu orangtuamu, niscaya kau tak kan mendapat uang jajan keesokan harinya.

Cerita ini bermula saat dua bulan yang lalu. Ketika itu aku berada di ruang tiga-C, di tempat biasa aku berdiri, di depan bocah yang biasa pula.

Mereka—para bocah itu—seperti biasa pula, banyak bertingkah jika aku membuat sebuah permainan. Permainan asah otak. Mereka sangat ramai. Berkebalikan denganku.

Aku di rabu pahing itu lebih banyak diam. Mengingat-ingat Nina, anak sulungku yang baru saja tiada. Malam sebelumnya, kata suamiku, ada orang yang mendatangi Nina di hutan dekat rumah. Orang itu mengaku dari Jakarta. Ia memberi Nina sebungkus permen, dan Nina melahapnya. Masih kata suamiku, melalui orang itu, ia membawa Nina ke rumahnya. Rumahnya besar dan pondasinya dari kayu. Rumah orang kaya. Setelahnya Nina ditemukan tergeletak dengan mulut berbusa.

 ‘Mobiiil, mobiil!’
‘Cobalah lebih spesifik, Nak,’ kataku.
‘Ayoo Dominikus, kau pasti bisaa!’
‘Ayooo! Ayooo!’

Aku mengambil sepotong kapur tulis dan menuliskan sesuatu di papan: bus.


‘Buuusss!! Buusss!!’ para bocah saling sahut dan tertawa, wajahnya menampakkan kebahagiaan.

Ruangan ini diisi oleh anak dari umur tujuh hingga lima belas. Meski berbeda umur, mereka memiliki satu persamaan: kulitnya seperti lumpur. Mereka tertawa riang. Aku menutup kelas bahasa pagi itu, bersiap mengunjungi makam Nina, tidak jauh dari rumahku.

Di perjalanan, hatiku mendadak gelisah. Aku tahu bahwa di belakangku ada orang. Bunyi daun-daun kering yang terinjak itu bukan hanya disebabkan kakiku. Pasti ada orang lain.

….

Cerita penuhnya dapat diliat di sini:   login-nya bisa lewat twitter dan facebook, kok. Jadi jangan lupa berkomentar ya.

Atau mata kalian akan bisulan. Hihihi.

Bagi yang mau ikutan, kompetisi ini masih panjang loh, cek aja di sini. Mari meramaikan!

*cerita ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis cerita inspirasi.co
* Maaf kalau ceritanya jelek ya. Gue kan biasa nulis cerita komedi yang ringan-ringan. Begitu disuruh cerita inspirasi langsung mabok. Hehe. Dan, terlebih lagi panjang cerita maksimumnya enam ratus kata. (tetap mencari excuse..)


Share:

10 comments:

  1. Asah kemampuan buat cerpen terus nih kayaknya bang :) lanjut terus dah, itu cerpen-cerpennya keren keren, gue juga pengen belajar :'')
    Good luck buat kompetisinya ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Itu gara-gara ada lomba itu aja sih. Masih cupu banget gini. Siap, thanks, Fi.

      Delete
  2. hahaha ceritanya ngocol banget ya bang :D mampir ah ke full ceritanya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan. Dan mari berkomentar untuk menambah pahala.

      Delete
  3. Tumben, Di. Cerita lo gak nyeleneh kayak biasanya. Hahaha.
    Dan, seperti biasanya, cerpen lo bagus. Ohiya, gue kurang serek sama penjuriannya. Masa juara 2 dan 3, gak liat dari kualitasnya sih. Cuma perlu banyak komentar sama share. Hadeh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini masih cupunista, Mat. Dan maka dari itu, berkomentarlah.

      Delete
  4. waduh,,,bikin penasaran saja...ternyata sambungannya ada di tempat lain,
    selamat berlomba saja kalo begitu...semoga menjadi yang terbaik...salam :-)

    ReplyDelete
  5. Wah ada juga ia kompetisi ginia :)
    ngikut akh broh sepertinya seru nih.

    ReplyDelete
  6. wah bro. lo nulis komedi atau inspirasi gini tetep aja bagus. keren.
    cerpen kayak gini sih yang gua suka

    ReplyDelete
  7. Aaaaakkkkk adiiiii gue ngepens sama looo.. Isshh tulisan lo kece.. Mau komedi atau cerpen.. Ajarinn.. Ajarin... Wokehh??

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/