Saturday, September 21, 2013

Lanjutan Postingan Sambil Ngeliatin Hujan

Silakan baca postingan yang ini dulu kalau mau tahu cerita sebelumnya.

***

03.15 Pm:
Gue sampai di rumah Agung.

‘Assalamualaikumm.. Aguuung!’
Nyokapnya keluar, ‘Maaf, ya. Engga dulu deh, ya..’
Njir, apaan nih maksudnya…’ 

Gue yang bingung mendengar respon dari nyokapnya Agung hanya bisa menunjuk diri sendiri dan bicara terbata-bata, ‘nga-nganu, Tante, Agungnya ada?’
‘Oalaahh… ADI TOH! MASUK, SINI, MASUK, DI!’
‘IYA, ADI, TANTEEEE!!?’
‘Agungnya… ngga ada, Di.’
‘…’
‘Agung lagi ke depan. Duduk dulu sini. Mari.’
‘Baiklah..’

03.30 Pm:
Agung masuk ke rumah sambil lari-lari kecil. Dia membawa satu kresek makanan. Gue membuka jaket cokelat yang lepek, menaruhnya di sofa.

Gue: ‘Gue pikir elu lagi potong rambut, Gung. Tadi di sms katanya mau potong?’
Agung: ‘Belum, Di. Kalo gue biasanya potong rambut mah sore. Jadi enak, abis potong kan ngantuk tuh..’
Gue: (mengangguk sotoy, menghormati pernyataan dia) 'Hmm. Iya, iya..’
Agung: ‘...jadi enak, Di, bisa langsung molor malemnya.’
Gue: (tunggu, tunggu, apa hubungannya potong rambut sama ngantuk?) 'Emang, Gung, apa hubungannya potong rambut sama ngantuk?’
Agung: ‘Iya, Di. Kan disemprot-semprot gitu kepalanya. Nah, jadi ngantuk, deh.’

Sungguh seorang kaum adam yang istimewa. Gue, kalo lagi tidur ngga bangun-bangun aja disiram mukanya, lha kalo dia, disiram malah tambah pules.

Gue: (menepuk-nepuk bahu Agung yang penuh otot) 'Hmm.. hmm.. sensasional sekali kamu, Gung.’

Kita berdua mengobrol ngalor-ngidul. Gue cukup senang karena sekarang dia sudah mau diterima sebagai seorang radiolog di rumah sakit UIN. Walaupun katanya dia mendapatkan perlakuan spesial (pas mau tes, temennya dikasih tau kalo ada tes tulis, dia engga. Temennya dikasih tau kalo disuruh magang dulu sampe hari rabu, dia engga. Temennya dikabarin sama cewe terus, dia sama mas-mas. Agung, oh, Agung. Malangnya nasibmu.)

Dan, sewaktu tes wawancara, Agung merasa kalau dia seperti sedang diinterogasi

Agung: ‘Iya, Di. Parah banget tuh yang nanya, ngeledek gue.’
Gue: ‘Ngeledek gimana maksudnya?’
Agung: ‘Iya, gue kan ditanya, menurut, teman-teman di sekeliling kamu, kamu itu orangnya seperti apa?’
Gue: ‘Terus?’
Agung: ‘ya…,’ Agung memberikan jeda sebelum melanjutkan, ‘Baik. Standar lah, Di. Gue bilang kalo ada yang minta tolong ya dibantuin. Ya gitu-gitu deh.’
Gue: ‘Terus dia nanya apa lagi?’
Agung: ‘Nah, iya, dia nanya kayak yang elu tanyain.’
Gue: ‘ha?’
Agung: ‘Iya, dia nanya terus, yang lain apalagi, masa baik doang?’
Gue: (gue mengannguk mantap) ’Ooo.’
Agung: ‘Dan elu tau gue jawab apa?’
Gue: ‘engga.’
Agung: ‘Nah, iya. Gue jawab kalo gue itu… aneh.’
Gue: (kembali menepuk-nepuk bahu si Agung) 'Wajar, Gung, wajar…’

