Saturday, June 23, 2012

Degradasi Cinta


            Bukan cuma soal budaya tradisonal saja yang udah tergerus jaman moderinsasi ini, tapi juga metode percintaan kita. Banyak metode - metode percintaan sekarang yang sudah mengalami degradasi. Mulai dari cara - cara si cowok mengejar gebetan, waktu pacaran, sampai cara - cara mereka ribut sudah berbeda dari jaman nenek moyang kita. Kemaren gue mencoba memberikan sedikit twit tentang perbedaan budaya percintaan ini. Berikut twitnya :







ITULAH sedikit perbedaan yang terjadi akibat adanya degradasi cinta yang semakin tergerus jaman.  Banyak juga istilah - istilah baru yang muncul. Salah satunya PHP (pemberi harapan palsu). Gue sempet bingung bedanya PHP sama OMDO (omong doang). keduanya sama - sama memberikan harapan palsu. Akhirnya gue mencoba bertanya kepada teman gue, salah satu korban pakar PHP Indonesia. Gue melontarkan sedikit pertanyaan kepada dia soal PHP :
Q : Pertama, apasih PHP itu? 
A : Php itu pemberi harapan palsu.Kayak lo baik - baikin orang, care tapi lo hanya bilang itu semua cuma temen atau lo juga ngelakuin hal iitu ke semua cewe. yang jelas cuma ngasih harapan palsu. 
Q : Itu bukannya berarti dia orang baik? 
A : Tapi itu nyakitin, cewe pasti geer kalo digtuin. 
Q : Oh cewe itu gampang geer ya? gue masih bingung nih beda php sama omdo. Kan sama - sama ngasih harapan palsu? 
A : Ya tergantung muka sama intensitas berhubungannya, kalo berbulan - bulan + mukanya oke pasti geer lah. Kalo omdo tuh cuma ngasih harapannya aja, sebatas itu. Mirip - mirip sih. 
Q : Bisa kasih saran buat cowo - cowo yang lagi suka php-in cewe atau biar cowo ngga dibilang php? 
A : Harusnya buat para cowo, kalian tuh sikapnya biasa aja. Ya sama lah sama temen kalian, ngga usah lebay kalau nanya - nanya kalau emang ngga punya feel apa - apa. Selain itu, ngga usah terlalu intens berhubungannya dan bahasa yang dipake disamain aja sama kayak ke temen kalian. 
Q : Oh ternyata ngga jauh beda yah php sama omdo. Oke terimakasih telah meluangkan waktunya sebentar.. 
A : sip sama - sama :) *

Ternyata apa yang gue bilang ngga salah. Ini semua terjadi karena degradasi metode percintaan yang tergerus akibat jaman. Mudahnya orang berkenalan melalui jejaring sosial dan lain lain menyebabkan perubahan juga terhadap gaya pacaran muda - mudi masa kini.

Btw, salam ya buat kalian yang lagi pada di php-in sama gebetannya~


***
*dengan sedikit perubahan.

Suka post ini? Bagikan ke:

Wednesday, June 20, 2012

Megap - Megap Malem - Malem


Gerak sedikit sakit, ngulet manja susah, bokong terasa sixpack. Gue ngga bisa ngapa-ngapain. Itulah kondisi gue abis bangun dari tidur siang barusan. Amat mengenaskan memang. Gue hanya bisa terbaring sambil mangap-mangap. Serasa jadi ikan koi yang lagi nungguin pelet.

Gue menyadari kondisi gue yang begini lemah dikarenakan olahraga badminton kemarin yang menurut gue sedikit menyiksa. Yoi, gue beserta tiga orang teman yang lain tiba-tiba kepikiran untuk main badminton. Kita sepakat nyewa lapangan sekitar pukul enam sore sampai jam delapan.

Sebenarnya, gue diajak sama salah seorang teman yang bernama "Ada," Nama teman gue ini emang cukup unik, jikalau anak kelas pada nyariin pasti bilang, "Ada mana Ada, ada apa ngga nih si Ada?" dan anak lain menjawab, "ada kok si Ada." Ngeselin memang. Yah, dia mengajak gue untuk menjenguk teman kelas kita yang lagi DBD sore harinya. Namun, karena gue ngga dibolehin nebeng sama dia, takut bau mungkin motornya. Dan berhubung rumah sakitnya agak jauh dari kampus, maka dompet anak kos yang berbicara. Akhirnya gue ngga ikut jenguk dia bareng anak kelas.

