Thursday, October 31, 2013

[Cerpen] Cerita Jahanam

Buat gue, selain kamar mandi, saat-saat bengong sebelum atau pas lagi ujian di kampus merupakan sumber inspirasi. Dua hari yang lalu, ketika lagi ujian Papan Partikel dan Papan Serat, sewaktu gue ngga tahu lagi mau ngisi apa, gue malah kepikiran yang aneh-aneh.

Tenang. Gue bukan mikirin kenapa video anak SMPN 4 itu udah ngga ada di internet, tapi gue mikir ‘kenapa gue ngga nyoba buat cerpen ya? nyoba keluar dari tulisan gue yang biasanya haha-hihi.’

Walhasil, sewaktu ngerjain ujian itu, gue malah mikirin cerita apa yang pengin gue jadiin cerpen. Gue tiba-tiba lupa kalau lagi ujian. Ya habisnya ngapain inget-inget ujian, ujian aja ngga pernah inget gue (lho?).

Udah deh, langsung aja. Berikut cerpen gue yang berjudul: ngga tahu. Sebenernya gue masih kurang sreg sama judul di postingan ini. Jadi, kalau ada yang punya masukan buat judul, kasih usul aja di kolom komentar ya.


Di sebuah pemukiman yang biasa-biasa saja, bocah itu terlahir. Dan karena tempat yang biasa-biasa saja itulah, aku sulit menemukan nama yang tepat baginya. Baiklah, kita sebut saja pemukiman itu dengan nama Jahanam.

Seperti yang telah kubilang di awal, Jahanam merupakan tempat yang tidak istimewa. Tingkat ke-standar-annya amat standar. Semuanya pas. Kebahagiaannya pas. Orang-orang kantoran berlalu-lalang tiap jam enam pagi, melewati alun-alun, dan kembali ke rumah masing-masing pada pukul enam sore, pula melewati alun-alun. Seperti itu setiap hari, setiap pagi, setiap sore. Tujuh hari dalam seminggu.

Di Jahanam tidak ada kemacetan yang parah. Tidak ada orang-orang yang sok pintar, juga sok menjadi miskin—di negeriku sini, banyak orang yang memanfaatkan kemelaratan. Di Jahanam tidak ada orang jahat. Tidak ada curanmor. Tidak ada sandal yang hilang sewaktu warganya sembahyang di masjid. Tidak ada orang yang terlalu bodoh, atau terlalu jenius seperti Copernicus atau Mozart. Kalaulah ia boleh kuberi warna, mungkin abu-abu sangatlah cocok.

Jahanam mungkin berwarna abu-abu bagiku—dan bagi beberapa orang yang menyadarinya, sampai bocah itu lahir.

Kau boleh memanggil bocah itu dengan sebutan Lintang (tentu ini bukan nama sebenarnya, aku tidak mau membuatnya terkenal dan masuk tv dan akan membuatnya merasa apa yang dia rasakan).

Ia berumur dua tahun. Dan sesaat setelah kau mengetahui jumlah umurnya, kau akan kukageti dengan kabar yang satu ini: ia bertanduk.

Benar. Ia memiliki tanduk tepat di tengah matanya. Tiga senti di atas jidatnya, sebuah tanduk muncul di antara halus-halus rambutnya yang baru tumbuh.

‘Yah, anak kita sepertinya kutilan. Lihatlah kepalanya!’ jerit si Ibu kepada suaminya di suatu malam, setelah suaminya keluar dari kamar mandi sepulang bekerja. ‘Tak usahlah kau panik, Bu. Tekan saja kutilnya sampai meledak, dulu Ayah juga seperti itu. Mungkin turunan.’

Pukul tujuh tiga puluh malam. Pada waktu ini, di Jahanam, semua orang—yang telah berkeluarga—akan mengisi ruang makannya bersama-sama. Pun dengan keluarga Lintang. Ayahnya sibuk menekan-nekan sendok ke dalam mangkuk yang berisi roti bulat-bulat plus air. ‘Aku baru membeli sereal khusus balita dari Bu Marni,’ kata Ibu Lintang sewaktu suaminya pulang ngantor. ‘Semoga saja cocok untuk Lintang.’ ‘Lumayan, diskon tiga puluh persen,’ lanjutnya tanpa menunggu respon Ayah Lintang. Sementara Lintang sedang menelan makanan barunya, si Ibu sibuk menekan kepala Lintang, mengikuti perintah suaminya supaya kutil Lintang meledak.

