Saturday, May 4, 2013

Yang Mosting Lagi Melankolis


Dulu, semasa SMP, gue pernah mengobrol dengan salah satu sahabat tentang pentingnya berpacaran. Dan kesimpulannya adalah: pacaran itu latihan untuk masa depan. Sebelum kita menjejaki yang namanya pernikahan.

Namun, dalam beberapa hari belakangan gue mendapat pelajaran. Nampaknya, "pacaran sebagai ajang latihan masa depan" tidaklah sepenuhnya benar. Gue sedikit banyak berpendapat bahwa dengan terjalinnya sebuah hubungan, maka, pada akhirnya kita akan dihadapkan oleh dua pilihan: melaju ke hubungan yang lebih serius (nikah) atau meninggalkan hubungan itu begitu saja (putus).

Dua duanya sama-sama menuntaskan masa pacaran. Bedanya, yang satu akan tetap hidup bersama pasangan, dan yang satu lagi memilih untuk berpisah.

Dan kami, baru-baru ini, karena alasan ini-itu, memilih opsi yang kedua.

Ironis memang. Karena keputusan ini diambil ketika gue tengah seru-serunya menulis tentang hubungan gue dan si ehem untuk dimasukkan ke dalam project  kecil-kecilan gue.

Sejauh ini, gue jadi memiliki tiga orang mantan kekasih. Dan tiap bekomunikasi terhadap salah satunya, pasti akan timbul rasa canggung, kikuk, kesal, dendam, atau bisa juga ngarep. Semua itu tergantung dari prosesi ‘pemutusan’ yang dilakukan. Apakah sedang ribut, ngobrol, atau bahkan hilang secara perlahan.

Yang ingin gue tanyakan adalah

Apakah, jumlah mantan  kalian lebih banyak dibanding jumlah orang yang kalian pacari/nikahi saat ini?

Apakah hubungan kalian dengan mantan  lebih banyak yang menjadi canggung, kikuk, kesal, dendam, benci, atau ngarep. Dibandingkan yang baik-baik saja?

Jika iya, apakah kalian pernah berpikir kalau pacar/suami/istri kalian itu merupakan sebuah resultan dari rusaknya hubungan dengan mantan-mantan  kalian?

Apakah kalian yakin kalau mereka itu jodoh kalian, atau suatu hari nanti, kembali berujung menjadi mantan kalian?
Kembali rusak. Canggung, kikuk, bahkan beberapa timbul rasa benci.

Pertanyaan lainnya adalah, apakah, untuk menemukan jodoh, kita harus menyakiti hati orang-orang terlebih dahulu, membuatnya menjadi mantan  yang lain lagi? Trial and error?  Kalau harus begitu, sampai kapan?

Bagaimana kita tahu, orang yang sekarang bersama kita itulah yang dimaksud Tuhan sebagai jodoh kita?

Dan jadi, pacaran itu melatih, atau lebih banyak merusak?

That’s the question of life.



Share:

2 comments:

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/