Tapi gue bersyukur, ternyata, kata si Ada, ketika anak-anak menjenguk, dia malah main suap-suapan sama pacarnya. Kasihan sekali wahai kalian jomblo-jomblo ngarep.




tenang aja neng yang lain cuma ngontrak


Gue berangkat ke gor kampus sekitar pukul setengah enam sore. Dengan antusiasnya, motor gue kebut. Karena kengebutan, sampai sana malah belum ada orang sama sekali. Benar-benar cuma gue sendiri. Bangkai.

Setelah Saipul datang, dan setelah gue selesai nangis di pojokan, tanpa babibu gue ambil air wudhu buat solat magrib. Namanya juga kriboalim.

Kemudian tanpa babibu lagi, gue langsung ngadepin pejantan letoy bernama Ipul di arena pertandingan. 5 menit pertama gue masih menguasai pertandingan. 10 menit berlalu dan gue tetap menang. 15 menit berjalan, gue tepar di lapangan.

"Lemah banget gue. Ini pasti karena gue lama ngga olahraga," batin gue, sambil nangkis smash dari Ipul.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan nyawa gue tinggal seprapat. Karena takut malaikat pencabut nyawa datang, gue bilang ke Ipul buat istirahat dulu. Pas lagi fase ngumpulin nyawa ini, Alam datang. Gue sujud sukur, Abis itu nyambit dia pakai raket, "Heeh ke mana aja lu lam!" teriak gue sambil ngarahin raket ke idungnya. "Sorry di, tadi rumah gue mati lampu, hehe," timpal Alam sambil nyengar-nyengir. Sembari menarik napas panjang, gue nyuruh Alam buat main sama Ipul, "Yaudah, lu main gih sama Ipul. Gue lemah syahwat."

Mereka pun bermain:

               5 menit Alam terlihat dewa..
              10 menit kendali masih dipegang Alam, Ipul mulai lelah.
              15 menit "ADIIII TOLOONGIN GUEEEH." Alam memang lemah.

Alam kalah telak dari pejantan letoy kita. Bukan hanya karena dia jarang olahraga. Tetapi juga karena perut buncitnya yang membuatnya lambat dalam bergerak. 

Gue pun masuk menggantikan Alam yang sudah letoy, untuk kembali melawan Ipul. Ipul yang sudah terlihat kecapaian tidak mampu meladeni permainan taktis dari gue. Netting-netting dan smash ala Simon Santoso gue keluarkan dalam rangka ngebantai Ipul, "Hahaha gue pasti menang, mampus lu puul !!" seru gue lantang.

Seisi gor langsung melihat ke arah gue karena heboh teriak-teriak sendiri. Berhubung urat malu gue udah putus, gue lanjutkan teriakan gue,"Mampus lu puuul! Hahaha makaan niih kok! Rasakan! Rasakan pukulan rajawali gue!" Ipul pun malu punya teman kayak gue.

Momen-momen kemenangan itu sudah di depan mata. Kita berdua yang sudah terlalu capek, hanya bisa mengandalkan semangat. Dan karena gue punya semangat buat ngatain si Ipul, maka dengan mata membara, gue terus melancarkan serangan. Saat-saat itu hampir tiba dan... ternyata pertandingan berakhir dengan kemenangan Ipul. Gue tidak menyadari bahwa pukulan gue banyak yangout.

Gue bersimpuh lesu. Gue lempar raket berjaring biru itu entah ke mana. ‘FAAAAAAAAAAKKKKK!!!??’
Seketika bumi gonjang-ganjing.

Ipul kembali menang. Seorang pejantan lenje bisa mengalahkan gue dua kali. DUA KALI. Oh, gue yang macho ini. Mantan copet.