Bertahun-tahun berlalu. Lintang sudah kelas enam SD. Tanduknya kini telah setinggi tiga senti, dan jarak terhadap jidatnya dua belas senti.

‘Kupikir ini bukan lagi soal kutil. Ini pasti kutukan,’ ujar Ibu Lintang.

‘Tidak mungkin ada kutukan di Jahanam, Ma. Besok kita bawa saja ia ke dukun.’

‘Juga dengan dukun, Yah. Kau pasti terpengaruh tontonan istana sentris itu lagi. Selanjutnya apa, kau pergi ke kantor naik Avanza, kemudian terbang ke langit-langit?’

‘Bukan begitu, Mah.’

Maaf soal penyakit mental ini. Telah kukatakan bahwa semua di Jahanam biasa-biasa saja. Standar. Tak terkecuali dengan mental orang-orangnya yang beragam. Kupikir dunia mana pun pasti begitu. Maka ia kusebut dengan standar.

Esok harinya Ayah Lintang membawa Lintang ke rumah sakit. Lintang sempat menolak, namun Ayahnya berhasil membujuknya. ‘Nanti kuberi kau tontonan menarik,’ katanya.

‘Maaf Pak Rusdi, kami tidak tahu penyakit yang diderita anak Anda. Setelah kami diagnosa, ia sehat betul.’

Rusdi—yang belakangan kau tahu bahwa ia adalah nama dari Ayah Lintang, mengernyitkan dahi, ‘Yakinkah kau, Pak Dokter?’

‘Yakin. Sangat yakin. Lintang anak sehat yang sebenar-benarnya sehat.’

Malamnya, tentu lewat dari pukul tujuh tiga puluh, setelah keluarga ini kumpul-kumpul di meja makan, si Ayah melunasi janjinya. ‘Kemarilah Lintang, kutunjukkan kau tontonan yang menarik.’

Lintang duduk di atas sofa berwarna gulita, menunggui Ayahnya yang sedang memenceti tombol-tombol televisi. Remotenya hilang. Atau lebih tepatnya dibuang. Ibu Lintang memakainya untuk menimpuk hewan bangsat yang bukan sembarang bangsat: kecoak. ‘Mampus kau! Sebelum kau sempat mengepakkan sayap, kubuat arwahmu mengepak-ngepak!’ teriak Ibu Lintang setelah sukses menyambit kepala seekor kecoak. Segala sesuatu yang telah bersentuhan dengan hewan laknat itu, ia jijik setengah mati. Jikalau Pak Rusdi bukanlah seorang penyabar, ia pasti akan memohon kepada Tuhan, ‘Ya Tuhan. Sentuhkanlah aku dengan kecoak. Aku tidak tahan lagi..’

Acara televisi yang dijanjikan Ayah Lintang dimulai. Lintang terhipnotis. Matanya tak berkedip barang sedetik pun. Bola matanya memantulkan wajah pria tua bersuara mirip Doraemon.

Sampai hari ini, sampai Lintang menginjak kelas dua SMA, sampai tanduknya mencapai tinggi sepuluh senti, setiap malam, sendirian, ia menontoni acara sejenis dengan acara yang dahulu disaksikannya bersama Ayahnya.

Hingga pada ia kelas tiga SMA, setelah Ibundanya wafat—Ibu Linda meninggal setelah terjungkal di kamar mandi, beberapa jenak setelah panik melihat kecoak, kepalanya membentur keramik—ia tetap menggemari acara tersebut. Bukan karena acaranya, melainkan karena Lintang membenci orang-orang yang berada di dalam acara tersebut. Sebab, sejak orang-orang yang bergelut di dalam acara tersebut menemukan  pemukiman Jahanam, membagi-bagikan kaus dengan warna yang beragam, Jahanam menjadi jahanam.

