Monday, September 16, 2013

Tentang Pergantian Fungsi dan Panggilan dari Masa Lalu


Halo,

Apa kabar kalian semua? gimana tampilan blog gue yang baru, lebih statutisasi harmonisasi kan?

Setelah berapa lama akhirnya gue kembali mengubah tampilan blog. Walaupun cuman ngotak-ngatik dikit, tapi lumayanlah. Tampilan yang sekarang terlihat lebih segar, tetep simpel, dan… biru. Meski gue masih rada belum sreg sama  font judul tiap blog, tapi untuk sementara gue pake ini dulu. Dan, oh iya. Karena mulai postingan ini gue ganti jenis huruf di postingan, jadi maaf ya kalau belang-belang.

Perubahan tampilan keriba-keribo ini sekaligus mengganti fungsi dari blog ini sendiri. Yang tadinya diisi postingan apa aja suka-suka otak gue, mungkin nanti ke depannya keriba-keribo bakal lebih terstruktur. Gue bakal buat blog ini menjadi sebuah diary. Iya, benar-benar diary kayak zaman SD dulu.Hal ini akan cocok mengingat gue juga jarang memasukkan gambar-gambar ke dalam blog ini. Gue pun akan membuatnya seperti orang menulis diary pada umumnya. Kalo orang-orang biasa menulis diary dengan sapaan, maka postingan ini dimulai dengan sapaan halo. Kalau orang lain menulis diary dengan mencantumkan tanggal, gue pun begitu. Kalau orang lain menulis diary di binder yang ada gambar Putri Mermaid-nya. Gue engga. Astaghfirullah. Mana mau gue. Gue. Maunya. Gambar. Siluman. Buaya. Putih.

Pokoknya nanti keriba-keribo bakal jadi diary yang bener-bener diary, kayak di postingan ini.

And, here we go.

Sabtu, 14/9/13

02.00 Pm:

Gue buka Facebook, kemudian menemukan ini di grup ICA:
Sir Alex:  “buat ICA Tangerang, berhubung besok ada yang minta gath, jadi buat yg mau dateng silahkan dateng aja. Tempat seperti biasa di depan Pizza Hut, SMS (Summarecon Mall Serpong) jam 4 sampe kelar. Gue sndiri mungkin ngga dtg krn lagi tepar. Tapi yang lain silahkan dateng dan ramein gath nya ya. Yang blom ke tag tp ada di daerah tangerang/ gading serpong/ BSD/ dan sekitarnya silahkan lgs mampir aja.

Gue seneng. Akhirnya ada kumpul lagi setelah lama ngga main sama anak-anak ICA buat latian  flourish bareng. Langsung gue komen: Insya Allah dateng. Jam 5 sampe sana.

03.00 Pm:

Gue mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, nyokap menghampiri gue sambil bertanya penuh curiga: ‘mau ke mana, Dek?’

Gue pun kaget. Di dalam hati gue berpikir: ‘Gile nyokap bisa baca pikiran gue.. tau aja dia kalo gue mau pergi.’ Gue pun berucap, ‘i-iya, Bu. Mau kumpul ICA.’

Gue memang ngga pernah dianggap benar sama nyokap dalam urusan mandi-mandian. Kalau mandi agak sore, dimarahin. Katanya nanti rematik. Giliran mandinya ngga telat, dicurigain mau pergi. Dan masalahnya, nyokap merupakan orang yang detail. Setiap gue mau pergi pasti ditanya macem-macem.  1) Kamu mau ke mana? 2) Naik apa? 3) Sama siapa? 4) Pulang jam berapa? 5) Kenapa Aceng Fikri menceraikan istrinya dalam waktu 4 hari saja?

Kalau udah kelewatan begitu, biasanya gue jadi males. Ujung-ujungnya gue hanya menjawab: main… ke depan.

05.05 Pm:

Gue sudah sampai di Summarecon Mall Serpong. Duduk di downtown depan pizza hut, membaca buku sambil pasang earphone.

05.25 Pm:

Belum ada yang dateng.

05.30 Pm:

Belum ada yang dateng.