Alam kembali bermain dengan Ipul dan tidak lama setelah itu, kebusukan kampus gue tetibanya muncul. Selain WCnya yang kebanyakan dikunci dan ngga jelas kapan dibukanya, listrik di kampus gue juga ngga jelas. Seketika Gor itu mati lampu. Gelap total. Tak terlihat apapun di sana. Kira-kira seperti ini penampakannya:



jangankan koknya, perut alam aja ngga keliatan


Alam dan insting kucingnya merogoh-rogoh tribun penonton guna mengambil hp sebagai alat penerangan. Kemudian kita bertiga cengo, duduk-duduk di depan sinar hp Alam. Berharap genset cepat dihidupkan. 

Pukul setengah 8 gor kembali menyala, dan gue kembali istirahat sambil mengecek handphone buat nanyain posisi si Ada. 15 menit menjelang waktu usai, si Ada baru datang. Sementara kita bertiga sudah megap -megap kayak mujaer kurang air. 

Biar si Ada ngga kecewa karena udah jauh-jauh datang. Kita langsung gilir dia. Kita sikat dia secara bergantian, dari sisi lapangan ke sisi lapangan yang lain, dari punggung sampai ke bokong.

15 menit pun berlalu dan Ada sukses kita buat megap-megap juga, "Kurang ajar lu,Di. Liat aja, lain kali gue serius nih mainnya!" celoteh Ada sambil mangap-mangap ngga jelas.

Malam itu, kita semua sukses megap-megap ngga keruan.

Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 18, 2012

Yang Posting Lagi Bener


Guys, di minggu yang masih lumayan banyak ujian ini kepala gue justru disumpel sama banyak pikiran. Entah mungkin karena efek kumis tipis gue yang semakin numbuh atau kepala gue yang sizenya ngga cukup besar buat nampung segala rambut pikiran di kepala. Beberapa hal yang sedang gue pikirkan:

1. Gue baru sadar kalau petugas SPBU sekarang kebanyakan cewek. entah apa alasannya, sepertinya karena pengendara kendaraan bermotor mayoritas cowok, biar bisa digoda-godain supaya beli bensinnya banyak. Beberapa tahun lagi, gue rasa ada yang jual bensin plus-plus.

2. Gue ngga sekeriting yang orang-orang bilang kok. Yah, that's my argument.

3. Kenapa selalu ada penjelasan dari kebalikan suatu hal, padahal kita pasti sudah mengetahui keberadaannya. Menurut gue itu hanya nambah-nambahain kosakata. Bikin penuh kepala. Seperti kelahiran dan kematian, tidur dan bangun, imigrasi dan emigrasi, serta... Aksi-Reaksi.

4. Pengejaran pendidikan formal dari apa yang tidak diharapkan hanya menambah angka kriminalitas perasaan dan pikiran. Misal : kamu seorang yang jago gambar, bercita-cita jadi Interior desainer. Tetapi karena satu dan banyak hal, kamu ngga keterima di bidang itu, dan malah masuk kuliah ke jurusan Biologi. Walhasil, hanya jadi pelepas ego sementara, penumpuk kanker hati yang semakin lama semakin membukit. Padahal, di sisi lain,  banyak orang yang dari awal ingin masuk di jurusan Biologi yang akhirnya akhirnya pergi juga ke tempat lain karena kursinya terambil orang tadi dan begitu seterusnya. Kacau. Rasa suka yang datang karena terpaksa belum tentu menjadi rasa suka yang sejatinya kita sukai.

5. Kenapa sih mahluk di negara gue "oversensitive" (?)  Pengaruh film kah. Lingkungan atau budaya kah. Hal-hal sepele yang seharusnya ngga penting justru dilihat dalam mikroskop. Dibesar-besarkan. Pada ujungnya, mencari siapa yang benar.

6. Nyokap pernah bercerita kalau dulu banyak cowok yang naksir dia, tapi dia memilih Bokap. Padahal sekarang sering banget komplain tentang sikap Bokap yang begini begitu. Takdir kah ini, atau sebuah pilihan. Kalaupun dulu Nyokap memilih pria lain, adakah abang gue, gue? blog ini? Di manakah rumah tempat Nyokap tinggal. Apa kerjaannya. Apakah dia ngga akan komplain sama orang yang dia pilih itu.  Semua totally berubah. Kalau ini hanya dikarenakan oleh pilihan dari Nyokap, bagaimana kita bisa tahu, bahwa pilihan Nyokap itu memang takdirnya, memang sebuah piihan yang tepat.