Jahanam kini berubah. Ia tidak se abu-abu dahulu. Ia menjadi hitam. Hitam yang menenggelamkan warna merah darah. Pemukiman ini lebih layak dinamai Anjing. Hewan halusinasi ini kerap kali muncul di Jahanam. Ia tidak berkaki empat, namun berkaki banyak, bertangan banyak, bersarang di tiap kepala masyarakat Jahanam. Anjing muncul tatkala kemacetan datang. Tatkala para karyawan menyadari bahwa mereka harus menghabiskan waktu dua belas jam untuk bekerja.Tatkala para gembong curanmor beraksi. Anjing, bahkan muncul sewaktu sandal-sandal para ulama hilang di masjid.

Dan daripada masa itu, Lintang giat mengasah tanduk di kepalanya—yang kini panjangnya mencapai lima belas senti. Ia dan teman-teman SMA-nya telah menetapkan musuh. Bukan lagi semua orang yang berada dalam acara biadab itu, melainkan telah diruncingkannya menjadi satu orang: Mr. Presiden.

Dan mereka, akan melakukan sesuatu.

Pasalnya, seperti yang diberitakan di banyak media, sebulan lagi Mr. Presiden akan mengunjungi suatu tempat. Rencananya, di tempat bernama P itu, Lintang akan berpura-pura menjadi wartawan, menanyai pertanyaan seputar korupsi, seputar uang-uang negara, seputar sumpah para pemuda, seputar tempat bernama Jahanam yang telah—dianggap oleh Lintang dan komplotannya—dirusak, dicuci otak oleh para beking dari Mr. P. Sementara diwaktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, teman-teman Lintang mengadakan aksi bersama para buruh. Tidak peduli apa tema dari aksi buruh ini. Tujuannya hanya satu: membuat gaduh. Dan tujuan daripada tujuannya adalah membuat para wartawan pergi dari P untuk mengambil berita tentang aksi ini, mempermudah Lintang untuk menusukkan tanduknya ke dada kiri Mr. P.

Seminggu menjelang operasi pembunuhan Mr. P berlangsung, Lintang dan para komplotannya menyaksikan pidato dari orang yang menjadi objek pembunuhannya di televisi. Di dalam kotak bersuara itu, Mr. P berbicara tentang dirinya dan tentang bekingannya dengan cara yang amat memprihatinkan. Sesekali ia membalik kertas berisi contekan pidatonya yang menurut Baron, kertas itu merupakan karya bekingannya pula. Dengan mata sayu, suara yang berat, ia bersikukuh mempertahankan citra dirinya. Menurut Baron, bentuk matanya yang menyedihkan itu diakibatkan oleh pertengkaran rumah tangga. ‘Lihat saja istrinya yang necis dan penuh gaya dan anak fotografi abis!’ seru Baron. Lintang dan kawan-kawan memamerkan mimik kecewa, karena buronannya berpidato selayaknya orang yang ditodong pistol di keningnya.

‘Bahkan suara teroris yang dihukum mati lebih lantang darinya!’ masih seru Baron.

‘Juga kantung matanya! Lihatlah,‘ Baron mengarahkan telunjuknya ke bagian bawah mata kanannya, menekan, kemudian menurunkan telunjuknya sehingga kulit-kulit di sekitar matanya turun. Dan menurut penuturan Baron, kantung mata sebesar itu muat untuk menampung seorang koruptor.

‘Aku tahu hukuman yang pas untuk para koruptor yang ngeyel. Masukkan saja ia ke dalam kantung mata Mr. P,’ katanya.

‘Bah, bagaimana kalau kita membuat sebuah lagu untuk memperingati penyerangan ini,’ sahut Riyan.

‘Rupanya otakmu sudah tercuci juga, Yan,’ balas Baron.

Pria ceking itu keluar dari kerumunan teman-temannya. Ia melesat menuju lantai dua rumah Lintang. Ke balkon. Menatap matahari. Menunjuknya, lalu tersungging. I will kill you, Mr. P.

