Friday, September 20, 2013

Postingan Sambil Ngeliatin Hujan

Gila. Hari ini gue mati suri, tidur sampe 11 jam sendiri.

Di Bogor sekarang udah sering hujan. Dan gue suka. Gue suka aroma tanah yang disentuh air hujan. Gue suka situasinya. Gue suka dengerin lagu sewaktu hujan, ngeteh sewaktu hujan, baca buku sewaktu hujan. Semuanya terasa pas ketika hujan. Hal yang gue ngga suka ketika hujan adalah waktu mau beli makan dan malah kejebak hujan. Itu tingkat nyebelinnya sama kayak kamu nanya harga nasi goreng ke Abangnya dengan bilang ‘berapa, Mas?’ lalu dijawab ‘LHA, PIYE, KATANYA TADI BELINYA SATUU!’

Ngomong-ngomong soal hujan, hari minggu kemarin gue juga sempet berhubungan sama yang namanya hujan. Ceritanya seperti ini:

Minggu, 15/9/13

11.00 Am:

‘Totalnya jadi berapa mas?’
’37 ribu.’

Gue memberikan uang. Si masnya memberikan kembalian. Gue keluar ruangan, membereskan berkas sambil berjalan ke tukang fotokopian.

Rencananya, hari ini gue bakal masukin naskah project iseng-iseng gue ke penerbit di daerah Ciganjur. Sembari jalan ke fotokopian, gue bolak-balik lagi naskah gue. Menimang-nimang apa yang kurang, sampai gue teringat ‘Oh iya, lembar pengajuan belum gue isi.’

Di tukang fotokopian, gue buka lagi naskah gue, dan benar saja, lembar pengajuannya masih kosong. Gue mulai mengisi dari pertanyaan seputar biodata seperti nama, alamat, hobi, semuanya gue isi dengan cepat. Hingga gue berhenti pada sebuah pertanyaan: ‘apakah selling point dari naskah gue?’

Dan jawaban gue adalah,
Tidak tahu.

Gue diam. Merenung. Si Mas tukang fotokopian menatap gue dengan tatapan ini-orang-waras-apa-kaga-sih.

Berbagai pikiran berkecamuk di dalam perenungan gue. Gue berpikir licik, ‘apa gue curang aja, ya.’ Gue buat saja tulisan sok pintar supaya terlihat keren.

‘Dengan membaca naskah ini, pemerintah akan mengurangi kebiasaannya dalam berkorupsi. Orang-orang yang menduduki pemerintahan juga tidak akan berhidung belang (kalau pemerintah tidak lagi kerokan di batang hidung).’

Atau versi religiusnya,
‘Dengan membaca naskah ini, Anda akan masuk surga.’

Atau versi yang tidak nyambung,
‘Dengan membaca naskah ini, saya akan sangat bahagia.’

Gue: ‘Mas, jilid ya,’ kata gue, setelah mengisi pertanyaan laknat tersebut dengan jawaban, rahasia. ‘Yang rapih, ya.’
Mas-mas tukang fotokopian: Oke, Ponakan.

Ponakan?

Entah apa maksud dan tujuan dia memanggil gue dengan sebutan ponakan. Setelah pernyataan tersebut terlontar dari mulut mas-mas tukang fotokopian, sekelebat terlintas di pikiran gue: ‘Apa jangan-jangan, dia memang Om gue yang selama ini belum pernah ketemu? Yang seperti di film-film?’  Tidak. Setelah dipikir-pikir, gue ngga punya Om yang mukanya kayak curut kena radiasi gitu.

12.15 Pm:
Gue pergi naik motor ke Ciganjur, masih dengan muka heran, abis di-ponakan-in ama tukang potokopian.

01.00 Pm:
Gue sampai di Ciganjur. Lebih tepatnya  di daerah… ngga tahu. Gue nyasar. Saat ini gue berjalan hanya berdasarkan indera. Masalahnya indera gue suka ngawur. Jadilah gue jalan ngasal-sengasal-ngasalnya umat. Gue malah sempat punya pikiran apa gue balik aja ya, nanti deh, kapan-kapan nyerahinnya. Dan seketika saja muncul suara entah dari mana: ‘Jangan.’
Oke, baiklah. Jangan.

01.15 Pm:
Mendadak hujan turun, gue meminggirkan motor, berteduh di warung kelontong. Kombinasi antara nyasar ditambah hujan ditambah teh kotak dingin yang gue seruput kecil-kecil dan alunan Just a feeling  membuat gue merasa tampan. Gue memandangi titik-titik air yang berjatuhan. Menghirupi aroma tanah-tanah basah yang membuat rongga dada seakan melebar.

Di sebelah kiri warung kelontong ini, terdapat gerobak mie ayam berwarna biru yang seperti menebeng di tempat bengkel motor. Terdapat bangku kayu panjang dengan meja seadanya di depan gerobak tadi. Di sebelah kursi panjang itu, ada kursi lain yang hanya muat diduduki satu orang. Mamang-mamang tukang mie ayam duduk di sana.

