Monday, April 22, 2013

Percakapan di Kereta

“Lu tahu ngga, Di. Gue kan pernah ribut di sini. Sama nenek-nenek!” teman gue menyandarkan punggungnya.
“Dan lu menang?” gue mengompori.
“Menang dong. Eh, ngga tahu juga, sih. Abis, ngga ada yang ngejuriin?!”

Dia nyengir.
Gue nyengir.
Tanpa alasan yang jelas, kamu nyengir.

Itulah sekelumit percakapan gue dan teman sewaktu naik kereta menuju Jakarta. Dia yang emosinya mulai meredam, akhirnya menjelaskan duduk perkara perihal pengalamannya beradu mulut dengan nenek-nenek.

“Ya lagian, gue memang beneran tidur waktu itu, malah dikira pura-pura tidur karena ngga mau ngasih tempat duduknya ke dia!” Dia menyampingkan duduknya, berhadap-hadapan dengan gue. Raut mukanya nampak serius.

“Tapi gue jadi tersentil juga sih,” dia menarik napas. “Sekarang, tiap ada ibu yang membawa bayi, ataupun orangtua, bawaannya pengen langsung berdiri. Males banget berantem di tempat umum!”


Jika niat baik teman gue itu menjadi kebiasaan, hal tersebut pasti menyusahkan. Coba pikirkan, jika dia sedang di angkot, lalu bertemu dengan ibu-ibu. Kemudian secara refleks teman gue berdiri. Paling-paling kepalanya benjol.

Bagaimanapun juga, ngga ada yang bisa disalahkan. Gue hanya ngga habis pikir, kenapa pengelola kereta sangat sangat kurang dalam hal memerhatikan ‘kenyamanan’ penumpang. Kereta selalu penuh. Banget. Memangnya ngga ada batasan maksimal penumpang dalam satu gerbong?

Situasi yang amat berbeda yang dibandingkan negara-negara maju. Di Negara maju, keamanan dan kenyamanan transportasi umum merupakan modal terpenting untuk mengurangi kemacetan. Spanyol misalnya, moda perkeretapian di sana (khususnya kereta bawah tanah) diberlakukan seperti busway. Kita cukup bayar sekali dan dapat berganti-ganti metro, selama ngga keluar dari metro station. Di Swiss lain lagi, transportasi umum di sana didominasi oleh tram, dan pembelian karcisnya melalui vending machine. Jarang dilakukan pemeriksaan karcis, ngga terbayang jika hal ini diberlakukan di Indonesia. Rusaklah sudah.

Di Belanda, orang-orang sangat antusias menggunakan sepeda. Ngga jarang sepeda berserakan, jalur sepeda juga tertata dengan baik. Atau di Amerika, agar orang-orang lebih sering menggunakan transportasi umum, biaya parkir dalam kota sangat tinggi. Untuk parkir indoor, perjamnya kita harus membayar 250ribu rupiah. Dan itu masuk ke pemerintah. Ngga ke reman pasar kayak di kota-kota Indonesia pada umumnya.

Kereta tetap melaju cepat. Dengkul gue sekarat belum juga dapat tempat duduk.
Share:

4 comments:

  1. Indonesia si negara berkembang yang nggak tahu kapan majunya...

    ReplyDelete
  2. Nah bener, Indonesia harus kayak Amrik juga parkir di mahalin. Paling enggak parkir mobil 20 ribu parkir motor 10 ribu, haha.. Tapi harus diimbangin dengan transportasi umum yang bagus, aman dan nyaman. Misal, di kereta bisa nonton dvd atau ada kulkasnya, kl bisa spring bed disewa kan enak tuh.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harusnya di dalam busway ada hotel. Jadi kalau macet, bisa tidur-tiduran dulu.

      Delete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/