Sunday, October 27, 2013

Postingan dengan Penuh Ekspresi

Gue punya dua kabar untuk mengawali postingan kali ini.

Kabar buruk: Pertama, gue udah lama banget ngga posting di sini. It kills me slowly. Akhir-akhir ini gue sibuk ngurusin penelitian buat skripsi. Kedua, besok gue UTS.

Kabar baik: Pertama, gue sekarang nulis lagi. Hore. Akhirnya ada jeda sebelum UTS untuk gue menulis. Gue rindu menulis. Gue rindu blog ini. Kedua, persetan dengan UTS. Kalau kata anak selow, masih besok ini. Kalau kata orang Sunda, sabodo teuing lah. Kalau kata Nyokap gue, Astaghfirullah, Nak. Belajarlah kamu..

Tapi serius,
Gue rindu berat nulis di keriba-keribo.

Udah hampir dua minggu gue ngga nulis di sini. Dan, seperti yang gue bilang tadi, gue ngga nulis karena ngurusin penelitian. Gue disuruh bantuin kakak kelas S2 di kampus untuk ngebuat panel kayu, menguji kekuatan produknya, bikin laporan, kemudian ngumpulin laporannya ke rektorat. Semua itu di-deadline berapa lama? Satu bulan. Maderfaker.

Kita berdua ngos-ngosan ngerjain proyek dosen ini, harus selesai tanggal 25 Oktober kemaren, sementara produknya baru jadi sekitar seminggu sebelumnya. Pak Dosen, kalau mau bunuh saya, tusuk saja pakai bambu runcing, jangan pakai deadline gini..

Walhasil, selama seminggu, kita ngebut buat ngerampungin pengujian itu panel kayu dan laporan. Hampir tiga hari berturut-turut kita nginep di lab kampus. Semisal lab-nya kayak laboratorium di luar negeri mah, enak. Gue bisa songong ke temen-temen dengan bilang, ‘Gile, gue dong nginep di lab!’ temen-temen gue pasti terperangah, ‘Serius lu? Gile, sungguh kaum akademisi sejati lu, Di!’ Lha, ini lab di kampus gue bentuknya mirip markas gembong teroris. Kalau gue bilang, ‘Eh, kemaren gue nginep di lab, dong!’ reaksi temen gue pasti, ‘Serius lu? Kok masih idup, Di?’

Laboratorium di kampus gue memang terkenal angker. Berantakannya bukan main. Gelap. Berdebu. Barang-barang aneh berserakan. Ada kompor, panci, kayu-kayu, mutan, sarang laba-laba, gayung. Mungkin kalau di dalam dunia desain ada konsep yang namanya minimalis, nah, lab gue ini termasuk ke dalam konsep ancurabis.

Selasa, 22/10/13
07.30 Pm:

Gue sedang mengukur sampel kayu kotak seukuran genggaman tangan. Sampai di sampel kayu ke tiga puluh sembilan, lampu tiba-tiba mati.

‘AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHH!!!’
Dina, kakak S2 yang daritadi mencatat ukuran yang gue sebutkan kepadanya, menjerit dengan kencang.

‘Tenang, ka, tenang,’ kata gue menenangkan, padahal dalem hati njerit-njerit.
‘Udah, ayo, kita keluar aja deh. Ini yang mau dibawa apa aja?’
‘Ayo ayo ayo keluar. Ayo buruan keluar.’
‘Ini yang mau dibawa keluar apa aja?’
‘Ayo, Di. Keluar Di buruan.’
Dengan menahan rasa ingin menyumpal mulut kakaknya menggunakan sisa potongan ayam di meja, gue akhirnya menjawab, ‘Oke.’

Kita pun jalan keluar lab. Dina terlihat bergidik. Mimiknya berkerut-kerut, lengannya bergemetar. Langkahnya cepat-cepat, namun pendek karena mengikuti gerak kaki gue. Dia tidak ingin terlalu di depan gue, juga di belakang. Semuanya hitam, kecuali terang lampu dari handphone gue dan dia.