Sabtu kemarin gue datang ke acara bakti sosial di salah satu yayasan yatim piatu di Bogor bersama beberapa teman kelas. Gue sedikit-banyak dapat pengetahuan baru tentang sebuah "kehilangan" di sana. Kehilangan, bukan selalu berarti kosong, berkurang, atau tiada. Kehilangan bisa berarti bertambah. Bertambah luas hati kita karena telah mendapat sebuah hal di mana tidak semua orang mampu menerimanya.

Kehilangan juga berarti bertambah. Bertambahnya buku baru dalam kehidupan kita karena telah kehilangan halaman terkahir dari buku lama yang berarti kita anggap tamat. Yang selanjutnya akan kita simpan untuk dikenang.

Tanpa disadari, sebetulnya, kita sering memperoleh sebuah kehilangan di kehidupan sehari-hari. Dari mulai kehilangan pulpen saat ingin mengerjakan tugas, kehilangan uang saat berada di depan kasir supermarket, kehilangan semangat saat bertanding sepakbola karena mendapat kabar bahwa kekasih kita terbaring di rumah sakit, bahkan kehilangan hati kita saat direnggut oleh seseorang yang kita sukai yang ternyata menjadi teman sekelas mulai minggu depan. Kehilangan-kehilangan yang wajar dan sering dianggap remeh namun datang tidak tepat waktu seperti contoh tadi kadang membuat kita kesal, sedih, tetapi ada juga yang membuat senang, ceria, dan bahagia.


Pada ujungya, kehilangan tadi akan kita bungkus dalam sebuah kotak. Kita ikat kotaknya. Dan pada waktunya akan kita goncangkan kotak tadi untuk mendengar suara kehilangan yang sudah lama kita simpan.

Suka post ini? Bagikan ke:

Tuesday, June 12, 2012

Mengejar NGIMPI


Minggu-minggu ini gue memang lagi disibukin sama UAS (baca: Ujian Agak Selau). Berhubung jadwal ujian gue selanjutnya adalah lusa, jadi malam ini gue pengen istirahat. Gue bisa kembali ngenet, tidur-tiduran atau melakukan kegiatan yang biasanya dikerjain oleh manusia pada umumnya. Seperti yang bisa kalian bayangkan, ujian kedua gue tadi ancur lumayan manteb untuk ukuran orang kayak gue. Entah doa apa yang dilontarkan Nyokap dari rumah.  Pas ujian, gue cukup menggunakan speed selau buat ngerjainnya. Selau nulis nama, selau nulis NRP, selaunjutnya gue panik. Soal ujian nomor satu aja gue ngga ngerti. Gimana nomer bawah-bawahnya. Karena takut soal selanjutnya bikin gue nangis darah, akhirnya gue putuskan untuk mencari jawaban nomor satu dulu.

Gue pun melakukan berbagai gaya untuk mendapatkan wangsit. Dari mulai stekul, gaya menaruh kaki yang satu di atas yang lain, garuk-garuk kepala, cemas, mengusap-ngusap muka, gaya berdehem (berharap ada yang nyaut), sampai gaya mengucel-ngucel rambut keribo lurus gue. Setelah melakukan semua gaya tadi, gue jadi tau apa yang harus gue lakukan. Gue ngisi nama lagi di lembar baliknya.

Sampai akhirnya gue telah mengisi beberapa jawaban di atas lembar jawaban gue. Gile, gue bangga setengah mati. Walaupun nomer satu tadi gue tetap ngga ngerti, setidaknya gue udah usaha. Usaha garuk-garuk kepala.

Sambil mengisi jawaban demi jawaban, gue coba buat berpikir. Emang buat apa gue isi ini? Emang apa tujuan gue mengerjakan ujian nan fana ini? Apasih mimpi gue? Apa cuman buat ngejar IP dan bisa kerja, atau buat nambah ilmu. Sampai sekarang pun gue masih bingung. Hehe.