Sebulan telah berlalu. Hari penyerangan tiba. Lintang tengah berada di antara kerumunan wartawan lain di daerah P. Tak ada satupun wartawan yang menatapnya ngeri, atau memicingkan mata, atau lari terbirit-birit karena melihat seseorang bertanduk. Nihil. Seluruh wartawan menatap Lintang dengan ekspresi wajah biasa-biasa saja. Ya, mereka adalah orang-orang dari Jahanam yang otaknya belum tercuci. Sedangkan wartawan asli sedang sibuk salip-menyalip menuju Cikarang, tempat Baron, Riyan, dan teman-teman Lintang menggerakkan buruh untuk berdemo.

‘Bagaimana kondisi negara sekarang ini menurut Bapak?’ Lintang mengarahkan alat perekam suara.

‘Ya seperti yang kita ketahui, negara sedang carut-marut. Saya pun cukup prihatin..’ Target mengucek matanya sebentar, terlihat kerikil di dalam kantung matanya.

‘Tapi Bapak cukup hebat. Dengan membentuk kelompok independen, korupsi hampir sukses diberantas.’

‘Ya memang harus seperti itu.’ Target kembali mengucek matanya. Kali ini lebih keras. Kerikil mulai berjatuhan dari matanya.


Lintang panik. Sejurus kemudian ia menyadari tali sepatunya terlepas. Ia meminta izin kepada sang Target untuk mengikatnya. Lintang menunduk. Sembari mengikat tali sepatu, ia melihat banyak kerikil berjatuhan ke aspal di sekitarnya. Sampai kepalanya kejatuhan kerikil, Lintang menengok ke atas. Presiden tersenyum. Matanya mengalirkan kerikil banyak-banyak. Lintang gelisah. Ia bangkit dan menanduk dada sebelah kiri Presiden. Beberapa jenak terjadi hening. Kepala Lintang menempel dengan dada Presiden. Lamat-lamat kerikil tidak lagi mengalir dari mata Presiden. Kepala Lintang mengucurkan darah segar setetes demi setetes. Tak berapa lama Lintang ambruk. Tanduknya menancap ke dalam kepalanya sendiri. Sang Presiden menyungging bengis. Kerikil keluar lagi dari bola matanya.

Men, gue lagi suka banget menonton video jalan-jalan yang dibuat sama malesbanget.com, gue jadi pengen jalan-jalan juga. Malah lebih dari sekedar itu, gue pengen kenal dan temenan sama orang-orang kreatif di balik layarnya. Semoga aja kesampean. Amin.

Postingan tentang adegan jalan-jalan ini gue sambungan ke postingan baru, deh. Ini kayaknya udah kepanjangan.

Dadaah. :)
Share:

10 comments:

  1. Terus, gue langsung membayangkan matanya yang keluar kerikirl, uwoo :|

    ReplyDelete
  2. keren nih, mantep gan pemikirannya, nice bro. emang di negara jahannam ini jamannya cuci otak, propaganda, pembodohan publik melalui media yang belum tentu bisa dipercayai kebenarannya, konspirasi dan segala macam kebusukan "tikus berdasi"

    kutipan lirik lagu dari greenday nih gan banyk maknanya berhubungan dengan salah satu aktifitas jahannam di negara jahannam.

    Television dreams of tomorrow.
    We're not the ones who're meant to follow
    For that's enough to argue.

    salam dari http://sharehovel.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Etdah si tanduk dikira kutil, Hahhaa...
    Keren, Di. :D

    ReplyDelete
  4. Di Jahanam, para buruh ternyata ikut protes juga.

    ReplyDelete
  5. Wis... Rapih, bro. :D suka-suka. Lanjut dong cerpennya. Keren. "Krikil-krikilnya itu loh". Hmmm :)

    ReplyDelete
  6. ceritanya mengobrak-abrik imajinasiku sob

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati-hati. Ia bisa membuatmu kerasukan setan alas.

      Delete
  7. keren di.
    tapi agak nanggung gitu ceritanya. haha

    kunjung balik ya

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/