05.35 Pm:

Gue gebrak meja: DUAR!  Orang-orang pada ngeliatin: DUAR! Gue ditembak pake senapan angin.

Karena ngga ada yang dateng, gue memutuskan untuk jalan-jalan ke gramed. Rencananya mau baca-baca Baju Bulan karya Joko Pinurbo. Karena ternyata bukunya ngga ada, gue pun mencari buku-buku menantang lainnya. Gue pergi ke rak politik. 5 menit baca, otak gue langsung konspirasi kemakmuran.

06.40 Pm:

Setelah konspirasi kemakmuran gue mereda, gue sembahyang dan kembali ke downtown, depan pizza hut. Merasa ngga bakal ada kumpul ICA, gue pun mengabarkan kepada dia dari masa lalu. Hari itu kita juga punya rencana buat ketemuan.

‘Hei, Di. Elu sekarang tinggian ya,’ sapanya.

Gue, dengan tetap menjaga wibawa, membalas,’ Gue mah ngga tinggi. Elu aja yang kependekan.’

Waktu itu kita ngga begitu banyak cerita, lebih banyak canggungnya. Mungkin karena udah lama banget ngga ketemu dan dia datang dari masa lalu membuat suasananya makin kikuk. Gue hanya sesekali menggoyang-goyangkan lilin dalam gelas yang terdapat di meja. Sampai ke sebuah pertanyaan yang membuat gue was-was, ‘elu udah makan, Di?’ Astaghfirullah. Dompet. Gue. lagi. Labil. Ekonomi.

Gue sok-sokan ngeles, ‘Belum. Nanti aja kayaknya.’

Sampai ngga berapa lama kita akhirnya memilih untuk beli makan di luar mall. ‘Elu mau makan apa, Di?’ tanya dia. ‘Apa aja.’ Gue melanjutkan dengan tersedu-sedu, ‘Yang penting murah…’

Gue pun hanya mengemudikan motor ke arah yang dia tunjuk.

07.20 Pm:

Masih di atas motor, sembari menunjuk-nunjuk sekitar, dia berbicara, ‘Nah, di sini banyak makanan, Di. Elu mau makan apa?’

Gue, yang ngga tahu daerah di sana-dan-ngga-tahu-ada-mamang-mamang-jualan-apa akhirnya memilih makanan paling standar, dan paling biasa: nasi goreng.
‘Elu mau apa?’ tanya gue balik.
‘Samain aja deh.’

Gue pun meminggirkan motor, menyambangi gerobak tukang nasi goreng, memesan dua piring nasi goreng, kemudian duduk di kursi plastik. Belum lama duduk, dia seperti memberi kode, ‘Eh, tau ayam coblos ngga? Di sini kan ada..’ Dia melanjutkan, ‘Di kosan gue juga ada tukang soto. Tapi agak ngga enak, sih..’ Gue, yang-MANA-TAU-KALO-DAERAH-SITU-ADA-MAKANAN-GITUAN- coba membela diri, ‘Ah. Ini juga nasi gorengnya pasti enak kok.’ Gue menoleh ke Abangnya, ‘Ya kan, Bang. Enak nasi goreng buatan Abang?’

Abangnya diam.

'Ya kan, Bang? Enak kan, Bang?'

Abangnya tetap diam.

Diamnya si Abang ini, menurut analisa gue, punya dua arti: 1) Nasi goreng buatannya emang ngga enak, 2) Dia pengen naroh penggorengan ke kepalanya buat jadi topi-topian, tapi malu.

Setelah makan, gue ke kosan dia dari masa lalu, dan yang terjadi berikutnya adalah,

Rahasia.


Share:

4 comments:

  1. something fresh ya dwi.

    smoga nulis diary nya konsisten, aamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Adi, nyol. Dwi kok kesannya kayak feminim gimana gitu..
      Amin, Amin.

      Delete
  2. Lo ga pulang di? lo ke kostan dia??? DIA di DIAAAA?? uhukkk trataktakdungcesssssss *oke ini komen gapenting*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahai Rahman Yusuf yang dimuliakan, mari ikut saya, kamu belum minum obat, Nak.

      Delete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/