Sewaktu jaman gue SD—kelas 6 kalo ngga salah, wali kelas gue pernah menoba bertanya satu per satu mimpi dan cita-cita muridnya. Begini kira-kira percakapannya:

Wali kelas: “Bapak mau tanya cita -cita kalian jika kalian sudah besar nanti. Siapa yang mau jawab duluan ayo?”
Tanya wali kelas gue dengan senyum manisnya yang justru bikin gue panik.

Afif: ”Saya mau jadi Arsitek pak!”
Trio: “Saya mau jadi Insinyur sama astronot”
Della: “Saya mau jadi ibu rumah tangga. Hihihi.”
Icem: ”Saya mau keluar negeri pak, biar bisa liat cewek cantik!!”

Jawaban Icem adalah yang paling dongo waktu itu. Tapi itu yang paling gue inget. Berkat jawaban itu juga, karakter gue mulai terbentuk. Gue jadi laki-laki seutuhnya. Terima kasih Icem.

Satu per satu murid sudah mengatakan cita-citanya. Tinggal gue, seorang. Dan mungkin hanya gue di dunia ini yang takut kalau ditanya masalah masa depan, apalagi menyangkut cita-cita. Well, gue memang ngga punya cita-cita yang pasti sampai detik ini. Dan tiba-tiba, ketika gue terbengong-bengong nyari jawaban yang keren, walikelas mengagetkan gue. Dia berjalan perlahan menghampiri gue sambil bertanya, “Tinggal kamu ya Di, yang belum. Ayo, apa cita-cita kamu?” Gue gugup setengah mati, muka gue pucat ibarat vampir hongkong. Gue ngga tau harus jawab apa. Gue hanya ketakutan karena dipaksa menjawab. Barangkali, di pikiran gue, suara walikelas berubah jadi, ‘Cepat katakan! Di mana harta yang disimpan oleh mertuamu!’

‘TIDAAAAAKKKK!!!??’ gue menjerit dalam hati.

Aneh tapi nyata, dalam kepanikan yang terjadi, tiba-tiba terbayanglah sosok bokap-bokap berkumis setengah baya yang sering gue temui tiap pagi. Gue pun jawab “Han... hansip pak.” Setelah menjawab, gue langsung merasa lega. Gue pun kentut karena terlalu lega.

Kalian semua mungkin bertanya kenapa cita -cita gue hansip. Jadi,  di mindset gue pas kecil, Hansip adalah sosok pekerjaan yang nikmat banget. Bayangin aja, tinggal duduk, tidur-tiduran, main kartu di pos bareng hansip yang lain, Dan akhir bulan dapet duit. Maka Anda tidak perlu bekerja, uanglah yang bekerja untuk Anda. Lho kok, kayak MLM ya.

Jaman kecil dulu gue berpendapat bahwa Hansip di perumahan gue makmur banget hidupnya. Ternyata gue salah. Dibalik kegabutannya itu, penghasilan yang didapat ngga seberapa. Yaiyalah lagian gabut.

Walaupun gitu, hansip di perumahan gue tetap ramah sama warganya. Hal ini amat bertolak belakang dengan polisi, yang hobinya nyuruh-nyuruh, “kiri pak kiri,jalan lagi dialihkan!” atau “belok pak! jalan di depan banyak lobangnya.” Gue bingung ini polisi kenapa perhatian banget, padahal bukan pacar. Yang enaknya jadi Polishit, jikalau lapar tinggal jalan ke pinggir jalan, cari motor, lalu disetopin. Kemudian tinggal cari alasan supaya si pengendara motor terlihat berbuat salah. Alesannya bisa berbagai macam, ngga pakai helm lah, helm ngga SNI lah, muka ngga SNI lah. Yang terparah, gue pernah baca di suatu forum, dia curhat, kena tilang polisi karena pentil motor ban belakangnya ngga ada. Yang gue permasalahkan adalah, kok polisinya bisa liat? Sinting. Polisi sekarang mungkin punya darah Uchiha, bisa sharingan. Makanya, jangan main-main sama polisi, kata nenek itu berbahaya. 

