Monday, June 4, 2012

Naicih Malang, Naicih Sayang


Malam penganugerahan yang diadain kampus gue, 3 Juni 2012 kemarin cukup membuat jalanan di sekitar kampus macet.

Acara itu dimulai di gedung kebanggaan kampus gue, sebut saja GWW (baca: gewewe). Sebenarnya acara dimulai pukul 19.00, tapi berhubung gue panitia jadi harus lebih pagi dong. Gue datang sekitar jam setengah enam. Sesampainya di sana, gue bertemu dengan salah seorang teman, sebut saja maman. Kita berdua bingung mau kemana—ngga ada satu orang pun yang kita kenal. Panitia macam apa aku ini. Ampuni saya teman-teman IAC. Huhu.

Karena kesepian, kita memutuskan pergi ke mesjid deket kampus untuk mengusir waktu. Ngga berapa lama kita kembali ke GWW. Di sini nih cerita serunya, ngga berapa jauh dari pelataran GWW, perasaan gue mulai ngga enak. Gue liat ada rambut lancip-lancip gitu.

Awalnya gue deg-degan karena ngga bergitu jelas melihat sosok ini. Taunya pas gue deketin, rambut itu nongol dari kepala Penanggung Jawab matkul Ekonyet gue. Sialan, gue pikir setan, taunya sama aja. Karena gue belum UAS Ekonyet, daripada berakhir dengan hasil ujian yang dizalimi, maka gue putuskan untuk menyensor nama dia. Oleh sebab inisialnya N, dan gue ngga suka maicih, maka kita sebut doi "Naicih". Seperti asprak ekonyet yang gue ceritain di postingan sebelumnya, perawakannya ngga beda jauh lah. Doi bertampang tua, mukanya ketus, kotak, badannya bongsor. Batak asli. Jikalau menggoda wanita lagaknya selangit, ‘Hei kau, sinilah kau dekat-dekat Abang. Biar aman nanti di jalan, kau!’ pret.

Dan yang bikin gue kaget, doi dateng berdua sama teman sejurusan gue, namanya Nisa. Gue bingung, gue harus bingung apa sedih. Ko si nisa ini mau-maunya jalan sama doi.  Saking ngga percayanya, gue sampai minta cekek si maman untuk membuktikan bahwa ini bukan sekedar mimpi. Dan gue sakarotul maut gegara maman napsu bener nyekek gue.

Waktu itu, tugas gue jaga tribun bareng maman dan alam. Gue dan maman satu divisi, sponsorship. Sedangkan alam PDD, anak dokumentasi. Kita bergabung jadi PD ship (PDD, sponsorship). Baiklah, ini  gue ngasal.

Gue pun segera ambil alih kamera yang harusnya dipakai si alam buat foto dokumentasi. Kita bertiga berniat buat mengendap-ngendap merhatiin si Naicih sambil motoin dia dari jauh, takut Nisa diapa-apain. Diapa-apain di sini maksudnya digitu-gituin, ya, bukan di anu-anuin.

Di awal acara si Naicih ini masih tetap dengan gaya cool-nya. Tangan di dada dan rambut ngacung ke langit-langit, mohawk. Doi diem-diem doang, merhatiin sekitar sambil sesekali mukul-mukul dadanya, ‘GROAARRRHHH!!’ persis kayak yang gue tonton di film kingkong. Gaul.

Pertengahan acara, guest star  kita, nidji, mulai beraksi. Seisi GWW serasa goncang, ngga tau sih tapi ngga sebergoncang perut gue yang nahan laper dari siang. Dengan perut kelaparan dan muka yang asem, gue, Maman, dan Alam coba ambil dokumentasi GWW. Karena rusuhnya anak-anak pedesaan yang belum pernah nonton ginian, termasuk gue, kita bertiga jadi hampir ngelupain si Naicih. Gue pun coba-coba arahin kamera ke penonton, zoom in-zoom out dan sampailah lensa kamera gue menuju sebuah bentukan otot. Gue panik setengah mati, takut ketahuan lagi ngintip Naicih. Sekonyong-konyong, ternyata otot itu berasal dari idungnya Maman. Huh, bikin panik. Mentang-mentang kayak perosotan tuh  idung !

Setelah gue cari dengan teliti, (tribun parah banget waktu itu. laksana Bonek saat persebaya kebobolan), di antara keramaian, gue melihat satu mahluk bongsor segede yeti berambut mohak. Dan tepat, itu si kunyuk. Dia yang sebelumnya cool dan jaim mulai loncat-loncat kesetanan, ‘GROAARR!!’ sekarang dia terlihat seperti kingkong kesurupan.

Alunan suara giring makin sadis. Atraksi panggung kian memanas. Jogetan Naicih semakin naudzubilah. Dia mulai bergaya bak pahlawan bertopeng—idolanya shinchan, tangannya ke atas, dibentuk lancip menyerupai pisau, digoyang ke kanan-kiri. Hohohoho. Mungkin gitu suaranya kalau didengerin dari deket.

Gue abadikan momen langka ini, sambil senyum licik gue ngomong dalam hati, "mampus lu, kena sama gue, hihihi."  Gue ibarat menantu yang ingin meracuni mertua untuk memperoleh harta warisan.

Sekitar jam sebelas malam, acara bubar. Rencananya kita bertiga mau nunggu dia dan Nisa sampai lewat di depan kita untuk kita ledekin langsung depan mukanya. Tapi sudah cukup lama kita tunggu, mereka berdua ngga dateng-dateng. Gue berpikiran kalau dia takut. Cemen. Tapi kata Maman, mungkin dia sudah keluar lewat jalan lain. Nyari bambu runcing, untuk membacok kita-kita. Astagfirullah.


nb: Buat elu Naicih, *tunjuk idungnya* *tangan gemeteran*  Tunggu sampai gue selesai UAS, gue taruh sini fotonya nanti. Hihihihihhi.

Share:

0 comments:

Post a Comment

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/