Sesampainya di pintu lab, gue kembali bertanya, ‘Jadi, apa yang mau dibawa keluar? Laptop? buku? chargeran? kayu?’
‘Bawa aja semuanya, Di.’

Tele kuda.

Sekembalinya dari mengambil laptop, tas, penggaris, kertas, buku, chargeran ponsel, dan beberapa sampel kayu yang tertinggal, kita pergi dari lab, mencari tempat yang lebih terang.

‘Di, gile, elu kok santai banget gitu. Padahal kan katanya di lab situ angker, loh.’


Pengalaman, atau lebih tepatnya perkataan Dina yang terakhir telah membuka pikiran gue. Dia bilang gue santai, muka gue selow, dia ngga tahu aja sebenernya gue pengin nangis, pengen kabur, pengen teriak 'Tegangan cinta tak dapat dihindar lageee!' (lho, kenapa jadi Agung Herkules).

Iya, gue sebenarnya juga takut. Tapi, mungkin muka gue engga menunjukkan itu. Entah gue lupa cara berekspresi (ini ngga mungkin) atau memang dari orok muka gue datar gini. Dan, menurut buku Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps, para lelaki memang tidak pandai berekspresi, berkebalikan dengan wanita. Mungkin beginilah penggambaran ekspresi pria:

Pria: lagi senang

Pria: lagi sedih


Pria: lagi takut



Pria, lagi ngomong: Serahkan hartamu, Pak Broto!

Sedangkan inilah mimik muka wanita seiring dengan perasaanya:

Wanita: lagi ngambek

Wanita: lagi girang (akibat ngisep lem aibon)

Wanita, lagi ngomong: Hihhihi akhirnya harga cabe turun juga!

Yah, dengan adanya foto-foto tersebut menandakan bahwa bukan hanya wanita yang sulit ditebak wataknya, tetapi juga pria. Pria memang bajingan. 

...

Btw, sekarang lagi hari blogger nasional ya. Selamat ya buat para blogger nasional. Keep solid!

Share:

17 comments:

  1. Mungkin tahun depan bakal ada kursus tentang cara pria berekspresi sesuai suasana hati._. Selamat hari blogger! *telat*

    ReplyDelete
  2. Muahaha.. Lo emang manusia tanpa ekspresi. Flat kalo kata anak-anak gaholl mah...

    Postingan ini sukses bikin gue ngakak.. Apalagi liat foto ekspresi itu?? Muahahah

    Oya..Selamat hari blogger. Sukses teruss.. (Y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sukses juga buatmu. Berhati-hatilah, Rahman Yusuf, konon seseorang yang menatap foto itu selama tiga detik tanpa berkedip akan dirasuki setan alas.

      Delete
    2. Kerasukan pria tanpa ekspresi hiii

      Delete
  3. Ekspresinya samaaaaaaa semuaaaaaaaaaaa :D wahahahahahahah

    ReplyDelete
  4. Wah, lo ganteng juga ya. *salahfokus*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Segeralah Anda ke dokter mata, Nak. Penyakitmu sudah kronis.

      Delete
  5. yang cowo, tanpa ekspresi .. wkwk~

    ReplyDelete
  6. Miris. Belajar goyang caisar aja, Di! Secara ga langsung, dia mengajarkan kita untuk ekspresi loh. Nah, itu lah kenapa awalan-nya dia suruh dengan 'keep smile' dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untuk apa saya 'keep smile' jikalau harus terkena stroke.

      Delete
  7. Mas Gan, 4 foto yang diatas ekspresinya hampir mirip gak ada perbedaan :D

    ReplyDelete
  8. Ngakak ngeliat ekspresi yang 'Wanita: lagi ngambek'. Sumpah itu udah kek disuruh jadian sama temen, sama orang yang nggak di suka. Nolak gitu. Sok jual mahal. Haha

    ReplyDelete
  9. ternyata urat malu lo udah putus ya Di haaa tapi keren tuh kumis udah kaya tukul arwana haaa

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/