Suka post ini? Bagikan ke:

Saturday, June 9, 2012

Gosip Emak - Bude


Pagi-pagi banget pas gue masih bau iler tadi, gue disuruh buru-buru mandi dan nganterin nyokap ke rumah sodara. Sekonyong-konyong sodara gue ulang taun hari ini. Belum sempat ngulet-ngulet manja, gue langsung dilarikan ke kamar mandi oleh Nyokap. Dita namanya, dia ulang tahun  yang ke, emm.. ngga tau gue lupa, pokoknya masih kecil. Hehe. Kita datang berdua doang. Ternyata sewaktu kita sampai di sana, dia malah belum mandi. Alhasil dia hanya mengumpet di kamar. Ngga mau keluar. Kampret, kembalikan waktu ngulet-ngulet manja gue.

Di sana Nyokap ngobrol  seru sama bude gue. Seperi lazimnya emak-emak ketemuan, mereka ngerumpi dengan khidmat. Nyokap gue terkadang ketawa, terkadang kaget, terkadang mendadak sedih. Gue bingung ini mereka ngobrol apa latian akting.

Nyokap :  *muka centil* Itu si anu (sodara gue yang lain) ke mana ya, ko dia ngga pernah main-main lagi sih sama kita?
Bude : Ngga tau tuh, dia mulai sombong sekarang, ngga kayak kita-kita ini. Hihihi.
Gw : ...
Nyokap : Ini si Dita mana nih yang lagi ulang taun, ayo dong keluaaaar. Pasti masih bau iler yaaa. Hihihi.
Gw : ...
Bude : Adi kenapa, ko cuma diem aja daritadi?
Nyokap: Tau nih si adi belum makan kali, Hihihihi.
Gw : Bu, Ade sebenarnya pengen ikut ngobrol (gue kalau di rumah dipanggil adek). Tapi...
Nyokap: Aaaaah, lapeer yaaa pengen minta makaan, malu - maluiin kamu ah. Nanti aja, makan di rumah.
Bude : Udaaah ambil aja di dalam, Di. Masih kaku aja sama Bude. Hihihi.
Gw : Aku ngga lapeeeer, Aku pengen ngobrol juga, tapi gimana mau ngobrol, KALIAN PAKE BAHASA JAWAA, ADEK MANA NGERTII!!? HAHAHA HIHIHI AJE LU PADE.

Keadaan langsung hening. Selang berapa lama, mereka lanjut ngobrol.

Sampai  di suatu pembicaraan yang gue lumayan ngerti—mereka ngomong ngga full jawa lagi. Mereka membahas mengenai orang-orang yang kurang inisiatif di keluarga besar kita, Bude gue nyebut menantunya (om gue), si anu, si anu,  (gue ngga hafal nama sodara), dan yang terakhir doi nyebut nama Bokap. Setengah ngomel tapi setuju, Nyokap mengiyakan. Untung Bokap waktu itu ngga ikut, kalau ikut ya nggapapa.

Gara-gara omongan itu, gue jadi berpikir aktivitas apa aja sih yang dikerjain Bokap kalau lagi di rumah. Sampai-sampai dianggap kurang inisiatif.

Pertama, Bokaplah yang menurunkan gen afro ke rambut gue ini. Hobinya yang mistis-mistis. Mungkin sewaktu muda dulu, dia ingin ikut main film di serial "Pemburu Hantu". Acara tv jadul yang kerjaannya masukin setan ke dalam botol. Karena ngga kesampaian, sekarang kalau di rumah kerjanya cuma tiduran di kursi panjang di depan tv ruang keluarga sambil baca majalah misteri. Entah apa korelasinya, yang penting keliatan sangar.

Pas kecil gue sempat takut, majalah apa sih yang dibaca Bokap, ko covernya serem banget. Kebanyakan gambar sungai atau danau atau rawa  yang dibuat abstrak. Ini antara serem atau emang gambarnya yang jelek gue kurang paham.

Setiap gue tanya dia baca majalah apa, Bokap gue cuman diem. Akhirnya gue inisiatif buat ngambil salah satu majalah secara diam-diam. Pas gue buka halaman demi halaman, lembar demi lembar, setan demi setan, dan iklan viagra demi iklan viagra. Gue mendapat pencerahan. Ternyata buku itu ngga seserem yang gue duga, malah di dalam buku itu kebanyakan iklan obat. Iklannya aneh-aneh. Contoh iklannya seperti ini, ‘Ki anu, memperpanjang alat kelamin pria! Dijamin, nyoss! Ngga percaya? Lihat sendiri punya aki!’