05.00 Pm:
Setelah sembahyang dan siap-siap. Kita pergi ke tukang cukur rambut di komplek rumahnya Agung. Selama perjalanan gue iseng nyobain dibonceng Agung sambil menghaadap ke belakang. Karena si Agung bawa motornya kayak kuda, dan gue ngga bisa menebak arah belokan, jadilah adrenalin gue meningkat pesat. Jadi, buat kalian yang ngga punya duit untuk ke Ancol, cobalah permainan ini. Selain memacu adrenalin, kalian juga bakal disangka orang idiot karena naik motor ngadep belakang sambil teriak-teriak girang.

05.10 Pm:
Sampai di tukang potong rambut. Antriannya ternyata rame banget. Jadi kita terpaksa nunggu. Pada sesi menunggu antrian ini, kita menyadari satu hal: semua cowok yang selesai potong rambut tampangnya sedih. Ini fenomena. Fenomena cowok sedih setelah potong rambut. Karena penasaran, kita pun menyelidiki sebab musabab si cowok-cowok ini sedih. Kita pun mendapati beberapa kemungkinan tentang fenomena ini:

1) Tukang cukurnya seenak jidat. Ngga sesuai permintaan. Jujur, gue juga pernah mengalami malpraktek karena hal semacam ini. Ketika itu waktu SMA, gue minta rambut gue cuma dirapihin, tapi tukang cukurnya malah ngotot, ‘ini dipendekin aja ya, Dek.’ Sewaktu gue bilang ngga usah pendek-pendek banget dia malah jawab, ‘Yah, biar saya motongnya agak banyakan, Dek. Masak cuman sedikit..’

Lha, situ kan dibayar atas sesuai/tidaknya sama permintaan pelanggan. Bukan banyak/enggaknya rambut yang dipotong. Lagian kan, malah enak. Motongnya dikit bayarnya sama. Sempak.

2) Tukang cukurnya budeg. Waktu kita bilang ‘Mas, potongnya dikit aja yak!’ dia malah dengernya: ‘Ohh dipotong sampe tinggal dikit. Ya, ya.’

3) Tukang cukurnya ngga ahli. Coba deh kalian ke tukang cukur kemudian menunjuk poster beragam orang dengan rambut berbeda yang biasanya ditempel di tukang cukur, ‘Nomer tiga belas ya, Mas!’ Pasti si-mas-nya ngga ngerti. Malah cengo. Ngga bakal ada yang jawab ‘Oooh potongan dengan jambul setinggi 5 senti setara ombak di Samudera Hindia. Potongan memakai ujung gunting dengan sudut lengkung 15 derajat. Ya, ya.’

Ketidak-ahlian tukang cukur ini juga terlihat dari tatanan rambut si pencukur. Ngga ada satu pun dari mereka yang memakai model seperti yang dipajang. Ini kan ibarat konter hape, tapi ternyata di dalemnya tukang laundry kiloan. Bisa dibayangkan ketika kita ingin membeli pulsa, dialog yang terjadi adalah sebagai berikut:

Gue: ‘Mas, pulsa ya. im3, sepuluh ribu!’
Mas-masnya: ‘Oke, Bang! Mari, biar saya timbang dulu..’

06.10 Pm:
Agung akhirnya potong rambut. Seperti para pria yang lain, tampangnya jadi sedih setelah selesai dipotong. Rambutnya jadi cepak. Gue hanya bisa menghibur, ‘Udah, Gung. Ada masanya semua pria kayak gini. Nanti gue juga bakal kayak gini, kok.’

Sekembalinya di rumah Agung, bokapnya komentar, ‘Ihihihik. Bagus, kok, Gung, rambutnya. Ihihihihik.’

Untungnya malam itu Agung tidak mendramatisasi kesedihannya dengan mengurung diri di kamar sambil sesenggukan, ‘Ihihihik.. Bapak jahat sama Agung. Ihik. Hik. Hikss..’



Share:

2 comments:

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/