Tuesday, June 12, 2012

Mengejar NGIMPI


Minggu-minggu ini gue memang lagi disibukin sama UAS (baca: Ujian Agak Selau). Berhubung jadwal ujian gue selanjutnya adalah lusa, jadi malam ini gue pengen istirahat. Gue bisa kembali ngenet, tidur-tiduran atau melakukan kegiatan yang biasanya dikerjain oleh manusia pada umumnya. Seperti yang bisa kalian bayangkan, ujian kedua gue tadi ancur lumayan manteb untuk ukuran orang kayak gue. Entah doa apa yang dilontarkan Nyokap dari rumah.  Pas ujian, gue cukup menggunakan speed selau buat ngerjainnya. Selau nulis nama, selau nulis NRP, selaunjutnya gue panik. Soal ujian nomor satu aja gue ngga ngerti. Gimana nomer bawah-bawahnya. Karena takut soal selanjutnya bikin gue nangis darah, akhirnya gue putuskan untuk mencari jawaban nomor satu dulu.

Gue pun melakukan berbagai gaya untuk mendapatkan wangsit. Dari mulai stekul, gaya menaruh kaki yang satu di atas yang lain, garuk-garuk kepala, cemas, mengusap-ngusap muka, gaya berdehem (berharap ada yang nyaut), sampai gaya mengucel-ngucel rambut keribo lurus gue. Setelah melakukan semua gaya tadi, gue jadi tau apa yang harus gue lakukan. Gue ngisi nama lagi di lembar baliknya.

Sampai akhirnya gue telah mengisi beberapa jawaban di atas lembar jawaban gue. Gile, gue bangga setengah mati. Walaupun nomer satu tadi gue tetap ngga ngerti, setidaknya gue udah usaha. Usaha garuk-garuk kepala.

Sambil mengisi jawaban demi jawaban, gue coba buat berpikir. Emang buat apa gue isi ini? Emang apa tujuan gue mengerjakan ujian nan fana ini? Apasih mimpi gue? Apa cuman buat ngejar IP dan bisa kerja, atau buat nambah ilmu. Sampai sekarang pun gue masih bingung. Hehe.

Sewaktu jaman gue SD—kelas 6 kalo ngga salah, wali kelas gue pernah menoba bertanya satu per satu mimpi dan cita-cita muridnya. Begini kira-kira percakapannya:

Wali kelas: “Bapak mau tanya cita -cita kalian jika kalian sudah besar nanti. Siapa yang mau jawab duluan ayo?”
Tanya wali kelas gue dengan senyum manisnya yang justru bikin gue panik.

Afif: ”Saya mau jadi Arsitek pak!”
Trio: “Saya mau jadi Insinyur sama astronot”
Della: “Saya mau jadi ibu rumah tangga. Hihihi.”
Icem: ”Saya mau keluar negeri pak, biar bisa liat cewek cantik!!”

Jawaban Icem adalah yang paling dongo waktu itu. Tapi itu yang paling gue inget. Berkat jawaban itu juga, karakter gue mulai terbentuk. Gue jadi laki-laki seutuhnya. Terima kasih Icem.

Satu per satu murid sudah mengatakan cita-citanya. Tinggal gue, seorang. Dan mungkin hanya gue di dunia ini yang takut kalau ditanya masalah masa depan, apalagi menyangkut cita-cita. Well, gue memang ngga punya cita-cita yang pasti sampai detik ini. Dan tiba-tiba, ketika gue terbengong-bengong nyari jawaban yang keren, walikelas mengagetkan gue. Dia berjalan perlahan menghampiri gue sambil bertanya, “Tinggal kamu ya Di, yang belum. Ayo, apa cita-cita kamu?” Gue gugup setengah mati, muka gue pucat ibarat vampir hongkong. Gue ngga tau harus jawab apa. Gue hanya ketakutan karena dipaksa menjawab. Barangkali, di pikiran gue, suara walikelas berubah jadi, ‘Cepat katakan! Di mana harta yang disimpan oleh mertuamu!’

‘TIDAAAAAKKKK!!!??’ gue menjerit dalam hati.

Aneh tapi nyata, dalam kepanikan yang terjadi, tiba-tiba terbayanglah sosok bokap-bokap berkumis setengah baya yang sering gue temui tiap pagi. Gue pun jawab “Han... hansip pak.” Setelah menjawab, gue langsung merasa lega. Gue pun kentut karena terlalu lega.

Kalian semua mungkin bertanya kenapa cita -cita gue hansip. Jadi,  di mindset gue pas kecil, Hansip adalah sosok pekerjaan yang nikmat banget. Bayangin aja, tinggal duduk, tidur-tiduran, main kartu di pos bareng hansip yang lain, Dan akhir bulan dapet duit. Maka Anda tidak perlu bekerja, uanglah yang bekerja untuk Anda. Lho kok, kayak MLM ya.

Jaman kecil dulu gue berpendapat bahwa Hansip di perumahan gue makmur banget hidupnya. Ternyata gue salah. Dibalik kegabutannya itu, penghasilan yang didapat ngga seberapa. Yaiyalah lagian gabut.

Walaupun gitu, hansip di perumahan gue tetap ramah sama warganya. Hal ini amat bertolak belakang dengan polisi, yang hobinya nyuruh-nyuruh, “kiri pak kiri,jalan lagi dialihkan!” atau “belok pak! jalan di depan banyak lobangnya.” Gue bingung ini polisi kenapa perhatian banget, padahal bukan pacar. Yang enaknya jadi Polishit, jikalau lapar tinggal jalan ke pinggir jalan, cari motor, lalu disetopin. Kemudian tinggal cari alasan supaya si pengendara motor terlihat berbuat salah. Alesannya bisa berbagai macam, ngga pakai helm lah, helm ngga SNI lah, muka ngga SNI lah. Yang terparah, gue pernah baca di suatu forum, dia curhat, kena tilang polisi karena pentil motor ban belakangnya ngga ada. Yang gue permasalahkan adalah, kok polisinya bisa liat? Sinting. Polisi sekarang mungkin punya darah Uchiha, bisa sharingan. Makanya, jangan main-main sama polisi, kata nenek itu berbahaya. 

Share:

5 comments:

  1. ga nyangka temen gw bisa sekocak ini pasti kebanyakan makan nasi kuning ya,,,loh ga nyambung ya??? hahahaha,,,lanjutkan nak,,di tunggu pesenan nasi kuning buat nikahannya ya (alibi promosi katering)hahhaha

    ReplyDelete
  2. gokil, mampir balik ia n jangan lupa follownya gan

    ReplyDelete
  3. susah nih, pimpi aku suka lari2 keliling kompleks, gawat

    ReplyDelete
  4. @rizku : apaan yang gokil. kalo mau exchange link comment aja di blogroll :)

    @sabda : semoga bukan karena dikejar banci ya

    ReplyDelete

Jangan lupa follow keriba-keribo dengan klik tombol 'follow' atau masukin email kamu di tab sebelah kanan (atau bawah jika buka dari hape). Untuk yang mau main dan ngobrol-ngobrol, silakan add LINE di: @crg7754y (pakai @). Salam kenal yosh! \(w)/