Abis itu gue ngga penasaran lagi. Sialan gue pikir isinya setan semua. Pantes Bokap demen.

Bokap jadi mistis karena baca-baca majalah gituan. Pernah dulu ketika Abang gue SMA kelas 3, dia ingin main ke Puncak sama temannya. Rencananya nginep sehari ntuk merayakan perpisahan kelas. Tapi, Bokap yang panik karena takut Abang gue salah pergaulan, akhirnya engga ngebolehin. Berhubung jiwa muda abang gue lagi tinggi-tingginya, dia protes, "Yaelah, Pak. Kapan lagi sih kalau ngga sekarang? Perpisahan kan cuman sekali!" Abang gue ngoceh  sambil nyiapin barang-barang.  "Ya Taun depan kan bisa, kamu aja belum tentu lulus." jawab Bokap datar sambil mengasah gesper kesayangannya. Gue yang saat itu masih kelas 1 SMA, ngga ngerti apa -apa, masih polos dengan muka tanpa jerawat ini hanya bisa diem menyaksikan dan mendengarkan ucapan tragis dari Bokap.

Bokap kemudian nyamperin Abang gue yang lagi beres -beres baju untuk dibawa ke Puncak lalu menaruh kedua tangannya ke atas kepala Abang gue. Dia komat-kamit ngga jelas, memusatkan seluruh pikiran dan tenaga dalam (ngakunya) ke kedua tangannya yang justru malah lebih keliatan kayak dukun santet. Ngga lama, Abang gue langsung diam. Ngga lanjutin beres-beres dan well, ngga jadi ikut acara perpisahan kelas. Keren.

Yah, setelah dipikir-pikir, Bokap selama ini di rumah ya kalau ngga nonton tv, tidur, mainan remote, ya baca majalah itu.Yaaa cukup banyak lah aktivitasnya, ada empat jenis kegiatan kalo diitung -itung. Empat. Banyak palelu pitak.

Ternyata kurang inisiatif dan males ngga jauh beda.

Dan harusnya kau sadar Ayah ku tercinta, saat kau menceramahi ku dengan topik "rajin lah anakku," gen malas itu muncul dari urat nadi mu. Jiwa -jiwa kampret yang kumiliki tidak lain tidak bukan bersumber dari dirimu.


Oleh: Sepikan anak malas sejati


Suka post ini? Bagikan ke:

Monday, June 4, 2012

Naicih Malang, Naicih Sayang


Malam penganugerahan yang diadain kampus gue, 3 Juni 2012 kemarin cukup membuat jalanan di sekitar kampus macet.

Acara itu dimulai di gedung kebanggaan kampus gue, sebut saja GWW (baca: gewewe). Sebenarnya acara dimulai pukul 19.00, tapi berhubung gue panitia jadi harus lebih pagi dong. Gue datang sekitar jam setengah enam. Sesampainya di sana, gue bertemu dengan salah seorang teman, sebut saja maman. Kita berdua bingung mau kemana—ngga ada satu orang pun yang kita kenal. Panitia macam apa aku ini. Ampuni saya teman-teman IAC. Huhu.

Karena kesepian, kita memutuskan pergi ke mesjid deket kampus untuk mengusir waktu. Ngga berapa lama kita kembali ke GWW. Di sini nih cerita serunya, ngga berapa jauh dari pelataran GWW, perasaan gue mulai ngga enak. Gue liat ada rambut lancip-lancip gitu.

Awalnya gue deg-degan karena ngga bergitu jelas melihat sosok ini. Taunya pas gue deketin, rambut itu nongol dari kepala Penanggung Jawab matkul Ekonyet gue. Sialan, gue pikir setan, taunya sama aja. Karena gue belum UAS Ekonyet, daripada berakhir dengan hasil ujian yang dizalimi, maka gue putuskan untuk menyensor nama dia. Oleh sebab inisialnya N, dan gue ngga suka maicih, maka kita sebut doi "Naicih". Seperti asprak ekonyet yang gue ceritain di postingan sebelumnya, perawakannya ngga beda jauh lah. Doi bertampang tua, mukanya ketus, kotak, badannya bongsor. Batak asli. Jikalau menggoda wanita lagaknya selangit, ‘Hei kau, sinilah kau dekat-dekat Abang. Biar aman nanti di jalan, kau!’ pret.