Gue, berhubung sudah lapar, akhirnya jalan ke sana dan memesan semangkuk mie ayam.
‘Mas, mie  ayam ya, satu!’
‘Pedes ngga, Bang?’
Ngga usah.’
‘Mau pake oli motor ngga, Bang? Ehehehe,’ kata si Abang berkumis, sambil nyengir lebar.
‘Ngga usah, Mas.’ Gue menunjuk ke arah bengkel, ‘Pake minyak rem aja.’
Abangnya tertawa, ‘Ah, si Abang, bisa aja. Ehehehehe.’

Gue langsung duduk ke bangku panjang, tidak mengindahkan perkataan si Abang tukang mie ayam.

Tidak lama berselang, dia menghampiri gue, ‘Ini, Bang,’ katanya, yang kemudian menaruh semangkuk mie ayam di depan gue. ‘Mie ayam spesial… pake oli bekas! Hehehe.’

Mencurigakan.

Sebelum benar-benar melahap mie ayam ini, gue baca doa lama-lama, kemudian melihat-lihat ke dalam bengkel. Mencari-cari benda yang bisa dihantamkan ke kepala Abangnya kalo ternyata rasa mie ayamnya benaran aneh.

Gue tusukan garpu ke mie ayam tersebut pelan-pelan, lalu gue putar sampai mie-nya menggumpal di garpu. Gue masukkan ke dalam mulut… enak! Selamatlah si Abang dari sabetan gir motor yang sudah gue siapkan sebelumnya.

02.20 Pm:
Hujan mulai reda. Gue pergi dari tukang mie ayam dengan damai. Baru mundurin motor, gue kaget setelah melihat plang, ‘Lho, jadi ini Jl H. Montong?’

Gue, yang daritadi nyasar nyari alamat ini, ternyata, tempatnya, gue sudah sampai. Alhamdulillah. Gue cek lagi ponsel gue, melihat nomor rumahnya, ‘Ooooh 57. Ya, ya, ya.’ Gue pun menyusuri Jl. H montong perlahan-lahan, sampai akhirnya gue tepat di depan sebuah rumah besar dengan tulisan nomor 57 di temboknya.  Pintu gerbangnya sedikit terbuka. Gue puter balik. Ngga jadi masuk. Pengecut.

Karena bingung mau ke mana lagi, akhirnya gue sms Agung, teman SMP gue yang tampangnya kayak kuli
‘Gung, di mana?’
‘Di rumah.’
‘’Gue ke sana, ya.’
‘Oke.’

Setengah perjalanan, dan, mendadak, hujan, kembali turun. Gue neduh di tukang vermak jeans. Tempatnya agak kecil, tapi cukuplah untuk gue berteduh. Dan jujur, tempat vermak jeans bukanlah tempat yang layak dijadiin tempat buat berteduh. Gue selama di sana berdiri dengan celana basah, abangnya ngeliatin celana gue mulu. Njir, gue kan jadi mau (lho).

Masih dalam kecanggungan diliatin abang tukang vermak celana, ada mas-mas yang turun dari angkot dan neduh di samping gue. Tingginya setara gue, tapi badannya agak lebih besar sedikit. Dia dadah-dadah melulu ke tiap angkot yang lewat. Gue juga ngga mengerti ritual apa yang sedang dia lakukan sampai dia berteriak sambil mengangkat kedua tangannya, ‘ HUA! HULA! HAAAA!!’

Seketika saja angkot-angkot pada berhenti. Dia naik angkot. Mungkin itu semacam bahasa pemanggil angkot.

Tidak lama setelah ditinggal mas-mas tersebut naik angkot, dua orang cowo abg naik vario tiba-tiba mengerem di depan gue. Mereka berdua masuk ke toko vermak jeans sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang lepek terkena hujan. Gue kecipratan.
Di dalam hati gue berteriak, ‘AAAAA TOLOONG, SETAAAN, SETAAAN!!’
Mereka berdua ngobrol sambil berteriak, ‘LHA, CACAT DAH. DI SONO NGGA UJAN. DI SINI UJAN!’
Kata gue di dalam hati, ‘Muke lu noh, cacat.’

02.45 Pm:
Hujan berhenti. Gue melanjutkan perjalanan ke tempat Agung.

***
Karena udah terlalu panjang, mungkin cerita gue ngapain aja di tempat Agung, teman gue yang kuat tapi ngga suka keliling komplek bawa-bawa barbel, mungkin akan gue lanjutkan di postingan selanjutnya.

*lanjut ngeliatin hujan sambil minum cokelat*

Share:

5 comments:

  1. Kayaknya gue tau tempat mie ayamnya, pernah makan di sana. Hahaha..

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Gila. Detail banget ceritanya, pake segala ngasih tau jamnya juga. Hahaha. Btw, lo mau bikin buku bo? Menurut gue, emang bakat lo penulis. Iya, setiap lo bikin cerita selalu rapih, jokes-nya juga manteb. Sukses ya, bo!

    ReplyDelete
  4. Nah, ini dia. sukses kawan buat naskahya. semoga diterima dan terbit denga tampan :)
    Wah, Jl. montong ya, hm... selalu suka jalan itu. Jalan yang banyak dilewatin calon penulis, dan penulis-penulis keren. Huehehe.
    Tulisannya rapih, di. :)

    ReplyDelete
  5. semangat di,,, smoga bukunya terbit, lariss... buat gue atu yaa yang FREEEEE #AkuCintaGratisan mueheheheh...

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/