Dan yang bikin gue kaget, doi dateng berdua sama teman sejurusan gue, namanya Nisa. Gue bingung, gue harus bingung apa sedih. Ko si nisa ini mau-maunya jalan sama doi.  Saking ngga percayanya, gue sampai minta cekek si maman untuk membuktikan bahwa ini bukan sekedar mimpi. Dan gue sakarotul maut gegara maman napsu bener nyekek gue.

Waktu itu, tugas gue jaga tribun bareng maman dan alam. Gue dan maman satu divisi, sponsorship. Sedangkan alam PDD, anak dokumentasi. Kita bergabung jadi PD ship (PDD, sponsorship). Baiklah, ini  gue ngasal.

Gue pun segera ambil alih kamera yang harusnya dipakai si alam buat foto dokumentasi. Kita bertiga berniat buat mengendap-ngendap merhatiin si Naicih sambil motoin dia dari jauh, takut Nisa diapa-apain. Diapa-apain di sini maksudnya digitu-gituin, ya, bukan di anu-anuin.

Di awal acara si Naicih ini masih tetap dengan gaya cool-nya. Tangan di dada dan rambut ngacung ke langit-langit, mohawk. Doi diem-diem doang, merhatiin sekitar sambil sesekali mukul-mukul dadanya, ‘GROAARRRHHH!!’ persis kayak yang gue tonton di film kingkong. Gaul.

Pertengahan acara, guest star  kita, nidji, mulai beraksi. Seisi GWW serasa goncang, ngga tau sih tapi ngga sebergoncang perut gue yang nahan laper dari siang. Dengan perut kelaparan dan muka yang asem, gue, Maman, dan Alam coba ambil dokumentasi GWW. Karena rusuhnya anak-anak pedesaan yang belum pernah nonton ginian, termasuk gue, kita bertiga jadi hampir ngelupain si Naicih. Gue pun coba-coba arahin kamera ke penonton, zoom in-zoom out dan sampailah lensa kamera gue menuju sebuah bentukan otot. Gue panik setengah mati, takut ketahuan lagi ngintip Naicih. Sekonyong-konyong, ternyata otot itu berasal dari idungnya Maman. Huh, bikin panik. Mentang-mentang kayak perosotan tuh  idung !

Setelah gue cari dengan teliti, (tribun parah banget waktu itu. laksana Bonek saat persebaya kebobolan), di antara keramaian, gue melihat satu mahluk bongsor segede yeti berambut mohak. Dan tepat, itu si kunyuk. Dia yang sebelumnya cool dan jaim mulai loncat-loncat kesetanan, ‘GROAARR!!’ sekarang dia terlihat seperti kingkong kesurupan.

Alunan suara giring makin sadis. Atraksi panggung kian memanas. Jogetan Naicih semakin naudzubilah. Dia mulai bergaya bak pahlawan bertopeng—idolanya shinchan, tangannya ke atas, dibentuk lancip menyerupai pisau, digoyang ke kanan-kiri. Hohohoho. Mungkin gitu suaranya kalau didengerin dari deket.

Gue abadikan momen langka ini, sambil senyum licik gue ngomong dalam hati, "mampus lu, kena sama gue, hihihi."  Gue ibarat menantu yang ingin meracuni mertua untuk memperoleh harta warisan.

Sekitar jam sebelas malam, acara bubar. Rencananya kita bertiga mau nunggu dia dan Nisa sampai lewat di depan kita untuk kita ledekin langsung depan mukanya. Tapi sudah cukup lama kita tunggu, mereka berdua ngga dateng-dateng. Gue berpikiran kalau dia takut. Cemen. Tapi kata Maman, mungkin dia sudah keluar lewat jalan lain. Nyari bambu runcing, untuk membacok kita-kita. Astagfirullah.


nb: Buat elu Naicih, *tunjuk idungnya* *tangan gemeteran*  Tunggu sampai gue selesai UAS, gue taruh sini fotonya nanti. Hihihihihhi.

Suka post ini? Bagikan ke: